
Hari ini giliran Alesse yang berangkat ke akademi, Alice sedang demam karena melalui beberapa hari yang berat.
Awalnya Alesse memutuskan untuk tinggal di rumah, namun Alice bersikeras menyuruhnya berangkat ke akademi.
Sesampainya di akademi, ia pun duduk dengan tenang di kursinya hingga beberapa saat kemudian Claire datang dan duduk di sampingnya.
"Alice, maukah kau sekelompok denganku nanti?" tanya Claire dengan penuh semangat. "Kelompok apa?" tanya Alesse, ia tidak mendapatkan informasi apapun dari Alice karena ia tampak kesusahan untuk berbicara.
"Bagaimana kau bisa lupa? Hari ini kita ada pelatihan khusus untuk membasmi para monster yang ada di luar benteng!" ujar Claire.
"Alice! Sekelompok denganku saja!" ajak William. "Kenapa tidak kalian berdua saja yang satu kelompok? Kalian adalah saudara. Kuyakin akan sangat kompak," ujar Alesse.
"Benar sekali, kalau begitu kau sekelompok denganku saja, Alice. Kau tidak keberatan kan?" tanya Norman. "Tentu saja, lebih baik begini daripada aku menjadi rebutan mereka berdua," ujar Alesse.
William benar-benar terlihat kesal pada Norman. "Oh, jangan diambil hati, William. Aku tidak ada niatan apapun kok," ujar Norman sambil tersenyum ramah.
"Kalian berdua sedang ada masalah apa? Kenapa William tampak membencimu?" tanya Alesse keheranan. "Oh? Itu..... ceritanya sangat panjang. Syukurlah jika kau mengabaikan apa yang aku katakan kemarin," ujar Norman.
Alesse pun terdiam, ia terus memerhatikan tongkat tak kasat mata yang ada di punggung Norman.
"Ada apa Alesse?" tanya Norman keheranan. "Tongkat yang selalu kau gunakan itu.... bolehkah aku melihatnya?" tanya Alesse.
"Boleh, silahkan saja," ujar Norman kemudian mengambil tongkat yang ada di punggungnya lalu menunjukkannya pada Alesse.
Alesse pun mencoba memegangnya, namun benda itu menjadi tembus, ia tidak dapat menyentuhnya. "Benar juga, sidik jariku yang sekarang belum terdaftar di data basenya," ujarnya.
"Apa? Tadi kau mengatakan apa?" tanya Norman, ia tidak mengerti arti perkataan Alesse. "Oh, bukan apa-apa. Ini tongkat yang bagus," ujar Norman. "Benar sekali, andai saja jika aku bisa meminjamkannya ke orang lain. Dengan begitu kau bisa menggunakannya untuk mengalahkan monster itu dengan sangat mudah," ujar Norman.
"Hmm, tidak perlu repot-repot! Itu adalah benda pusakamu, untuk apa aku meminjamnya," ujar Alesse, justru karena perkataannya itu, Norman menjadi terdiam, ia merasa tidak setuju dengan perkataan Alesse.
Saat perjalanan mereka menuju ke hutan hampir sampai, tiba-tiba beberapa orang lari terbirit-birit dan berlalu dari rombongan mereka.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Norman. "Para iblis itu! Mereka mengamuk di perkebunan!" teriaknya.
Tak lama kemudian burung-burung mulai beterbangan, menandakan bahaya mulai mendekat.
"Semuanya, putar balik! Kembali ke dalam kota!" teriak Braun yang memimpin barisan anak-anak itu.
__ADS_1
Anak-anak mulai panik, mereka berbalik badan dan langsung berlarian, membuat barisan belakang terjatuh dan menimpa barisan lainnya.
"Apa yang terjadi di sini? kenapa tiba-tiba ribut?" Norman keheranan sedangkan anak-anak lainnya langsung berlari ke dalam kota.
Beberapa anak perempuan terluka setelah jatuh dari barisan, mereka tidak bisa berdiri apalagi berlari.
Barun tampak kebingungan hendak melakukan apa, jumlah anak yang terluka terlalu banyak untuk bisa dikondisikan.
"Ini tidak boleh terjadi!" ujar Norman, ia mengeluarkan tongkat dari punggungnya lalu menghampiri Braun.
"Kenapa kau berada di sini?" tanya Braun. "Aku akan menahan para monster itu selagi anak-anak masuk ke dalam kota!" ujar Norman.
"Jangan gegabah! Biar bapak saja yang menahan! Kau pergilah bersama anak-anak lainnya, seharusnya prajurit akan datang beberapa saat lagi.
Di tengah keributan itu, Alesse masih tampak tenang, ia merasa muak dengan percakapan Norman dan Braun yang tak pandang situasi. Mereka terus berdebat padahal monster iblis itu sudah dekat dengan mereka.
Akhirnya mereka pun berhenti berbicara setelah satu monster raksasa berada di hadapan mereka. Itu terlalu mendadak, mereka bahkan belum sempat mengambil sikap waspada.
"Benar-benar merepotkan!" ujar Alesse, ia berlari berlawanan arah dari anak-anak lainnya. Ia pun langsung melompat ke arah raksasa itu lalu menyengat kepalanya dengan aliran listrik.
"Oke! Sepertinya untuk saat ini kita masih aman. Raksasa lainnya masih jauh dari sini. Mungkin sempat untuk membawa masuk semua anak-anak yang terluka," ujar Alesse.
