Alasan Luka Tercipta

Alasan Luka Tercipta
Lomba


__ADS_3

"Semangat tania, gue yakin loe bisa bawain gue pialanya" chat dari tika yang menyambut kedatangan tania di tempat perlombaan.


Tania hanya tersenyum membacanya lalu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.


Meski perlombaan baru akan dimulai 20 menit lagi, namun sudah banyak peserta yang mondar mandir di halaman sekolah swasta tersebut. Setelah memastikan ruangannya tania tinggal menunggu waktu perlombaan akan dimulai.


Tania memilih duduk di salah satu gazebo yang bersebrangan dengan ruangannya nanti.


"Ogahh, mending pialanya buat gue bawa pulang" balasan chat tania


"Lebih berfaedah kan" tambah chat tania pada tika.


"Jadi teman kok gitu amat. Coba loe dekat udah gue tabok pala loe" chat tika yang membuat tania tersenyum sumringah menatap layar ponselnya.


"Hahaha ampun emak. Tania takut ditabok" chat balasan tania


"Hehehe sejak kapan gue punya anak. Bapaknya siapa jugaa" chat dari tika yang semakin membuat tania tersenyum


"Udah ah bercandanya. Lagian pengumuman hasil lombanya kan seminggu lagi. Darimana coba gue dapat pialanya" jelas tania mengingat kembali rule aturan perlombaan


"Oh gitu yah. Sip deh yang penting lo semangat aja dulu. Menang atau kalah itu urusan belakang" wejangan tika yang membawa ketenangan dalam hati tania.


"Mimpi apa lo semalam. Bijak banget" chat tania mengejek kedewasaan tika yang entah muncul dari mana


"Iya nih. Kemarin gue ke surga trus main sama bidadari di sana" chat tika yang ngelantur


"Kok balik lagi?" Tanya chat tania.


"Karena gue masih singel makanya dibalikin" chat tika


"Hahaha dibalikin apa diusir" chat tania


"Sama aja tan. Lagian kalau gue kelamaan di sana bisa lumutan lo dibumi sendirian" chat tika


"Haluu" chat tania


"Hehehe. BTW udah dulu yah ntar baru lanjut udah mau masuk nih gurunya" chat tika menghentikan percakapan mereka yang dijawab jempol oleh tania.

__ADS_1


"selamat pagi tania. semangat yah buat lombanya"


pesan yang irfan kirim


"pagi juga, makasi irfan" balasan pesan tania buat irfan


Tania kemudian kembali menikmati suasana di tempat tersebut. Pemandangan yang asri dengan pepohonan. Dipercantik dengan tanaman hias yang terawat. Serta angin yang berhembus sepoi - sepoi membuat anak rambut tania ikut menari - nari di udara.


Namun tania segera bergegas pergi saat melihat sosok lintang mendekat ke arah ruangannya. tania memilih melangkah pergi ke sudut halaman yang tidak terlalu jauh. Berharap lintang akan segera pergi dari sana.  Karena ruangan tania dan lintang berbeda dan berjarak cukup jauh.


"Maaf yah kak. Mulai hari ini aku akan mulai menjaga jarak dengan kakak setidaknya jangan sampai ada orang lain yang akan ikut tersakiti" batin tania memandang lintang yang sedang sibuk jelingukan sana sini seakan sedang mencari sesuatu.


"Saat berpapasan di jalan atau di mana pun itu jangan saling mengenal lagi" tambah tania bersamaan dengan luruhnya air mata dari pelupuk matanya.


"Pagi tania. Gue udah sampai"


"loe dimana sekarang?"


"Tan, bentar lagi dimulai loh"


Serentan chat dari lintang yang menyadarkan tania dari lamunannya.


Tania tak berniat membalasnya namun dia juga tak ingin membuat lintang khawatir dengan dirinya.


"masih di jalan kak, bentar lagi nyampe, semangat kakak" balasan chat tania.


Setelah menunduk menatap layar ponselnya lintang tampak mulai lega.


