Alesse'S Connect : The Alchemist

Alesse'S Connect : The Alchemist
Kastil keluarga Walters


__ADS_3

"Alesse, kau tidak sedang marah denganku kan?" tanya Alice. "Tidak, biasa saja. Kau memang tipe orang yang membuat Orang lain kesal, aku sudah memakluminya," ujar Alesse.


"Kalau begitu, gimana jika kau berangkat ke sekolah besok? Aku merasa tidak nyaman karena William selalu mengikutiku," ujar Alice. "Hmm, pasti kau telah berbuat sesuatu! Apakah kau menggodanya? Kau membuatnya jatuh cinta padamu? Gadis remaja memang sangat merepotkan! Sebaiknya kau hati-hati saat berinteraksi dengan lawan jenis, jangan sampai kau jatuh cinta pada seseorang, itu akan merepotkan!" ujar Alesse.


"Aku tidak menggoda siapapun! Tapi remaja itu yang terus datag dan mengusikku, bahkan ia menyeretku dengan kasar hingga jatuh ke lantai! Lihatlah, lututku berdarah!" ujar Alice.


Respon Alesse tampak serius setelah Alice menunjukkan luka yang ada di lututnya. "Apa yang sebenarnya dia lakukan? Kenapa lututmu berdarah? Kenapa kau biarkan dia melakukan hal itu?" Banyaknya pertanyaan Alessse membuat Alice sedikit takut padanya, apalagi saat wajah Alesse berubah serius.


Alesse pun mencoba memeriksa luka yang ada di lutut Alice. "Meskipun ini adalah hal sepele dan luka ringan, bukan berarti kau boleh meremehkannya! Kau tidak ingat kita hidup sebagai satu orang? Jika kau memiliki banyak luka di tubuhmu, lalu apa yang harus kulakukan? Apakah aku harus menambahkan luka di tubuhku juga agar menyerupai luka yang ada di tubuhmu? Gimana jika ujung jarimu terpotong? Apakah aku juga harus memotong jariku?" tanya Alesse dengan wajah serius.


"Ma..... Maaf, aku tidak berpikir sejauh itu," ujar Alice, ia tidak bisa membantah perkataan Alesse. "Besok aku akan berangkat ke sekolah! Kau...... Sebaiknya kau urusi lukamu itu! Aku tidak mau tahu seperti apa caranya, pokoknya pastikan luka itu hilang! Jangan sampai cara berjalanmu pincang juga!" ujar Alesse.


"Ba... Baiklah," ujar Alice, pada akhirnya yang ia dapatkan dari Alesse hanyalah teguran. "Dasar si William itu.... Awas saja bila aku bertemu dengannya besok!" ujar Alesse geram.


Akhirnya keesokan harinya Alesse berangkat ke akademi. Cara berjalannya yang khas tentu tampak berbeda dari Alice. Ia pun menyadari hal itu saat melewati sebuah cermin besar yang terpajang di depan halaman utama akademi.


"Hmm, sejak kapan cara berjalanku aneh begini? Aku tidak ingat pernah berjalan dengan cara seperti sebelumnya. Seharusnya aku berjalan dengan anggun, bahkan kepalaku tidak akan banyak berubah ketinggiannya saat berjalan di tempat datar seperti ini. Semakin lama cara berjalanku sama seperti laki-laki lainnya. Hal ini bisa gawat jika seseorang menyadari bahwa aku laki-laki," gumam Alesse. Ia pun mencoba mengingat-ingat cara berjalannya di kehidupan sebelumnya, namun tidak berhasil. Satu hal yang ia ingat dengan pasti adalah otot pahanya terlalu besar sehingga membuatnya kesulitan untuk melangkah dengan kaki lurus ke depan.


"Apakah aku pernah memiliki otot yang besar di kehidupan sebelumnya? Aneh sekali! Seharusnya tidak begini! Tubuhku sangatlah ramping dan elegan! Tidak mungkin ada otot yang membesar secara berlebihan!" pikir Alesse.


