Alesse'S Connect : The Alchemist

Alesse'S Connect : The Alchemist
Sihir


__ADS_3

Darius menatap tanah yang dipijak Alesse. Tanah itu tampak cekung seolah ada sesuatu yang baru saja menimpanya.


"Hei, Alice! Jangan bilang..... kau baru saja terjatuh dari kamarmu?" tanya Darius.


"Eh? Mana mungkin! Kalau aku jatuh dari atas sana, mungkin aku sudah mati....." Alesse agak ragu untuk menyangkal karena jendela kamarnya tampak terbuka lebar.


"Kamarmu masih terkunci loh, hanya jendelamu yang terbuka. Kau pikir itu masuk akal?" tanya Darius. Alesse tidak bisa menyangkal.


"Ini kemajuan besar, Alice! Kau baru saja mengeluarkan sihir pasif yang menahanmu agar tidak terjatuh di tanah! Cekungan tanah ini adalah bukti dari hembusan angin yang kau keluarkan dari sihir pasif itu!" seru Darius.


"Si... sihir pasif?" Alesse tidak mengerti maksud dari kakaknya itu.


"Sihir pasif itu keluar dari alam bawah sadar karena terdesak, dan itu tidak membutuhkan mantra! Itu adalah tanda awal kalau energi sihirmu mulai bekerja! Biasanya sihir pasif hanya bisa dilakukan sekali untuk sehari karena menguras banyak energi!" seru Darius.


"Buset, aku baru saja melakukannya dua kali loh! Dan tidak ada efek apapun yang bisa dikatakan menguras energi," pikir Alesse dalam hati.


"Kita harus beritahu semua orang!" seru Darius sambil menarik lengan Alesse lalu membawanya pergi ke dalam kastil dengan semangat.


Darius sangatlah menyayangi adiknya itu. Ia juga tahu posisi adiknya saat ini dalam keluarga yang bisa dibilang tertindas, dan ia selalu ingin membuktikan kalau adiknya itu bukanlah orang yang hina. Itu juga alasan mengapa ia selalu memaksa Alesse berlatih pedang setiap pagi.


Akhirnya mereka berdua pun sampai di ruangan Nicholas, ayah mereka. Sayangnya mereka mendapati sesuatu yang ganjal.


Seorang pelayan tampak tergesa-gesa mengencangkan tali pinggangnya lalu keluar dari ruangan dengan wajah penuh keringat.


"Heh? Sepertinya mereka berdua baru saja melakukan hal bejat," ujar Alesse dalam hati. Meskipun begitu, Darius tampak tidak peduli, sebenarnya ia sendiri tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


"Ayah? Kenapa ayah berkeringat? Apakah pagi ini sangat panas sampai ayah membuka beberapa kancing baju ayah?" tanya Darius dengan wajah polosnya.


"Ehm! Benar sekali! Hari ini benar-benar panas," ujar Nicholas sambil mengancing kerah bajunya dengan gugup.


"Darius! Lain kali kalau mau ke ruangan ayah, ketuk pintu dulu! Bukankah ayah sudah bilang?" tanya Nicholas.


""Maaf ayah, ini mendesak! Aku dapat kabar yang luar biasa! Alice bisa menggunakan sihir angin!" seru Darius.

__ADS_1


Wajah Nicholas tampak dipenuhi dengan kekecewaan. "Jadi, kau masuk ke ruangan ayah tanpa mengetuk pintu gara-gara dia?" tanya Nicholas kesal.


Darius tidak mengerti kenapa ayahnya tiba-tiba marah. Tak lama kemudian, Selena, ibu mereka berdua datang dengan tatapan dingin pada Alesse.


"Ada apa ini? Alice membuat keributan lagi?" tanya Selena. "Ibu! Alice bisa menggunakan sihir angin!" seru Darius.


"Penyihir angin memang berasal dari keturunan ayahku, tapi itu hanyalah sihir yang lemah!" ujar Selena, membuat wajah ceria Darius menjadi pucat.


"I.... itu luar biasa ibu! Ayah! Dia bahkan bisa selamat setelah jatuh dari jendela kamarnya!" ujar Darius.


"Bodoh! Semakin banyak kau bicara, semakin banyak alasan mereka membenciku!" ujar Alesse dalam hati. Sesuai dengan pemikirannya, Nicholas dan Selena lebih tertarik dengan alasan Alesse terjatuh dari jendela kamarnya.


"Jatuh dari jendela kamarnya katamu? Hei, Alice! Bisakah kau berhenti berbuat onar? Cukup diam saja dasar anak tidak berguna!" ujar Selena.


"Benar-benar tidak bermoral! Setidaknya perempuan itu harus anggun agar bisa menikah dengan bangsawan-bangsawan terkuat! Oh, benar sekali! Tidak mungkin ada yang mau menikah dengan makhluk menjijikkan sepertimu yang tidak diketahui jenisnya, apakah laki-laki atau perempuan!" ujar Nicholas.


"Tepat seperti yang pria bejat ini katakan, memang ada kecacatan pada tubuhku. Sebenarnya aku juga tidak tahu apakah aku ini perempuan atau laki-laki. Aku bisa dibilang TIDAK memiliki alat kelamin. Sebenarnya bukannya tidak memiliki hal tersebut, namun samar-samar karena itu tidak berkembang dengan baik," ujar Alesse dalam hati.


