Alesse'S Connect : The Alchemist

Alesse'S Connect : The Alchemist
Ingatan dari kehidupan sebelumnya


__ADS_3

Alesse menyelinap di malam hari untuk kedua kalinya. Setelah menyelamatkan seorang wanita, ia pikir masih ada permasalahan menarik lainnya yang bisa ia atasi.


Akan tetapi, kenyataannya hal yang sama terjadi kembali. Wanita yang kemarin ia selamatkan itu kini kembali tersudutkan oleh para pria mabuk. Kali ini bukan warga sipil, melainkan para pria petugas keamanan.


Alesse sempat merasa geram, entah karena para petugas keamanan itu, ataupun karena wanita itu yang kembali mengulangi kesalahan yang sama.


Tepat saat ia merasa geram, tiba-tiba sekujur tubuhnya diselubungi oleh aura gelap. Saat itu ia tidak menyadarinya dan langsung menghampiri mereka.


"Aku sangat muak sekali melihat manusia-manusia ini! Perlukah aku membantai kalian semua?" tanya Alesse dengan ekspresi dinginnya.


Beberapa detik kemudian rasa geramnya menghilang tanpa alasan yang jelas, seolah ada yang memaksakannya bersikap tenang.


"Loh? Apakah barusan aku sempat marah? Aneh sekali! Selain itu kenapa suasana hatiku tiba-tiba tenang kembali?" gumam Alesse keheranan.


Para petugas keamanan itu tidak mengerti apa yang ia gumamkan. Mereka hanya terkejut melihat seorang gadis kecil berdiri di atap bangunan tinggi.


"Hei, para penjaga! Kalian dibayar oleh rakyat bukan untuk menyerang rakyat!" ujar Alesse. "Apa? Rakyat? Siapa bilang kami dibayar oleh rakyat? Kami bukan tentara bayaran rendahan! Kami adalah tentara yang dipilih dan digaji oleh kerajaan!" ujar salah seorang pria.


"Kalian pikir uang kerajaan berasal dari mana? Semua itu berasal dari pajak yang diambil dari rakyat! Kalian mau berpikir bahwa diri kalian bukan rendahan? Coba hasilkan uang dengan cara lain!" ujar Alesse, ia mengambil genting yang ada di bawah kakinya.


Sayangnya ia tidak sadar kalau pondasi atap itu sangat rapuh hingga membuatnya terjatuh ke bawah.


Meskipun begitu ia dapat mendarat di tanah dengan selamat karena ada hembusan angin yang menahan dirinya sebelum membentur tanah.


"Whoa? Apa ini? Aku tidak terjatuh sama sekali!" seru Alesse. "La... lari! Dia penyihir! Kita tidak akan menang melawannya!" ujar salah seorang pria. Akhirnya para penjaga itu pun lari terbirit-birit.


"Loh? Sudah kabur saja?" Alesse semakin heran, ia juga tidak mengerti kenapa wanita itu ketakutan melihatnya.


"Ada apa kak? Kenapa takut?" tanya Alesse keheranan. "Kau..... seorang bangsawan?" tanya wanita itu. "Iya memang, kenapa kau melihatku seperti itu?" tanya Alesse keheranan.


"Apa yang dilakukan bangsawan di tempat seperti ini? Di malam hari seperti ini," ujar wanita itu keheranan.

__ADS_1


"Seharusnya aku yang menanyakan itu padamu. Kenapa kau keluar-keluar lagi? Seharusnya yang kemarin itu sudah cukup menjadi pelajaran! Kau pikir aku akan datang setiap hari untuk bertindak bak pahlawan seperti ini?" tanya Alesse.


Wanita itu terdiam, ia tampak enggan menjawab pertanyaan Alesse.


Alesse hanya bisa mengalah, wanita itu mengingatkannya pada Sanay. "Baiklah! Baiklah! Karena kau sedikit mirip dengan temanku, lemah tetapi gegabah, aku akan ganti pertanyaannya.... Jadi, kenapa para pria itu langsung takut saat melihatku?" tanya Alesse.


Wanita itu kembali ketakutan saat Alesse mengganti pertanyaannya.


Alesse pun menengok ke belakang untuk memeriksa apa yang sebenarnya wanita itu lihat.


"Tidak ada apa-apa di sana loh? Kenapa kau tampak takut begitu?" tanya Alesse keheranan. "Tidak ada warga biasa yang berani berurusan dengan para bangsawan! Dan seharusnya memang tidak boleh berurusan dengan mereka!" ujar wanita itu kemudian beranjak untuk lari.


Alesse menahan lengannya. "Hei, ini bukan sikap yang tepat untuk berterima kasih loh! Tenang saja! Aku hanya anak kecil! Jadi, bisa kau ceritakan lebih detail lagi? Selama ini aku hidup terisolasi di dalam kastil, benar-benar membosankan!" ujar Alesse.


Wanita itu mulai menenangkan diri, ia pun menceritakan beberapa hal terkait hubungan antara rakyat biasa dengan para bangsawan lalu keistimewaan dari para bangsawan itu sendiri.


"Oh! Jadi para bangsawan sengaja mengisolasi diri dari rakyat biasa untuk menghindari rumor-rumor yang buruk ketika mereka dilantik menjadi pejabat kerajaan?" Alesse menyimpulkan.


