
Setelah pelajaran selesai, William masih merasa tidak nyaman. Yang ia ketahui selama ini gadis itu selalu banyak bicara dengan ekspresi optimisnya, namun hari ini ia tampak datar dan pendiam. William berpikir bahwa itu adalah salahnya karena berbuat kasar padanya.
Sayangnya Alice langsung menghindar saat ia mencoba menghampirinya.
Karena merasa khawatir, William pun diam-diam mengikuti Alice yang hendak pulang ke rumah.
Dari belakang ia berjalan sambil melihat gadis itu melangkah dengan kaki pincangnya. William semakin tidak tahan, ia benar-benar dibebani perasaan bersalah dan memutuskan untuk menggendongnya dengan paksa.
Setelah Alice berbelok di simpangan, William langsung mengejarnya, ia hendak menggendong gadis itu dengan kedua tangannya.
Sayangnya saat ia berbelok di simpangan, gadis itu sudah tidak ada. Ia hanya mendapati gang kosong, tidak ada seorang pun yang lewat di gang itu.
"Alice? Alice! Di mana kau?" teriak William panik, ia mencoba mencari-cari ke segala arah di gang itu, namun tidak menemukan Alice. Setelah kelelahan, beberapa pelayan pun datang dan mengajaknya pulang ke rumah.
Di sisi lain Alice sudah sampai di rumah, ia tidak sadar kalau William mengikutinya. Meskipun begitu, ia juga tidak akan bisa mengikutinya karena Alice menggunakan kemampuannya untuk berpindah tempat ke rumah dengan singkat.
Setelah mengganti pakaian, Alice mendapati kamar Alesse masih terkunci, ia pun mengetuk kamar itu kembali.
"Alesse, aku pergi ke sekolah sampai kapan?" tanya Alice, namun tidak ada jawaban dari kamar itu. Alice mengetuk pintu itu lebih keras lagi, namun tidak ada respon apapun. Ia tidak terlalu tertarik apakah Alesse ada di dalam atau tidak,ia memilih untuk beristirahat setelah kelelahan berjalan dengan kaki pincangnya.
Keesokan harinya, setelah bangun dari tidur, ia langsung bersiap-siap untuk berangkat ke akademi. Ia sudah menyerah untuk mengetuk kamar Alesse.
Sesampainya di kelas, wajahnya tampak kelelahan, ia memang terpaksa berjalan dengan kaki pincangnya.
Tak lama kemudian William pun datang menghampirinya, ia terus menatap Alice dan mencari momen yang pas untuk memulai pembicaraan.
Alice merasa tidak nyaman karena Claire tak kunjung datang untuk duduk di sampingnya. "Sial! Jika terus begini, bisa-bisa dia duduk di sampingku!" pikir Alice dalam hati.
Prediksinya benar, William tampak enggan berdiri lama untuk memulai pembicaraan, ia pun langsung duduk di samping Alice. Secara spontan Alice langsung menjaga jarak.
"Lututmu baik-baik saja?" tanya William. "Aku baik-baik saja!" ujar Alice sambil menyembunyikan kakinya.
__ADS_1
"Maaf untuk yang kemarin, aku tidak menyangka kau begitu ringan hingga jatuh dengan mudah. Lagian kenapa jalanmu sangat lambat?" tanya William. "Kau sebut itu minta maaf?" tanya Alice.
"Ma... maaf, aku tidak berniat membuatmu kesal. Bagaimana dengan lengan kananmu? Apakah masih memar? Coba kulihat sebentar," ujar William, namun Alice langsung menyembunyikan tangannya.
"Ada apa Alice? Kau takut denganku? Kau tidak seperti biasanya. Ayolah, biarkan aku lihat sejenak! Aku janji tidak akan menyakitimu lagi," ujar William.
Akhirnya Alice pun memperlihatkan pergelangan tangannya yang masih memar, bahkan untuk menulis pun ia kesulitan.
"Aku akan duduk di sini, biar aku yang menuliskannya untukmu," ujar William sambil mengambil buku dan pensil yang ada pada Alice.
Tak lama kemudian Claire pun datang. "Hei! Kenapa kau duduk di situ? Minggir!" ujarnya kesal.
"Tidak akan! Duduklah di bangkuku. Masih banyak urusan yang harus kuselesaikan dengan Alice," ujar William.
Alice hanya bisa diam dengan perasaan tidak nyaman, ia tidak bisa menolak semua tawaran William.
Saat istirahat tiba, William pun membantu Alice berjalan menuju ke kantin sedangkan orang-orang menatapnya keheranan. Tentu saja Alice merasa tidak nyaman dengan suasana itu.
"Biar kubantu!" ujar William, ia langsung mengambil sendok yang dipegang Alice. "Kumohon, hentikan! Apa yang hendak kau lakukan? Menyuapiku? Kau bercanda?" tanya Alice kesal, ia langsung pergi meninggalkan William dengan hidangannya. William pun tersadar kalau perbuatannya sangat tidak pantas.
