
Claire tampak berjalan tergesa-gesa sedangkan William meninggalkannya dengan cepat.
"Hei, sialan! Tunggu aku!" teriak Claire. Banyak barang bawaan yang membuatnya kesulitan berjalan, ia juga mengenakan sepatu yang sangat datar dan licin, membuatnya harus berhati-hati.
Pada akhirnya hal yang tidak diinginkan pun terjadi. Ia terpeleset hingga barang-barangnya berhamburan di udara. Saat itulah seseorang menahan tubuhnya agar tidak jatuh ke bawah.
"Ma....maaf, sepertinya aku baru saja merepotkanmu," ujar Claire tersipu malu. "Daripada permintaan maaf, bukankah seharusnya kau berterima kasih? Tidak ada alasan khusus yang membuatmu harus merasa bersalah padaku. Pada dasarnya aku menolong dengan kehendakku sendiri. Kalau aku merasa direpotkan, aku tidak akan menahan tubuhmu seperti ini," ujar orang yang menahan tubuh Claire.
Claire sendiri penasaran dengan orang yang menolongnya itu. Setelah ia melihat wajahnya, ternyata orang itu adalah Alesse.
"Penampilanmu sudah bagus, bahkan tanpa sepatu itu. Mungkin sebaiknya kau gunakan sesuatu yang lain. Percuma saja punya penampilan bagus jika kau jatuh konyol seperti ini," ujar Alesse.
Mendengar perkataan itu, pipi Claire tiba-tiba merana. Ia benar-benar merasa malu karena perkataan Alesse. Saat ia mencoba menatap Alesse sekali lagi, ia merasakan sisi lain dari Alesse, dan itu membuat hatinya berdegup kencang.
"Kau baik-baik saja?" tanya Alesse. "Eh? Heh? A... aku baik-baik saja kok," ujar Claire. Secara spontan ia memperbaiki tatanan rambutnya.
"Syukurlah, kupikir aku menahan tubuhmu terlalu kasar. Kalau begitu aku pergi dulu," ujar Alesse kemudian berlalu dari hadapan Claire.
Meskipun tampak seperti seorang gadis, Claire merasakan ada sesuatu yang lain pada diri Alesse dan itu membuatnya terpana.
Alesse pun masuk ke dalam kelas. "Hei, William! Adikmu barusan terpeleset, kenapa kau meninggalkannya begitu saja?" tanya Alesse.
William sendiri menatap Alesse tanpa berkedip. Tentu saja karena sejak lama Alesse tidak masuk ke akademi itu.
"Hei, Alice! Dari mana saja kau?" tanya William. "Kupikir akademi sudah menjelaskan semua hal yang perlu kalian ketahui. Aku terlalu malas untuk menjawab pertanyaan yang sudah terjawab," ujar Alesse.
"Alice, kau tidak pernah berubah! Masih seperti biasanya!" ujar Norman. "Kenapa? Kau berharap sesuatu yang lain? Seperti mencuri tongkat yang ada di punggungmu itu?" tanya Alesse.
"Kau bicara apa, Alice?" tanya William, nampaknya orang-orang sekitar tidak tahu kalau ada tongkat yang melekat pada punggung Norman.
Norman pun sempat meraba-raba punggungnya sambil menelan lidah. "Hei, tidak mungkin. Tongkat ini tidak akan bisa dipegang oleh orang yang bukan miliknya," ujar Norman.
"Tongkat? Maksudmu benda pusaka yang diwariskan kepada Dark Warden secara turun-temurun? Bagaimana bisa kau mengatakan benda berharga itu sebagai tongkat?" tanya William.
"Siapa pun yang pertama kali melihatnya pasti mengira bahwa itu hanyalah sebuah tongkat. Itulah kenyataannya! Hanya sebuah tongkat, ia tidak bisa berubah menjadi sesuatu yang lebih bagus seperti kendaraan atau sebagainya, jadi apanya yang istimewa?" tanya Alesse, ia hanya merasa geram karena Norman tidak bisa merubah bentuk tongkat itu menjadi suatu hal lain.
