Alesse'S Connect : The Alchemist

Alesse'S Connect : The Alchemist
Upacara kedewasaan


__ADS_3

Alesse terus memandangi Alice sambil memahat kayu. "Kenapa kau menatapku seperti itu? Jangan ganggu aku! Kau membuatku tidak bisa fokus bernyanyi!" ujar Alice.


"Perempuan memang rumit ya, hanya sebatas ini saja dipermasalahkan. Bilang saja kau enggan melakukannya kan?" tanya Alesse.


"Tidak, aku akan bernyanyi," ujar Alice bersikeras. "Baiklah, aku tahu! Tapi jangan memaksakan diri, suaramu sudah sangat bagus. Kalau kau berlebihan, pita suaramu bisa rusak sebelum kita sempat menampilkannya," ujar Alesse.


"Tapi aku sangat terkesan dengan lagu ciptaanmu ini. Begitu dalam dan tenang, aku seolah membayangkan luar angkasa yang begitu megah dan menggetarkan hati," ujar Alice.


"Itu bukan ciptaanku. Aku kebetulan mendengarnya dari ponsel Salsha, ia selaku mendengarkan lagu yang tenang," ujar Alesse.


"Siapa Salsha?" tanya Alice. "Bukan siapa-siapa," ujar Alesse. "Hmm? Mencurigakan! Apakah ini kisah asmaramu di kehidupan sebelumnya?" tanya Alice.


"Omong kosong apa yang kau tanyakan itu? Aku tidak tertarik padanya, dia adalah istri Sandy," ujar Alesse. "Sandy? Siapa lagi itu?" tanya Alice. "Kau tidak perlu penasaran," ujar Alesse.


"Membosankan!" ujar Alice. "Cobalah bernyanyi sekali lagi," ujar Alesse. "Sebenarnya apa yang sedang kau buat itu?" tanya Alice.


"Oh, ini? Aku juga ingin mencobanya," ujar Alesse, ia baru saja selesai mengaitkan beberapa senar pada kayu itu. Ia pun mulai memetik senar-senar itu, menciptakan sebuah nada.


"Wah, cantik sekali!" ujar Alice. "Apa yang aku buat pasti bagus," ujar Alesse dengan lagaknya.


Selagi nada itu terus berlanjut, Alice pun mulai bernyanyi. Ia tidak menyangka ia bisa begitu menghayati nyanyiannya karena nada-nada yang mendukungnya.


Sudah setengah bait yang ia nyanyikan, Alesse pun tidak lagi memetik senar, kali ini ia menggeseknya dengan senar lain, menciptakan melodi seperti biola. Alice pun semakin bersemangat saat bernyanyi, ia bahkan mengeluarkan suara tertingginya hingga akhirnya ia menyelesaikan nyanyiannya.


"Luar biasa sekali! Andai saja ada perekam di sini! Sayang sekali yang tadi itu tidak ada yang mendengarkannya!" ujar Alice.


"Tenang saja, besok kita akan memperdengarkannya pada orang-orang," ujar Alesse. Alice sempat terdiam lalu menghampiri Alesse.


"Ada apa?" tanya Alesse. "Seharusnya kau menunjukkan senyuman itu dari dulu. Seharusnya kau pertahankan itu selama mungkin," ujar Alice sambil mencubit pipi Alesse agar ia tampak tersenyum.


"Hei! Hentikan!" ujar Alesse, ia mencoba untuk menyingkirkan tangan Alice. Karena banyak gerak, pada akhirnya ia pun terjungkal dari kursi. Alice yang terus memegangi pipinya juga ikut terjatuh menimpanya.


"Pemandangan macam apa ini?" tanya Alesse dengan ekspresi datarnya. Alice terus terdiam, ia tampak ingin dalam posisi itu lebih lama.


"Menyingkirlah! Tubuhmu sangat berat!" ujar Alesse. "Dih, kejam sekali! Aku tidak seberat itu! Aku tidak gemuk!" ujar Alice.


"Kau serius mengatakan hal itu?" tanya Alesse sambil menunjuk dada Alice. "Hei, tidak sopan! Kenapa kau menunjuk-nunjuk payudaraku?" tanya Alice, wajahnya tampak memerah.


