
Alesse duduk di bangku paling belakang, ia memang tidak tertarik untuk bersekolah, namun ia tetap harus mengikutinya untuk mendapatkan sertifikat, ijazah dan lain sebagainya.
"Syukurlah aku sekelas dengan Dark Warden, dengan begini aku tidak akan jadi pusat perhatian," ujar Alesse dalam hati kemudian mulai membaca buku yang ia pinjam dari perpustakaan.
Benar seperti yang ia katakan, saat Norman tiba di kelas, anak-anak langsung mengerumuninya dengan perasaan kagum.
Alesse juga tidak luput untuk memerhatikannya. Sebenarnya bukan Norman yang ia perhatikan, namun tongkat yang ada di balik punggungnya itu.
"Itu harusnya milikku! Kenapa bisa ada padanya?" Alesse keheranan. Tak lama kemudian Norman melirik ke. arahnya lalu menghampirinya.
"Salam kenal, aku Norman," ujar anak itu sambil mengulurkan tangan. "Aku Alice," jawab Alesse sambil menjabat tangan Norman.
"Aku lihat ujianmu loh! Kau yang menggunakan sihir tanpa merapal mantra kan?" tanya Norman.
"Eh, aku merapal mantra kok, tapi tidak sekeras kalian," ujar Alesse. "Kalau kau merapal mantra dengan keras, mungkin sihir api yang kau keluarkan bisa lebih besar loh! Kau bisa mendapatkan nilai ujian yang tinggi," ujar Norman.
"Ehm, tidak perlu kok, itu membuang-buang tenaga," ujar Alesse. "Hmm! Benar sekali, menggunakan sihir pasti menguras energi bagi kalian," ujar Norman.
"Heh? Memangnya kau tidak, Norman?" tanya salah seorang. "Yang aku lakukan kemarin bukan sihir loh, itu disebut pengendalian," ujar Norman.
"Lalu... kenapa kau menjampi-jampi?" tanya salah seorang lainnya.
"Agar terlihat keren saja, kalian juga melakukan hal itu, kenapa aku tidak?" tanya Norman.
"Eh, tapi yang kau rapalkan kemarin itu apa? Aku belum pernah dengar mantra seperti itu," ujar salah seorang lagi.
"Ehm, itu bukan mantra manapun, sebenarnya aku hendak menyebutkan mantra sihir air, tapi aku tidak hafal," ujar Norman sambil menggaruk-garuk kepala.
"Sudah kuduga, ternyata anak ini memang bodoh! Pantas saja dia tidak tahu cara menggunakan tongkat itu," ujar Alesse dalam hati.
Tak lama kemudian anak kembar datang lalu duduk di bangku yang sama. "Mereka bertunangan?" tanya salah seorang.
"Siapa yang kau sebut tunangan?" tanya salah satu anak kembar itu dengan wajah kesal. "Kalian berdua selalu bersama, jadi kami kira kalian bertunangan," ujar Norman.
__ADS_1
Salah satu anak kembar lainnya langsung beranjak dari bangku kemudian menghampiri Norman.
"Salam kenal, Dark Warden. Namaku William, dan dia itu bukan tunanganku! Namanya Claire, saudari cerewetku," ujar anak itu.
"Hmm, Claire, William? Kalian dari bangsawan mana?" tanya Norman. "Kami berasal dari Keluarga Armstrong," ujar Claire dengan lagaknya. Beberapa orang terkagum-kagum.
"Lalu, Alice.... kau berasal dari bangsawan mana?" tanya Norman.
Alesse memerhatikan sekeliling kelas, ia pun sadar kalau ada beberapa anak yang memakai pakaian sederhana selain dirinya. Mereka tampak terdiam di bangku masing-masing meskipun sebenarnya ingin ikut menimbrung pembicaraan mereka.
"Apakah seperti itu cara orang-orang di sini bergaul? Berdasarkan status bangsawannya? Kalau aku bukan anak bangsawan, apa yang akan kalian lakukan?" tanya Alesse.
Perkataannya membuat beberapa anak berpakaian sederhana tertarik untuk mendengarkannya.
"Eh? Aku tidak bermaksud begitu! Jadi, kau bukan dari kalangan bangsawan? Maaf kalau aku membuatmu tersinggung," ujar Norman sambil menundukkan kepala.
"Hmm! Anak muda ini meskipun bodoh, ia memiliki cara yang bijaksana saat berinteraksi dengan orang lain!" Alesse menyimpulkan dalam hati.
"Aku bercanda kok. Aku berasal dari keluarga Cayman," ujar Alesse. Norman merasa lega karena Alesse tidak tersinggung karenanya.
"Mungkin karena pakaianku tidak terlihat seperti seorang gadis," ujar Alesse. "Memangnya kau boleh mengenakan pakaian seperti itu di rumah? Ibuku bahkan selalu memarahiku jika mengangkat gaunku meskipun hanya sejengkal saja," ujar Claire.
