Alasan Luka Tercipta

Alasan Luka Tercipta
Masa lalu


__ADS_3

"sebelumnya mari berkenalan dengan benar nama gue Anggelika Tania Wijaya. dan yah! seperti yang mungkin muncul dalam benak loe saat mendengar nama wijaya. gue anak tunggal dari mahendra wijaya pebisnis yang cukup terkenal dalam kota bahkan di negara ini. beberapa majalah terkenal pernah memberitakan tentang dirinya meski tidak keseluruhan mereka beritakan" ucap tania mulai menceritakan dirinya.


"Apa! jadi loe keluarga wijaya yang terkenal kaya itu?" Tanya tika kaget dengan pengakuan yang dipekuat dengan anggukan tania.


"tapi kenapa loe nggak pernah muncul ke publik sebagai keluarga wijaya? bahkan gue mengira anak tunggal mahendra wijaya itu laki - laki" Tanya tika heran dengan kenyataan yang dia hadapi sekarang


"Nyokap dan bokap gue terlalu sibuk mengurus bisnis keluarga kami. Mengembangkannya hingga ke luar negri dan membesarkan perusahaan raksasa itu hingga mereka nggak punya waktu untuk itu" jelas tania tersenyum tipis pada tika.


"Tapi setidaknya mereka bisa ngenalin loe ke publik sekali aja" kata tika mengingat keluarga mahendra beberapa kali tersorot menghadiri pertemuan formal dengan beberapa orang - orang hebat lainnya.


"Bokap gue pernah berniat ngenalin gue ke rekan - rekan kerjanya. karena beliau beranggapan aku akan jadi penerus satu - satunya jadi perlu koneksi kedepannya" jelas tania tersenyum mengingat kembali kejadian malam itu.


"tetapi nyokap gue nggak setuju akan hal itu hingga mereka berdebat cukup lama hari itu. alasan dibalik penolakan itupun gue juga masih nggak ngerti. jadi gue selalu berusaha meyakinkan diri bahwa ini untuk kebaikan gue" tambah tania mengambil kerikil di dekatnya lalu melemparnya asal.


"Dari kecil gue selalu terkurung dalam rumah besar nan mewah, semua yang ku butuhkan selalu terpenuhi. mungkin karena hal itu hingga aku tak punya banyak teman bahkan dengan status keluarga wijaya yang gue sandang" ujar tania dengan mengenang perasaan hampa yang dulu sangat karub dengannya.


"Hanya diana yang menemaniku melewati masa - masa kecilku. Aku sangat menyayangi dirinya, dia sudah seperti saudara gue sendiri. Sampai gue kenal briant saat masih bersekolah di junior high school darma bangsa. hari - hari kami lalui bersama, banyak kegiatan yang kami lakukan bersama. Berbagi tawa dan sedih bersama. Dan mereka juga yang membuatku teralihkan dari rasa sepi saat kedua orang tua gue nggak ada buat gue" kata tania mengenang masa kecilnya.


"Sampai briant dan aku menjalin hubungan lebih dari sahabat. Awalnya aku kira diana nggak bermasalah dengan hal itu. Jadi aku tetap menghabiskan waktu bersama briant dan diana. Sampai suatu sore diana mengajakku bertemu di kafe tempat kami biasa bertemu untuk merayakan kelulusan kami" kata tania lalu menarik nafas dan menghembuskannya dengan kasar.


Flash back


"selamat sore nona, tumben agak terlambat datangnya?" sapa pelayan kafe berpapasan dengan tania

__ADS_1


"iya kak, tadi ada acara lain dulu. jadi nggak bareng sama mereka" ujar tania mengingat mereka selalu pergi bersama saat keluar ruman. namun hari ini karena perlu menemani ayahnya jadi tania membiarka diana dan briant duluan menuju kafe.


"mereka ada dimana kak?" tanya tania kembali setelah melihat tempat yang biasa mereka gunakan masih kosong.


"oh itu mereka tadi saya lihat memilih pergi ke belakang kafe. mungkin untuk ganti suasana saja" jawab pelayan kafe tersebut tersenyum ramah.


"baiklah kak, saya nyusul ke belakang yah!" pamit tania meninggalkan pelayan tersebut.


