Alesse'S Connect : The Alchemist

Alesse'S Connect : The Alchemist
Alice Cayman


__ADS_3

"Ini benar-benar luar biasa, nona muda! Kau telah membuat kehidupan kami menjadi lebih baik! Aku bisa meninggal dengan tenang setelah ini," ujar Habbi.


"Kau membuatku sedih mendengarnya. Yang jelas, karena desa kalian sudah sangat memadai, kalian harus saling gotong royong! Jika ada anak yang mengalami Kondisi Terkutuk, kalian juga harus membantu ayah anak itu menghadapinya seperti yang telah kuajarkan pada kalian," ujar Alesse.


Para penduduk desa itu langsung murung mendengar perkataannya. "Loh? Ada apa dengan wajah kalian? Apakah kalian tidak puas dengan semua ini?" tanya Alesse keheranan.


"Bukan begitu. Perkataanmu itu terdengar seperti orang yang hendak pergi dari desa ini, itu sangat membuat kami sedih," ujar Robert.


"Bukankah kalian sudah bisa beraktivitas secara mandiri? Aku sudah membangun peternakan, lahan pertanian, bahkan sungai irigasi untuk desa kalian! Apakah belum cukup?" tanya Alesse.


"Bukan itu yang membuat kami sedih! Kau sudah bersama kami selama ini, jika kau tiba-tiba pergi, tentu saja kami sedih," ujar Habbi.


"Lah, mau gimana lagi? Aku juga punya kehidupan di tempat lain, ada banyak hal yang harus kulakukan," ujar Alesse.


Sayangnya penduduk desa itu tetap murung. Alesse jadi teringat dengan kakaknya yang murung karena berpisah dengannya. Akhirnya ia pun mempunyai ide untuk menenangkan para penduduk itu.


"Tenang saja, kalian semua! Setelah aku menyelesaikan semua urusanku, sesekali aku akan mampir ke sini untuk menjenguk kalian semua, mungkin aku juga bisa merubah tempat kalian ini menjadi lebih baik lagi kedepannya, aku janji!" ujar Alesse.


Seketika wajah murung para penduduk pun lenyap, mereka langsung bersorak meriah mendengar janjinya itu.


Akhirnya Alesse pun bisa pergi tanpa rasa gundah, setelah berhasil melakukan berbagai eksperimen di desa itu, akhirnya ia bisa menerapkan peradaban dunianya di kehidupan sebelumnya. Ia berniat untuk menyebarkan peradaban itu ke tempat yang lebih luas lagi, tentu saja dengan tujuan utamanya yang sudah ia putuskan sejak awal, yaitu menghapus diskriminasi terhadap wanita dan femisida.


Ia pun merebahkan dirinya di kamar sambil menatap koin emas yang dicetak oleh penduduk desa itu.


"Hmm! Harusnya aku tidak perlu khawatir dengan kehidupan mereka, sekarang bahkan mereka punya tempat penempa logam sendiri, mereka bisa berjaya dengan peradaban mereka," pikir Alesse.


Kali ini ia mencoba menatap peta yang baru saja ia dapatkan dari Andreas. Ia mengukur jarak kota perbatasan dengan ibukota pusat kerajaan sejengkal demi sejengkal.


"Baiklah, sudah kuputuskan! Mungkin sebaiknya aku menjenguk kakakku di sana! Aku agak penasaran seperti apa rupa remaja ramping itu," ujar Alesse.


Ia pun mulai mengemasi beberapa barangnya, ia juga menarik garis lurus antara gerbang kota perbatasan dengan gerbang ibukota pusat.

__ADS_1


"Dengan begini jarak perjalananku hanya beberapa hari. Kalau aku menggunakan kereta kuda. Coba saja kalau aku bisa membuat motor ataupun Jeep di sini, pasti perjalanannya lebih singkat! Sayangnya tongkatku sekarang berada di punggung si bodoh Norman," ujar Alesse kesal.


Ia pun memulai perjalanan mandirinya, ia menunggangi kuda itu sendiri agar tidak ada satupun orang yang tahu tentang rahasianya.


Setelah memasuki daerah hutan, Alesse mencoba membayangkan sesuatu dipikirannya, sebuah aliran listrik.... ia membayangkan kaki-kaki kuda itu bisa bergerak dengan kecepatan tinggi.


Sayangnya ia gagal melakukannya, hasilnya adalah kuda yang seharusnya ia tunggangi itu kini hangus terbakar.


"Sial! Kenapa jadi begini! Lalu bau daging ini, sangat menggoda sekali seperti daging panggang!" ujar Alesse kesal.


"Sepertinya peningkatan pergerakan dengan aliran listrik tidak berfungsi untuk objek lain selain diri sendiri!" Alesse menyimpulkan.


Ia pun memiliki ide lain untuk mengatasi hal itu. Ia mencoba melapisi bagian bawah roda keretanya dengan besi, lalu membuat gerigi dan rantai yang kemudian dihubungkan pada pipa besi yang dimasuki batang besi.