"Mereka sedang tidak ingin mendengar keluh kesahmu!" William menimpali. Pada akhirnya William dan Claire bertengkar kembali.
Selagi mereka asyik berbincang-bincang, Alesse terus memerhatikan anak-anak dengan pakaian sederhana itu, mereka tampak diam saja meskipun di belakang sedang asyik berbincang-bincang.
"Kenapa mereka diam saja? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Alesse penasaran.
"Kudengar mereka berasal dari rakyat biasa," bisik Claire. "Seharusnya rakyat biasa tidak bisa menggunakan sihir," ujar William. "Kupikir mereka adalah anak yang lahir di luar nikah. Mungkin ibu mereka pernah berhubungan dengan bangsawan," ujar anak lainnya.
"Sst! Jangan berbicara terlalu keras! Mereka bisa dengar!" ujar William.
"Woi, anak-anak yang ada di sana! Di sini sedang membicarakan tentang ibu kalian loh! Kalian terima begitu saja? Ibu kalian direndahkan layaknya pelacur, tapi kenapa kalian diam saja?" tanya Alesse dengan suara keras.
__ADS_1
Suasana ruangan itu menjadi semakin serius karena teriakannya. "Hei, Alice! Apa yang kau lakukan?" tanya Claire.
"Kurasa aku harus memperjelas hal ini! Hei, kalian semua yang diam saja di sana! Kenapa kalian sangat pengecut sekali? Kalian tidak ingin menyangkalnya?" teriak Alesse.
Salah seorang pun berdiri karena tidak tahan dengan teriakan Alesse. "Kalau itu memang benar, lalu kami harus bagaimana?" tanya anak itu. Setelah berdiri untuk bicara, ia merasa tidak nyaman untuk tetap tinggal di kelas itu, akhirnya ia mencoba untuk keluar.
Sayangnya Alesse mengendalikan udara sekitar agar tercipta angin lalu menutup semua pintu kelas.
"Jangan harap bisa keluar dari kelas ini. Aku tidak bermaksud menindas orang seperti kalian, tapi setidaknya marilah berbaur satu sama lain, aku ingin menjadikan ruangan ini sebagai tempat orang dari mana saja bisa bersatu. Tidak peduli apakah orang itu berpangkat rendah atau tinggi, semuanya sama!" ujar Alesse.
"Hei! Lancang sekali kau! Berani-beraninya kau menyamakan Dark Warden, calon raja iblis dengan anak-anak pelacur itu!" ujar anak-anak lainnya tidak terima.
"Hmm, raja iblis? Kalau begitu aku tanyakan pada orang itu sendiri," ujar Alesse kemudian menghadap Norman.
"Hei, Norman! Kau keberatan jika aku menyamakanmu dengan mereka?" tanya Alesse.
"Ma.... maksudmu menyamakanku dengan anak-anak pelacur? A... aku tidak keberatan kok," ujar Norman, ia agak gugup karena berpikir Alesse sedang menguji kebijaksanaannya.
"Aku tidak bilang kalau mereka adalah anak pelacur loh," ujar Alesse. Norman merasa mendapatkan tamparan keras setelah Alesse mengatakan hal itu. Ia tak bisa menghadapi Alesse, ia langsung terdiam seketika.
"Hmm, kasihan sekali kalian bertemu denganku di hari pertama kalian masuk sekolah," ujar Alesse kemudian duduk di atas meja guru. Saat itu juga tanduk megahnya mulai muncul, bahkan aura gelap ikut menyelimuti dirinya.
"Bu... bukankah itu Kondisi Terkutuk?" tanya salah seorang anak keheranan. "Hei, mana mungkin! Kondisi Terkutuk hanya dialami oleh laki-laki!" ujar William.
"Tapi itu benar-benar mirip dengan Kondisi Terkutuk! Aku juga pernah melihatmu menjadi seperti itu sebelumnya!" ujar Claire.
Anak-anak tampak ketakutan, mereka langsung berlari ke sudut belakang ruangan, mereka sudah tidak peduli lagi mana yang bangsawan dan mana yang bukan, semuanya langsung menjaga jarak dari Alesse.
"Panggil guru sekarang juga! Ini bisa berbahaya!" ujar Norman, ia langsung memasang kuda-kuda di depan untuk melindungi anak-anak yang ada di belakangnya.
"Kondisi Terkutuk? Apa itu? Aku belum pernah lihat!" ujar salah seorang anak yang lain kebingungan.
"Itu mengerikan! Biasanya saat suasana hati laki-laki sedang buruk, ia akan berubah menjadi seganas binatang! Kudengar beberapa keluarga di masyarakat ada yang tewas karena serangan dari anak yang mengalami Kondisi Terkutuk!" ujar William.
__ADS_1
Semakin banyak ia menjelaskan, semakin membuat anak-anak takut bahkan berteriak histeris.
Alesse tidak bisa berbuat apapun untuk menyikapi mereka. Ia sudah terlanjur menunjukkan taring dan tanduknya di hadapan mereka.