
Mendapati Alesse bersembunyi di belakang punggungnya, William merasakan kesenangan tersendiri, seolah ia adalah pria gagah yang sedang melindungi seorang gadis. Saking senangnya, ia pun tertawa.
"Tenang saja, Alice! Dia tidak akan menyerang kita," ujar William. "Benarkah?" Alesse pun mencoba menyingkir dari punggung William.
"Hmm! Tapi ini aneh sekali! Tidak seperti biasanya ia menunjukkan perilaku seperti itu! Biasanya ia akan mengangkat kepala jika mendapati seorang penyihir air! Kau juga tahu kan? Basilisk itu adalah pengendali air," ujar William sambil menatap Alesse.
"Hmm, sepertinya begitu," ujar ALesse singkat. "Bukankah Kau penyihir api?" tanya William. "Hah?" Alesse agak kebingungan untuk menjawab pertanyaan William. Sebagian orang menganggapnya sebagai penyihir petir, namun sebagian yang lain juga menganggapnya penyihir api. Selama ini ia belum pernah memberikan penjelasan tentang identitasnya yang ambigu itu, ia juga tidak bisa mengatakan kalau dirinya adalah penyihir yang dapat mengendalikan segala elemen.
"Ehm, aneh sekali ya! Mungkin hewan itu tertarik padamu," ujar Alesse. "Dia pejantan," ujar William singkat. "Eh? Begitukah?" Alesse tidak punya tanggapan lagi untuk mengakhiri pembcaraan itu.
"Baiklah, kita lanjutkan ke tempat berikutnya saja," ujar William. Alesse pun terus mengikutinya dari belakang sambil melihat-lihat alur masuk dan keluar kastil itu.
Akhirnya mereka berdua berhenti di sebuah sekat yang berisi gundukan besar. "Benda apa ini? Aku hanya melihat gundukan tanah," ujar Alesse. "Tunggu sebentar," ujar William kemudian bersiul.
Tak lama kemudian seekor hewan penuh duri di punggungnya pun muncul dari dalam gundukan itu. Ia tampak menyapa Wiliiam dengan berusaha berdiri layaknya manusia. Alesse pun tertawa saat meilhat hewan menggemaskan itu bertingkah.
William merasa senang karena hewan itu menarik perhatian Alesse, tidak seperti hewan sebelumnya. "Ini adalah Echotter, aku menamainya Wallace. Sangat menggemaskan, bukan?" tanya William.
"Ini mirip berang-berang, tapi tubuhnya tampak sangat besar ya!" ujar Alesse, yang ada di pikirannya sekarang adalah bagaimana perubahan revolusi yang terjadi pada hewan itu. Sayangnya William menangkap kesan lain yang ditunjukkan Alesse, ia pikir Alesse sangat tertarik dengan hewan-hewan itu.
"Sayangnya hewan ini hanya bisa jinak pada penyihir tanah sepertiku. Sayang sekali kau tidak bisa membelai kepalanya," ujar William berlagak. Ia tidak sadar kalau berang-berang berduri itu langsung melompat ke arah ALesse dan mengelus-eluskan kepalanya pada pipinya.
__ADS_1
"Eh? Heh! Bagaimana bisa? Seharusnya ia hanya berani mendekati penyihir tanah! Ia sampai menyembunyikan duri-duri di punggungnya.... Benar-benar luar biasa sekali! Aku belum pernah melihatnya seperti itu!" seru William, ia terbawa suasana oleh berang-berang itu. Ia terus menatap Alesse, berharap ia memberikannya kesempatan untuk membelai punggung hewan itu.
"Bo.... Bolehkah aku menyentuhnya?" tanya William. "Tentu saja, ini milikmu kan?" ujar Alesse keheranan, sayangnya saat William mencoba menyentuh punggungnya, namun duri-duri hewan itu langsung mencuat keluar, membuat telapak tangan William terluka.
William sempat berteriak kesakitan sedangkan berang-berang itu langsung berlari menuju ke gundukan tanah untuk bersembunyi. "Kau terlalu gegabah," ujar Alesse, ia langsung membuat perban serta cairan pembersih beserta obat merah.
"Jangan bergerak dulu!" ujar Alesse, ia mulai mengusap-usap luka pada tangan William dengancairan pembersih lalu mengolesinya dengan obat merah. "A.....Air apa itu? Baunya mengerikan sekali!" ujar William panik. "Diamlah, ini akan membuatmu cepat sembuh," ujar Alesse sambil membalut telapak tangan William dengan perban.