"briant..." kata tania dengan suara pelan mendapati pemandangan di luar dugaannya. briant yang mendengar namanya disebut sontak melepas pelukannya dan mendapati tania yang terkejut. suasana yang makin terasa gerah meski matahari mulai menenggelamkan dirinya.


"apa yang terjadi?" tanya tania setelah bersusah payah menguasai dirinya.


"aah sepertinya kamu sudah melihatnya, jadi nggak perlu lagi ada yang kami sembunyikan" ucap diana dengan tersenum puasnya.


"sudahlah tan, jangan bertanya lagi!. bukankah kau sudah memiliki keluarga yang kekayaannya melimpah. jangan serakah biarkanlah aku dan briant bersama" ujar diana dengan cara berbicara yang sebelumnya selalu ramah pada tania.


"bukankah kau sudah ku anggap saudara sendiri. kenapa harus seperti ini padaku?" tanya tania berharap tidak kehilangan sahabatnya itu.


"karena aku begitu iri dengan kabahgiaan kelaurgamu, aku begitu benci dengan takdir yang kau miliki" tutur diana yang semakin membuat tania tak mampu menahan rasa sesak di dadanya.


"hmm baiklah" ucap tania berjalan meninggalkan tempat itu, melangkah dengan rasa sesak, rasa kecewa dan rasa kebencian. setiap langkah yang dia ambil begitu susah dengan air mata yang tidak mau berhenti mengalir membasahi wajahnya.


...****************...

__ADS_1


"Semenjak saat itu aku nggak pernah percaya siapapun. Aku selalu berusaha menutupi identitasku yang kini kubenci. Aku nggak mau terluka untuk hal yang sama dan untuk kebodohan yang sama lagi" kata tania yang mulai sesenggukan menceritakan potongan kecil masa lalunya.


"dan Tuhan membawamu untuk menjadi sahabatku. aku masih begitu sangat takut untuk kehilangan lagi" lanjut tania dengan rasa takut yang tergambar kian jelas dalam tatapannya.


"Udah tan, masa lalu biarlah menjadi kenangan. Jangan biarin diri lo terjebak disana. Gue ada disini dan akan selalu jadi sahabat lo" kata tika berusaha menguatkan tania yang terlihat sangat rapuh.


"Tapi yang bikin gue heran kenapa lo pindah ke sekolah ini?" Tanya tika setelah tania sudah mulai tenang.


"apalagi alasannya kalau bukan untuk menghindari mereka, beberapa kali bi sharon bilang kalau briant dan diana pernah ke rumah" jelas tania mengingat informasi yang didapat dari bi sharon setelah dirinya kembali.


"Gue bangga sama lo. Lo nggak pernah nyombongin diri. Ataupun menggunakan kekuasaan keluarga lo" ucap tika tersenyum yang di balas senyum tipis oleh tania.


"Udah jangan nangis lagi, Ntar mata lo bengkak. Kita belum mulai belajar hari ini" ucap tika yang membuat tania segera menghapus sisa - sisa air matanya sebelum memakai kaca matanya kembali.


Saat kembali ke kelas tatapan semua siswa yang berpapasan dengan mereka masih sama seperti saat tania baru tiba di sekolah. Tania terus melangkah dengan menundukkan kepalanya. hingga tika menggenggam tangan tania dan berkata


"udah, Hadapin aja. Toh tuduhan mereka nggak benar kan. Gue akan selalu mendukung lo" yang membuat tania kembali menegakkan kepalanya.


"iya gue harus bisa ngelawan. Gue nggak boleh lemah lagi. Tunjukin ke mereka sekuat apa diri loe tania" batin tania.


"Dugaan gue emang benar" monolog lintang berdiri di pohon besar yang tidak jauh dari tempat tania dan tika duduk sebelumnya. "Gue pasti nepatin janji gue sama loe" kata lintang tersenyum tipis memandang punggung tania dan tika yang perlahan hilang dari taman belakang tersebut.


Awalnya lintang melihat tania yang di tarik oleh tika di koridor saat hendak menuju kelasnya. Karena penasaran dengan apa yang baru dia dengar saat sampai di sekolah. Lintang mengikuti tania dan tika secara diam - diam. Dan usahanya ternyata membuahkan hasil. Dia sudah yakin telah menemukan orang yang dia cari setahun ini. hanya untuk bisa menepati janji pada temannya.

__ADS_1


__ADS_2