
Banyak kisah yang terjalin di bawah mentari. Namun hanya mereka yang sanggup bertahan menghadapi masalah bersama dan berjuang bersama yang akan bertahan hubungannya.
"Tan tahu nggak?" Kata tika yang belum selesai
"Nggak?" Kata tania memotong dengan senyum jailnya
"Ih tania, gue serius dengarin gue dulu" ucap tika serius yang mendapat anggukan dari tania
"Ternyata Irfan udah punya degem, di kelas kita lagi" jelas tika dengan serius
"Maksud loe gebetan. Yah gue tahulah" kata tania sambil melipat tangan di dadanya
"Serius loe tahu? Siapa?" Tanya tika yang makin mendekat ke tania saking penasarannya
"Bukannya loe yah?" goda tania yang mendapat toyoran dari tika
"Hahaha, udah.. udah jangan ngambek" tawa tania menanggapi sikap tika
"Udah mending lo perbaikin diri. Perbanyak amal ibadah. Masalah jodoh ntar juga ketemu sendiri" kata tania dengan penuh penghayatan
"Tapi gue penasaran banget" ucap tika memelas
"Udah jangan terlalu kepo. Ntar sakit loh" kata tania santai
"Tania, dengar yah mungkin rasanya memang sakit saat orang yang kita cintai bersama orang lain. Tapi saat kita tahu orang yang di sampingnya itu baik dan tepat untuknya kita pasti ikut merasa lega dan untuk mengiklaskannya pun pasti nggak berat amat" jelas tika yang membuat tania melongo
"Sumpah loe dewasa amat" seru tania merasa takjub dengan perkataan tika
"Makanya gue tanya siapa sih yang lagi Irfan dekati di kelas?" Tanya tika kembali
"Yah mana gue tahu. Irfan aja nggak pernah bilang" kata tania mengangkat kedua bahunya
"Emang loe sedekat itu sama irfan sampai dia bilang sama loe siapa yang lagi dia incar" cerocos tika
"Santai tika, nih minum dulu" kata tania menyodorkan botol air mineral
"Capek juga yah ngomong sama loe" kata tika setelah meminum air tersebut
"Makanya jangan bahas irfan mulu. Kalau lo suka beneran yah perjuangin. Kalau loe cuman kagum sama dia yah jangan kepo banget tentang dia" jelas tania mengambil kembali botol air mineral
"Tahu nih, gue juga nggak tahu perasaan gue" kata tika beranjak berdiri
"Trus sekarang gimana?" Tanya tania kembali
__ADS_1
"kalau semingguan ini gue masih kepikiran yah gue terusin kalau nggak yah gue stop" kata tika menunduk
"Hmm yang sabar yah, tapi moga - moga aja tuh si irfan cepat sadar dan peka sama loe" kata tania sambil menepuk pelan bahu tika.
Setelah beberapa hari sejak percakapan itu. Tika benar - benar mulai sedikit berubah sikapnya pada irfan. Nggak seperti dulu yang kalau ada irfan dia paling gercep. Tapi kini kesannya tika mulai berusaha untuk cuek dan sedikit menjauh dari irfan maupun mulai mengurangi membahas irfan. Meskipun dari diamnya tania cukup tahu dia masih menaruh harapan sama irfan.
"Tan, gue boleh nanya nggak?" Kata irfan saat berjalan bersamaan ke kelas setelah pelajaran penjas di lapangan berakhir.
"Mau tanya apa?" Tanya tania balik
"Dia kenapa?" Tanya irfan menunjuk tika dengan dagunya yang akrab berbicara dengan julio anak baru
"Lagi bicara sama julio kan?" Jawab tania singkat
"Bukan itu maksud gue. Semua orang juga tahu tika lagi ngobrol sama julio" kata irfan mengacak rambutnya frustasi sendiri
"Maksud gue kenapa tika kayak berubah cuek sih" tambah irfan yang membuat tania mengangguk mengerti pertanyaan irfan
"Perasaan loe aja mungkin. Tika masih sama kok tingginya aja masih 143" kata tania berusaha menghindari pertanyaan intens irfan
"Wah loe di ajak serius malah bahas yang lain" kata irfan menurunkan bahunya
"Yaudah gini deh emang tika cuek kayak gimana sih?" Tanya tania
"Chat gue kadang di anggurin. Bicara sama gue seperlunya" kata irfan sambil menghitung dengan jarinya
"Hah. Kenapa?" Tanya irfan yang ikut berhenti
"Emang siapa sih gebetan loe di kelas?" Tanya tania
"Apa hubungannya coba?" Kata irfan
"Tahu ahh. Lo nggak ngerti juga. Gue duluan yah?" Kata tania meninggalkan irfan yang masih nggak peka dengan perasaan tika.
