Alesse'S Connect : The Alchemist

Alesse'S Connect : The Alchemist
Desa Habbi


__ADS_3

"Oh, Alesse! Akhirnya kau datang juga! Aku sangat takut! Demamku tak kunjung berhenti!" ujar Alice sambil menutupi sekujur tubuh hingga setengah wajahnya dengan selimut.


Alesse pun langsung menyayat tangannya dengan pisau lalu menampung darah itu dengan gelas.


"Minumlah," ujar Alesse. "Ka.. kau menyuruhku menenggak darah? Menjijikkan!" ujar Alice.


"Sudahlah, jangan mengeluh!" ujar Alesse sambil menyingkap selimut Alice lalu menegukkan darah itu pada mulutnya.


Alice sempat hendak muntah karena bau anyir yang tercium dari darah itu, namun tiba-tiba ia merasakan demamnya turun secara tiba-tiba.


"Perasaan apa ini? Kenapa sangat nikmat sekali?" tanya Alice keheranan. "Itulah yang membuat ras Dracal tertarik untuk menghisap darah seseorang, apalagi lawan jenis. Ketertarikan itu hampir sama seperti ketertarikan seksual," ujar Alesse.


"Wah sepertinya kau lebih berpengalaman tentang hal itu! Ngomong-ngomong, sepertinya suasana hatimu sedang buruk," ujar Alice menyimpulkan.


"Sebaiknya kita langsung menuju ke tempat tujuan kita. Hanya tempat itu yang bisa menenangkan suasana hatiku," ujar Alesse.


Akhirnya mereka berdua pun berkemas lalu menggunakan kemampuan Alice untuk berpindah dari dalam kota ke hutan belantara.


"Aku tidak mau mengendarai itu lagi, melihatnya saja sudah membuatku mual," keluh Alice.


"Baiklah, mungkin sebaiknya kubuat sebuah mobil saja. Tapi ini akan membuatku kehilangan kendali loh, kau yakin bisa mengatasinya? Aku tidak bisa menggunakan kemampuanku seenak jidat," ujar Alesse.


"Hmm, mungkin kau perlu menghisap beberapa tetes darah untuk meredakan aura gelapmu," ujar Alice. "Darah siapa? Darahmu? Mungkin saja aku akan menghisapnya sampai tubuhmu kering kerontang, kau tidak keberatan?" tanya Alesse.


"Sudahlah! Jangan gunakan banyak alasan untuk menakutiku! Dari kemarin aku juga menggunakan kemampuanku tanpa mengeluh!" ujar Alice kesal.


"Ya, ya! Terserah kau dah," ujar Alesse. Ia memulai dengan mengendalikan tanah yang dipijaknya, ia langsung membentuknya menjadi mobil Jeep.


"Kau bercanda? Kita mengendarai tanah liat ini untuk pergi ke tempat tujuanmu?" tanya Alice.


"Tentu saja tidak! Aku akan menjadikannya mobil sungguhan," ujar Alesse. Ia pun mulai menyentuh permukaan mobil itu. Seketika badan terluar mobil yang terbuat dari tanah liat itu berubah menjadi aluminium yang mengkilap.


"Whoa! Dangat Instan sekali! Apakah kita bisa mengendarainya sekarang?" tanya Alice. "Tidak semudah itu, bodoh!" ujar Alesse. "Apakah kau kesal karena aku menyuruhmu melakukan ini?" tanya Alice. "Tidak juga," ujar Alesse.

__ADS_1


Ia pun mulai membongkar body terluar dari mobil itu sehingga terlihat rangka dalamnya yang masih terbuat dari tanah.


Ia pun mulai mengubahnya sedikit demi sedikit menjadi rangka baja. "Kenapa lama sekali? Padahal kau merubah body itu dalam sekejap mata seperti sulap," ujar Alice keheranan.


"Tidak semudah itu!" ujar Alesse, ia malas menjelaskan detailnya.


Akhirnya dua jam berlalu, Alice mulai kebosanan menatap Alesse yang tampak seperti tukang bengkel di tengah hutan itu.


"Kira-kira berapa lama ini akan selesai?" tanya Alice keheranan. "Entahlah, mungkin sepekan. Aku harus memastikan semua komponen yang yang ada di dalamnya bukan tanah liat lagi," ujar Alesse.


"Ayolah! Buat saja sesuatu yang sederhana! Kenapa harus membuat Jeep yang sangat rumit? Terapkan saja mesin pada kereta kuda itu di dalamnya, kita hanya perlu roda yang dapat dibelokkan agar bisa dikemudikan dengan baik!" ujar Alice kesal.


"Kukira kau ingin sesuatu yang nyaman untuk dikendarai, permintaanmu macam-macam sekali! Beginikah jadinya setelah jiwamu menjadi perempuan seutuhnya?" tanya Alesse. Alice hanya memalingkan wajah.


Akhirnya Alesse memindahkan konsep mesin yang ada pada kereta kuda itu pada Jeep yang baru saja ia buat.


"Luar biasa sekali, kita naik Jeep serasa naik kereta kuda," ujar Alice. "Terserah kau dah," ujar Alesse. Ia mulai mengaliri pipa besi itu dengan arus listrik sehingga batang besi yang ada di dalamnya dapat bergerak.


