
"Aku lahir di bumi, bertepatan dengan tahun di mana keajaiban mulai muncul di sana, bersamaan dengan munculnya para Elementalist! Orang tuaku mengatakan kalau kelahiranku adalah hal yang istimewa!" ujar Alice.
"Kau sampai mengetahui detail tentang Alesse Jawara, kau pasti bukan orang biasa! Siapa kau sebenarnya?" tanya Alesse sekali lagi, ia tidak mengerti kenapa gadis itu mengaku-ngaku sebagai Alesse.
"Harus kujawab berapa kali lagi? Sudah kubilang kalau aku adalah Alesse Jawara yang hidup di tubuh Alice Harvard.
"Itu tidak masuk akal! Akulah Alesse Jawara! Jangan mengaku-ngaku!" ujar Alesse. "Kau yang mengaku-ngaku sebagai Alesse Jawara! Aku adalah Alesse Jawara yang asli! Aku ingat saat orang tuaku mengatakan bahwa aku istimewa, tak lama kemudian adikku yang menggemaskan lahir! Alex yang sangat lucu lahir!" ujar Alice.
"Asal kau tahu saja, Alex tidak lucu lagi setelah tumbuh dewasa, ia menjadi pria kekar yang mengerikan," ujar Alesse.
"Apa yang kau bicarakan? Kejam sekali mengatakan anak kecil itu mengerikan! Meskipun dia terlihat seperti anak harimau, dia tetap manusia!" ujar Alice.
"Kenapa kau menyebutnya anak kecil? Alex terakhir kali yang kulihat sudah dewasa! Bahkan seingatku ia juga menikah dengan seseorang, meskipun ingatanku masih samar-samar," ujar Alesse.
"Aku adalah Alesse!" ujar Alice. "Bukan! Kau bukan Alesse! Karena kau tidak tahu seperti apa Alex ketika dewasa, itu bukti kalau kau bukan Alesse!" ujar Alesse.
"Aku benar-benar Alesse! Kau yang mengaku-ngaku Alesse! Asal kau tahu saja! Ada rahasia tentangku yang tidak diketahui orang lain! Itu juga alasanku kenapa berakhir terjebak di dunia ini!" ujar Alice.
Alesse pun terdiam, ia menelan ludah karena penasaran. "Ka... kau tahu alasan kenapa kau terbangun di dunia ini?" tanya Alesse penasaran.
"Kenapa? Akhirnya kau hendak mengakui kalau kau bukan Alesse Jawara?" tanya Alice. "Tidak! Aku tetap Alesse Jawara! Jadi apa rahasiamu itu?" tanya Alesse penasaran.
Alice tersenyum dengan percaya diri. "Tidak ada seorang pun yang mengetahui ini! Kau pasti tidak bisa mengaku-ngaku lagi sebagai Alesse Jawara!" ujarnya.
"Cepat, katakan saja apa rahasiamu?" tanya Alesse penasaran. "Sebelumnya, biar kutanya dulu jika kau benar-benar Alesse Jawara... Apa yang kutemukan saat pergi ke bukit Balai Hitam?" tanya Alice.
"Bukit Balai Hitam? Memangnya ada apa di sana? Aku berkali pergi ke tempat itu! Tentu saja, aku menemukan retakan Abyss!"
ujar Alesse.
Alice pun menggeleng kepala. "Kau salah! Kau bukanlah Alesse Jawara yang asli! Yang kutemukan pertama kali di sana adalah belalang sembah raksasa!" ujar Alice.
Alesse pun terdiam. "Benar sekali yang ia katakan! Bahkan aku tidak pernah memberitahu siapapun tentang belalang sembah itu! Kenapa dia bisa tahu?" pikir Alesse dalam hati.
"Gimana? Hentikan saja omong kosongmu! Kau bukanlah Alesse Jawara! Alex sudah dewasa katamu? Kalau kau sampai melihat Alex dewasa, berarti kau bukan Alesse Jawara! Alesse Jawara adalah aku! Aku mati saat mengikuti belalang sembah itu ke sungai. Saat itu aku tiba-tiba berpindah tempat ke antah berantah yang sangat gelap," ujar Alice.
"Dan saat itu terdapat belalang sembah yang lebih besar sudah berada di belakang sedangkan seorang pria berjubah hijau menungganginya!" Alesse melanjutkan.
"Pria itu seperti mengendalikan belalang sembah, ia memerintahkannya untuk menerkamku," ujar Alice.
__ADS_1
"Saat itulah seorang wanita tiba-tiba datang menolongku yang terluka, namun ia tiba-tiba menancapkan es runcing di kedua telingaku," ujar Alesse.