Dia kemudian mengirimkan chat pada tania yang berisi informasi mengenai ruangan tania nanti. Setelah selesai lintang segera menuju ruangannya yang terletak di lantai dua gedung tersebut karena waktu perlombaan akan segera di mulai.


Hampir 3 jam mereka bertarung dengan soal - soal yang mereka dapatkan. perlombaan yang membutuhkan banyak waktu persiapan.


Setelah perlombaan selesai tania langsung kembali ke rumahnya, Tak berniat bertemu dengan lintang, Mengobrol tentang soal dan jawaban mereka, bertukar pendapat mengenai apa yang menjadi pemahaman mereka. atau sekedar merayakan usaha mereka ddngan makan bersama.


Sedangkan lintang masih berusaha mencari keberadaan tania. hingga akhirnya dia menyerah saat mendapat chat dari tania yang mengatakan tania sudah kembali ke rumahnya, dengan alasan harus mengikuti acaa keuarganya.


"Yah tania gimana sih bukannya nongkrong dulu. Dia langsung balik aja" ucap lintang kecewa setelah menatap layar ponselnya.

__ADS_1


"Apa dia ada masalah?" Tanya lintang pada dirinya sendiri sambil mengenakan kembali ransel di punggungnnya.


"Ah udahlah besok aja disekolah gue nanya sama dia" tambah lintang mulai melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut.


"hai tania, apa kita boleh aku menelfon mu. ada yang ingin ku sampaikan" chat irfan yang membuat tania merasa heran


"apa yang ingin kau sampaikan?" tania segera membalas chat irfan ada rasa penasaran yang menggelitik setelah membaca pesan dari irfan


belum beberapa menit ponsel tania kembali berdering


"hallo irfan" sapa tania setelah panggilan itu terhubung


"hufftt halo tania bagaimana lombanya?" tanya irfan setelah menghembuskan nafasnya yang terdengar begitu jelas menyembunyikan kegugupannya


"lombanya berjalan baik, cuman tinggal tunggu hasilnya saja" jawab tania yang berusaha mencairkan suasananya. agak canggung berbicara dengan irfan yang sudah entah berapa lama mereka tak berbicara satu sama lain.


"oh yah loe mau ngomongin apa?" tanya tania


"maaf yah tan, gue sadar yang gue lakuin akhir - akhir ini salah. gue sadar gue terlalu bersikap kekanak - kanakan akhir - akhir ini" ungkap irfan setelah terdima beberapa saat


"tak apa irfan, gue juga paham alasan loe ngelakuin itu. loe pasti kecewa banget sama gue kan?" kata tania menyandarkan dirinya pada sandaran kursi sofa


"sebesar apapun rasa kecewa gue, tapi nyatanya rasa sayang gue ke loe lebih besar" pernyataan irfan yang membuat kepala tania kembali berdenyut


"gue selalu merasa kehilangan, saat tak lagi bersapa dengan loe gue merasa ada yang hilang dalam diri gue. dan beberapa hari ini gue berusaha yakini diri gue. saat gue ngelihat loe sedih, gue juga bisa merasakan itu tania"ucap irfan yang seakan membuat tania merasakan dentuman jantung yang lebih hebat


"gue tahu ini terlalu cepat, tapi gue nggak akan maksa loe jawab perasaan gue sekarang. gue hanya mau loe tahu perasaan gue. dan stop buat ngejomblangin gue sama tika" lanjut irfan yang sedari awal menyadari maksud tania.


"ah itu.." ucap tania yang terpotong


"gue suka sama loe dan gue nggak mau memberi harapan pada siapapun, gue nggak mau buat siapapun terluka karena prasangka mereka" kata irfan tak membiarkan tania melanjutkan perkataannya.


"udah gue cuman mau ngomong itu, selamat beristirahat tania" lamjut irfan sebelum memutuskan panggilan tersebut.


"ini bagaimana bisa?" monolog tania menatap ponsel di tangannya


"apa gue sudah salah paham, tapi bagaimana dengan tika. dia sahabat gue. nggak mungkin bisa ngelakuin itu" guman tania mengingat kembali pengalaman pahitnya di masa lalu

__ADS_1


__ADS_2