"Makanya pakailah sesuatu untuk mengencangkannya. Melihatmu berlari ke sana kemari, dengan dadamu itu..... apakah kau tidak lelah? Para pria langsung menatapmu dengan tatapan liar, tapi di mana rasa waspadamu?" tanya Alesse.

__ADS_1


"Kita tidak perlu setegang itu, toh aku tidak merugikan siapapun," ujar Alice. "Tidak merugikan 'jidatmu'! Aku yang kelelahan karena harus mengawasimu!" ujar Alesse.


"Wah! Ternyata kau cukup perhatian juga. Aku tidak perlu diawasi seperti itu, kau bekerja terlalu keras, Alesse. Benar-benar sia-sia sekali," ujar Alice.


"Sia-sia katamu? Baiklah, hari ini aku akan tinggal di sini. Kuharap kau tidak meminta bantuanku," ujar Alesse kesal, ia mulai memahat beberapa lempengan kayu, ia hendak membuat biola dengannya.


"Bukankah kau bisa membuat benda itu dengan kemampuanmu? Kenapa kau buang-buang waktumu untuk memahat kayu?" tanya Alice. "Ini bukan urusanmu! Pergilah," ujar Alesse kesal.


"Oke! Aku akan menghabiskan semua makanan di luar! Aku tidak akan membawa sisa ke penginapan!" ujar Alice kesal juga, ia langsung membanting pintu kemudian pergi ke luar penginapan.


"Dasar orang itu...... Benar-benar menyebalkan! Katanya ia pria dewasa, tapi masih suka merajuk? Tidak bisa dipercaya!" ujar Alice kemudian pergi ke jalanan untuk memperbaiki suasana hatinya.


Seperti biasa, ia berkeliling mencari camilan yang menurutnya lezat. Ia mampir dari satu toko ke toko lainnya hingga tidak sadar kalau ada yang membuntutinya.


"Aish! Aku harus segera ke toko seberang sebelum upacara kedewasaan itu! Tapi kenapa di sini ramai sekali! Aku tidak bisa membeli beberapa camilan favoritku!" ujar Alice kesal. Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan melalui gang sepi.


Ia sempat terhenti karena Alesse pernah melarangnya untuk mendekati area itu. Sayangnya karena diburu waktu, ia pun mengabaikan peringatan Alesse dan terus berjalan di gang sepi itu.


"Kenapa sunyi sekali di sini? Bikin merinding saja! Mungkin sebaiknya aku menggunakan kemampuanku? Tapi Alesse akan marah jika mengetahuinya," gumamnya.


Tiba-tiba ia dikejutkan oleh seorang pria berbadan besar. Ia pun terjatuh ke tanah, membuat gaunnya kotor. "Hei! Apa yang kau lakukan? Kau ini hantu kah? Jalanlah yang benar! Punya mata buat apa?" teriak Alice kesal.


"Punya masalah apa denganku, gadis kecil? Kau barusan mengatakan sesuatu tentang mata kan?" tanya pria itu sambil menunjukkan wajahnya yang menyeramkan.


Saking takutnya, ia tidak bisa menggunakan kemampuannya, ia tidak bisa melarikan diri dari pria itu. Alhasil, pria itu mencekiknya dan mengangkat tubuhnya ke atas. Alice hanya bisa meronta-ronta kesakitan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Alesse baru saja menyelesaikan biolanya, ia pun mulai memainkannya untuk imbalan jerih payahnya sendiri.


Setelah merasa puas, ia pun menatap ke jendela sebentar. "Alice..... gadis itu tak kunjung pulang. Kukira ia sangat antusias untuk upacara kedewasaan itu. Apakah dia marah karena aku menyuruhnya pergi?" Alesse termenung sejenak.


Ia pun memutuskan beranjak dari kursinya lalu pergi meninggalkan penginapan.


Di sisi lain Alice hampir kehilangan kesadarannya. Lehernya yang tercekik membuatnya kesulitan bernafas, bahkan matanya memerah akrena terus membelalak, ia tidak bisa memejamkannya.


Ia terus berusaha memanggil nama Alesse meskipun suaranya tidak keluar sedikit pun. Pada akhirnya ia diliputi penyesalan. Sebelum akhirnya tak sadarkan diri, air matanya terus bercucuran, ia merasa bersalah karena menyakiti perasaan Alesse. Ia pikir ajal sudah menjemputnya.