"Ini akan menjadi mesin motorik pertama yang ada di dunia ini!" ujar Alesse. Ia pun mulai mengaliri pipa besi itu dengan arus listrik, membuatnya terus bergerak maju mundur. Setelah terhubung dengan gerigi dan


rantai yang ada pada roda kereta, gerakan maju mundur itu berubah menjadi gerakan memutar.


Sayangnya ada satu hal yang membuat Alesse kerepotan. Kereta kuda itu hanya bergerak lurus ke depan, terkadang sedikit membelok ke arah sisi tanah yang lebih rendah. Itu membuatnya kesulitan untuk berjalan menuju ibukota.


"Sialan, mesin tanpa kemudi memang merepotkan! Andai saja tongkat serba guna itu ada padaku! Aku tidak perlu melewati hari sial ini!" ujar Alesse kesal.


Ia pun mulai mencari kain untuk membalut batang kayu yang ia pungut dari hutan. Ia mulai melubangi lantai kereta kuda itu agar batang kayu yang ia bawa dapat mencapai roda bagian depan kereta.


Saat ini ketika ia hendak membelokkan arah gerak kereta itu, ia harus membuat salah roda kereta bergerak lebih lambat, dengan begitu kereta akan berbelok ke arah roda yang ia perlambat gerakannya dengan kayu itu.


Seharian itu ia pun tampak kelelahan karena harus mengerem roda berat itu setiap kali ada jalan yang tidak rata.


Akhirnya ia sampai di dekat gerbang. Untuk menghilangkan kecurigaan, ia mendatangi penjaga gerbang untuk membawakan barang-barangnya ke dalam ibukota.


"Kenapa nona sendirian datang ke sini?" tanya penjaga itu penuh curiga. "Si penunggang kuda tiba-tiba lari meninggalkanku! Lihatlah! Yang tersisa hanyalah kereta kudaku!" ujar Alesse.

__ADS_1


Karena merasa iba, penjaga itu membantunya membawakan barang-barangnya. "Wah, akhirnya aku sampai di ibukota!" ujar Alesse lega, ia hendak menghirup udara segar, namun kenyataannya tempat itu sangat bau, tak jauh beda dengan kota perbatasan.


"Peradaban yang buruk benar-benar mencemaskan! Alangkah baiknya jika aku mengambil alih kerajaan ini dan mengenalkan pada mereka tentang sanitasi yang baik, bukannya membuang kotoran dengan sembarangan!" ujar Alesse kesal.


Ia agak enggan untuk tinggal di penginapan yang ada karena tidak ada kamar mandi maupun tempat yang wajar untuk buang air.


Ia pun terus berjalan keliling kota dan mendapati beberapa lingkungan bersih. Itu adalah lingkungan tempat tinggal para bangsawan.


Karena barang bawaan yang berat, ia terpaksa memesan kamar penginapan untuk meletakkan barang-barangnya lalu kembali ke lingkungan para bangsawan.


Ia mencoba mencari di mana keberadaan kakaknya itu. Sayangnya setelah berjam-jam mencari, ia tidak menemukannya. Kakaknya tidak ada di asrama karena masih berlatih di akademi. Akhirnya Alesse pun mencoba masuk ke akademi.


Awalnya ia heran karena penjaga gerbang langsung mengabaikannya meskipun ia tiba-tiba masuk ke dalam akademi.


"Hmm! Aneh sekali! Mereka tidak mencegatku? Orang ading bebas masuk ke dalam sini kah?" gumam Alesse.


Ia pun sampai di teras dan mendapati seseorang berdiri menatap jendela. Awalnya ia tidak peduli karena ia harus bertemu dengan kakaknya sebelum larut malam, namun orang yang berdiri di jendela itu menarik perhatiannya.


Mata khas Asia dengan rambut berwarna biru, Alesse merasa seolah sedang menatap cermin. "Seorang gadis?" Alesse mencoba menebak.


Karena penasaran, ia memerhatikannya dari dekat, namun betapa terkejutnya ia saat gadis itu tiba-tiba terjun dari ketinggian belasan meter.


Alesse segera menghampirinya dan memanipulasi udara sekitar untuk membentuk hembusan angin tepat di tanah gadis itu hendak jatuh.


Sayangnya kepala gadis itu terbentur ornamen pilar jendela sebelum mendarat ke tanah. Alesse pun segera menengadahkan tangan untuk menahannya agar tidak jatuh ke tanah.


Gadis itu tampak tak berdaya dengan kepala yang memar. "Hei! Bertahanlah! Siapa namamu?" tanya Alesse panik.


Gadis itu sempat membelalakkan mata karena terkejut melihat wajah Alesse. "Na... namaku...." Gadis itu mencoba meraih wajah Alesse.


"A.... aku... akhirnya ingat! Na... namaku.... Alesse Jawara," ujar gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2