Alesse'S Connect : The Alchemist

Alesse'S Connect : The Alchemist
Keluarga Nicholas Cayman


__ADS_3

Alice pun berpindah tempat hingga ke depan gerbang kastil sedangkan Alesse mengawasinya dengan sembunyi-sembunyi.


Awalnya para penjaga mencegatnya dan melarangnya masuk, namun setelah seorang pelayan mengenali wajah Alice, ia pun mengizinkannya masuk ke dalam.


"Kau! Bagaimana kau bisa masuk ke dalam?" teriak Selena. Tentu saja Alice langsung terkejut seketika, tidak ia sangka akan berhadapan dengan wanita berwajah mengerikan.


Nicholas pun datang dengan seorang pelayan yang tampak menggendong seorang bayi. Selena langsung menunjukkan sikap dinginnya lalu pergi meninggalkan mereka.


"Heh? Siapa itu? Bayi?" Alesse yang sedang mengamati mulai mengerutkan dahi. "Huh, ternyata hal seperti ini pun terjadi juga tidak hanya di istana raja," ujarnya menyimpulkan apa yang ia lihat.


Tak lama kemudian Darius muncul, ia merasa tidak percaya saat melihat wajah Alice. "Ka... kau.... benar-benar mirip dengannya," ujarnya tercengang, ia hendak menyentuh wajah Alice.


Alice sempat terkejut melihat pria kekar itu, ia tidak menyangka kalau pria itu adalah kakak yang Alesse maksud. Sebelum Darius sempat menyentuh wajahnya, Alice langsung menghindar.


"Apa ada Alice? Sudah lama kita tidak bertemu! Kau tidak rindu padaku? Bukankah itu alasanmu datang ke sini?" tanya Darius, pada akhirnya ia memeluk Alice.


"Oh, iya! Alice! Lihatlah dia! Dia adalah adik kita!" seru Darius.


Tiba-tiba aura gelap mulai muncul di sekeliling tubuh Alice. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, yang jelas setelah Darius memeluknya, tubuhnya terasa semakin panas.


"Gawat! Alice! Sebaiknya kita bertukar sekarang juga!" ujar Alesse. "Alesse? Itukah kau? Gimana caranya suaramu muncul di kepalaku?" tanya Alice keheranan.


"Ini manipulasi gelombang suara, aku bisa memanfaatkan arus listrik untuk membuat suara berubah menjadi gelombang elektromagnetik," ujar Alesse.


"Kau di mana?" tanya Alice. "Di atasmu," ujar Alesse. "Kau ingin aku melakukan apa?" tanya Alice.


"Tukar posisimu denganku, lalu pergilah ke penginapan dan istirahatlah, sepertinya kau mulai terkena Demam Dracal, aura gelapmu mulai muncul. Jika dibiarkan, kau mungkin akan menerkam Darius dan menghisap darahnya," ujar Alesse. "Ba... baiklah," ujar Alice, ia pun melakukan sesuai yang diperintahkan Alesse.


Sekarang Alesse berada di posisinya untuk menghadapi keluarga itu. Darius menunjukkan kepadanya seorang bayi. Alesse hanya bisa menatap Nicholas dengan wajah miris lalu meninggalkan mereka berdua.


"Ibu dan Alice kenapa? Ada apa dengan tatapan mereka?" tanya Darius dengan wajah polosnya. Nicholas tidak menjawab, ia hanya bisa memalingkan wajahnya karena enggan mendengar pertanyaan itu.

__ADS_1


Akhirnya waktu makan pun tiba, sebuah pemandangan baru pun terlihat di ruang makan itu. Tampak seorang pelayan ikut bergabung di tempat makan sambil menggendong seorang bayi.


Alesse terus menatap pelayan yang tidak merasa risih sama sekali meskipun harus bergabung dengan keluarga besar itu.


Karena geram dengan tatapan Alice, Nicholas pun mendobrak meja. Ia membuat suasana dingin ruang makan itu pecah dengan suara tangisan bayi. Pria itu memerintahkan pelayan yang duduk di sampingnya untuk pergi dari ruang makan bersama bayi itu.


"Apa yang kau tatap sejak tadi? Kenapa kau tiba-tiba datang ke rumah ini?" tanya Nicholas. "A... ayah, jangan keras-keras! Kau barusan membuat adik kami menangis," ujar Darius.