"Hmm! Budaya yang menarik sekali! Tapi kesetiaan rakyat bisa kurang kalau terus begini," ujar Alesse.


"Makanya aku benci dengan orang-,orang seperti kalian! Hidup dalam kemewahan tanpa memerhatikan betapa kesulitannya kami di sini!" ujar wanita itu.


"Hmm! Benar sekali! Mana ada bangsawan yang mau berhadapan dengan kalian yang bisa tidur bersama bau kotoran yang menyengat! Sanitasi di sini sangat buruk sekali!" ujar Alesse sambil menutup hidung.


"Oh, ya benar sekali! Sebenarnya ini tidak jauh berbeda dengan tempat para bangsawan, namun di kastil terdapat beberapa pelayan yang langsung membersihkan kotoran-kotoran itu," ujar Alesse.


Selagi Alesse berbicara sendiri, wanita itu tidak mengerti apa yang sedang Alesse gumamkan, ia hendak pergi karena merasa sudah tidak ada urusan dengan Alesse.


Alesse pun berhenti bergumam, ia baru sadar kalau wanita itu sudah tidak ada di hadapannya.


"Wanita yang aneh! Kenapa dia mengingatkanku pada Sanay? Lebih tepatnya..... kenapa dari semua orang, aku malah memikirkan Sanay?" tanya Alesse keheranan. Di saat ia melamun, tiba-tiba ia membayangkan Sanay mengenakan gaun pernikahan. Meskipun tidak terpesona olehnya, ia merasa keheranan karena sampai membayangkan hal itu.

__ADS_1


"Dih! Apa yang salah denganku? Kenapa Sanay mengenakan gaun pernikahan?" Alesse keheranan.


Karena sudah tidak ada lagi yang bisa ia lakukan, ia kembali ke kamarnya. Ia memanjat dinding menuju jendela kamarnya, namun terpeleset.


Meskipun begitu, ia tidak jatuh ke tanah. Tangan yang hendak ia gunakan untuk mendarat pun tidak sampai menyentuh tanah seolah ada hembusan angin kuat yang menahannya.


"Aneh sekali! Sebenarnya apa ini?" Alesse keheranan sambil menggerakkan tangannya itu. Saat itulah detak jantungnya tiba-tiba berdebar cepat.


"Apa-apaan ini? Apa yang terjadi padaku?" Alesse terus memegang dadanya, ia merasa jantungnya akan meledak.


Tak lama kemudian ia merasa kepalanya menjadi semakin berat.


Setelah detak jantungnya kembali normal, ia langsung menatap ke arah bayangannya dan mendapati sepasang tanduk megah di atas kepala bayangan itu.


"Eh? Ini aku?" Alesse mencoba meraba kepalanya dan mendapati dua tanduk sudah tertanam di sana.


"Aish! Aku tidak mungkin bertemu orang-orang dengan dua batang aneh di kepalaku ini!" ujar Alesse kesal sambil berusaha menutupinya dengan kain. Sayangnya hal itu sia-sia, tanduknya terlalu megah.


Saat itulah perasaan aneh muncul di benaknya. "Kenapa.... rasa kesal ini sepertinya pernah terjadi sebelumnya? Kapan?" Alesse mencoba mengingat-ingat.


Akhirnya ia pun ingat saat tubuhnya tiba-tiba berubah menyerupai tubuh Geni dengan pakaian yang serba merah.


"Oh, iya! Benar sekali! Aku juga pernah mengalami hal meresahkan seperti ini dulu! Tapi... sepertinya pernah lebih dari itu! Wajah Geni masih sama sepertiku, hanya rambut dan matanya yang berbeda! Kenapa aku merasa pernah berubah wujud menjadi bentuk yang lebih mengerikan? Memangnya itu kapan terjadi? Setahuku hingga mati membeku dalam es, aku belum pernah mengalami fenomena aneh seperti itu," pikir Alesse.


Akhirnya ia pun tersadar akan sesuatu, ia dapat menyimpulkan hal lain setelah beberapa ingatan asing menghantuinya.


"Aku belum mati saat itu! Aku tidak mati membeku! Aku masih hidup hingga....." Alesse mencoba mengingat-ingat. Selain gaun pernikahan yang dikenakan Sanay, ia juga mengingat acara pernikahan Sandy dan Salsha, lalu pernikahan Alex dengan gadis luar negeri.


"Aku masih hidup, bahkan hingga mereka semua menikah!" seru Alesse. Pertanyaan baru pun muncul di benaknya. "Kenapa ingatanku sangat rumpang begini? Apa yang sebenarnya terjadi? Lalu pria seperti apa yang dinikahi Sanay? Itu membuatku penasaran! Aku tidak melihat hal lain selain dirinya dan gaun pernikahan itu! Hmm, mungkin pria yang belum pernah kukenal?" Alesse mencoba menebak-nebak.


Selagi ia berpikir keras, ia tidak sadar kalau matahari telah muncul, cahayanya membanjiri seluruh dinding kastil.

__ADS_1


"Alice! Apa yang sedang kau lakukan di sini? Kenapa kau tidak ada di kamarmu?" tanya salah seorang remaja, ia adalah kakak Alesse saat ini, dia adalah Darius.


__ADS_2