Alesse'S Connect : The Alchemist

Alesse'S Connect : The Alchemist
Si paling tidak sopan


__ADS_3

Beberapa bulan telah betlalu dengan lancar, seperti biasa Alesse duduk di di kursinya sambil menunggu hidangan disuguhkan di hadapannya.


Setelah para pelayan menyuguhkan makanan, semua anggota keluarga berdiri kecuali Alesse. Mereka menunggu raja mempersilahkan mereka duduk.


"Hei, Alice! Jangan seperti itu lagi!" tegur Ramzi. "Apa? Lihatlah, bahkan hidanganku belum muncul di hadapanku. Kenapa aku harus berdiri?" tanya Alesse. Ia tidak mengerti ulah siapa lagi yang membuat mejanya kosong tanpa hidangan.


Harvard pun datang, ia mempersilahkan mereka semua duduk. "Hei, para pelayan! Apakah kalian buta? Lihatlah, hidanganku belum disajikan!" ujar Alesse.


"Kau... jangan makan di sini! Pergilah!" ujar Harvard. "Oh, kukira ada seseorang yang menjailiku, ternyata raja yang melarang mereka memberiku makanan?" tanya Alesse.


"Aku tidak berselera makan denganmu! Pergilah! Masak makananmu sendiri!" ujar Harvard.


"Kukira kita sudah membuat kesepakatan tadi. Argh! Aku benar-benar kesal! Baiklah, aku akan masak makananku sendiri! Aku akan memastikan kalian tidak berselera makan malam ini juga," ujar Alesse kesal sambil mendobrak meja, iapun pergi dari hadapan mereka semua menuju ke dapur.


Tak lama kemudian ia langsung kembali dengan hidangan di piringnya. Aroma yang ia bawa sangat menggoda hingga Ramzi berhenti mengunyah makanannya.


Alesse duduk di kursinya kembali sambil mengipasi hidangannya. "Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Harvard.


"Aku sedang menebarkan aroma nikmat ini agar kalian semua tergoda," ujar Alesse, sebenarnya ia hanya berpura-pura mengipasi makanan itu. Ia bisa mengendalikan udara sekitar dan membuat aroma makanan itu menyumbat hidung mereka semua.


"Argh! Apa yang sedang kau lakukan?" tanya ratu kesal sedangkan Alesse mulai menyantap makanannya. "Kenapa kau kesal? Nikmati saja makananmu, aku sedang menikmati masakanku sendiri," ujar Alesse,ia bahkan menunjukkan ekspresinya yang sangat menikmati makanan itu.


Ramzi dan Rudolf berhenti menyantap makanan, mereka hanya bisa menelan ludah melihat Alesse menikmati makanan dengan aroma sedap itu.


Sayangnya itu berakhir cepat. Alesse menghabiskan semua makannya tanpa memberikan kesempatan mereka untuk mencicipinya.


"Selamat tinggal, aku tidak makan bersama kalian sekarang, jadi nikmati saja hidangan kalian," ujar Alesse lalu beranjak dari kursinya. Ia pergi meninggalkan aula makan sambil tertawa.


"Dasar gadis kecil itu!" Ratu tampak geram. "Ayahanda, bukankah sebaiknya kau mengirimnya ke tempat yang jauh? Keberadaannya sangat mengusik kami!" keluh Rudolf. Harvard mencoba mempertimbangkan keluhannya.

__ADS_1


Keesokan harinya mereka menuju ke aula makan seperti biasa untuk sarapan. Seluruh anggota keluarga berdiri menunggu raja mempersilahkan mereka duduk kecuali Alesse.


"Sepertinya kalian plin-plan sekali! Kali ini hidanganku tetap disuguhkan," ujar Alesse. Belum apa-apa ia sudah membuat keributan.


"Alice, kau akan aku kirimkan ke kota perbatasan hari ini juga," ujar Harvard, ia sudah geram dengan sifatnya.


"Hmm? Kota perbatasan? Baiklah," ujar Alesse dengan wajah murung, ia pun mulai menyantap makanannya sebelum Harvard duduk di kursinya.


"Andai saja aku bisa melakukannya, namun hatiku tidak menginginkannya. Sepertinya aku sangat mencintai rumah ini, mungkin saja aku akan tinggal di sini selamanya," ujar Alesse sambil mengunyah makanannya.


"Tidak boleh!" teriak Harvard. Suaranya menggelegar ke seluruh ruangan, membuat Dean dan Frans terperanjat.


Alesse pun beranjak dari kursinya sambil mendobrak meja. "Teriakan seperti itu tidak akan menakutiku! Aku bukan gadis kecil yang lemah dan bodoh. Aku sudah dewasa, bahkan aku bisa menilai watak kalian semua! Kalian pikir kalian akan bertahan di istana ini? Dark Warden telah lahir! Tak lama lagi kalian akan meninggalkan istana ini," ujar Alesse.


"Apa katamu? Dark Warden? Kau tahu cerita itu dari mana?" tanya Harvard. "Apa maksudnya, ayahanda?" tanya Ramzi.


