
"selamat malam. Besok gue jemput loe yah?" pesan dari lintang yang membuat tania merasa aneh
"emang gue udah sedekat itu yah sama dia sampe ngomong pake gue loe" monolog tania masih memastikan isi pesan teks itu.
"ah tidak, dia kan memang selalu akrab dengan semua orang. dia juga baik ke siapapun" tambah tania meletakkan ponnselnya tanpa mereply notifikasi tersebut.
"eh tapi kalau dia benaran jemput trus teriak - teriak di rumah orang bisa gawat" batin tania menduga hal yang mungkin akan terjadi besok.
"Malam juga kak. tidak perlu kak, takutnya malah merepotkan. Kita bisa langsung ketemuan di toko buku saja kak" pesan yang dikirim tania setelah mengetik dan mengapus beberapa pesan sebelumnya.
"huftt terselamatkan" kata tania merasa lega setelah mendapat persetujuan dari lintang.
Setelah bersiap hampir 15 menit Tania yang menggunakan celana jeans biru yang dipadukan dengan kaos putih dilengkapi dengan sweter abu - abu, yang tetap kelihatan anggun dikenakannya.
"Mau kemana non?" Tanya pak dadang melihat Tania sudah siap dengan ranselnya. "Mau ketemu teman di luar pak" jawab tania ramah menghentikan langkahnya sekejap menuju ke garasi.
"perlu saya antar non" tawar pak dadang. "Nggak usah pak soalnya ntar masih ke tempat lain lagi. jadi nggak langsung pulang juga pak" tolak tania tak ingin merepotkan pak dadang.
"akhirnya anda bisa kembali lagi nona, saya selalu mengharapkan nona secepatnya seperti dulu. nona yang ceria dan penuh dengan kebahagiaan" batin pak dadang memandang punggung tania yang perlahan hilang ke dalam garasi.
Tanpa tania sadari perubahan besar mungkin sedang menunggunya. perubahan yang mungkin akan sedikit kembali membawa tania yang dulu.
tania keluar dari garasi dengan mengendarai motor maticnya. Motor yang selalu menemaninya saat sedang menghilang dari dunia ini beberapa bulang lalu.
"angin di sini ternyata masih sama, yang berbeda hanya suasananya. kini makin ramai saja" guman tania yang berbaur dengan suara mesin motornya dan suara kendaraan lain.
"Hai kak. Udah lama yah?" Sapa tania menghampiri lintang di depan toko buku.
"Gue juga baru nyampe" jawab lintang tersenyum ramah.
"Lo kesini naik motor?" Tanya lintang heran memandang motor tania yang terparkir rapi.
__ADS_1
"Iya, emang kenapa kak?" Tanya tania heran memandang motornya sekilas.
"Nggak papa. Langsung Kedalam yuk" kata lintang membuka pintu toko tersebut membiarkan tania lewat terlebih dahulu.
"Makasih kak" ucap tania tersenyum tipis.
"Nggak usah pake kak. Panggil lintang aja biar lebih enak ngobrolnya" kata lintang.
"hehe baik kak, nanti aku biasain panggil nama langsung" ujar tania membuat lintang tersenyum tipis seraya mengangguk kecil.
"semakin gue kenal lo. Gue harap lo memang anggel yang selama ini gue cari" batin lintang mengekor di belakang tania yang sibuk mencari beberapa buku. melewati beberapa rak buku yang berisi ribuan jenis buku.
"Eh anggel udah lama yah nggak kesini?" Ucap pelayan kafe tersebut menyajikan pesanan tania dan lintang ke atas meja. Sedang tania hanya tersenyum menanggapi sapaan pelayan kafe.
"Lo udah sering kesini?" Tanya lintang di sela kesibukan mereka.
"Kenapa kak?" Tanya balik tania yang masih sibuk mencoret - coret kertas soalnya.
"Iya kak dulu sering main ke sini tapi itu dulu sebelum..." ucap tania menghentikan kegiatannya sebentar.
kenangan - kenangan itu mulai bermain kembali dalam ingatannya. kembali menghadirkan perasaan dan suasana yang begitu terasa mengiris mengilukan hati. perasaan hampa yang membuyarkan konsentrasi tania.
"Sebelum?" Tanya lintang mengharapkan penjelasan lebih.
"Hmm sebelum pindah keluar kota" jelas tania setelah berfikir sejenak.
"apa gue salah orang yah?" batin lintang menatap intens tania berharap bisa menemukan jawaban dari ekspresi wajah tania
"Tan mau gue anterin sekalian nggak?" tanya lintang berdiri mengenakan jaket kulitnya.
"Gue kan bawa motor kak" ucap tania yang masih sibuk memasukkan kertas serta buku kedalam ranselnya.
__ADS_1
"Oh iya lupa" ucap lintang terkekeh.
"kenapa jadi pelupa begini sekarang?" batin lintang melempar pandangan ke sudut ruangan. berharap tania tak menyadari kebodohannya.
"Udah semua kan? bareng ke parkiran yuk" ajak lintang pada tania.
"Hmm" jawab tania mengangguk kecil. Bergegas berdiri mensejajarkan langkah mereka.
"Gue duluan yah kak" kata tania yang sudah siap dengan motornya.
"iya, hati - hati loe di jalan" kata Lintang yang juga sudah siap dengan motor yang menyala.
"Gue harus ikutin, biar gue makin yakin. jangan sampai salah orang lagi" batin lintang menatap motor tania yang sudah keluar dari parkiran kafe.
Setelah lintang yakin jarak mereka sudah aman dia mulai melajukan motornya. Mengawasi arah motor tania dari jarak yang nggak terlalu jauh dan tak terlalu dekat. Berharap tania tak menyadari yang dilakukannya.
"Kok dia nggak berhenti, bukannya itu rumah yang kemarin" guman lintang saat motor tania melewati rumah yang dia tunjuk kemarin. Lintang terus membuntuti tania. Hingga tania berhenti di rumah mewah dan besar. Membuka kaca helmnya membunyikan klakson motornya beberapa kali. hingga seorang pria gagah yang mengenakan seragam hitam rapi membuka pintu gerban. pria itu sempat berbincang kecil dengan tania sebelum tania melajukan kendaraannya meninggalkan gerbang besar itu.
"akhirnya gue udah nemuin lo" batin lintang melihat kejadian tersebut dari jarak yang lumayan jauh.
"ahh setelah sekian lama, gue nggak mungkin salah orang lagi dan gue juga pasti nepatin janji gue sama loe secepatnya" ujar lintang masih menatap penuh harapan pada rumah besar nan mewah itu
"bi! apa papi belum pulang?" tanya tania saat berpapasan dengan bi sharon.
"belum nona, bapak nggak bilang akan pulang dalam waktu dekat ini" jawab bi sharon sesuai dengan yang dia ketahui dari supir pribadi yang biasa menemani sang tuan bepergian.
"ada apa nona? jika ada yang ingin nona sampaikan, mungkin nona bisa menghubungi tuan" saran bi sharo
"ahh tidak bi, saya hanya bertanya asal. baiklan saya naik dulu bi" kata tania melanjutkan langkahnya menaiki setiap anak tangga.
"ah sudahlah, papi juga pasti sedang sibuk sekarang. aku harus menyiapkan semua dengan baik. agar nanti setidaknya ayah bisa memaafkan ku" monolog tania mengeluarkan semua isi ranselnya ke atas meja belajarnya.
__ADS_1