
"Kau benar-benar menodai kerajaan! Bisa-bisanya kau lahir ke dunia ini!" ujar seorang wanita kesal, ia adalah ratu.
Alice mengabaikan perkataannya, sebenarnya ia sedikit merasa sakit hati karena harus mendengar celetukan itu dari ibunya.
"Dia bukan ibuku, aku bukanlah orang dari dunia ini," ujar Alice dalam hati, ia mencoba menghibur dirinya sendiri dengan optimis.
Ia selalu menghadapi semua hal dengan tersenyum pahit, tidak ada yang bisa ia lakukan selain itu.
Saudara-saudara laki-lakinya pun sering menindasnya dengan mengatakan bahwa hidupnya sangat sia-sia.
Ia satu-satunya anak perempuan, ia tidak memiliki potensi untuk memimpin kerajaan itu karena gendernya. Tentu saja itu menjadi bahan hinaan bagi saudara-saudaranya.
"Hei, Alice! Sebaiknya kau belajar memasak dan mencuci untuk melayani seorang pria, istana ini tidak menyisakan apapun yang akan dibagikan padamu loh!" ujar Dean, Kakak terakhir Alice.
"Dan yang lebih parah lagi, anak haram itu! Seharusnya anak yang dilahirkan oleh
rakyat jelata tidak boleh menginjakkan kaki di istana suci ini!" ujar Ramzi, kakak pertama Alice, ia sedang merundung Frans, saudara Alice yang sebaya. Meskipun begitu mereka berasal dari dua ibu yang berbeda. Frans adalah anak raja yang lahir di luar pernikahan.
"Bukankah kalian terlalu kejam?" bentak Alice. "Cih, tidak usah menceramahi kami! Setidaknya anak haram itu lahir sebagai laki-laki, tidak sepertimu. Jangan samakan dia denganmu!" ujar Rudolf, kakak kedua Alice, ia mengajak Frans agar menjauh dari Alice.
Mau tidak mau Frans menurutinya, ia tidak ingin berakhir dirundung seperti Alice. Ia langsung menghampiri Rudolf lalu pergi bersama-sama dengan saudara-saudara yang lainnya.
Sekali lagi Alice merasa terlantar. Untuk menenangkan diri, yang bisa ia lakukan adalah membaca buku di perpustakaan istana secara diam-diam.
Ia tidak bisa bebas masuk ke dalam perpustakaan karena ayahnya menganggap wanita hanya akan menodai buku-buku itu.
Satu-satunya perpustakaan yang bisa ia kunjungi hanya di akademi.Terkadang ia membaca buku hingga larut malam karena hanya itulah satu-satunya kesempatan ia bisa membaca buku.
__ADS_1
Ia selalu diusik oleh keluarganya saat berada di istana, hal itu sangat membuatnya tidak nyaman hingga memilih tinggal di perpustakaan akademi lebih lama.
"Mereka bukan keluargaku, aku bukan bagian dari keluarga ini! Aku berasal dari dunia lain! Aku ingat semua pengetahuan yang kumiliki sebelum akhirnya terjebak di dunia ini! Aku harus menuliskan semuanya!" ujarnya. Ia sering mengatakan itu berkali-kali lalu menuliskan banyak buku dengan aksara yang berbeda dengan yang kerajaan itu gunakan.
"Tulisan ini adalah bukti bahwa aku berasal dari dunia lain! Mungkin aku harus menuliskan namaku! Namaku adalah......" Alice terdiam sejenak, ingatannya mulai samar-samar ia sendiri tidak tahu apa yang sedang ia coba ingat.
Sayangnya mau dicoba beberapa kali pun, ia tetap tidak ingat namanya. "Bagaimana caranya aku membuktikan kalau aku berasal dari dunia lain kalau namaku saja tidak ingat!" Alice memukul tangannya ke meja, ia langsung merintih kesakitan hingga berlanjut dengan tangisannya karena kesal.
tak lama kemudian Harvard pun datang membuka pintu kamarnya. "Ayah?" Alice keheranan, baru kali ini ia melihat ayahnya membuka pintu kamarnya.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu! Menjijikkan sekali mendengarmu memanggilku ayah!" ujar Harvard kemudian menutup pintu kamarnya.
Alice merasa sakit hati meskipun sudah berkali-kali ia mendengar perkataan itu. Ia pun terisak sambil terus menyeka air matanya.
