
Setelah selesai menampilkan pertunjukannya, Alesse pun turun dari panggung dengan tepuk tangan meriah.
Di sisi lain Darius tampak terpana dengan penampilannya. Ia merasakan sesuatu yang sakit di hatinya, namun tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
"Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Kenapa jantungku berdebar sangat cepat? Rasa sakit apa ini? Seolah harus menerima kenyataan pahit," gumamnya.
Untuk mengetahui apa yang sedang terjadi padanya, ia pun menghampiri Alesse. Sayangnya setelah berhadapan dengannya, ia sudah berlinang air mata.
"Ada apa kak?" tanya Alesse keheranan saat melihat pipi Darius basah oleh air mata. "Alice..... aku... Benar-benar tidak mengerti dengan perasaanku ini. Hatiku Benar-benar terasa ingin meledak! Alice, aku tahu kalau kita adalah kakak beradik..... tapi, aku...... aku..... aku sangat mencintaimu! Se.... sepertinya aku jatuh cinta padamu! Aku harus bagaimana, Alice? Aku tidak bisa terus merahasiakannya, hatiku semakin sakit, aku takut akan mengalami Kondisi Terkutuk untuk yang kedua kalinya," ujar Darius.
Nafasnya tampak terputus-putus, ia langsung menyudutkan Alesse di tembok. "Kau mau apa, Darius?" tanya Alesse, ia tampak waspada sambil menahan dada Darius agar tidak terlalu dekat dengannya.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Alice dari kejauhan. Dengan wajah memerah, ia langsung menarik lengan Alesse agar menjauh dari Darius.
"Ka... kau.... Alice Harvard? Kenapa kau ada di sini?" Darius benar-benar terkejut, lebih terkejut lagi karena wajah Alesse dan Alice benar-benar sama persis meskipun Alice tampak lebih dewasa dari Alesse.
Alice pun menghampiri Darius lalu menampar wajahnya. "Hanya itu yang ingin kau katakan? Bukankah sebelum bertanya hal lain, kau harus meminta maaf? Kau hendak memperkosa adikmu! Sadarlah! Pantaskah bangsawan melakukan hal itu?" tanya Alice.
Darius pun terdiam, ia langsung meminta maaf sambil menundukkan wajahnya. "Kau minta maaf ke siapa? Kau berbuat salah kepadanya, bukan padaku!" ujar Alice. Akhirnya Darius mengulangi permintaan maafnya untuk Alesse.
"Maafkan aku, Alice. Aku benar-benar di luar kendali. Aku benar-benar bodoh! Aku tidak akan mengulanginya lagi, jadi... kumohon, jangan membenciku..... tidak, kau boleh saja membenciku, tapi..... jangan menjauhiku. Kuharap kau melupakan hal memalukan ini,," ujar Darius kemudian berbalik badan kemudian pergi, ia benar-benar merasa malu dengan apa yang barusan ia lakukan.
"Hei, Alesse! Kenapa kau membiarkannya menguasai dirimu? Apa yang sebenarnya kau pikirkan?" tanya Alice.
"Seharusnya aku yang bertanya begitu. Sebenarnya apa yang sedang kau pikirkan hingga wajahmu seperti kepiting rebus?" tanya Alesse.
"Tentu saja karena penampakan aneh tadi! Aku baru saja melihat pria yang menatap pria lain dengan penuh gairah seperti itu. Itu benar-benar pemandangan yang..... yang...... pokoknya tidak bisa dijelaskan! Andai saja kalau dia tahu bahwa kau ini adalah pria tua yang bahkan sudah beranak," ujar Alice.
"Imajinasimu mengerikan sekali, sepertinya kau menikmati pemandangan tadi. Normalnya kau akan langsung menamparnya alih-alih menarik tanganku," ujar Alesse.
Alice tampak enggan mengakuinya. "Yeah, se..... sebenarnya pemandangan seperti itu boleh saja bagiku," ujar Alice malu-malu, ia tampak mengisap ujung jemarinya.