Tak lama kemudian, ia mendapati Claire sedang berjalan menuju kelas. Akhirnya ia mencoba mengikuti cara berjalan Claire.


"Orang bodoh mana yang berjalan seperti itu?" ujar salah seorang remaja. Alesse pun terkejut mendengar sindiran remaja itu. Ia pun langsung menoleh ke belakang untuk memeriksa siapa yang baru saja menyindirnya.


Setelah mendapati William yang sedang berdiri berkacak pinggang di hadapannya, Alesse pun menjadi tampak kesal.

__ADS_1


'Hei, kau! AKu belum membalas apa yang telah kau lakukan pada lututku! Tunggu saja, aku akan membuatmu merasakan hal yang setimpal," ujar Alesse.


"Eh? Bukankah aku sudah meminta maaf untuk hal itu?" tanya William. "Apa? Minta maaf? Kau pikir aku terlihat seperti pecundang yang memaafkan semudah membalik telapak tangan? Apalagi setelah kau mengatakan cara jalanku seperti orang bodoh? Kau tidak ingat siapa yang membuat cara berjalanku menjadi seperti ini?" tanya Alesse, ia membuat William termakan oleh perkataannya sendiri.


"Alice! Ayo masuk ke dalam kelas! Jangan berlama-lama dengan makhluk menyebalkan itu!" ujar Claire. "Sepertinya adikmu bahkan tidak menganggapmu manusia," ujar Alesse, ia sengaja membuat William semakin terpuruk.


"Seteleh duduk di bangkunya, Alesse merasa tidak nyaman dengan sikap Claire. Gadis itu merangkul lengan kirinya erat-erat. "Hei, Alice! Bagaimana jika kau pergi ke rumahku hari ini?" tanya Claire.


"Rumahmu? Hmm! Boleh-boleh saja," ujar Alesse. "Tidak boleh!" ujar William tegas. "Apa-apaan kau ini? Aku hanya akan mengajak Alice dan teman-temanku untuk bermain bersama, ini tidak ada hubungannya denganmu!" ujar Claire.


"Te... Tetap saja, jangan Alice! Apakah tidak ada orang normal yang bisa kau ajak selain dirinya?" tanya William. "Heh? Ada apa ini? Kenapa kau melarangku pergi ke rumahmu Apakah kau menyembunyikan sesuatu di sana? Aku jadi semakin ingin pergi ke sana," ujar Alesse, ia tampak penasaran melihat dahi William yang dipenuhi dengan keringat.


"Tidak perlu penasaran dengannya, Alice! Dia hanyalah anak pemalas, kamarnya sangat berantakan, jadi tiak perlu tertarik padanya! Lagian aku yang mengajakmu ke rumah, bukan makhluk itu<" ujar Claire.


"Baiklah, karena Claire yang mengajakku pergi, aku tidak bisa menolaknya, William!" ujar ALesse dengan ekspresi mengejek.


William tampak mengawasi gerbang lewat jendela kamarnya. Ia tampak sedang menantikan kedatangan Alesse dengan merapikan seisi kamarnya. Ia bahkan berpikira untuk membuat penampilannya menjadi lebih menarik. Ia hendak menunjukkan seperti apa penampilannya pada Alesse terlepas dari seragam yang selalu digunakan di akademi.


Akhirnya ALesse pun datang, William tampak tidak sabar ingin segera menemuinya. "William, Alice sudah datang loh! Kau tidak ingin menyapanya?" tanya Claire. "Ehm, tidak perlu! Lagian dia adalah tamumu, aku tidak pernah mengajaknya ke sini," ujar William dari balik pintu kamarnya, ia bersikap jual mahal.


"Hanya sekedar menyapa saja sombong sekali kau," ujar Claire sambiul mencibirnya. Ia pun segera berlari menuju teras rumah untuk menyambut Alesse dan beberapa teman lainnya.