"Oh ya, aku sangat terganggu dengan suara tangisanmu itu! Jangan bersuara!" ujar Harvard kemudian kembali menutup pintu kamarnya.
Keesokan harinya seperti biasa ia diantar dengan kereta kuda, sayangnya ia selalu mendapatkan perlakuan buruk dari penunggang kuda itu. Terkadang ia harus mendapatkan bentakkan karena turun dari kereta dengan hati-hati.
Hari ini pun begitu, ia turun dari kereta kuda dengan cepat agar tidak dibentak oleh penunggang kuda, namun yang terjadi adalah kakinya tersandung oleh rok yang ia kenakan.
Sekali lagi ia mendapatkan bentakkan dari pria penunggang kuda itu. "Ya ampun! Benar-benar merepotkan sekali! Apakah kau bodoh? Kau ingin cepat-cepat membuatku pensiun? Begitu kah? Sepertinya kau memiliki niat yang sangat buruk dan jahat! Pantas saja Harvard dan ratu membencimu!" ujar penunggang kuda itu.
Alice pun beranjak dari posisi terjatuhnya sambil menahan rasa malu, malu karena terjatuh, juga malu karena bentakkan pria penunggang kuda itu terdengar oleh para murid akademi.
Alice pun langsung berjalan cepat dengan kaki pincangnya, ia enggan menjadi tontonan banyak orang. Ia pun langsung duduk setelah jauh dari keramaian.
"Kau baik-baik saja?" tanya Darius yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya. Alice ingat kalau remaja itu sempat memanggil namanya, namun ia mengabaikannya karena ia pikir salah dengar saat itu.
__ADS_1
"Kau, yang kemarin berlatih mengayunkan pedang kemarin?" Alice mencoba memastikan.
"Kenapa penampilanmu sangat payah sekali? Setidaknya bersihkan dulu luka di kakimu," ujar Darius, ia mengeluarkan sapu tangannya untuk membersihkan luka pada lutut Alice.
Sayangnya Alice langsung menghindar, yang ia tahu semua laki-laki adalah orang yang kasar, ia takut berhadapan dengan remaja kekar itu.
Ia pun langsung beranjak dari posisi duduknya lalu pergi meninggalkan Darius dengan kaki pincangnya.
"Apa salahku?" tanya Darius keheranan. "Apakah kau bodoh? Bukan seperti itu caranya berbicara dengan wanita! Kau membuatnya ketakutan!" ujar Allan.
"Aku tidak melakukan hal buruk, aku hanya ingin membersihkan luka di kakinya," ujar Darius.
"Setelah mendengar perkataan kasarmu, kau pikir dia akan membiarkan lengan kekarmu menyentuh tubuhnya? Ia mungkin sekarang berpikir bahwa kau akan meremas-remasnya dengan tangan besarmu itu," ujar Advan.
"Hei! Aku bukan orang yang seperti itu!" ujar Darius kalau begitu buktikan dengan cara bicaramu! Seharusnya kau bicara dengan nada yang tulus! Jangan tiba-tiba mengatakan kalau dia payah! Semua gadis pasti langsung menangis jika mendengarnya," ujar Allan.
"Dia tidak pernah berurusan dengan gadis, maka dari itu ia tidak mengerti," ujar Advan sambil menepuk jidat.
"Eh? Berarti aku bersalah padanya? Apakah dia pergi karena membenciku?" tanya Darius khawatir.
"Mungkin saja!" ujar Advan. "Kalau begitu aku harus minta maaf! Aku tidak bisa tenang saat dia tiba-tiba pergi mengabaikanku seperti itu," ujar Darius bertekad.
"Hei! Tunggu dulu! Memangnya kau hendak meminta maaf seperti apa? Jangan bilang kau akan memaksanya untuk memaafkanku seperti yang kau lakukan pada kami setelah mengamuk seharian," ujar Advan.
"Kalau aku tidak memaksanya, apakah dia mau memaafkanku?" tanya Darius. "Bukan masalah dia mau memaafkan atau tidak, kau harus terlihat tulus di hadapannya, kupikir ini juga kesempatan yang bagus untuk membuatnya jatuh cinta padamu! Bayangkan! Menikahi anak raja....bukankah itu impian banyak pria?" tanya Allan.
"Aku pergi ke sana untuk meminta maaf, bukan untuk menarik perhatiannya!" ujar Darius kesal.
__ADS_1