Norman tampak terpuruk sendiri, ia merasa sangat kesal karena tidak bisa melakukan apapun. Ia sudah dua kali diselamatkan oleh Alesse. Sebagai Dark Warden, harga dirinya serasa jatuh drastis.
"Hei, anak muda! Kau kenapa lagi? Ini bukan saatnya untuk merenung! Kembalilah ke rumahmu!" ujar Alesse. Mendengar perkataan Alesse, Norman semakin terpuruk.
"Ini sangat mengesalkan! Padahal aku Dark Warden, tapi kenapa aku tidak bisa membantu?" tanya Norman. Alesse terdiam sejenak, melihat anak itu mengingatkannya pada kenangan di kehidupan sebelumnya. Ia juga pernah memiliki seorang anak laki-laki yang kesal dengan diri sendiri.
"Norman, masuklah ke dalam kota. Itu sudah cukup membantu," ujar Alesse. Norman pun mengangkat wajah dengan bertekad. "Baiklah, aku akan kembali! Tapi sebelum itu....." Norman menunjukkan tongkat petirnya.
"Bukankah itu milikmu? Aku tidak bisa menggunakannya," ujar Alesse. "Aku berikan ini padamu, dengan begitu benda ini akan menerimamu," ujar Norman.
"Hei, Norman! Apa yang kau lakukan? Itu adalah benda pusaka yang diwariskan untuk Dark Warden!" ujar Braun.
"Lalu apa? Percuma saja benda ini ada di tanganku sedangkan aku tidak bisa membantu menghadapi para monster itu!" ujar Norman, Braun pun tak bisa berkomentar.
"Apakah kau yakin akan memberikan ini pada orang lain? Ini adalah hal yang berharga loh!" ujar Alesse.
__ADS_1
"Tidak masalah! Kumohon, Alesse! Kau pasti bisa menggunakan benda pusaka ini dengan baik!" ujar Norman.
Akhirnya Alesse pun langsung menggenggam tongkat itu, dan hasilnya ia bisa memegangnya, ia tersenyum puas.
"Akhirnya...... selamat datang kembali, Jawara!" ujar Alesse. "Apa? Jawara? Siapa itu? Kau bicara apa?" tanya Norman keheranan.
"Bukan apa-apa. Aku tidak akan membuatmu kecewa dengan keputusanmu itu," ujar Alesse sambil tersenyum semangat.
Ia pun mulai mengggambar sesuatu di tanah dengan tongkat itu. "Kau mau apa dengan benda pusaka itu? Apakah kau gila? Kenapa kau menggoreskan benda suci ke tanah yang rendah?" tanya Braun.
Alesse tidak mendengarkan, ia langsung menyelesaikan gambarnya yang tampak seperti sebuah kode bar.
Seketika tongkat itu mulai berubah bentuk menyerupai tubuh Alesse dari kehidupan sebelumnya, ia adalah Jawara.
"Jawara, hentikan pergerakan semua monster yang ada di depan sana," ujar Alesse. Jawara tampak menatap Alesse dengan tatapan sinis.
"Kau siapa?" tanyanya singkat. Alesse tercengang, Braun dan Norman tak kalah terkejut. "Di... dia barusan berbicara? Benda pusaka itu berubah menjadi Alice dan berbicara?" Norman tidak percaya.
"Hei, Alice! Bagaimana benda itu bisa berubah bentuk?" tanya Braun. "Tunggu sebentar, aku juga sedang mencoba mencerna perkataannya!" ujar Alesse, ia pun kembali menghadap Jawara.
"Siapa katamu? Alih-alih menuruti perintah orang yang mengaktifkanmu, kau malah bertanya siapa aku?" Alesse tampak kesal.
"Aku cuma bercanda," ujar Jawara tersenyum, ia langsung pergi meninggalkan mereka bertiga dan melawan para monster itu sendirian.
Norman dan Braun tampak tercengang dengan apa yang barusan terjadi. "Sepertinya banyak pertanyaan yang ingin kalian utarakan padaku," ujar Alesse.
"Ke.... kenapa benda pusaka itu berubah menjadi manusia? Bagaimana caramu melakukannya? Kau tahu dari mana kalau benda pusaka bisa berubah seperti itu?" tanya Braun penasaran.
"Hanya ada satu hal yang ingin kukatakan pada kalian..... Benda itu milikku, tentu saja aku tahu semua fungsinya, kegunaannya juga," ujar Alesse.
"Tapi aku baru memberikannya padamu beberapa saat yang lalu! Bagaimana bisa kau tahu semua fungsi dari benda itu?" tanya Norman.
"Siapa bilang benda ini milikku sejak kau memberikannya padaku? Bahkan sebelum benda pusaka itu menjadi milikmu, tongkat petir itu adalah milikku," ujar Alesse.
"Tidak mungkin! Maksudmu, sebelum Norman lahir, benda pusaka itu adalah milikmu? Kau bahkan tidak tampak lebih tua darinya!" ujar Braun menyangkal.
"Aku terlalu malas untuk menjelaskannya. Tongkat petir itu, bahkan sudah menjadi milikku sebelum para Dark Warden mewariskannya dari generasi ke generasi. Hanya itu yang bisa kukatakan, selebihnya itu adalah rahasiaku, kalian tidak berhak tahu. Lalu..... sebaiknya kalian segera masuk ke dalam kota," ujar Alesse kemudian menyusul Jawara yang sedang menghadapi para monster itu.
__ADS_1