
"Ngomong-ngomong, jika kau harus berjalan dari istana ke luar gerbang, lalu gimana caranya kau membawaku bersamamu? Apakah kau harus menyeretku dengan kepayahan? Aku tidak merasa bagian tubuhku ada yang tergores ataupun bekas terseret," ujar Alesse.
"Bukankah sudah kubilang? Aku bisa memanipulasi ruang, tentu saja berlaku untuk hamparan tanah yang kupijak. Aku hanya melangkah lurus ke arah tujuanku, entah itu aku akan melangkah di udara atau menembus ke dalam tanah, yang jelas aku berjalan lurus. Tentu saja aku bisa menyeretmu dengan mudah seolah ada gerobak dengan prinsip pesawat sederhana yang rumit, sehingga aku bisa membawamu semudah membawa sehelai rambut," ujar Alice.
"Begitu kah? Luar biasa sekali! Apakah kau bisa membawa sebuah gunung ke tempat yang lain?" tanya Alesse.
"Kupikir sebaiknya kau menanyakan hal yang wajar saja, aku malas untuk menjawabnya," ujar Alice kemudian membuang muka.
"Apa-apaan barusan itu? Kau marah padaku? Benarkah? Kau barusan ngambek hanya pertanyaan itu? Aku tidak percaya kalau kau benar-benar berubah menjadi seorang gadis sepenuhnya," ujar Alesse. Alice langsung menutup telinga, ia tampak enggan mendengar pendapatnya.
"Baiklah, baiklah! Aku minta maaf," ujar Alesse, sudah sejak lama ia tidak berinteraksi dengan gadis kecil seperti ini dan itu tiba-tiba membuatnya teringat dengan masa lalunya di kehidupan sebelumnya, ia merasa pernah berinteraksi dengan gadis kecil seperti Alice sebelumnya dan ia merasa memiliki hubungan kuat dengan gadis kecil itu.
"Alesse? Alesse! Kau kenapa?" tanya Alice. Alesse pun kembali menatap Alice, ia juga merasa familiar dengan wajahnya di kehidupan sebelumnya.
"Aneh sekali!" ujar Alesse. "Apanya yang aneh?" tanya Alice keheranan. "Bukan apa-apa, aku merasa pernah bertemu dengan gadis kecil sepertimu di kehidupan sebelumnya," ujar Alesse.
"Benarkah? Jangan-jangan..... aku benar-benar bisa kembali ke masa lalu? Jika kau tiba-tiba mengingatku di kehidupan sebelumnya, berarti ada sesuatu yang berubah! Ini pasti terjadi setelah kau mempunyai ide untuk membuat mesin waktu! Kupikir ide itu benar-benar bisa diterapkan!" seru Alice.
"Ini masih belum pasti! Jangan menyimpulkan hal yang aneh!" ujar Alesse. "Baiklah, tapi kenapa kau jadi tampak serius sekali?" tanya Alice.
"Entahlah, setelah mengingat gadis kecil itu, tiba-tiba jantungku terasa sakit, ini mirip saat aku kehilangan kendali karena emosi yang berlebihan," ujar Alesse.
"Aku tidak melihat aura gelap di sekitar tubuhmu loh," ujar Alice, tentu saja karena aku memilih untuk tidak memikirkannya, makanya kau jangan mengungkit-ungkit itu lagi," ujar Alesse.
"Baiklah! Ngomong-ngomong, gimana caranya kita ke tempat keluargamu itu? Aku tidak ingin berjalan kaki ratusan bahkan puluhan kilometer jauhnya," ujar Alice.
__ADS_1
"Tenang saja, aku punya sesuatu yang unik, mungkin kau bisa berlatih menggunakannya," ujar Alesse sambil menyeringai lebar.
"Dih! Apaan itu? Mencurigakan sekali! Pasti sesuatu yang buruk!" ujar Alice curiga. "Pokoknya ikuti aku saja," ujar Alesse.
Akhirnya mereka berdua pun sampai ke tengah hutan, di mana tidak ada orang yang beraktivitas di tempat berbahaya itu.
"Kenapa ada kereta kuda di sini?" tanya Alice keheranan. "Ini bukan sembarang kereta kuda! Naiklah, kau akan tahu sendiri," ujar Alesse.
Alice pun naik ke atas sedangkan Alesse langsung mengeluarkan aliran listrik dari kedua tangannya.
"Kemampuanmu itu sangat praktis sekali, mungkin bisa dijadikan pembangkit listrik tenaga Alesse," ujar Alice. "Gurauanmu tidak lucu," ujar Alesse, ia langsung mengalirkan arus listrik itu ke pipa besi. Seketika kereta kuda itu bergerak maju.
"Whoa! Kau membuat mesin motorik? Gimana caranya? Aku tidak melihat ada satupun tembaga di bawah sana," ujar Alice. "Aku bisa mengendalikan arus listrik, tentu saja kumparan tembaga tidak dibutuhkan lagi, aku hanya perlu membuat arus yang terus berputar melilit pipa itu layaknya kumparan tembaga," ujar Alesse.
