
sesampainya dirumah Mita langsung masuk kedalam kamarnya, membersihkan diri dan berbaring di kasur empuk kesayanganya.
air matanya kembali menetes, menyesal menikah kembali tidak itu tidak boleh ada di pikirannya, menikah adalah keputusanya, meratapi nasib sepertinya juga sudah bukan itu yang harus dilakukan, lalu apa yang harus dilakukan, ingin rasanya menumpahkan segala kekesalan di dalam hatinya, ingin mengadu tetapi kemana Mita harus mengadu ?
mengadu pada ayahnya hanya akan membuat orang tuanya sedih, mengadu pada kakaknya juga tidak boleh Mita lakukan, karna kakaknya harus menjaga istrinya yang sedang hamil, teringat akan sosok ibu yang sudah lama meninggalkan semakin menambah sesak dihatinya, bahkan Faiz anak yang selalu menjadi penenangnya juga tak ada di sampingnya.
Tuhan mapukah masih aku melewati ujian yang aku terima? tanya Mita di hatinya, lelah dengan hal yang dialami terlalu lama menangis membawa Mita kedalam mimpi yang entah sejak kapan dia tertidur.
.
.
Wahyu masih berada didalam mobilnya memperhatikan rumah yang tadi di masuki oleh istrinya, pikirannya melayang, memikirkan apapun yang harus dilakukan agar Mita mau memaafkannya, dan kembali percaya padanya, kenapa benar-benar menjadi sebuah petaka baginya sendiri, saat dirinya merasa sudah menjadi seorang yang lebih baik ternyata tidak benar, hanya dengan godaan semu Wahyu kembali pada sifatnya yang suka bermain.
Wahyu takut jika Mita tak akan mau lagi memanfaatkan, mengingat Mita yang sangat mengenal dirinya sejak dulu, seorang pria breng***.
Matahari sudah berganti dengan bulan, tak ada aktifitas apapun dari rumah yang terus di perhatikan Wahyu, akhirnya dia memilih kembali keapartemenya.
bagaimana apa kamu sudah bertemu istrimu ? sudahkah kamu katakan maaf ku padanya ? ingatlah bagaimana perjuangan kamu mendapatkanya, jangan lagi kamu menyakitinya, maafkan aku juga yang bersalah pada kalian, aku kembali ke Jepang dan semua urusan bisnis sudah aku titipkan pada asistenku, semoga ini menjadi pelajaran berharga untuk kita.
pesan yang sempat di baca Wahyu dari Jenny dan tak berminat membalasnya, sebelum akhirnya dia mengemudikan mobilnya.
__ADS_1
.
.
Mita disibukkan dengan berbagai macam alat memasak yang ada didapur, mengalihkan pikirannya dari rumitnya perjalanan rumah tangganya, berbagai macam menu di masaknya tanpa tahu siapa yang akan menghabiskan makanan yang sudah hampir memenuhi meja makan, bahkan bi Tini menggelengkan kepalanya dan terus mengingatkan Mita, yang begitu semangat memasak.
Mita menghubungi ayah, kakak dan istrinya untuk datang kerumah, selang satu jam kemudian yang datang hanya Alif dan istrinya sedang Hendra sedang berada di Kalimantan mengunjungi saudaranya.
Mita mengajak kakak dan iparnya untuk makan bersama, tentu saja langsung di setujui oleh sepasang suami istri yang memang tujuan mereka datang untuk makan siang bersama.
" kenapa kamu sendiri, Wahyu kemana ? ini banyak banget makanannya " tanya Alif
" Wahyu ada janji ketemu rekan bisnisnya bang " jawab Mita yang kembali mulai kehilangan selera makanya
" aku ikut kakak aja " sahut Ita
" apaan ? ogah aku ajak kamu kekantor, bukanya kerja malah capek nurutin permintaan kamu hang aneh-aneh " jawab Alif dengan santai
" begitukah ? kalo begitu seminggu kedepan aku nginep tempat mba Mita aja, kamu tidur sendiri " sahut Ita
" hah aku tadi ngomong apa yang ? kan tadi aku bilang kalo mau ikut ayo " jawab Alif cepat, mana bisa tidur dia kalo tidak ada istrinya yang saat ini terlihat semakin seksi menurut Alif, Mita tersenyum tipis lihat pertengkaran pasangan suami istri dihadapanya, lumayan lah untuk hiburan pikirnya.
__ADS_1
selesai makan siang bersama Alif buru-buru mengajak istrinya yang kekeh ingin ikut dengannya, bukan dia tidak ingin menemani Mita yang jelas dia tahu sedang menghadapi masalah, hanya saja menurutnya mungkin saat ini Mita sedang ingin waktu sendiri.
terlalu bertanya dan ikut campur Ita juga tidak berani, sangat ingin menceritakan kejadian waktu di cafe pada Alif, tetapi ini bukan kapasitasnya, dia berharap semoga Mita, Ita berharap agar masalah adik iparnya lekas selesai dan benar-benar berbahagia.
setelah mengantar abang dan istrinya sampai tak terlihat lagi, Mita kembali masuk kedalam rumah meminta bi Tini membagikan makanan yang sudah di masaknya kepada siapa saja yang mau.
.
.
Wahyu yang saat ini sedang berada di kantornya sama sekali tidak bisa fokus pada pekerjaanya, bahkan hampir saja dia kehilangan calon rekan bisnisnya, pikirannya takut jika Mita memilih meningalkanya seperti dulu saat Mita kabur dari Bimo, hatinya selalu mengucapkan doa agar Mita tak melakukan itu.
sedangkan Mita sedang mengingat-ingat beberapa hal yang berhubungan dengannya, apa jika saat itu om Ryan tidak memintanya ke Jepang sampai saat ini dia tidak akan tau jika Wahyu bermain di belakangnya? apa maksud telfon kak Bimo waktu itu juga karna sudah tahu dengan apa yang dilakukan Wahyu ? apa ini juga alasan Arga memaksanya menikah denganya ?, tidak ini adalah jalan Tuhan, semua yang dilaluinya adalah takdirnya, hanya saja Mita tidak pernah tau jika Via dan Bimo sudah berpisah, karna Via memilih kembali pada cinta lamanya dan meninggalkan anak satu-satunya yang mereka miliki pada Bimo.
Mita tersadar dari lamunanya saat mendengar suara bell rumahnya berbunyi, dan bergegas untuk menyambut tamu yang datang.
" siapa ?" tanya Mita sebelum membuka pintu tetapi tak ada jawaban, Mita menatap seseorang yang berdiri di hadapanya.
***************
Jangan lupa dukung author ya Like, Komen dan Vote yang banyak 😘❤😘❤
__ADS_1
baca juga karya ku yang lainya, selamat menikmati cerita semoga sampai di sini tidak membosankan 😘
Terimakasih yang sudah selalu memberikan dukungan Love You 😘