"Saat itulah aku mati, tidak ada hal lagi yang aku ingat selain rasa sakit dan dingin yang menyebar ke seluruh tubuhku," ujar Alice.
Alesse terkejut bukan main, ia benar-benar tercengang mendengar cerita Alice.
"Gimana? Akhirnya kau tahu kalau aku Alesse yang asli kan? Kau tidak bisa mengaku-ngaku lagi!" ujar Alice.
"Benar sekali! Kau adalah Alesse yang asli! Kau benar!" ujar Alesse kegirangan, ia langsung memeluk Alice.
"Kau kenapa? Dari tadi bersikeras mengaku-ngaku sebagai Alesse, kini kau malah kegirangan saat melihatku! Apakah kau sekagum itu denganku? Tapi aku tidak pernah ingat ada anak yang memperhatikanku selain Alex," ujar Alice.
"Bukan begitu! Kau memang sudah mati diusia muda, tapi tubuhmu tetap hidup hingga menjadi pria dewasa!" ujar Alesse.
"Apa yang kau bicarakan ini? Tidak masuk akal! Aku adalah anak perempuan, gimana caranya aku hidup menjadi pria dewasa?" tanya Alice keheranan.
"Hei, apa maksudmu? Aku sedang membicarakan Alesse Jawara!" ujar Alesse. "Iya! Alesse Jawara adalah anak perempuan," ujar Alice.
"Kau.... mencoba membodohiku ya? Alesse Jawara itu anak laki-laki! Aku hidup di tubuhmu saat jiwamu telah pergi! Aku melanjutkan hidupmu sebagai Alesse Jawara!" ujar Alesse.
"Aneh sekali! Alesse Jawara itu perempuan! Dia bukan laki-laki!" ujar Alice. "Argh! Andai aku punya tongkat serba guna itu! Aku mungkin bisa menunjukkan semua fotoku! Itu akan membuktikan bahwa Alesse Jawara adalah anak laki-laki," ujar Alesse.
"Dih, apa-apaan itu? Foto? Menjijikkan sekali! Aku tidak pernah punya hobi berfoto-foto!" ujar Alice.
"Hmm! Terdengar meyakinkan juga!" ujar Alice. "Apa-apaan kau ini? Sejak tadi kau masih meragukanku?" tanya Alesse.
"Tentu saja! Hidup di dalam tubuhku? Memangnya ada penjelasan masuk akal untuk itu? Jika seseorang sudah mati, ya sudah! Tidak ada yang meneruskan hidupnya! Ada-ada saja kau ini!" ujar Alice.
"Apa yang aku katakan ini benar! Tubuhmu ditemukan di sungai dalam keadaan membeku! Saat itu orang-orang juga berpikir kau sudah mati! Bahkan ayah dan ibu juga sudah pasrah dengan kematiannu, namun Alex, adikmu itu membuat percobaan aneh. Dengan pengendalian alamnya, ia bisa mengetahui bahwa kondisi tubuh yang membeku dalam es itu masih tampak baik, belum ada yang rusak," ujar Alesse.
"Oh! Aku pernah membaca teori itu! Cryo sleep! Membekukan seseorang agar bisa dihidupkan kembali ribuan tahun yang akan datang!" seru Alice.
"Benar sekali! Aku awalnya tidak percaya si otak otot seperti Alex bisa memikirkan ide brilian itu di masa kecilnya," ujar Alesse.
"Gimana caranya dia menghidupkan kembali tubuhku? Bukankah ini teknologi baru? Menghidupkan orang mati... itu luar biasa!" seru Alice.
"Tapi kenyataannya kau tetap mati. Aku pernah bertanya mengenai hal itu pada Alex. Katanya ia hanya mencoba membuat lubang pada bongkahan es itu hingga bisa menyentuh pembuluh darah yang ada di tubuhku. Ia mulai menjalankan sirkulasi darah yang membeku menjadi cair kembali. Kau tahu? Seperti tali pusar pada janin yang mengalirkan darah sang ibu ke dalam jantungnya, lalu perlahan-lahan melancarkan pembelahan sel untuk membentuk organ baru. Sepertinya yang dilakukan Alex itu sama seperti itu dan ternyata memicu kehidupan baru. Dengan begitu aku lahir, tanpa menjalani masa bayi dan menyusui. Meskipun menjadi individu baru, aku memiliki semua ingatanmu yang tersisa di otakmu, begitulah aku menjadi Alesse Jawara," ujar Alesse.
"Indah sekali mendengarkan itu semua! Aku harap bisa menuliskannya di buku!" ujar Alice. "Tapi kenapa jadi pria? Apakah setelah mati tubuhku berubah menjadi anak laki-laki?" tanya Alice.
