Alesse'S Connect : The Alchemist

Alesse'S Connect : The Alchemist
Amarah iblis


__ADS_3

"Alesse! Apa yang terjadi?" Alice mencoba memeriksa ke dalam rumah sambil menyeret-nyeret kakinya, aura gelap itu membuatnya tidak mampu untuk berdiri.


Meskipun ia mendapati Alesse berada di hadapannya, ia tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas karena aura gelapnya yang sangat pekat.


Ia terus berusaha untuk berdiri dan menghampiri Alesse. Sayangnya dalam jarak dua meter darinya ia sudah terpental karena aura gelap yang terus menerus keluar seperti angin kencang itu.


Orang-orang yang ada di rumah itu mulai kehilangan kendali, bentuk tubuh mereka mulai berubah membesar, mereka semua mengalami kondisi Terkutuk. Bahkan Robert yang berusaha menahan rasa sakit dan takut itu pun ikut kehilangan kendali.


Tak lama kemudian suara tertawaan orang-orang terdengar dari luar, mereka tampak baru saja berburu di hutan.


Alice pun pergi untuk memeriksa dan mendapati mereka dengan santai membawa hasil buruan mereka dengan tertawa. Padahal aura gelap Alesse jelas-jelas menyelubungi satu desa itu.


"Mereka tidak menyadari aura gelap ini? Apakah mereka..... manusia aliran suci yang diceritakan Alesse?" Alice bertanya-tanya.


Tampaknya Alesse juga mendengar gumamannya. Alesse langsung bergerak secepat kilat keluar dari rumah Robert.


Saat itu juga sayap merah muncul di punggungnya, ia mulai mengepakkan sayap itu hingga membuatnya melayang di udara.


"Iblis! Ada iblis di sini!" teriak salah seorang, mereka langsung berkumpul dengan waspada.


"Siapa kalian?" tanya Alesse dengan tatapan tajamnya. "Kami adalah utusan para dewa! Sebagai bawahan langsung dari pahlawan, kami di sini untuk membasmi makhluk-makhluk menjijikkan seperti kalian! Berbanggalah kalian semua karena makhluk hina seperti kalian bisa mati di tangan kami.


Mendengar perkataan itu aura gelap yang dipancarkan dari tubuh Alesse semakin pekat, Alice juga tidak bisa menahannya, tanduk dan taringnya mulai muncul juga, namun ia tetap berusaha menjaga kesadarannya.


"Makhluk hina katamu? Apakah kalian tidak sadar kalau yang kalian bunuh adalah manusia? Mereka sama-sama hidup dan bernafas seperti kalian, mereka tidur dan berpikir seperti kalian juga," ujar Alesse.


"Lancang sekali iblis sepertimu menganggap kami setara denganmu, sebaiknya kuhancurkan mulut kotormu itu," ujar salah seorang kemudian menarik busurnya.


Alesse sempat tertawa mendengar perkataan pria itu. "Mulut kotor? Orang-orang seperti kalian benar-benar tidak tahu diri. Lagian yang sejak tadi berbicara kotor siapa? Yang berbuat keji adalah kalian! Kenapa malah kalian yang menyebut kami hina?" tanya Alesse kesal, anak panah langsung melesat ke arahnya, menyayat pipinya hingga berdarah.


"Alesse!" teriak Alice khawatir, ia takut anak itu kenapa-kenapa. "Lihat! Ada satu iblis lagi di sana! Bunuh dia sekarang juga!" seru salah seorang.


Beberapa orang pun langsung memburu Alice, sedangkan ia tampak tak berdaya karena terus berusaha menjaga kesadarannya dari aura gelap Alesse.

__ADS_1


Alice hanya bisa memejamkan mata selagi orang-orang itu mengarahkan tombak padanya.


Tak lama kemudian orang-orang dengan kondisi Terkutuk pun keluar dari rumah kemudian menerkam orang-orang yang hendak membunuh Alice.


Mereka mencabik-cabik, menggigit, bahkan memakan orang-orang itu layaknya hewan buas, bahkan Alice merasa ngeri melihat hal itu, ia sampai menangis melihat manusia yang memakan manusia layaknya Zombie.


Alesse mengarahkan jari telunjuknya pada segerombolan orang yang tersisa. Akhirnya orang-orang dengan kondisi Terkutuk itu langsung menyerbu mereka, bahkan beberapa orang tampak lari terbirit-birit.


Ada beberapa orang berpakaian seperti pendeta, mereka mulai merapalkan mantra hingga sebuah lingkaran keemasan muncul.


Orang-orang itu langsung masuk ke dalam lingkaran itu lalu lenyap. Sebelum para pendeta itu berhasil masuk ke lingkaran, Alesse mengarahkan orang-orang dengan kondisi Terkutuk itu untuk menerkam mereka.


Akhirnya belum sempat lingkaran emas itu tertutup, para pendeta sudah mati terlebih dahulu.


Alesse masih geram, ia hendak mengejar orang-orang yang berhasil kabur itu, namun lingkaran keemasan itu langsung berubah warna saat ia menyentuhnya.


Lingkaran itu pun terbenam ke dalam tanah, membuat Alesse merasa kesal hingga terus memukulinya.


