
Alice masih terdiam saat menaiki kereta tanpa kuda itu. Equal tidak bisa menciptakan aliran listrik untuk menggerakkan kereta itu sehingga ia harus mengemudikannya sendiri.
"Benar-benar ide cermelang sekali. Aku tidak tahu sihir bisa digunakan seperti ini juga. Benar-benar membuatku geli," ujar Equal. Perkataannya yang pedas juga membuat suasana hati Alice buruk.
"Sayang sekali, mobil ini bobrok sekali! Kenapa ia tidak menciptakan suspensinya? Kenapa masih pakai roda kayu?" tanya Equal keheranan. Alice tetap diam tidak menjawab.
Ia terus mengemudikan kereta itu sambil melamun hingga akhirnya menabrak pohon dan hancur seketika.
"Lemah sekali kendaraan ini! Sepertinya aku terlalu banyak berharap," ujar Equal, ia sempat kesal karena terjungkal dari tempat duduknya.
Alice pun tiba-tiba memegang bahunya. "Kau mau apa?" tanya Equal. Alice tidak menjawab, seketika mereka berdua berpindah tempat ke desa Habbi.
"Hmm? Tempat apa ini? Sepertinya peradaban di sini lebih maju dibandingkan dengan kastil besar itu," ujar Equal.
"Yang mulia Alice! Selamat datang kembali!" ujar Robert sambil menundukkan kepalanya. "Yang mulia? Panggilan norak macam apa itu?" tanya Equal.
Alice pun langsung menutup mulutnya lalu membawanya ke rumah Habbi. "Sebaiknya jaga mulutmu saat di sini! Kau bukanlah Alesse, jangan seenaknya bicara!" ujar Alice, pada akhirnya ia menegurnya.
"Ada apa, nona Alice? Apa yang terjadi pada Yang Mulia Alice?" tanya Robert keheranan. "Bukan apa-apa, sepertinya sedang tidak enak badan. Kalian bisa melaporkan perkembangan dan kerusakan apa saja yang terjadi di sini," ujar Alice.
"Sungguh, selama ini kami baik-baik saja! Berkat kalian berdua, kami bisa menghasilkan makanan pokok kami sendiri! Ini benar-benar sebuah anugrah!" seru Robert.
"Tidak ada yang menyerang tempat ini lagi?" tanya Alice. "Sebenarnya beberapa hari yang lalu muncul monster iblis yang menyerang, dan itu membuat bekas cakar pada dinding yang melindungi desa kami," ujar Robert, ia menunjukkan bekas cakar raksasa pada tembok besar itu.
"Bekas cakarnya tidak terlalu dalam, sepertinya desa kalian baik-baik saja, " ujar Alice. "Benar sekali, namun para monster itu segera pergi ke arah kota perbatasan," ujar Robert.
Seketika Alice menjadi panik, yang ada di pikirannya sekarang adalah Claire dan William. Ia pun segera berlari menuju rumah Habbi lalu menarik bahu Equal.
"Hei! Mau apalagi?" tanya Equal. Alice langsung membuatnya ikut berpindah tempat ke kota perbatasan. Para prajurit sedang berusaha menahan para monster itu, namun beberapa sudah mencapai ke pemukiman warga.
Alice sudah tidak punya tenaga lagi untuk bergerak, ia terlalu tergesa-gesa saat berpindah tempat dengan kemampuannya itu.
Tak lama kemudian seseorang meminta tolong, ia tampak tertimpa reruntuhan sedangkan monster raksasa siap mencengkeramnya.
__ADS_1
Secara spontan Equal mengambil pedang prajurit yang sudah tewas lalu menghampiri orang itu. Ia berhasil menebas jemari monster itu.
"Whoa! Tubuh ini ternyata sangat atletis!" ujarnya terkagum-kagum, ia bahkan bisa memanjat tubuh monster itu lalu memenggal kepalanya.
Di sisi lain tampak Norman sedang ketakutan, ia terus mengeluarkan kilatan petir dari tongkatnya untuk menyambar monster itu. Sayangnya ia hanya bisa membuat salah satu lengan monster itu lumpuh.
Equalpun menghampiri monster itu lalu menebasnya, membuat darah bersimbah ke tubuh Norman.
"Yo, Jika kau menembakkan sengatan kecil seperti itu, ia tidak akan merasakan apapun. anak muda!" ujarnya. "Alice? Ba.... bagaimana bisa?" Norman benar-benar tercengang.
"Tetap tenang dan bersembunyilah di situ, bisa-bisa monster akan memakanmu jika kau banyak bergerak," ujar Equal, ia terus berlari ke sana kemari membantu para prajurit menangani monster itu.
Di sisi lain, Alice sedang merangkak menghindari monster yang terus mendekatinya. Ia tidak mampu untuk berjalan karena terlalu lelah. Sayangnya monster itu sudah sangat dekat dengannya. Ia hanya bisa memejamkan mata pasrah.
saat itulah ia merasakan sesuatu menyiprat ke wajahnya, itu adalah darah monster, Equal baru saja menebasnya.
"Jangan salah sangka! Aku masih tetap membencimu! Aku tidak akan membiarkanmumati sebelum aku mengetahui semua alasanku membencimu! Aku pasti akan menguak sifat licikmu, gadis pengkhianat!" ujarnya kemudian pergi kembali untuk menolong orang-orang.