William terus menatap Alesse dalam diam. Ia teringat pernah menyeret Alice hingga terjatuh dan terluka, namun ia tidak bisa berbuat apapun untuk mengobatinya, yang ada malah ia membiarkannya berjalan pncang. Tentu saja ingatan itu membuatnya semakin merasa bersalah.
"Nah, seharusnya ini akan sembuh dengan cepat, kau tidak akan mendapati rasa sakit lagi setelah tidur semalaman, namun luka itu akan etap membekas di telapak tanganmu," ujar Alesse.
"Lah, kukira apa! Ternyata kau malah mengkhawatirkan hal itu! Padahal kau tidak peduli sama sekali ketika aku berjalan pincang, kan?" tanya Alesse. "Bu.... Bukan begitu! Bukannya aku tidak peduli...." William hendak menyangkal.
"Iya! Iya! Aku tahu! Anak manja sepertimu mana mungkin tahu cara mengobati luka seperti ini," ujar Alesse. "Sebaiknya kita pergi ke tempat selanjutnya," ajak William. Entah apa yang ia pikirkan, ia mencoba merangkul bahu Alesse .
"Bu..... Bukan apa-apa kok, kala kita berpegangan tangan akan lebih aneh lagi," ujar William. "Lagian kenapa kau sampai berpikir untuk pegangan tangan denganku? Aneh sekali!" ujar Alesse.
"I... Iya kan, pasti sangat aneh! Ma... Makanya, lebih baik begini saja," ujar William. Ia merasa seperti sedang berkencan.
Tak lama kemudian Claire pun datang, ia merasa geram karena William merangkul bahu Alesse. "Hei bodoh! Kenapa kau membawa Alesse ke tempat seperti ini? Kau pikir seorang gadis akan tertarik dengan tempat membosankan ini?" tanya Claire kesal, ia langsung menarik lengan Alesse agar menjauh dari William.
__ADS_1
"Kau pasti bosan karena harus menemani anak bodoh itu di sini, mari kita keluar saja," ujar Claire. "Tidak kok, aku masih penasaran dengan beberapa hewan lagi,' ujar Alesse, namun Claire terus mendesaknya agar segera pergi dari tempat itu.
"Tidak baik berada di sini, Alesse! Hewan itu sangat berbahaya! Bagaimana jika kita keliling kota? Ada sebuah kafe yang ingin aku tunjukkan padamu! Camilan di sana sangat enak sekali!" seru Claire.
Akhirnya Alesse terpaksa menurutinya karena yang mengajaknya pergi bermain bukanlah William, namun Claire. Setelah keluar dari kastil, Claire tampak begitu melekat di sisi Alesse, ia bahkan memaksa ALesse untuk terus menggenggam tangannya.
Para gadis lainnya pun merasa heran dengan tingkah Claire, ia memperlakukan Alesse layaknya seorang pria.
Selagi para gadis itu asyik berjalan di gang kota, tiba-tiba beberapa orang berpakaian lusuh menghadang mereka. Para pria itu tampak berbadan kekar sehingga para gadis pun ketakutan, mereka segerabersembunyi di belakang punggung satu sama lain. Akhirnya Pada akhirnya mereka semua bersembunyi di belakang Alesse.
'A... Alesse! A.... Aku takut!" ujar Claire sambil menggenggam tangan Alesse kuat-kuat.
"Hehe, lihatlah gadis-gadis kecil ini! Dimana pengawal kalian? Apakah jangan-jangan kalian diam-diam kabur dari rumah? Ayah kalian bisa marah loh kalau tahu hal ini," ujar salah seorang pria.
Alesse pun meringis lebar sambil menatap para pria itu dengan tatapan sinis. "Sepertinya binatang-binatang seperti kalian selalu saja mewarnai hidupku. Para pembaca mungkin akan bosan karena terus disuguhi adegan semacam ini! Para pria yang menyergap gadis-gadis kecil. Kalian benar-benar merusak nama baik seorang pria! Benar-benar pengecut!" ujar Alesse kesal.
Tak lama kemudian beberapa penjaga kota memergoki penyergapan itu. Akhirnya para pria berpakaian lusuh itu pun pergi. "Syukurlah kalian baik-baik saja, terima kasih karena berani mengulurkan waktu hingga aku bisa memanggil bala bantuan ke sini," ujar salah seorang penjaga pada Alesse. Para gadis itu pun terkagum-kagum padanya.
"Alesse, kau benar-benar hebat! Kau sangat pemberani!' seru salah seorang gadis, beberapa gadis lainnya juga memujinya, membuat Claire tak memiliki kesempatan untuk memujinya.
"Argh! Kenapa malah jadi begini!" ujar Claire kesal.
__ADS_1