Alesse'S Connect : The Alchemist

Alesse'S Connect : The Alchemist
Terbangun


__ADS_3

"Loh? Di mana ini? Bukankah seharusnya aku berada di pertarungan? Atau mungkin itu semua sudah diselesaikan oleh Aqua? Kalau begitu aku bisa bersantai sedikit di tempat ini," ujar Alesse kemudian kembali memejamkan matanya.


"Alice! Alice! Bangun!" panggil seorang remaja. "Dia memanggil siapa? Alice kan? Bukan Alesse?" Alesse masih bergumam sendiri.


Pada akhirnya remaja itu menarik selimut yang sedang membungkus tubuhnya. Alesse pun langsung beranjak dari posisi tidurnya.


"Ayo berlatih, Alice! Jangan malas-malasan!" ujar remaja itu. "Maaf, kau siapa? Kau mengenalku?" tanya Alesse. Remaja itu menatapnya penuh keheranan.


"Tentu saja aku kenal! Kau adalah adikku, Alice! Ayo berlatih! Bersikap aneh seperti itu tidak akan membuatku berubah pikiran!" ujar remaja itu.


"Huh! Anak laki-laki ini benar-benar merepotkan!" ujar Alesse kesal. "Maaf, bocah! Sepertinya kau salah orang, aku bukan adikmu," ujar Alesse, ia mencoba mengusap-usap kepala anak itu, namun kenyataannya tubuhnya lebih kecil darinya.


"Loh? Ada apa dengan tubuhku?" Alesse keheranan, ia pun sadar kalau tangannya sangat mungil dan lemah. Ia pun mencoba meraba-raba wajahnya, itu masih tampak halus dan kenyal.


"Loh? Apa-apaan wajah bayi ini?" Alesse benar-benar terkejut, ia pun mencoba bercermin dan mendapati wajah seorang gadis kecil berambut biru.


"Ayo Alice! Ini sudah siang!" ujar remaja itu. Ia pun menarik lengan Alesse hingga keluar rumah sedangkan orang-orang tampak menunggu kedatangan mereka berdua.


Masing-masing dari mereka diberikan sebuah pedang menyerupai jarum raksasa yang lentur seperti cambuk. "Apa ini? Seni anggar? Untuk apa benda ini?" Alesse keheranan, ia mencoba memeriksa kelenturan dan ketajaman pedang yang ia dapatkan itu.


"Hei, Alice! Jangan main-main! Tunjukkan hasil latihanmu!" tegur seorang wanita.


Remaja tadi pun memulai aksinya dengan mengayunkan pedang itu pada batu besar. Sat itu juga batu tersebut terbelah menjadi dua. Orang-orang pun bertepuk tangan karena terkesan.


"Dih! Menyeramkan sekali, ini tidak seperti seni anggar!" Alesse menyimpulkan. Akhirnya orang-orang mempersilahkannya untuk beraksi.


"Dengan kelenturan yang luar biasa ini, pedang ini juga sangat kuat. Untuk membelah batu itu menjadi beberapa bagian sangatlah mudah. Aku hanya perlu menerapkan beberapa prinsip pesawat sederhana," ujar Alesse dalam hati.


Ia langsung memasang kuda-kuda, hendak mengayunkan pedangnya. "Palingan tidak akan terjadi apapun!" bisik salah seorang pelayan.

__ADS_1


"Benar sekali, apa yang bisa diharapkan dari anak perempuan? Mereka hanyalah aib di keluarga bangsawan," bisik seorang pelayan lainnya.


Akhirnya sebelum mata pedang itu menyayat batu, Alesse sempat menghentikan gerakannya, membuat pedang yang ia pegang itu terlepas dari kedua tangannya karena terlalu lentur.


"Seperti yang kita duga, dia benar-benar payah," bisik seorang pelayan.


Seorang pria yang ikut memerhatikannya juga menatapnya dengan penuh tatapan dingin. Ia langsung berbalik badan karena kecewa.


Orang-orang pun langsung meninggalkannya karena muak melihat aksinya yang payah.


Setelah melihat semua yang terjadi saat ini, akhirnya Alesse pun menyadari keadaannya. Sekarang ini ia berada di dunia yang berbeda.


"Bisa disimpulkan kalau aku sekarang sudah mati dan bereinkarnasi menjadi seorang gadis. Sekarang aku hidup di zaman yang mana perempuan sangat direndahkan martabatnya," ujar Alesse. Akhirnya ia mengabaikan semua hal tentang kehidupan sebelumnya dan berfokus pada kehidupannya yang sekarang ini.


"Sudah kuputuskan! Kali ini tujuanku adalah mengangkat kembali derajat wanita yang telah diinjak-injak!" seru Alesse dalam hati.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Sial! Aku tidak bisa terus begini! Tujuan baruku tidak mungkin tercapai jika tiap hari yang kulakukan adalah berpura-pura! Tapi tiba-tiba menjadi kuat juga sangat mencurigakan!" gumam Alesse.