"Kau ini...... ternyata punya otak mesum juga ya," ujar Alesse. "Dari pada itu.... aku penasaran dengan satu hal. Seperti apa rupamu di kehidupan sebelumnya? Apakah memiliki badan yang tinggi besar dan kekar? Atau ramping dan jangkung?" tanya Alice.
__ADS_1
"Apa pedulimu dengan tubuhku di kehidupan sebelumnya?" tanya Alesse. "Bu.... bukan apa-apa kok," ujar Alice.
Alesse pun mencoba memeriksa leher Alice yang tampak memar. Alice pun terdiam, meskipun wajahnya semakin memerah, ia tidak berusaha melarang Alesse.
"Sepertinya lukamu cukup dalam, perlukah kubuatkan obat untuk mencegah peradangan? Kupikir itu akan memperbaiki suaramu," ujar Alesse. Alice pun mengangguk.
"Setelah ini kita akan kembali ke kota perbatasan. Aku juga perlu menjenguk desa Habbi, mereka pasti khawatir karena aku lama tak berkunjung," ujar Alesse.
"Apakah kita perlu berangkat ke akademi juga? Aku harus bertukar peran denganmu sebagai Alice Cayman lagi?" tanya Alice.
"Apa masalahnya dengan itu?" tanya Alesse. "Kau tidak sadar kalau dirimu menarik perhatian si anak kembar itu? Berurusan dengan mereka benar-benar membuatku lelah," ujar Alice.
"Kau tidak sadar diri! Bukankah kau yang menggoda William? Kau membuatnya jatuh cinta padamu!" ujar Alesse.
"A... apa katamu? Menggoda? Aku hanya bersikap layaknya gadis normal! Justru sifat maskulinmu yang membuat peran Alice Cayman ini terjebak dalam cinta Claire yang merepotkan! Asal kau tahu saja, dia menjadi semakin melekat padaku, bahkan selalu mengikutiku ke mana pun aku pergi di akademi. Ia sangat tergila-gila!" ujar Alice.
"Aku benar-benar lelah untuk memperbaiki keadaan itu. Sebaiknya mulai besok kita tidak menimbulkan banyak perhatian orang-orang, " ujar Alesse. "Aku sangat setuju!" ujar Alice.
Seketika wajah Alesse tiba-tiba terdongak ke langit-langit ruangan, ia seperti hendak kejang-kejang, matanya terus membelalak.
Akhirnya Alesse pun kembali mengedipkan matanya, ia juga *******-***** jari lalu menatap Alice.
"Yo, gadis pengkhianat! Aku bukanlah Alesse lagi. Kami sepakat untuk memanggilku dengan sebutan Equal," ujarnya.
Alice tidak mengerti apa yang terjadi, namun setelah melihat ekspresi yang tidak asing itu, mengingatkannya pada Alesse yang hilang ingatan sebelumnya.
"Kau... bukan Alesse?" Alice mencoba memastikan. "Benar sekali, Maaf jika sebelumnya aku tidak memperkenalkan diri, saat itu aku juga sedang mencoba memahami keadaanku," ujar Equal.
"Apakah ini yang disebut dengan kepribadian ganda? Aku pernah baca beberapa kali di kehidupan sebelumnya tentang fenomena ini," ujar Alice.
"Hmm, ngomong-ngomong. Kenapa kau berada di sini? Bukankah kita tidak boleh berada di satu tempat seperti ini? Gimana jika orang-orang melihat? Pergilah," ujar Equal.
Suasana hati Alice menjadi buruk karena harus berhadapan dengan orang itu. Hanya dengan menatap raut wajahnya, ia bisa mengetahui kalau orang itu bukanlah Alesse.
__ADS_1
"Tunggu apa lagi, gadis pengkhianat? Pergilah! Orang-orang akan segera datang," ujar Equal.