"Rumah yang mewah sekali! Aku tidak menyangka akan melihat barang modern di sini," ujar Equal kemudian merebahkan diri di kasur.
"Lepas pakaianmu dulu!" Alice mengingatkan. "Aku tahu kok! Aku bukan anak kecil," ujar Equal. Perkataannya benar-benar membuat Alice kesal.
"Sebaiknya besok kau tidak pergi ke manapun! Tetap di sini dan jangan membuat masalah!" ujar Alice.
Keesokan harinya Alice berangkat ke akademi, ia tiba-tiba mendapatkan kejutan dari anak-anak sekelas. Ia pun bingung harus menanggapinya seperti apa.
"Ada apa ini? kenapa kalian bersorak padaku?" tanya Alice keheranan. "Tidak usah pura-pura tidak tahu! Kudengar kau ikut membantu para prajurit menghadapi para monster iblis itu!" seru salah seorang.
"Sudah kuduga Alice memang yang terbaik! Ia pasti menebas para monster itu dengan gagah berani!" ujar Claire. Di sisi lain William tampak terdiam, ia mencoba membayangkan sisi Alice yang anggun melawan para monster itu.
"Alice! Kau baik-baik saja kan? Tidak ada yang terluka saat berhadapan dengan monster itu?" tanya William, secara spontan ia langsung menyingkap lengan baju Alice.
"Hei, William! Kau ini kenapa? Aneh sekali melihatmu tiba-tiba peduli pada Alice," ujar Norman.
__ADS_1
"Yo, Alice! Terima kasih untuk yang kemarin. Jika kau tidak menyelamatkanku, aku pasti sudah mati ditelan oleh monster itu," ujarnya lagi.
"Heh? Norman diselamatkan oleh Alice? Membuatku iri saja! Andai aku juga berada di sana," ujar Claire.
"Apakah benar begitu? Kau diselamatkan oleh Alice? Jadi kau bertemu dengan Alice di sana?" tanya William pada Norman, wajahnya memerah seolah cemburu.
"Yeah, begitulah. Aku benar-benar tampak kacau dan memalukan. Kuharap kau melupakan hal itu, Alice," ujar Norman sambil memberi isyarat dengan menutup mulut.
"Bu... bukan apa-apa kok, semua orang pasti takut saat melihat makhluk raksasa itu," ujar Alice agak gagap, ia tidak bisa menerima pujian yang bukan ditujukan untuknya. Melihat sikap gagapnya itu, wajah anak laki-laki di kelas mulai memerah, ia tidak menyangka wajah Alice begitu polos, bahkan Norman juga dibuat terpana olehnya.
"Wah, ternyata sisi perempuanmu pekat juga ya. Kukira kau selalu bersikap seperti laki-laki, " ujar Norman, ia pun akhirnya tidak berani merangkul bahu Alice.
"Tentu saja dia perempuan! Kau pikir dia ini apa?" tanya William tidak terima. "Tidak perlu marah begitu, bukannya aku tertarik dengan Alice atau sebagainya, tapi melihat sikapnya, menurutku ia gadis yang manis juga," ujar Norman tertawa.
"Hmm! Kalian bicara apa sih? Jangan katakan hal yang aneh-aneh!" ujar Alice, ia tampak malu sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah melalui waktu yang melelahkan di akademi, Alice pun pulang ke rumah dan mendapati seseorang membuka pintu. "Akhirnya kau pulang juga, Alice," ujar seorang anak berambut biru.
Mata Alice mulai berkaca-kaca, ia tahu yang di hadapannya kali ini bukanlah Equal, melainkan Alesse.
Ia pun langsung memeluknya lalu memukulinya. "Kau jahat! Kenapa kau tinggalkan aku dengan orang aneh itu!" ujar Alice sambil terus memukulinya.
"Ehm, aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, Alice. Aku minta maaf, lain kali aku akan memberikan rencana jika kondisi seperti itu terjadi lagi," ujar Alesse, ia mencoba menenangkan Alice layaknya seorang ayah yang sedang menenangkan anaknya.
Alice pun langsung tertidur, mentalnya benar-benar kelelahan karena terus tertekan selama beberapa hari ini. Alesse hanya bisa menatap wajah pucatnya, kemudian membawanya ke kasur dan membaringkannya.
Menatap gadis muda itu membuat ingatan di kehidupan sebelumnya tiba-tiba muncul. Hal itu semakin membuatnya terpuruk. Ia terus mengingat betapa dinginnya dirinya saat menghadapi anak-anaknya sendiri.
Meskipun ia pandai menenangkan mereka saat sedih, tapi kenyataan bahwa ia jarang berinteraksi dengan mereka membuatnya dipenuhi rasa penyesalan.
"Apakah aku sejahat itu saat menjadi orang tua? Betapa bodohnya diriku! Lalu untuk apa aku menikah dan berkeluarga jika hanya memperlakukan mereka seperti itu?" Alesse pun akhirnya menangis, padahal ia tidak pernah menangis sebelumnya, ia merasa bisa meluapkan semua emosinya di kehidupan barunya itu.
__ADS_1