
Dengan langkah gontai Tania yang sudah siap dengan seragam sekolah menuruni anak tangga satu persatu. Malas rasanya berangkat ke sekolah. Tapi jika hanya berdiam di rumah tambah suntuk rasanya. Hanya rebahan, nonton kartun dan tidur. Selepas dari pendakian perasaan tania jadi nggak karuan. Meski sudah istirahat dua hari di rumah. namun, raganya masih dikuasai perasaan lelah sisa pendakian kemarin.
"Selamat pagi pi mi, aku langsung berangkat" ucap tania melewati meja makan menoleh ke hendra dan sonia yang sedang menikmati sarapan. "Nggak sarapan dulu?" Tanya sonia menanggapi. Sedangkan hendra masih tak bergeming, sibuk dengan note booknya. "Ntar aja di sekolah" ucap tania berlalu meninggalkan rumah besar yang sudah dia huni sejak lahir.
"Eh.. tania, tumben loe cepat datang!" ucap risna yang mendapati tania duduk dengan menopang dagu di kursi pojokan. Yang hanya dibalas senyum tipis tania. "Bantuin gue nyapu dong" pintah risna meletakkan tasnya asal di atas meja.
__ADS_1
"daripada bengong gini mending gue bantuin aja kali ya?" batin tania menimbang pintah Risna yang bergegas mengambil sapu. "Loh tahu nggak berita yang lagi heboh?" Tanya risna disela kegiatannya. "Berita apaan?" Tanya balik tania tanpa mengalihkan pandangannya. "Ternyata di sekolah kita ini ada keluarga wijaya juga loh!" cercah tika lanjut menyapu setelah sempat berhenti. "what... apa gue udah ketahuan" batin tania membelalakkan matanya. "Lo tahu darimana?" Tanya tania yang sudah merasa was - was masih berusaha tetap dingin. "Kan kemarin yang ikut pendakian cuman sekolah kita" jelas risna. "apa hubungannya dengan pendakian kemarin?" Batin tania bertanya pada dirinya sendiri. " nah setelah dari sana ada yang nggak Sengaja temuin foto di sosial media. Nggak cuman dari tempatnya waktunya pun sama dengan pendakian kita" jelas risna. "Lo emang belum lihat instagram, udah rame banget di unggahan anak kelas sebelah yang menampilkan tangkapan layar" tambah risna yang makin heboh dengan ceritanya. Sedangkan tania hanya diam merutuki kebodohannya itu. Meskipun nama akun instagramnya A. wijaya. Tapi tetap aja itu bisa bahaya buat dirinya terutama penyamarannya nanti. "wah hebat dong. orangnya yang mana sih?" Tanya tania beruaaha mengorek informasi.
"nggak tahu juga gue orangnya yang mana. soalnya akunnya di privat terus foto disana tinggal beberapa" jawab risna yang memberi sedikit rasa aman untuk status tania saat ini.
Setelah selesai membersihkan dan menata kembali ruangan kelasnya, tania bergegas mengambil ponselnya. Yang belum pernah dia gunakan sejak dua hari belakangan ini, kemudian menonaktifkan sementara akunnya kembali.
__ADS_1
"Iya tahu" ucap tania berusaha bersikap santai. "Tahu darimana loe, bukannya sejak balik dari pendakian ponsel loe nggak aktif?" tanya tika mengubah posisi duduknya menghadap ke tania.
"risna tadi udah cerita" ucap tania membuka buku di depannya. "Lo juga tahu dari mana ponsel gue nggak aktif?" Tanya tania menoleh ke tika. "Iya tahu lah, orang gue hubungi nggak pernah aktif" jawab tika yang hanya dijawab oh tania.
"Loe kenapa tan?" Tanya tika setelah bel istirahat berbunyi. "hmmm, emang gue kenapa?" kata tania dengan suara lemah. "Dari tadi gue perhatiin melamun mulu kerjanya" ucap tika membereskan alat tulisnya. "Apa lo sakit lagi?" Tanya tika yang hanya di jawab gelengan kepala tania. "Atau loe gue bawa ke uks aja" saran tika.
__ADS_1
"Tika gue baik - baik aja, ok" ucap tania menggenggam tangan tika menghentikan tindakan tika selanjutnya. "Yaudah ah. Gue mau ke toilet dulu" tambah tania bergegas berdiri. "Lo mau gue temanin?" Tanya tika sebelum langkah tania semakin menjauh. "Nggak usah ke kantin aja dulu ntar gue nyusul" ucap tania memaksakan senyumnya.
"apa dia masih sakit?" batin irfan menatap bayangan tania yang perlahan menghilang dari balik pintu. Irfan yang sedari tadi memperhatikan tania, ada sedikit rasa khawatir melihat tania yang tak seperti biasanya.