Sayangnya belum sempat ia memejamkan mata, tangan pria itu tiba-tiba terlepas bersimbah darah. Ia pun dapat melihat ekspresi datar khas Alesse. Anak itu langsung membuat pria itu tak berdaya.

__ADS_1


Ia pun mengangkat tubuh Alice lalu pergi dari tempat itu menuju ke atap.


"Alice, kau baik-baik saja?" tanya Alesse dengan ekspresi datarnya. Alice hanya mengucurkan air mata, ia tidak berani mengingat apa yang baru saja terjadi padanya, ia terus menangis dengan keras.


Alesse pun memeluknya lalu membelai rambutnya. "Tidak apa-apa, Alice! Kau baik-baik saja sekarang. Kau sudah aman sekarang," ujar Alesse, ia berusaha menenangkannya lalu membawanya ke penginapan.


Alice pun menjadi tenang setelah Alesse membaringkannya di kasur.


Sayangnya Alesse juga sedang diburu oleh waktu. Ia harus hadir di upacara kedewasaannya atau masalah besar akan terjadi.


"Alice, aku pergi dulu ya," ujar Alesse, namun Alice menahan lengan bajunya, ia mulai menangis kembali. Ia merasa takut tanpa Alesse di sampingnya.


Akhirnya Alesse pun menggendongnya dan ikut membawanya ke kastel keluarganya.


Setelah sepi, ia pun mendudukkan Alice di sudut ruangan lalu menutupinya dengan sebuah kaca.


"Alice, jangan pernah keluar dari sini. Seharusnya kau tidak akan terlihat jika terus berada di situ. Jangan takut, oke! Jika kau merasa khawatir, lihatlah aku saja. Aku akan berada di panggung itu dan selalu mengamatimu," ujar Alesse.


Alice pun merelakannya, ia melepaskan lengan baju Alesse. Meskipun begitu, ia merasa khawatir dengan apa yang akan ditunjukkan oleh Alesse. Seharusnya yang berdiri di panggung itu dan bernyanyi adalah dirinya, namun karena keadaannya tidak mendukung, akhirnya Alesse terpaksa menaiki panggung dengan apa adanya. Ia bahkan tidak mengenakan gaun, ia hanya mengenakan jubah bersimbah darah.


Orang-orang pun menatapnya keheranan, beberapa merasa ngeri melihat cipratan darah yang ada di jubahnya.


Alesse tak banyak tingkah, ia hanya berdiri dengan biolanya sambil menatap keramaian para bangsawan itu.


"Baiklah, Alice Cayman. Apa yang akan kau tunjukkan pada kami semua? Bakat sihirmu? Atau keterampilan berpedangmu?" tanya Gonzales.


"Berpedang? Bukankah itu tidak dilakukan oleh seorang gadis?" bisik beberapa orang. Gonzales menyebutkan hal itu karena penasaran dengan benda yang dibawa oleh Alesse, apalagi anak itu tampak bersimbah darah. Ia pikir benda yang anak itu bawa adalah senjata.


Alesse pun tersenyum, membuat orang-orang terpana karenanya meskipun terdapat sebercak darah di wajahnya.


"Aku akan menunjukkan sebuah sihir yang sangat luar biasa," ujar Alesse. "Sihir?" Gonzales pikir dirinya salah dengar.


Akhirnya Alesse mulai memetik senar biola, membuat sebuah irama. Orang-orang mulai keheranan dengan suara yang diciptakan dari petikan biola itu.


Ketika suasana tiba-tiba menjadi sunyi, Alesse pun mulai mengeluarkan suaranya, ia bernyanyi. Alice bahkan terkejut mendengar nyanyiannya.


Orang-orang mulai terdiam, terbujur kaku di tempat karena suaranya yang merdu.


Setelah mereka mulai menikmati itu, Alesse pun menggesekkan senar biolanya, membuat nada yang lebih mendayu-dayu.

__ADS_1


"Sihir apa ini? Kenapa terasa begitu menenangkan? Seolah aku baru saja mendengar sebuah kabar gembira," ujar salah seorang.


Alice pun tersenyum sambil memejamkan mata untuk menikmati pertunjukan Alesse. "Hmm, Alesse! Sebenarnya kau ini pria seperti apa di kehidupan sebelumnya? Jika aku bertemu denganmu di kehidupan sebelumnya, mungkin aku sudah jatuh cinta padamu," ujar Alice


__ADS_2