"Hei! Mana ada yang seperti itu? Tongkat ini sangat luar biasa sebagai senjata! Ini akan menjadi tongkat biasa yang rapuh jika dipegang oleh orang yang bukan pemiliknya. Jadi meskipun dicuri, itu hanyalah upaya yang sia-sia, tongkat itu akan kembali pada pemiliknya," ujar Norman.
"Benarkah begitu? Bagaimana dengan orang yang pernah jadi pemiliknya? Apakah ia juga bisa menggunakan tongkat itu?" tanya Alesse.
__ADS_1
"Yeah, mungkin saja. Tapi aku tidak tahu kalau ada yang seperti itu. Tongkat ini diwariskan secara turun-temurun oleh Dark Warden sebelumnya, karena mereka semua telah tiada, tidak mungkin ada yang bisa menggunakan tongkat ini sekarang kecuali aku," ujar Norman.
"Begitu kah? Membosankan sekali," ujar Alesse. Ia pun duduk santai di bangku lamanya, itu tampak kusam karena selama beberapa bulan tidak ada yang menempatinya.
Tak lama kemudian Claire pun datang lalu duduk di samping Alesse. "Hei, perempuan! Bangkumu di mana? Kenapa kau duduk di situ?" tanya William.
"Aku benci padamu! Aku tidak akan duduk di situ lagi!" ujar Claire kesal. "Hei, Alice! Jangan goda adikku! Cepat suruh dia kembali ke tempat duduknya!" ujar William.
"Untuk apa aku menggodanya? Bukankah kau sebagai seorang kakak harus menjaga adiknya? Apalagi dia seorang gadis. Sepertinya kau tidak becus menjadi seorang kakak," ujar Alesse.
William tampak geram mendengar perkataannya. "Awas saja kau! Tak akan kubiarkan kau menghinaku seenaknya!" ujar William kesal kemudian keluar dari kelas.
"Bukankah kau terlalu berlebihan, Alice?" tanya Norman. "Loh? Apa salahku? Aku tidak berbuat apapun," ujar Alesse.
Pelajaran pun dimulai seperti biasa hingga akhir, namun William tak kunjung masuk ke dalam kelas. Norman tampak khawatir karena hingga penghujung hari anak itu tidak terlihat di mana pun. Meskipun begitu, Claire tidak peduli, bahkan ia pun pulang sendiri tanpa kakaknya itu.
Alesse tahu di mana William berada, namun ia tidak ingin mengganggu waktunya dan memilih untuk pulang ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, ia merasa ada sesuatu yang aneh, ia merasakan keberadaan lain yang ada di dalam rumahnya. Setelah memeriksa dalam senyap, ia pun mendapati Andreas sedang berada di ruang tamunya,bahkan Alice menyuguhkan teh dan camilan untuknya.
"Ada apa dengan wajah pria itu? Aneh sekali! Aku tidak pernah melihatnya tersenyum begitu," ujar Alesse keheranan, ia pun langsung membuka pintu rumah dengan keras.
"Hei, Alesse! Kenapa kau pulang lewat depan?" tanya Alice panik, ia sebenarnya ingin menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya bukan Alice yang Andreas kenal.
"Heh? Heh! Ada apa ini? Kenapa ada dua Alice di sini!" Andreas kebingungan. Alesse langsung mendobrak meja.
"Apapun yang kau pikirkan tentang gadis itu, dia bukan aku! Jangan harap aku memiliki sifat feminim sepertinya! Melihatmu berekspresi seperti om-om mesum membuatku sangat kesal!" ujar Alesse, ia langsung menarik lengan Alice lalu membawanya ke dalam.
"Ada apa kau ini? Kenapa membiarkan orang lain masuk ke rumah?" tanya Alesse. "Aku hanya bertindak normal, seolah hanya ada satu Alice di rumah ini, tapi kau malah merusaknya! Harusnya aku yang tanya! Apapun dengan aksimu itu? Kau membuat rahasia kita ketahuan!" ujar Alice.
"Ini sangat tidak benar! Siapa suruh kau melayani pria itu sambil tersenyum manis padanya? Jangan tersenyum seperti itu dengan wajah yang sama persis seperti wajahku!" ujar Alesse.