Karena tika sudah mulai akrab dengan julio si anak baru jadinya kemana - mana mereka pergi bertiga. Nggak tahu juga sih julio kenapa lebih milih gabung bareng tika sama tania dibanding gabung sama anak cowok atau anak yang lain.
Julio ini tipikal anak yang nggak terlalu pendiam. Tapi dia nggak terlalu terbuka juga tentang hidupnya. Dia lumayan ganteng dengan kulit sawo matang. Tingginya mungkin sama dengan irfan. Kalau dilihat dari bentuk tubuhnya mungkin dia atlet atau pemain basket. Minggu pertama dia sekolah, dia udah diajak pak jay buat gabung sama tim basket. meski sempat menolak tapi akhirnya dia gabung juga sama tim basket sekolah.
"Tan temanin gue ke ruang osis dong" pintah tika
"Ngapain ke sana?" Tanya tania sambil memainkan sedot minuman
"Buat bawa nih proposal" kata tika mengangkat map biru di tangannya
__ADS_1
"Kok lo yang bawa bukannya Risna yang bawa kemarin" kata tania.
"Risna kan lagi sakit. Karena rumahnya gue lewati yah dia nitip sama gue tadi" jelas tika
"Yaudah deh, ayo" kata tania menyeruput habis ultra milk di tangannya
Saat melewati koridor kelas tatapan tika masih saja tertuju pada lapangan basket dimana anak - anak basket sedang berlatih buat perlombaan sekolah minggu depan.
"Katanya mau stop" kata tania menyita perhatian tika
"Gue nggak lihat in irfan kok" kilah tika mengalihkan pandangannya
"Gue cuman prihatin julio cara mainnya bagus juga yah?" Tanya tika
"gue tahu kok tika, loe masih berharap sama Irfan kan? Tapi irfannya aja yang dasar nggak peka" batin tania menatap irfan yang sekilas pandangan mereka bertemu hingga tania refleks menoleh ke arah lain.
Tok tok tok
"Slamat siang kak" kata tika yang membuat seluruh anggota osis menoleh ke arah pintu
"Kenapa dek?" Tanya dian yang duduk paling dekat dengan pintu
"Mau ngantarin proposol kak" kata tika dengan sangat ramah sambil mengangkat map biru di tangannya
"Risnanya kemana dek?" Tanya dian
"woi di suruh masuk dulu kek baru nanya ini itu. Nggak tahu apa rasanya berdiri aja di pintu" gerutuh batin tania yang sudah mulai kesal mendapat tatapan dari beberapa anak osis.
"Lagi sakit kak, makanya dia nitip" kata tika masih setia berdiri di ambang pintu
"Sini dek proposalnya" kata lintang menghampiri kami tika langsung menyerahkan map biru tersebut
"Hai tania, udah makan?" Tanya lintang tersenyum ke arah tania
"Apaan sih kak" ucap tania mengalihkan pandangannya
"Aku kan disini tan. Bukan di sana" kata lintang memegang bahu tania yang membuat wajah tania menghadap ke arahnya dan sekilas pandangan mereka bertemu
"Hemmm" deheman tika yang sukses membuat tania dan lintang teralihkan
"Dikondisikan dong kak" kata tika tersenyum
"Hehehe sorry" kata lintang terkekeh
__ADS_1
"Udah bereskan, ayo balik" kata tania menarik tangan tika
"Kita duluan yah kak" kata tika sebelum benar - benar jauh melangkah