"Hmm! Kenapa aku merasa seperti banci di sini?" pikir ALesse dalam hati. Ia merasa tidak nyaman karena berada di kerumunan para gadis. "Hei, Claire! Kakakmu di mana? Kenapa tidak terlihat batang hidungnya di sini?" tanya Alesse.


"Dia sedang mengurung diri di kamarnya. Tidak usah dipedulikan, aku ingin mengajakmu berkeliling bersama di rumahku," ujar Claire. Kali ini sikapnya mulai terlihat aneh, ia bahkan mengabaikan temantemannya yang lain dan terus memerhatikan Alesse.

__ADS_1


Alesse belum menyadari sikap gadis itu terhadapnya, ia masih fokus mengamati kastil besar itu, ia mencoba menghafal taat letaknya sehingga ia bisa memanfaatkan itu ketika suatu hari harus menyusup ke dalamnya.


William tidak tahan terus berada di kamarnya, ia ingin segar menunjukkan diri pada Alesse. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya.


Saat Claire dan temantemannya asyik berkeliling kastil, tibatiba William menghadang di tengah jalan. Para gadis sempat terpana saat melihatnya bersandar di dinding.


William pun terkejut dengan apa yang di lakukan Claire pada ALesse. "Hei, Claire! Apa maksudmu dengan melekatkan diri pada lengan Alice? Dia bukanlah seorang pria!" ujar William. Mendengar hal itu, ALesse pun langsung tersadar, ia segera melepaskan Claire yang sembari tadi merangkul lengannya.


"Hei, Alice, se.... Sebaiknya kau ikut aku! A... Ada beberapa hal yang ingin kutunjukkan," ujar William dengan gagap.


Karena merasa tidak nyaman dengan sikap Claire, akhirnya ALesse menjauh darinya dan menghampiri William. "Ada apa? Apa yang ingin kau tunjukkan?" tanya Alesse. William langsun mengalihkan pandangan pada Claire.


"Maaf saja, Claire! Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dengan Alice," ujar William. Akhirnya ia mengajak Alice keluar dari ruangan.


"Jadi, apa yang ingin kau tunjukkan?" tanya Alesse. "Kau tahu? Aku memiliki beberapa hewan pelihraan yang hebat di sini. Tentu saja hewan itu sangatlah langka. Pamanku memberikannya di hari ulang tahunku," ujar William. Hal itu membuat Alesse sedikit tertarik.


"Benarkah? Hewan apa yang kau maksud itu?" tanya Alesse. "Lihat saja nanti, kau pasti terkejut," ujar William.


Setelah lama berjalan, akhirnya mereka sampai di belakang kastil dan mendapati area yang luas dengan beberapa petak sekat yang terbuat dari batu bata.


Wiliiam mengajak Alesse mendekati salah satu petak itu. "Lihatlah! Ini basilisk," ujar William sambil menunjukkan ular besar yang tampak menunjukkan punggung kepalanya di permukaan air.


"Apa yang ada di kepalanya itu?" tanya Alesse keheranan. "Oh, itu adalah penutup mata. Jika seseorang saling bertatapan dengan mata basilisk, dia akan membeku.


"Hmm, kenapa kau membiarkan hewan berbahaya hidup di sini? Kalau sampai lepas dan pergi ke area penduduk bisa bahaya loh!" ujar Alesse. "Tenang saja! Penjagaan di kastil ini sangat kuat dan hebat," ujar William.

__ADS_1


Tak lama kemudian ketika mereka asyik mengobrol, ular besar itu mulai menaikkan kepalanya hingga satu meter dari permukaan air. "Hei! Hei! William! Bukankah itu gawat? Mungkin sebaiknya kita pergi dari sini!" ujar Alesse panik, ia langsung bersembunyi di balik punggung William.


Sebenarnya dia bisa saja mengatasi ular itu dengan mudah, namun ia ingin memberi pelajaran pada William betapa bahayanya membiarkan hewan melata itu tinggal di kota.


__ADS_2