Alasan Luka Tercipta

Alasan Luka Tercipta
Menjauh


__ADS_3

Setelah kejadian di gudang belakang sekolah, Dian semakin genjar melakukan serangan pada tania tidak hanya secara langsung di sekolah, bahkan melalui media sosial juga tak terelakkan.


Namun tania terus saja berusaha bertahan. Meski sadar dirinya memiliki kekuasaan di tangannya namun tania tak ingin menggunakannya untuk melindungi dirinya. Itu hanya akan mengungkap identitasnya menurut tania.


"Hebat juga nyali lo" ucap kirana mendorong tania ke sudut koridor tempat mereka berdiri bertiga.


"Kita lihat aja sampai kapan lo bisa bertahan" seru dian melipat tangan di dada yang berdiri di belakang kirana.


"Hanya karena gue dekatan dengan lintang Kalian sampai melakukan hal serendah ini" kata tania mengangkat kepalanya yang sedari tadi tertunduk.


"Iya, apa pun akan gue lakuin dan siapapun akan gue singkirin perlahan. jika berani mendekati lintang" kata dian penuh penekanan mendekat kearah tania.


"gue nggak ada hubungan apa - apa dengan kak lintang" ungkap tania membalas tatapan dian.


"itu menurut loe, tapi tidak buat gue. loe bisa jadi penghalang dalam hubungan kami" kata Dian menunjuk dirinya


"Biarin gue nyelesein lomba ini. Setelah itu gue akan berusaha menjauh darinya. gue juga akan selalu menjaga jarak dari kalian" ucap tania menatap tajam mata dian.


"Gue janji" ucap tania meyakinkan dian, yang mulai merasa lelah dengan semua perlakuan dian dan kirana padanya.


Tidak masalah jika hanya dirinya yang terkena dampaknya tapi makin kesini tika juga ikut merasakannya imbasnya. karena selalu bersama tania.


"Ok gue pegang kata - kata loe" kata dian tersenyum licik kemudian meninggalkan tania.

__ADS_1


Waktu perlombaan tinggal menghitung hari. itu akan bagus sehingga semakin mempersingkat waktu tania bersama lintang. setelah lomba takkan ada lagi alasan tania dan lintang untuk bertemu. semua akan kembali sebelumnya. dan untuk mengurangi rasa kehilangan sosok lintang nantinya tania mulai mengurangi kegiatan belajarnya dengan lintang. Mereka tak lagi pergi ke toko buku bersama, tak lagi bertemu di kafe saat waktu senggang. mereka hanya akan belajar bersama saat jam istirahat di sekolah. meski menurut lintang itu tidak akan efektif untuk persiapan mereka. namun hanya ini yang tania bisa lakukan untuk membuktikan kata - katanya pada dian.


"Tan ntar sore loe ada acara nggak?" Tanya lintang menghentikan kegiatannya menatap tania yang diam.


"Hmm ada kak, iya gue ada acara keluarga nanti" jawab tania tanpa menoleh pada lintang berusaha menyembunyikan rasa muak dalam dirinya. rasa muak akan kebohongan - kebohingannya.


"Oh kirain nggak ada, padahal gue mau ajakin loe ke suatu tempat" kata lintang kembali melanjutkan kegiatannya. ada rasa kecewa dalam benak lintang. sudah beberapa kali dirinya mengajak tania keluar namun, selalu mendapat penolakan


"kalau gini terus kapan gue bisa membawa kamu kesana" batin lintang merasa risih dengan kelakuan tania akhir - akhir ini. seakan tania sedang Membangun tembok yang sedang membatasi dirinya dari lintang.


"Kak udah hampir bel, gue balik ke kelas duluan yah" ucap tania membereskan barang miliknya di atas meja perpustakaan.


"Buru - buru amat tan" kata lintang mengambil pulpen tania yang terjatuh.


"ah sepertinya tidak semudah menemukannya untuk membawanya menemui mu" batin lintang menatap punggung tania yang melangkah menjauh


"Loh, tan cepat amat baliknya" kata tika meletakkan novel yang sedang dia baca setelah mengetahui kehadiran tania di sampingnya.


"Yah, nggak papa kan kalau waktu belajarnya mulai dikurangi, lagian persiapan materi lombanya udah cukup menurut gue" jelas tania meletakkan buku yang dia bawa ke dalam laci miliknya.


"Oh gitu yah" kata tika berusaha mencari sesuatu dibalik bola mata coklat tania. yang hanya dijawab anggukan kecil tania.


"Atau loe lagi menjauh dari kak lintang yah?" tambah tika kembali meletakkan novelnya.

__ADS_1


"Ngomong apa sih tika, ngawur banget" kata tania tersenyum berusaha menutupi kebenarannya.


"Lagipula kita juga nggak sedekat itu tika, masih banyak yang harus gue lakuin agar orang tua gue bangga sama gue" tambah tania membuka ranselnya mengambil ponselnya sambil menunggu proses belajar di kelasnya di mulai. berusaha mengalihkan diri dari pertanyaan - pertanyaan tika.


"loe kok mulai berubah? ada apa tan?" tanya tika merebut ponsel tania


"gue berubah?" tanya tania menunjuk dirinya yang dijawab anggukan oleh tania


"gue nggak berubah kok, mungkin cuman lagi sibuk aja sama persiapan lomba nanti" jelas tania mengambil kembali ponselnya.


"loe pasti nyembunyiin sesuatu kan?" tebak tika tak ingin kalah dalam perdebatan ini


"bukan hanya gue yang ngerasa itu, kak lintang juga lebih ngerasa loe beda akhir - akhir ini" tambah tika yang membuat tania menundukkan kepalanya.


"nggak kok, gue cuman sedang berusaha memperbaiki semua" kata tania yang ambigu bagi tika.


Tania langsung merebahkan tubuhnya di kasur empuknya setelah sampai di rumah. Banyak yang ingin dia bicarakan dengan orang tuanya terutama mengenai lomba. Namun tania masih begitu sadar bahwa dirinya tidak pernah memiliki sosok ibu maupun ayah yang selalu meluangkan waktu mereka. Tempatnya mencurahkan semua keresahannya, kekhawatirannya dan rasa takutnya akan hasil lomba nanti.


Hanya tika yang terus berada di sampingnya memberi dukungan dan semangat.


Sedangkan irfan yang pernah tania anggap temannya sudah semakin jauh darinya. Irfan tak lagi berbicara bahkan menyapa tania dan tika. Meski ada harapan akan kehadiran irfan yang selalu membela tania, namun tania juga tak bisa memaksakan irfan kembali seperti dulu.


Apalagi saat melihat tika yang masih sering menatap irfan diam - diam. Itu makin membuat tania merasa bersalah pada tika. Meski tika sering menyangkal perasaannya pada irfan.

__ADS_1


__ADS_2