Alice langsung berbalik badan dengan wajah kesal. "Aku punya nama, namaku Alice! Bukan gadis pengkhianat," ujar Alice.
"Hmm, kau pikir aku akan merubah caraku memanggilmu? Tidak akan! Meskipun aku bisa berbicara santai seperti ini denganmu, aku tetap membencimu, dasar gadis pengkhianat!" ujar Equal sambil menunjuk lorong kosong. Alice sudah tidak ada di hadapannya.
"Loh? Kemana gadis itu pergi?" Equal kebingungan, ia pun langsung melanjutkan aktivitasnya di upacara kedewasaan itu.
Di sisi lain Alice tampak sakit hati setelah sampai di penginapan. Ia tidak tahu kesalahan apa yang diperbuat hingga Equal membencinya, ia sangat enggan untuk berhadapan dengannya.
"Alesse, kapan kau akan kembali? Aku sangat tidak suka dengan orang itu!" ujarnya sambil terus menahan rasa sakit di dadanya. Ia pun tertidur dengan air mata yang mengalir di pipinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Sihir apa yang kau gunakan tadi? Itu sangat indah sekali," ujar Gonzales. "Sihir?" Equal tampak kebingungan. "Tunggu! Kau.... bukan Alice? Haruskah kupanggil kau Alesse kembali?" tanya Gonzales, ia mendapati titik merah terang pada pupil Equal yang menunjukkan perbedaan dirinya dengan Alesse.
"Maaf, kami berdua sudah sepakat untuk merubah panggilan kami, kau bisa memanggilku Equal," ujar Equal.
"Baiklah, kalau begitu.... kau tahu sihir yang digunakan oleh dirimu yang lain itu kan?" tanya Gonzales. "Sihir apa yang kau bicarakan ini?" Equal tampak membenci perkara bernama sihir.
"Tadi dirimu yang lain menggunakan benda ini untuk mengeluarkan sihir itu," ujar Gonzales sambil menunjukkan biola.
Equal pun tertawa. "Kalian tidak tahu alat musik? Ini bukanlah sihir! Semua orang bisa memainkannya! Omong kosong dengan sihir! Tapi ini sangat mengherankan, seharusnya di peradaban ini alat musik sudah banyak diciptakan, tapi kenapa kalian tidak ada yang tahu? Dan kenapa ini disebut sihir? Kalian konyol sekali!" ujar Equal geli.
"Kalau begitu coba buat suara seperti tadi," ujar Gonzales. Equal pun mengambil biola itu, namun ia tidak tahu musik mana yang Alesse mainkan sebelumnya, akhirnya ia pun memainkan apa yang terlintas di kepalanya.
Tidak seperti Alesse yang memainkan musik dengan tema tenang dan damai, yang Equal mainkan adalah musik bertema kegelisahan. Nada yang ia mainkan itu membuatnya tenggelam dalam ingatannya yang sudah lama hilang.
Gonzales bertepuk tangan saat Equal menyelesaikan permainannya. "Sihir yang kau buat sangat berbeda dengan Alice. Setelah kubandingkan, kalian seperti dua orang dengan kehidupan berbeda. Sepertinya hidupmu dipenuhi kebencian dan kedengkian, rasa kesal, gelisah, terkhianati..... entah kenapa aku merasakan itu semua. Sihir ini benar-benar luar biasa, seolah mengutarakan semua yang ada dalam hati seseorang," ujar Gonzales.
Equal tampak kesal karena mendengar perkataan itu dari orang lain, ia benar-benar tidak ingin mengungkit masa lalunya.
Untuk menyembunyikan ekspresi kesalnya, ia menundukkan wajah, membuat rambutnya menutupinya.
__ADS_1
Ia pun pergi dengan biola itu sedangkan suasana hatinya menjadi semakin buruk. Darius hanya bisa menatapnya dari kejauhan, ia merasa sangat bersalah setelah melihat Equal keluar dari kastil dengan rasa kesal.