"Aku benar-benar kesal sekali dengan aturanmu itu! Lalu apa yang harus kulakukan? Sepertinya seumur hidupku selalu tinggal di bayang-bayang! Aku benar-benar muak!" ujar Alice.
"Muak katamu? Kau pikir menghadapi orang-orang itu dengan senyuman palsu, dengan ekspresi palsu itu tidak melelahkan?" tanya Alesse.
"Kalau memang melelahkan, seharusnya kau bilang saja! Biar aku yang menggantikanmu! Jangan memendam lama-lama lalu melimpahkan semua kesalahan padaku!" ujar Alice.
"Baiklah, jika begitu maumu, mulai besok kau pergi ke sekolah!" ujar Alesse, ia langsung pergi ke kamar dan menutup pintunya dengan keras.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya terjadi? Asa ribut-ribut apa ini?" tanya Andreas yang mencoba memeriksa ke ruang tengah.
"Oh, bukan apa-apa, mari kita lanjutkan pembicaraan tadi," ujar Alice.
Setelah menceritakan beberapa hal, akhirnya Andreas memutuskan untuk pergi karena merasa tidak nyaman dengan Alesse yang sempat kesal dan marah.
Keesokan harinya Alice mencoba mengetuk pintu kamar Alesse, namun Alesse tak kunjung keluar dari kamarnya. Akhirnya Alice terpaksa mengenakan seragamnya lalu berangkat ke akademi.
Tidak ada seorang pun di tempat itu yang ia kenali, hal itu membuatnya terus berdiam diri hingga sampai ke dalam kelas.
Permasalahan berikutnya adalah ia tidak tahu di mana bangku Alesse berada, ia hanya bisa berdiri dalam diam di depan kelas.
Akhirnya Claire pun beranjak dari tempat duduknya. "Alice! Kau kenapa? Ayo cepat duduk! Pelajaran akan dimulai!" ujar Claire, ia menarik lengan Alice kemudian duduk bersamanya.
Alice agak tertarik dengan apa yang Claire kenakan, ia merasa iri karena tidak bisa mengenakan pakaian yang ia inginkan.
Tak lama kemudian William pun muncul, ia langsung menghampiri Alice dengan wajah kesal.
Alice hanya bisa menatapnya keheranan dengan wajah polosnya itu. "Alice! Ada yang harus kubicarakan!" ujar William, ia tampak
mengepalkan tangannya, tentu saja Alice merasa cemas.
"A... ada apa dengannya?" bisik Alice pada Claire. "Loh? Bukannya kau yang membuat dia membolos sekolah seharian? Kau menyebutnya gagal sebagai seorang kakak," jawab Claire.
Karena tidak sabar, William langsung menarik lengan Alice. Ia membawanya pergi keluar kelas dengan kasar.
"Hei! Apa yang kau lakukan? Lepaskan tanganku!" ujar Alice. William tetap berjalan cepat sambil menarik lengan Alice.
Alice yang tidak bisa mengikuti kecepatan berjalannya pun jatuh tersandung, sedangkan William masih menarik lengannya dengan kasar hingga ia terseret di lantai.
Setelah merintih kesakitan, William pun berhenti menarik lengannya. Ia tidak menyangka kalau gadis itu akan jatuh hingga terseret.
Alice masih merintih kesakitan sambil memegang pergelangan tangannya yang memar karena genggaman William
terlalu erat.
Setelah melihat gadis itu terduduk di lantai, William dihujani perasaan bersalah, ia baru sadar kalau yang ia lakukan sangatlah kasar.
"A... Alice, kau baik-baik saja?" tanya William, ia hendak memeriksa lengan Alice, namun Alice langsung menghindar. Saat itulah William melihat celana Alice tergores lantai, bahkan hingga robek dan lututnya terluka.
__ADS_1
"Alice! Kau berdarah! Aku akan membawamu ke UKS! Ayo, naiklah ke punggungku!" ujar William, namun Alice tidak menurutinya, ia masih sama seperti dulu, takut dengan laki-laki karena mereka bertindak kasar.
Ia pun berusaha berdiri dengan kepayahan lalu kembali ke dalam kelas, William dibuat penuh rasa bersalah olehnya.