Setelah istirahat usai, anak-anak kembali ke dalam kelas. William mendapati Alice sedang tertidur di bangkunya.
William pun duduk di sampingnya sambil menunggu gadis itu bangun agar ia bisa meminta maaf.
Selagi menunggu, ia terus menatap sisi wajah Alice yang terlihat, ia sempat terpana karenanya, apalagi saat tirai jendela tersingkap hingga cahaya matahari menghujani ruangan. Saat itu warna rambut Alice yang biru terlihat seperti menyala, hal itu sangat sejuk dipandang.
William secara tidak sadar mulai membelai rambut di wajah gadis itu. Ia pun sadar kalau gadis itu sangat berbeda dengan para gadis yang ada di kerajaan itu. Mata sipitnya membuat senyumannya terlihat sangat manis, begitulah yang bisa William bayangkan meskipun ia belum pernah melihatnya tersenyum seperti itu.
Alice langsung membuka matanya secara tiba-tiba, tentu saja hal itu membuat William terperanjat. Alice tidak terlalu peduli dengan tingkah William itu, ia langsung menyibukkan diri dengan mengambil beberapa buku dari dalam tas.
William pun tertawa seketika. "Wajahmu! Wajahmu aneh sekali!" ujar William, ia menunjuk garis lipatan pada wajah Alice karena terbaring dengan posisi sebagian wajah menempel di meja.
__ADS_1
Alice tidak mengerti apa yang ia bicarakan, ia masih mengangkat wajahnya dengan percaya diri.
Akhirnya William meminjam cermin milik Claire untuk menunjukkan wajah Alice. Seketika Alice terkejut bukan main, ia langsung memukuli punggung William karena kesal.
William tidak mencoba menghindarinya, karena pukulan dari gadis itu tidak terlalu terasa baginya.
Claire yang melihat William terus menjahili Alice pun merasa kesal. Ia langsung menghampiri William lalu menyingkirkannya dari pandangan Alice.
"Alice, bagaimana jika kau bermain ke rumah kami?" tanya Claire. "Eh? Heh? Ke rumah kita? Kenapa? Kenapa kau mengajaknya ke rumah kita?" William tampak panik mendengar hal itu.
"Apa salahnya? Aku juga ingin punya teman dekat, mengadakan pesta teh ataupun pesta piyama bersama," ujar Claire.
"Ti... tidak boleh!" ujar William. "Aneh sekali! Aku hanya akan mengajaknya bermain di kamarku, kenapa kau melarangnya?" tanya Claire keheranan.
"Hei! Rumahku juga rumahmu! Pikirkan juga perasaanku jika hendak mengajak orang lain ke rumah!" ujar William.
"Memangnya kau pernah melakukan hal yang serupa? Kau bahkan sering mengajak teman-temanmu yang tidak jelas itu ke rumah! Lalu kenapa aku tidak boleh mengajak Alice?" tanya Claire keheranan.
William pun terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu secara blak-blakan. "Maaf, Claire Sepertinya aku belum bisa pergi ke tempatmu beberapa hari ini, kalau aku ada senggang, mungkin aku akan memberitahumu," ujar Alice sambil tersenyum ramah.
William langsung terpana, ia tidak menyangka angan-angannya menjadi kenyataan. Ia akhirnya bisa melihat senyuman Alice dan itu terlihat lebih baik daripada yang ia pikirkan.
"Heh? Kau sibuk? Baiklah, tidak perlu segan-segan jika ada waktu luang. Banyak hal yang ingin kulakukan bersama. Mungkin semakin banyak orang juga lebih baik," seru Claire. "Mungkin kapan-kapan," ujar Alice.
Setelah Pelajaran usai, anak-anak langsung pulang ke tempat tinggal masing-masing. Saat itulah Alice sadar kalau William sedang membuntutinya.
Ia segera berbelok di simpangan untuk menghilang dari pandangan William. Setelah memastikan bahwa yang mengikutinya adalah William, ia pun kembali ke rumah.
Ia benar-benar tidak tahan melihat kamar Alesse yang masih tertutup rapat. Akhirnya ia segera membuka paksa kamar itu, namun ternyata pintu kamar itu tidak terkunci.
"Alesse! Sudah berapa lama kau tidak keluar dari kamarmu? Setidaknya katakan sesuatu! Aku harus menggatikanmu di akademi sampai kapan?" tanya Alice, ia terkejut karena mendapati Alesse baru saja naik dari rubanah yang ada di kamarnya.
__ADS_1
"Tempat apa itu? Kau tidak pernah bilang ada ruang bawah tanah di situ," ujar Alice. "Oh, maaf Alice! Aku sedang sibuk," ujar Alesse, ia tampak tergesa-gesa mengambil sesuatu lalu kembali ke rubanah.