Akhirnya mereka pun melanjutkan perjalanan hingga sampai ke ujung hutan, terdapat pagar-pagar yang tampak tidak asing bagi Alesse.


Mereka pun turun dari Jeep itu dan menyembunyikannya di dalam tanah. Alice langsung menggunakan kemampuannya untuk berpindah tempat ke sebuah gang di jalanan rumah.


"Gimana? Bukankah ini luar biasa?" tanya Alesse. Alice sempat tercengang dengan suasana nostalgia itu. "Ini.... apakah ini abad ke 21?" tanya Alice tidak percaya, ia mencoba menyentuh tembok salah satu rumah. Ia juga terkesan dengan paving yang ia injak.


Sayangnya ada sesuatu yang mengganjal di benak Alesse. "Ada apa, Alesse?" tanya Alice keheranan.


"Di sini... bau! Seperti toilet umum!" ujar Alesse. "Bukankah memang seperti ini peradaban di dunia ini?" tanya Alice.


"Tidak! Aku sudah membuat sistem sanitasi yang baik di sini, harusnya tidak ada orang yang membuang kotoran mereka seenak jidat keluar jendela rumah mereka," ujar Alesse.


"Lalu apa yang terjadi?" tanya Alice. "Kita ke rumah Habbi dulu," ujar Alesse. "Habbi,m Siapa itu?" tanya Alice. "Dia adalah kepala desa di sini, mungkin dia bisa menjelaskan bau menyengat ini," ujar Alesse.


Sayangnya saat ia mulai berjalan ke jalan yang lebih besar, ia mendapati bangunan di tempat itu terlihat aneh, sebagian terlihat godong dan ada pula yang runtuh dengan tambalan dari tanah liat.

__ADS_1


"Apa-apaan ini? Kupikir ini abad ke 21, kenapa mereka menambal rumah mereka dengan tanah? Aneh sekali! Apakah terjadi kebakaran besar di sini?" tanya Alice.


Alesse tidak menjawab, ia segera berlari ke rumah Habbi sedangkan Alice mengikutinya. "Habbi! Apakah kau di rumah?" tanya Alesse, ia sudah berada di teras rumah Habbi.


Alice langsung terkejut bukan main, ia melihat mayat yang dipaku di dinding rumah. "Habbi?" Wajah Alesse tampak pucat saat melihat pakaian yang dikenakan pada mayat itu.


Meskipun sudah membusuk, Alesse tahu persis mayat siapa yang terpajang di dinding itu.


Ia pun pergi ke rumah Robert, ia langsung mengetuk pintu. "Robert! Ini aku! Alice! Apa yang sebenarnya terjadi di sini?" tanya Alesse sambil menggedor-gedor pintu. Pintu itu langsung terjatuh di lantai karena engselnya telah rapuh.


Terlihat pemandangan aneh yang ada di dalam rumah itu. Terdapat jeruji besi beserta orang-orang dengan wajah pucat pasi.


Perhatian Alesse langsung tertuju pada Robert yang sedang menutup jasad seorang anak dengan kain.


"Robert, apa yang terjadi?" tanya Alesse, pria itu tidak menjawab sedangkan Alesse segera menyingkap jasad siapa yang baru saja Robert tutupi.


Itu adalah jasad seorang anak yang pertama kali ia temui dari desa itu. Wajahnya benar-benar kurus seperti kakek-kakek yang hendak menemui ajalnya, benar-benar pemandangan yang mengerikan.


Di sisi lain, tercium bau yang sangat mengerikan di ruangan lainnya. Terdapat tumpukan mayat di sana.


"Jasad siapa saja yang ada di sana?" tanya Alesse. "Mereka adalah istri-istri muda yang diperkosa lalu di bunuh," ujar Robert.


Tak lama kemudian seorang wanita tampak berlari terhuyung-huyung masuk ke dalam rumah Robert, pakaiannya sudah compang-camping, ia tampak tak berdaya dengan bekas cambukan dari sekujur tubuhnya. "Nona Alice, akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi untuk yang terakhir kalinya.


Wanita itu tampak tersenyum puas sedangkan nafasnya mulai terhenti, ia langsung terjatuh ke lantai tanpa sempat memejamkan mata. Alesse langsung menghampirinya, namun keadaan wanita itu sudah tidak tertolong lagi.


"Ma... maafkan kami, nona Alice! Desa yang susah payah kau bangun untuk kami, akhirnya hancur sia-sia seperti ini. Maafkan kami karena tidak bisa melindungi desa ini," ujar Robert.


Alesse benar-benar terdiam saat melihat wajah wanita yang tak bernyawa itu. Seketika aura gelap muncul dari sekujur tubuhnya seolah meledak.


Aura gelapnya yang pekat sampai membuat orang-orang yang ada di dalam rumah itu tertunduk dengan sakit kepala. Mereka benar-benar takut melihat murka Alesse yang meluap-luap hingga memenuhi seluruh ruangan di rumah itu.


Sayangnya aura gelap itu masih terus meledak-ledak hingga keluar rumah, bahkan Alice yang menyaksikan hal itu langsung bertekuk lutut karena merasakan sakit kepala yang sangat hebat.

__ADS_1


__ADS_2