"Kau tidak tahu? Gelar raja iblis akan berpindah ke Dark Warden ketika ia sudah cukup dewasa untuk memimpin kerajaan. Kalian semua tidak akan bisa mewarisi takhta ayah kalian," ujar Alesse.


"Sebenarnya apa yang tidak kuketahui? Dark Warden? Kenapa takhta raja melebur padanya? Beri aku penjelasan yang masuk akal!" ujar Ramzi. Harvard tampak kewalahan, ia tidak mampu menjelaskan lebih detailnya lantaran selama ini ia terus merahasiakannya dari anak-anaknya.


"Bukannya melebur, dari awal memang gelar raja iblis hanya untuk Dark Warden! Sayangnya kelahiran Dark Warden sangat tidak menentu, terkadang dalam satu abad setelah meninggalnya Dark Warden, generasi selanjutnya belum lahir. Oleh karena itu takhta akan diberikan pada kesatria terkuat pada masa itu," ujar Alesse.


"Aku tidak mengerti hal ini! Kenapa ayah merahasiakannya dariku?" tanya Ramzi kesal, aura gelap mulai muncul di sekujur tubuhnya.


"Ini bukan rahasia lagi, melainkan pengetahuan umum! Kau saja yang kurang cakap dalam pengetahuan! Sebaiknya kau habiskan waktumu di perpustakaan untuk tahu apa saja yang ada di dunia luar! Jangan menuntut ayahmu untuk mengajarimu, kau bukan anak kecil lagi!" ujar Alesse.


Ramzi sudah terlanjur kesal, ia mulai menggaruk-garuk lehernya lantaran aura gelap menyelubungi tubuhnya.


"Itu Kondisi Terkutuk!" ujar para pelayan panik, mereka berhamburan keluar. Frans langsung berlari ke sudut ruangan lalu bersembunyi di bawah meja.

__ADS_1


"Ramzi! Sadarkan dirimu nak! Ada ibu di sini!" ujar ratu, namun Ramzi tak bisa meresponnya, ia malah berteriak keras dengan suara seraknya.


Bentuk tubuhnya mulai berubah membesar, Rudolf dan Dean langsung menjaga jarak darinya.


Kini tatapan Ramzi tertuju pada ayahnya. Seperti biasa, anak dalam Kondisi Terkutuk akan mengincar keluarga inti mereka, yaitu seorang ayah.


Kebetulan sekali pagi itu sangat lenggang, semua penjaga berada di luar. Mereka belum sempat masuk ke dalam untuk membantu Harvard sedangkan Ramzi hanya berjarak beberapa langkah darinya.


Harvard pun mulai menghunuskan pedangnya, sayangnya ia tidak tega untuk melukai anaknya sendiri, hal itu membuat pedang di tangannya seakan-akan sangat berat.


Ramzi hendak menerkamnya, Harvard pun hanya bisa memejamkan mata dengan pasrah. "Tidak!" teriak ratu dengan histeris.


Sepersekian detik sebelum cakar Ramzi menggorok leher Harvard, Alesse sudah melesat ke arahnya, ia menendang cakar Ramzi, membuatnya terbelok sebelum sempat menggapai tenggorokan Harvard.


Belum selesai sampai di situ, ia langsung berlari dengan cepat sambil membawa sendok makannya. Ia pun mulai mengetukkan beberapa bagian tubuh Ramzi dengan sendok itu, membuatnya tidak bisa bergerak.


"Buset! Sampai begini jadinya!" ujar Alesse terkejut saat melihat sendok yang ia gunakan sudah pipih dipenuhi kepulan asap.


Saat itu juga aura gelap di tubuh Ramzi menghilang, ia langsung jatuh tergeletak tak sadarkan diri.


Seisi aula masih tercengang dengan suasana tegang itu, mereka berusaha memperbaiki nafas mereka yang terputus-putus.


"Apa yang kalian lakukan? Dia bisa masuk angin jika dibiarkan di lantai seperti itu," ujar Alesse.


Para penjaga pun akhirnya datang, mereka segera membawa Ramzi ke kamarnya. Saat yang lainnya tak memiliki nafsu makan karena kejadian itu, Alesse masih bisa menikmati makanannya.


Harvard menatap Alesse penuh waspada. Meskipun anak itu baru saja menyelamatkannya, ia berpikir kalau anak itu adalah sebuah ancaman.


Setelah kejadian itu, ia pun membuat pertemuan darurat untuk memutuskan mengusir Alesse dari istana, tentu saja perbincangan itu berlangsung lama dengan banyak pertimbangan.

__ADS_1


Isu-isu tentang sifat Alesse yang memberontak pada kerajaan pun mulai terdengar ke seluruh penjuru kota, bahkan Alice yang sedang berusaha menjalani hidup normal dengan berbaur di masyarakat pun mulai gelisah, apalagi setelah tahu Harvard hendak mengusirnya dari istana.


__ADS_2