Seketika aura gelap Alesse menghilang, ia benar-benar tersadar dengan apa yang sedang terjadi di sekitarnya. Orang-orang dengan kondisi Terkutuk itu juga mulai kembali seperti semula, namun mulut mereka masih menyisakan darah. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, namun mereka merasakan tubuh mereka yang kurus kering sudah bugar kembali.


"Ke.... keajaiban apalagi ini? Nona Alice?" tanya Robert tidak percaya, semua orang pun langsung berlutut dan tunduk padanya.


"Kau adalah raja iblis kami, nona Alice! Kami akan selalu setia padamu," ujar orang-orang itu kompak.


Alice pun segera menghampiri Alesse dan membiarkannya menenggak segelas darah.


Orang-orang sempat keheranan melihat wajah kembar Alice dan Alesse. "Nona Alice, siapa gadis muda ini? Apakah ia saudarimu?" tanya Robert.


"Dia? Mungkin kalian bisa menyebutnya begitu," ujar Alesse. "Lalu bagaimana kami memanggilnya, wahai Yang Mulia Alice?" tanya Robert.


"Karena kalian sudah menentukan panggilan lain untukku, kalian bisa memanggilnya Alice," ujar Alesse. "Benar sekali! Alice! Alice saja," ujar Alice.


Mendengar perkataannya itu, Alesse jadi teringat pada perkenalan pertama Habbi padanya. Ia pun kembali murung saat menatap rumah Habbi yang atapnya menjulang hingga terlihat dari posisinya saat ini.

__ADS_1


"Maafkan kami karena membuatmu sedih, Yang Mulia Alice! Kami akan memberikan pemakaman terbaik untuk mereka semua yang terbunuh di sini," ujar Robert.


"Baiklah, kumohon padamu," ujar Alesse. Alice pun langsung membawa Alesse berpindah tempat yang jauh dari desa, ia tidak ingin Alesse menjadi tak terkendali lagi karena mayat-mayat itu.


Setelah mereka selesai memakamkan semua mayat itu, Alesse dan Alice pun kembali ke tempat mereka.


"Maafkan aku tidak ikut menyaksikan pemakaman mereka, aku sangat sensitif hari ini, aku tidak ingin kehilangan kendali hingga membuat kalian menderita," ujar Alesse. Wajahnya masih tampak dingin,membuat orang-orang tidak berani merespon perkataannya.


Mereka hanya bisa menatap Alesse dengan penuh keringat, aura gelap yang dipancarkan Alesse sudah menanamkan rasa takut di hati mereka.


Aku akan singgah selama beberapa hari di sini untuk memperbaiki desa kalian," ujar Alesse. Robert dan beberapa orang lainnya pun mengarahkan Alesse pada rumah Habbi.


Kini rumah itu terlihat kosong, hanya tersisa bekas darah di dinding depan yang menjadi bukti betapa tragisnya kematian yang dialami oleh pemilik rumah itu.


Setelah beberapa hari berlalu, kondisi desa itu kembali pulih, bahkan Alesse merancang sebuah benteng untuk mereka agar hal yang tidak diinginkan dapat dihadapi.


"Yang Mulia Alice, terima kasih atas kedatanganmu di sini. Hal itu cukup menenangkan hati kami yang sedang berduka ini," ujar Robert, sekarang, ia dan penduduk desa selalu menundukkan pandangan saat berhadapan dengan Alesse, bahkan mereka mencoba merendahkan tubuh agar Alesse tidak perlu mendongakkan kepala saat berbicara dengan mereka.


Alesse juga tidak melarang mereka melakukan hal itu, ia tidak peduli lagi apakah orang-orang menganggap dirinya setara dengannya, atau bahkan menghormatinya layaknya seorang raja.


"Ada beberapa hal yang harus kulakukan, sepertinya kita sampai di sini dulu. Lain kali aku akan sering berkunjung agar tahu kondisi kalian semua," ujar Alesse.


"Benar sekali, Yang Mulia Alice! Desa ini adalah milikmu, kau juga bisa menggunakan rumah Habbi ketika hendak menginap di sini," ujar Robert.


Alesse pun berpamitan lagi dengan mereka lalu menggenggam tangan kanan Alice kuat-kuat.


"Kenap kau selalu menggenggam tanganku seperti ini?" tanya Alice keheranan. "Aku belum terbiasa dengan perpindahan tempat dengan kondisi yang berbeda-beda secara tiba-tiba, itu bisa membuat detak jantungku berdebar cepat dan membuatku kehilangan kendali," ujar Alesse.


"Cukup tarik nafas dalam-dalam, bayangkan saja kau mengikutiku melangkah dalam waktu yang terhenti. Detak jantung bisa diatur dengan sugesti," ujar Alice.


"Aku tahu! Itu juga alasanku menggenggam tanganmu!" ujar Alesse. "Bukankah itu hanya alasan? Mungkin kau hanya ingin menggenggam tangan seorang gadis," ujar Alice.


"Sepertinya semakin hari, sifatmu semakin tercemar. Di mana Alice yang polos, pendiam, dan serba pasrah dengan hinaan orang-orang? Kau mulai pintar menggoda sebagai seorang gadis! Sebaiknya hati-hati," ujar Alesse.

__ADS_1


__ADS_2