Nicholas tidak menggubrisnya, ia menatap Alesse dengan tatapan penuh benci.


Alesse pun berhenti menyantap makanannya, ia mulai memainkan pisau yang ada di tangannya itu untuk mencincang daging yang ada di hadapannya.


"Setelah lama belajar di sekolah, ada satu hal yang menarik bagiku. Apakah kalian tahu kalau manusia itu dibagi menjadi dua ras besar? Sebenarnya jauh dari bumi kita ini ada yang disebut sebagai manusia biasa. Mereka mengklaim bahwa diri mereka adalah manusia suci, sedangkan kita adalah manusia iblis," ujar Alesse.


"Alice, apa yang hendak kau katakan?" tanya Darius. "Aku berbicara tentang kesetiaan dan pengkhianatan. Manusia memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh kita, mereka bisa bersikap penuh berani terhadap orang yang berkuasa atau bahkan lebih kuat darinya. Itulah yang membuat mereka sangat istimewa. Pengkhianatan, kecurangan, kelicikan, iri, dengki.... semua itu mendominasi hati mereka," ujar Alesse.


"Alesse! Aku tidak mengerti apa yang kau katakan," ujar Darius. "Otak otot tidak akan mengerti bahasa yang kami gunakan seperti perbedaan bahasa antara manusia dan binatang, sebaiknya kau diam saja," ujar Alesse. Ia mencoba memberdirikan garpunya dengan menancapkannya pada potongan daging.


"Kalian tahu apa yang membuat kita berbeda dengan manusia SUCI itu? Kita masih punya naluri seperti binatang, tunduk pada orang yang kuat, pada penguasa, ada sebuah segel yang membuat kita tidak pernah berpikir tentang berkhianat pada raja dan majikan kita. Sayangnya dari ciri khas itu, ada pengecualian untuk kalian, para pria," ujar Alesse sambil menatap Darius dan Nicholas. Darius hanya bisa menelan ludah lantaran Alesse menatapnya dengan tatapan tajam.


Lagi-lagi Darius tidak mengerti apa yang ia katakan, padahal tatapan semua orang yang ada di ruang makan itu jelas-jelas tertuju pada Nicholas sebagai topik perbincangan.


"Itulah mengapa anak laki-laki terkadang bisa mengalami Kondisi Terkutuk, mereka punya potensi untuk mengkhianati ayah mereka, merusak harga dirinya atau bahkan hendak membunuhnya. Lalu gimana jika seorang pelayan wanita mengkhianati majikannya, yaitu nyonya rumah ini dengan berzina? Tidak akan lama hingga ia akhirnya mengalami Kondisi Terkutuk juga. Ia akan mati dengan tragis karena tidak mampu menahan semua aura gelap yang menyelimuti tubuhnya. Aura gelap itu justru akan menelan nyawanya perlahan-lahan," ujar Alesse.


Entah kenapa perkataannya itu membuat Selena sedikit merasa terhibur. Sebenarnya sejak tadi ia tampak sangat dingin, namun ia mulai bisa tersenyum.


"Alice! Jaga mulutmu baik-baik! Teganya kau mengatakan hal itu!" ujar Darius. "Aku tidak melakukan hal buruk. Aku hanya ingin mengatakan faktanya. Bukankah kalian harus waspada? Gimana jika wanita pelayan itu tiba-tiba mengalami kondisi Terkutuk lalu membuat keributan di dalam kastil yang megah ini?" tanya Alesse.


Belum lama ia berbicara, suara keributan pun muncul. Seorang pelayan berteriak ketakutan. Kesal karena seseorang mengganggu ketenangan waktu makannya, Nicholas melampiaskan hal itu dengan mendobrak meja.


Ia pun mencoba memeriksa apa yang sebenarnya terjadi. "Ada apa dengan kegaduhan di sini? Aku menyuruh kalian bekerja dengan tangan! Bukan dengan mulut!" teriak Nicholas.

__ADS_1


Ia terkejut mendapati pelayan yang melahirkan anaknya itu sedang menodongkan pisau ke arah para penjaga. Ia juga sempat mengancam hendak membunuh bayi yang ada pada gendongannya.