__ADS_1
"Bukan! Dari awal kau memang laki-laki, tapi kehidupan barumu di sini membuatmu berpikir kalau jiwamu adalah perempuan. Apalagi kau mati di usia anak-anak. Itu masih sangat rentan dalam pembentukan kepribadian," ujar Alesse.
"Hmm! Penjelasanmu sangat masuk akal sekali!" ujar Alice. "Tentu saja, karena aku Alesse Jawara," Alesse. "Aku merasa bangga karena kau mengatakan hal itu," ujar Alice.
"Jadi... kenapa kau sampai terjun dari perpustakaan? Apakah kehidupanmu sepahit itu?" tanya Alesse. Alice pun terdiam.
"Gimana jika kita bertukar kehidupan? Tapi keluargaku tidak jauh berbeda dengan mereka. Meskipun begitu kau akan bebas, tidak perlu terkekang di dalam istana. Apakah kau menerima kesepakatanku? Biar kuberi pelajaran mereka yang berani menindasmu," ujar Alesse.
"Kau yakin ingin melakukan hal itu? Mereka memperlakukanku dengan sangat kejam loh," ujar Alice khawatir.
"Tenang saja, sebagai sesama Alesse, aku tidak akan membiarkan orang-orang menindas Alesse Jawara!" ujar Alesse.
"Baiklah, kalau kau bersedia, aku dengan senang hati menyepakatinya. Lalu... aku harus pergi ke mana?" tanya Alice.
"Sebelum itu, sebaiknya kita sepakati dulu nama panggilan untuk masing-masing dari kita, aku merasa agak aneh jika memanggilmu Alesse," ujar Alesse. "Panggil aku Alice saja, dan aku akan memanggilmu Alesse," ujar Alice.
"Bolehkah? Kau tidak keberatan dengan itu? Ini seperti aku mengklaim bahwa aku adalah Alesse Jawara loh," ujar Alesse.
"Aku tidak masalah, lagian kepribadiannya mulai samar-samar setelah berada di dunia ini. Aku pikir aku adalah perempuan di kehidupan sebelumnya," ujar Alice.
"Oke! Balas dendamnya akan dimulai sekarang loh! Ini akan lebih seru!" ujar Alesse. "Lalu aku harus ke mana? Kau juga harus jawab pertanyaanku itu! Jangan bilang kalau kau tidak ada tujuan!" ujar Alice.
"Kau hanya perlu pergi ke sebuah penginapan, aku sudah menyiapkan beberapa hal di sana, bahkan ada uang juga! Kau bisa bersenang-senang," ujar Alesse.
"Tapi..." ia menambahkan.
"Tapi kenapa?" tanya Alice penasaran. Alesse langsung memotong rambut Alice dengan pengendaliannya.
"Kau akan hidup sebagai Alice Cayman yang lemah, yang selalu menunggu kedatangan kakaknya. Ngomong-ngomong, kau ini penyihir apa? Api? Air?" tanya Alesse.
"Aku bukan Elementalist," ujar Alice. "Ini adalah hal yang berbeda! Penyihir di sini bukanlah Elementalist, namun mereka memang benar-benar penyihir. Elementalist hanya bisa mengendalikan objek sesuai jenisnya, namun penyihir bisa menciptakan objek itu. Misalkan Elementalist tanah tidak berdaya ketika berada di tengah laut, maka penyihir tanah dapat menciptakan tanah itu sendiri," ujar Alesse.
"Begitu kah? Sepertinya kau paham betul dengan definisi Elementalist dan penyihir ini," ujar Alice.
"Jadi, kau memang bukan penyihir? Kudengar di akademi ini hanya menerima anak yang memiliki potensi sihir," ujar Alesse.
"Ada satu, tapi aku tidak bisa memberitahu orang-orang. Aku tidak tahu namanya apa, tapi aku bisa memanipulasi konsep ruang," ujar Alice.
"Memanipulasi konsep ruang? Seperti apa?" tanya Alesse. "Seperti ini," ujar Alice, sepersekian detik ia langsung menghilang dari pandangan Alesse.
__ADS_1
"Aku ada di sini," ujar Alice sambil menepuk bahu Alesse. Ia sudah berada di belakangnya. Alesse sempat tercengang melihat hal luar biasa itu. "Baiklah aku pergi ke penginapanmu sekarang," ujar Alice sambil mengambil peta yang ada di tangan Alesse lalu menghilang dalam waktu kurang dari satu detik.
"Whoa! Dia bisa saja pergi dari rumah itu jika dia mau," pikir Alesse, ia pun akhirnya kembali ke istana kerajaan.