Pada akhirnya respon baik yang diharapkan Darius berakhir menyedihkan. Nicholas dan Selena terus menyalahkan Alesse mengenai jendela kamar yang terbuka sedangkan pintu kamar terkunci dari dalam.


Setelah pertunjukan itu selesai, orang-orang pun bertepuk tangan untuk Darius. "Anakku, Darius, kau sudah dewasa, mungkin sebaiknya ayah menyekolahkanmu di sekolah terbaik kerajaan, di kota pusat," ujar Nicholas.


"Wah! Benarkah? Bagaimana dengan Alice? Apakah dia juga bisa sekolah di sana? Karena dia bisa menggunakan sihir, seharusnya ia bisa masuk ke sekolah itu di usianya yang masih muda!" seru Darius.


"Dia akan sekolah juga," ujar Selena. "Wah! Benarkah? Terima kasih, ibu! Ayah!" seru Nicholas, ia merasa bahagia karena Alesse juga bisa bersekolah.


"Tapi dia tidak akan berada satu sekolah denganmu, ayah akan mengirimnya ke tempat lain! Meskipun tidak berguna, setidaknya ia harus bisa menarik perhatian para bangsawan terkuat," ujar Nicholas.


"Benar sekali, kalau dia satu sekolah denganmu, bisa-bisa semua prestasimu sia-sia karena kau harus menanggung malu karena anak itu," ujar Selena. Raut wajah gembira Darius pun musnah, ia tidak menyangka bahwa tahun ini ia akan berpisah dengan adiknya.


Padahal selama ini ia sudah berusaha agar bisa terus bersama adiknya, namun hanya kekecewaan yang ia dapat.


Pada akhirnya Darius terus murung dalam beberapa hari. Ia berdiam di dalam kamarnya dengan wajah pucat, ia bahkan tidak ingin berbicara sedikitpun. Seisi kastil menyalahkan Alesse atas kemurungan Darius.

__ADS_1


Akhirnya Alesse terpaksa pergi ke kamarnya untuk menenangkannya. Saat itu Darius sedang duduk melamun dengan tatapan ke arah jendela.


"Kak?" Alesse memastikan kalau Darius mendengar perkataannya. "Kenapa kau ke sini?" tanya Darius tanpa menolehkan wajah sedikitpun, ia juga muak melihat wajah Alesse.


"Tidak usah bersedih kak, bukannya kita akan berpisah selamanya, ini hanya untuk bersekolah," ujar Alesse.


"Hanya untuk sekolah katamu? Bisakah kau lebih serius sedikit? Mereka mencoba menjualmu ke orang lain! Mereka menganggapmu barang yang tidak terpakai!" ujar Darius dengan suara keras.


Meskipun ia kecewa dengan Alesse, namun hal itu tidak bisa merubah kenyataan kalau ia sangat menyayanginya.


"Kau pikir bisa bahagia hidup di sana? Aku khawatir kau kenapa-kenapa di sana sendirian!" ujar Darius.


Alesse mencoba tersenyum untuk membuatnya lebih tenang. "Aku akan baik-baik saja kok, kakak percaya kalau aku orang yang hebat kan?" tanya Alesse.


Darius menatap Alesse, ia merasa bersalah karena selama ini selalu memuji Alesse. Ia pikir kepercayaan diri yang dimiliki Alesse tumbuh karena ia selalu memujinya tanpa alasan yang jelas.


"Tidak, Alesse! Kau tidak hebat sama sekali! Kau sangat lemah! Sangat payah!" ujar Darius, ia berharap adiknya mengetahui kenyataan itu. Senyuman Alesse menjadi semakin lebar.


"Tenang saja kak, itu bukan salahmu kok. Meskipun kau tidak pernah memujiku sebelumnya, aku tetap baik-baik saja. Aku akan pergi tanpa rasa takut," ujar Alesse. Darius pun terdiam.


"Oleh karena itu, kakak juga harus pergi tanpa rasa takut. Jangan terlalu khawatir padaku! Percayalah!" ujar Alesse pada telinga Darius. Ia sengaja mendekatkan mulutnya pada telinga Darius agar ia benar-benar mendengarkan perkataannya.


Darius pun berhenti terisak, ia benar-benar merasa tenang setelah mendengar perkataan Alesse.


"Baiklah, Alice! Tunggu aku! Pokoknya aku akan lulus dengan cepat, aku akan terus berlatih hingga kita bisa bertemu lagi!" seru Darius.


"Maukah kau berjanji denganku untuk bertemu lagi?" tanya Darius. "Tentu saja, aku janji," ujar Alesse. Akhirnya Darius kembali ceria.


"Huh, aku merasa seperti orang yang sedang menyemangati kekasihnya saja, benar-benar menjijikkan," ujar Alesse dalam hati kemudian pergi dari kamar dengan ekspresi datarnya.


Saat itu Selena langsung menatapnya dengan wajah dingin. "Berani-beraninya kau masuk ke kamar anakku!" ujar Selena. Alesse tidak peduli dengan perkataannya, ia langsung berlalu dari hadapannya.


"Hei! jangan mengabaikanku!" ujar Selena, namun saat itu Darius keluar dari kamar dengan wajah ceria. "Ibu! Aku akan bersekolah di kota pusat! Seperti keinginan ibu!" seru Darius.

__ADS_1


"Benarkah begitu? Syukurlah!" seru Selena.


__ADS_2