"Ide yang brilian sekali!" seru Alice. "Bukan saatnya untuk kagum," ujar Alesse sambil melempar tongkat kayu yang dilapisi kain.
"Alesse! Ini bukan waktunya untuk itu! Kita akan jatuh ke jurang!" ujar Alice. "Kau juga pasti sangat paham kalau ini bukan waktunya untuk mengeluh. Gunakan otakmu untuk mencari solusinya, aku sudah memberimu kisi-kisi dengan tongkat kayu itu, selanjutnya kau pikirkan sendiri hendak kau gunakan untuk apa," ujar Alesse.
Alice pun akhirnya mencoba melihat sekitar,ia menemukan sebuah lubang yang mengarah ke roda depan. Awalnya ia pikir itu hanyalah lubang biasa, tidak ada maksud khusus kenapa lubang itu dibuat.
Akhirnya ia merasa kesal dengan berniat memberhentikan roda depan kereta dengan tongkat kayu itu.
Seketika kereta itu berbelok dengan tajam, membuat mereka berdua terpental ke dinding kereta.
"Kuharap kau bisa melakukan hal itu dengan hati-hati, kita bisa terlempar keluar dari kereta ini meskipun kau berhasil membelokkannya," ujar Alesse.
__ADS_1
Akhirnya Alice mencoba menekan putaran roda kereta itu dengan tongkat kayu secara hati-hati. Kereta itu dapat berbelok dengan mulus.
"Lumayan juga, sepertinya kau berbakat mengemudikan benda ini," ujar Alesse, ia tampak duduk dengan santai sedangkan Alice kepayahan membelok-belokkan kereta kuda itu.
Akhirnya mereka pun sampai di kota pemerintahan bangsawan Cayman. Tentu saja mereka tidak masuk lewat gerbang, mereka memanfaatkan kemampuan Alice untuk segera berpindah tempat dari hutan belantara ke sebuah penginapan.
"A... apa yang harus kulakukan setelah ini?" tanya Alice gugup. "Kau hanya perlu bersikap seperti biasanya saat di istana raja, mereka memperlakukanku tidak jauh berbeda denganmu, jadi jangan sakit hati! Jangan berpikiran untuk terjun dari jendela juga," sindir Alesse, Alice pun langsung menepuk punggungnya karena kesal.
"Lalu, apa yang harus kulakukan jika terkena masalah? Aku takut kalau mereka menyadari bahwa aku bukanlah anak mereka," ujar Alice.
"Tenang saja! Kau adalah bentuk sempurna dari Alice Cayman, mereka tidak akan mengetahui bahwa kau bukan anak mereka. Justru jika aku yang masuk ke sana mereka akan menganggapku aneh. Aku sudah muak berpura-pura lagi. Semakin bertambahnya usiaku, tingkat emosionalku juga sudah tak terkendali. Bisa saja aku tiba-tiba mengamuk dan menghisap darah mereka semua hingga kering," ujar Alesse.
"Dih! Mengerikan sekali! Memangnya kau vampir?" tanya Alice. Alesse merespon pertanyaan garis itu dengan wajah penuh keheranan.
"Memangnya kau tidak pernah mengalami hal itu? Kita sama-sama ras Dracal, harusnya kau pernah mengalami hal itu sekali, atau dua kali," ujar Alesse.
"Ma... mana mungkin! Memangnya darah siapa yang akan kuhisap? Aku tidak tertarik dengan darah siapapun," ujar Alice.
"Hmm! Berarti kau memang belum pernah mengalaminya! Karena kau hidup normal, bahkan jiwamu ikut melebur dengan identitas barumu itu, kupikir tak lama lagi kau akan merasakannya," ujar Alesse.
"Merasakan apa?" tanya Alice. "Kecanggungan pada lawan jenis. Kupikir di usia-usia ini kau akan mengalaminya, itu akan membuatmu tertarik pada leher seorang pria," ujar Alesse.
"Kau menjelaskan hal itu seolah kau adalah pengecualian untuk gejala-gejala aneh itu," ujar Alice.
"Yeah, memang beginilah aku apa adanya, tidak terlalu tertarik dengan manusia, hanya ilmu pengetahuan yang membuatku tertarik," ujar Alesse.
__ADS_1
"Bohong sekali, kupikir jika kau hidup sampai menua, bahkan berkeluarga.... bukankah berarti tertarik dengan lawan jenis? Atau jangan-jangan.... kau tertarik denganku?" tanya Alice sambil menyilangkan kedua tangan di dada.
"Mimpi apa kau ini? Apakah otakmu itu cuma berisi karangan bunga? Aku.... tertarik padamu? Imajinasimu sangat liar sekali," ujar Alesse.