Cara bicara wanita itu semakin rancu sedangkan matanya mulai menjuling seolah hendak kejang-kejang. Aura gelap pun muncul di sekitar tubuhnya.


"Tidak kusangka akan terjadi secepat ini, mungkin saja ia mendengar pembicaraan kita di dalam lalu menjadi sangat ketakutan. Ternyata privasi di kastil ini tidak sebagus yang dibicarakan," ujar Alesse.


"Ia akan menimbulkan kerusakan di sini! Singkirkan sekarang juga!" ujar Selena panik. "Ja... jangan! Bagaimana dengan adikku?" tanya Darius, ia tampak khawatir dengan bayi yang terus menangis di gendongan wanita itu.


"Cepat singkirkan dia sekarang! Kita semua bisa celaka jika ia mengamuk di sini! Anak itu sudah tidak tertolong lagi!" ujar Selena.


Nicholas benar-benar dilema, ia tidak tahu harus berbuat apa sedangkan tidak lama lagi wanita itu akan kehilangan kesadarannya.


"Ini semua salahmu yang memulainya. Membuat sembarang wanita melahirkan anakmu adalah kesalahan besar, mungkin kau hanya dapat melampiaskan nafsumu sekali, atau dua kali. Akan tetapi anakmu menanggung malu seumur hidupnya," ujar Alesse.


Ia pun menghampiri wanita yang tampak hampir kehilangan kendali itu. "Aku akan membantumu karena kau melahirkan adik kami," ujar Alesse. Ia mulai menarik nafas dalam-dalam.


Saat itulah tanduk megah tiba-tiba muncul dari kepalanya. Aura gelapnya yang pekat mulai memenuhi ruangan, Alesse pun mengambil bayi yang ada di tangan wanita itu selagi ia tercengang melihat aura gelap miliknya.


Ia pun menyerahkan bayi itu pada Nicholas kemudian kembali menghadapi wanita itu. "Kau sudah melakukan hal yang mengecewakan terhadap anakmu bahkan sebelum ia lahir. Jangan sampai berpikiran melahirkan anak majikanmu sebagai jalan pintas menjadi orang kaya, kau telah mengorbankan harga diri anakmu," ujar Alesse. Setelah ia menepuk tengkuk wanita itu, aura gelap di sekitarnya pun menghilang seketika.


Orang-orang masih tercengang melihat apa yang baru saja ia lakukan.


"Oh, ya! Sebagai gantinya, karena aku telah menyelesaikan masalah ini, kuharap kau memberikan surat pada akademi terkait absenku dari kelas selama berbulan-bulan," ujar Alesse. Nicholas tidak merespon perkataannya, ia masih terdiam setelah Alesse menyelesaikan keributan itu.


Alesse pun pergi keluar kastil, ia memang berniat singgah sebentar di keluarga itu.


Belum sampai ia keluar gerbang, Darius berlari ke arahnya dan menahan lengannya. "Tinggallah lebih lama lagi, kita baru bertemu setelah sekian lama kan?" tanya Darius.


"Menurutmu begitu?" tanya Alesse. "Alice! Ada apa dengan cara bicaramu? Kenapa kau seperti ini?" tanya Darius sambil memegang kedua bahu Alesse.


"Tanganmu sangat berat! Singkirkan itu!" ujar Alesse. "Ayolah, kita bisa bercerita banyak hal tentang kehidupan di akademi," ujar Darius.

__ADS_1


"Oh, sepertinya hidupmu sangat menyenangkan karena berada di kota pusat! Kau ingin membandingkannya dengan kehidupanku di kota perbatasan? Kau ingin tahu rasa waspada yang terus menyiksa hati orang-orang yang ada di sana? Tiap hari mereka diselimuti rasa takut kalau-kalau kerajaan seberang akan menyerang tempat mereka. Nasib baik jika yang tinggal di tempat itu adalah kesatria, atau orang-orang militer, atau seperti keluarga kita yang mahir dalam seni anggar dan beladiri. Mereka yang ada di perbatasan sana hanyalah orang-orang biasa yang lemah," ujar Alesse kemudian pergi meninggalkan Darius.


Remaja itu tampak pucat pasi seolah baru saja diputuskan pacarnya.


__ADS_2