Ia mondar-mandir berkali-kali untuk memikirkan sebuah cara. Setelah mengetahui banyak tentang dunia ini, akhirnya ia pun memutuskan untuk mulai bertindak.


"Oke! Sudah kuputuskan! Mungkin malam ini bisa kulakukan!" serunya.


Malam pun tiba, ia langsung menyelinap dalam gelap dengan jubah hitam. "Sayang sekali aku tidak memiliki tongkat serba gunaku. Kalau itu masih ada, mungkin aku bisa menggunakan Levy untuk menyelinap ke berbagai tempat tanpa menimbulkan suara," ujarnya.


Ia pun berkeliling kota tanpa tujuan, sebenarnya malam itu ia hanya memutuskan untuk melihat-lihat saja.


Akhirnya sesuatu yang menarik pun muncul. Seorang wanita tampak tersudutkan oleh beberapa pria yang sedang mabuk.

__ADS_1


Sebenarnya ada beberapa orang yang melihat, namun mereka tidak mempedulikannya.


"Itu salah dia! Kenapa perempuan keluar malam-malam? Benar-benar bodoh sekali," ujar salah seorang, mereka pun pergi berlalu begitu saja meskipun wanita itu berkali-kali meminta tolong.


"Wah-wah! Separah ini kah kondisi dunia ini?" ujar Alesse yang sudah berada di atap dekat para pria menyudutkan wanita itu.


"Siapa kau? Anak kecil?" Salah seorang pria keheranan melihat Alesse berada di atap rumah. Alesse pun menyingkap penutup kepalanya sehingga rambut panjangnya terurai.


"Seorang gadis?" Salah seorang pria terkejut melihat rambut biru Alesse yang tertiup angin.


"Wajahnya boleh juga! Hei gadis kecil, turunlah! Mau bermain dengan paman?" tanya seorang pria lainnya.


"Tidak perlu, terima kasih tawarannya," ujar Alesse sambil meraba-raba punggungnya. "Oh, iya! Aku sudah tidak punya tongkat itu lagi! Sepertinya aku harus menghajar mereka dengan cara lain," ujar Alesse kemudian mengambil beberapa genting yang ada di pijakan kakinya. Ia pun menendang genting itu hingga terlempar ke wajah salah seorang pria.


"Darah! Kau berdarah!" Para pria langsung panik melihat salah seorang dari mereka langsung tumbang dengan dahi yang berlumuran.


"Waduh gawat, aku berlebihan," ujar Alesse dengan rasa bersalah. Ia langsung turun ke bawah lalu menarik lengan wanita itu selagi para pria teralihkan dan membawanya ke tempat yang lebih sepi.


"Te... terima kasih....." Wanita itu bingung hendak memanggil Alesse apa. "Namaku Alesse, panggil saja Alesse.... eh, salah! Yang benar Alice," ujar Alesse.


"Te... terima kasih, Alice!" Wanita itu agak gugup karena menghadapi gadis kecil yang sangat cekatan.


"Santai saja! Ngomong-ngomong, kenapa kakak keluar malam-malam begini? Bahaya loh! Banyak orang-orang mabuk yang berkeliaran di sini, dan baru kali ini aku lihat seorang wanita nekat keluar dari rumahnya di malam hari," ujar Alesse.


"Ini tidak adil! Kenapa hanya wanita? Bukankah kau juga merasa begitu? Kau juga nekat keluar malam hari! Kenapa wanita tidak diperbolehkan keluar malam? Ini tidak masuk akal!" ujar wanita itu.


"Bukannya tidak masuk akal, ini pengetahuan yang sudah umum pada zaman dahulu. Malam hari adalah waktu beraktivitasnya hewan-hewan buas. Sedangkan wanita terkadang mengalami datang bulan. Jika mereka keluar dari rumah, mereka akan mengundang banyak binatang buas karena bau darah yang menyengat," ujar Alesse.


Wanita itu pun terdiam, ia bahkan tidak bisa membantah perkataan Alesse sedikitpun.

__ADS_1


"Yeah, bukan berarti aku membenarkan semua itu, saat ini kita tinggal di kota, seharusnya cukup aman dari serangan binatang buas. Wanita juga berhak mendapatkan perlindungan saat melangkah keluar dari rumahnya, yang punya keperluan untuk keluar rumah juga bukan hanya pria," ujar Alesse. Ia membuat wanita yang murung itu memiliki sedikit harapan.


"Tenang saja, aku akan buat dunia di mana semua wanita bisa melangkah keluar dari rumah tanpa rasa ancaman sedikit pun! Jangankan untuk keluar rumah, aku akan membuat dunia di mana wanita bisa bekerja, berperang, bahkan memimpin sebuah kerajaan," ujar Alesse, perkataannya membuat hati wanita itu bergetar. Ia merasa seolah angin sejuk baru saja berhembus di hadapannya.


__ADS_2