
"sudah tadi aku minta bikinin bi Tini rujak mangga, sama makan bakso " jawab Mita
" kok kamu setiap kali hamil suka banget makan rujak sama bakso, jadi inget dulu waktu nemenin kamu ngidamnya Faiz " ujar Wahyu
uuhhuuuk.....uuuhuuuuk.....
suara seseorang tersedak saat melahap makanannya, dan tanpa Wahyu sadari panggilan telfonya sudah terputus. " loh kok mati " gumam Wahyu lalu lebih memilih ikut makan dengan Bimo yang menatapnya tajam.
" Yu bisa gak kamu jangan mengingatkan Mita dengan hal yang berhubungan sama Faiz ?" tanya Bimo
" kenapa ? kan aku ngomong apa adanya " jawab Wahyu
" secara gak langsung kamu buat Mita sedih Wahyu, jangan bilang karna ngidam kamu jadi bodoh " geram Bimo
" kamu kok perhatian sama istriku ?" tanya Wahyu
" terserah, aku cuma mengingatkan kamu " ujar Bimo melanjutkan makanannya, ada rasa iri di hati Bimo, ya Bimo memang tak sempat merasakan bagaimana nikmatnya meladeni ibu hamil ? karna Via dulu tak begitu menuntut apapun.
.
.
Mita masih terisak di atas kasurnya, mengenang saat sedang mengandung Faiz, bagaimana susahnya menenangkan segala pikirannya saat pertama kali mengetahui dirinya tengah hamil, menahan setiap amarah yang menggebu di dalam hati, setiap menatap diri sendiri terus merasa kotor, dan setelah kelahiran Faizlah yang membuat semuanya baru terasa berubah, merubah cara berpikir agar tetap dan terus tenang, hingga dirinya berhasil membesarkan Faiz, walau hanya sebentar memberikan kebahagian untuk Faiz bisa bersama papinya, saat ini Mita hanya harus terus bersyukur, bersyukur dan bersyukur, atas setiap kebahagiaan baru yang di berikan Tuhan, menangis bukan untuk menyesali tetapi bolehkan ini hanya mengenang dan seterusnya hanya menjadi kenangan.
__ADS_1
tetapi Mita masih kesal dengan ucapan Wahyu tadi, entah Wahyu sengaja atau tidak lantaran ada Bimo di sampingya,
" awas aja kalo nanti balik, aku bales kamu " ucap Mita sambil masih sesekali terisak dan menyuapkan beberapa biskuit kedalam mulutnya.
hari ini seharusnya Mita bekerja, tetapi hari ini dia benar-benar malas dan sampai meminta izin pada Ryan, dia melimpahkan semua pekerjaanya pada Dewi sekretarisnya yang Mita yakini saat ini sedang bekerja sambil menggerutu, sedang Mita setelah menghabiskan semua cemilan yang di siapkan bi Tini memilih kembali tidur kekamarnya, membuat bi Tini menggelengkan kepalanya, karna sejak kedatanganya ke apartemen Wahyu dia sudah beberapa kali menyiapkan cemilan untuk Mita.
.
.
kembali ke Kalimantan, Alif baru saja sampai dan mendukung dirinya di sofa kamar hotel yang menjadi tempat menginapnya bersama Wahyu dan Bimo.
" banyak tingkah kamu, memanfaatkan keadaan memakai nama Mita buat nurutin keinginan kamu yang gak bermanfaat " ujar Alif yang kesal dengan iparnya, bisa-bisanya Wahyu tiba-tiba menelfonya dan memintanya ke Kalimantan hanya untu meladeni rasa mengidamnya, menggunakan nama Mita sebagai alasan dan akan mengadukanya, sedang Alif sangat tidak ingin adik kesayangannya kecewa dengan terpaksa menuruti keinginan Wahyu.
" sesekali bang, demi ponakan kamu bang " jawab Wahyu
" dasar ipar gak tau diri, nyusahin orang " gerutu Alif dan masih banyak lagi gerutuan lainya yang di acuhkan Wahyu dan tanpa Alif sadari jika Wahyu sudah terlelap dalam Mimpi begitu pula dengan Bimo yang merasa harinya lelah bukan karna pekerjaan. Alif mendengus kesal melihat dua pria yang terlelap, kini giliran dirinya yang memilih membersihkan diri dan ikut terlelap.
.
.
ke esok paginya, mereka bertiga sudah berkumpul di sebuah warung sederhana yang menjual menu makanan sesuai harapan Wahyu, selain nasi kuning ada juga menu lontong sayur yang di pesan Wahyu, Bimo dan Alif sudah memulai makan sarapan mereka dengan tenang, tanpa perduli Wahyu yang hanya menatap mereka berdua.
__ADS_1
" enak ?" tanya Wahyu pada dua pria di hadapanya yang mendapat anggukan sebagai jawaban.
dengan semangat Wahyu menyuapkan sesendok penuh nasi kuning kedalam mulutnya, dan baru saja dia akan mulai mengunyah, perut Wahyu sudah bergejolak mual dan membuatnya harus berlari mencari tempat untuk muntah.
"nih minum" ujar Alif sambil menyodorkan segelas teh panas, tanpa aba-aba lagi Wahyu langsung meminum teh panas itu.
" Syukurin, gak jadi makankan kamu, kualat ngerjain kami berdua, nikmatin aja acara mual muntah mu " ucap Alif dengan seringai puas, menatap wajah pucat Wahyu.
" ayo Bim lanjut makan lagi, biar aja dia kelaparan " sambung Alif lagi
" ingat ini untuk pertama dan terkahir kalinya kamuembawa aku kedalam rasa ngidam mu " ujar Bimo yang sama halnya dengan Alif tak perduli dengan Wahyu yang terduduk lemas.
" Lif ayo kita pulang" ajak Bimo setelah selesai makan
" iya " jawab Alif
" yakin kamu gak mau makan yang lainya Yu ?" tanya Alif
" enggak bang aku gak selera " jawab lesu Wahyu yang mengikuti langkah Bimo dan Alif
"awas aja sampai Mita protes ke aku gegara gak mengingatkan kamu makan " ancam Alif
" enggak bang " jawab Wahyu, tidak tahukah kakak iparnya ini, jika dirinya sedang kesal setengah hati, keinginan begitu menggebu untuk makan nasi kuning, ayam sambal merah, oseng tempe kering dan serundeng kelapa, yang membayangkanya saja membuat air liurnya mencuar tetapi tak dapat menikmati makanan itu, apalagi tempat makan yang harus menempuh satu jam menggunakan pesawat, sama sekali bukan kakak ipar yang pengertian, dengus Wahyu.
__ADS_1
*********
Selamat membaca dan jangan lupa untuk terus memberikan dukungan love U