
Alesse datang ke aula makan dengan piyamanya. Ia menguap dengan percaya diri seolah tidak peduli lagi meskipun orang-orang menatapnya dengan pandangan sinis.
Ia langsung duduk di kursinya sambil memainkan sendok dan garpu dengan santai. "Apa-apaan dengan pakaianmu itu? Berani-beraninya kau menggunakan piyama bekas tidurmu untuk makan! Sangat tidak sopan!" ujar ratu.
"Peduli apa kau? Anggap saja aku tidak ada di dunia ini seperti yang kau harapkan," ujar Alesse santai.
"Hei, Alice! Ada apa dengan cara bicaramu hari ini? Kenapa kau terdengar sangat menyebalkan?" tanya Ramzi.
"Kau baru menyadari kalau aku sangat menyebalkan? Kukira memang dari dulu kalian menganggapku menyebalkan," ujar Alesse, sambil memainkan sendok dan garpu, ia menciptakan kebisingan.
"Apakah kepalamu terbentur sesuatu tadi malam? Sikapmu sangat aneh sekali!" ujar Rudolf. "Benar sekali! Aku tadi malam mendapatkan wahyu dari para dewa! Kalian percaya itu?" tanya Alesse. Ramzi dan Rudolf sampai berkedip beberapa kali saat mendengar perkataan Alesse.
"Ada apa dengan kalian? Jangan-jangan kalian menganggap candaanku tadi dengan serius? Kalian sebodoh itu kah?" tanya Alesse.
"Alice! Pergi dari meja ini sekarang juga!" ujar ratu sambil mendobrak meja. "Tidak! Aku tidak akan meninggalkan kursiku sampai kalian semua yang pergi dari sini seperti tadi malam!" ujar Alesse, ia membelalak di hadapan ratu.
"Kenapa pagi-pagi sudah ribut saja? Kalian ingin membuatku cepat tua?" tanya Harvard yang baru saja datang dari kamar mandi. Srmua orang langsung beranjak dari kursinya untuk menghormatinya, namun Alesse tetap duduk, bahkan ia mulai menyantap hidangannya dengan santai, ia tidak peduli meskipun orang-orang sedang menatapnya penuh keheranan.
"Hei, Alesse! Apa yang kau lakukan? Beri penghormatan kepada raja!" ujar Ramzi. "Tidak, untuk apa aku memberikan penghormatan pada orang yang tidak menghormatiku? Bukan, maksudku orang yang tidak menghargai wanita. Menurutku orang seperti itu tidak pantas dihormati," ujar Alesse sambil mengunyah makanannya.
Harvard pun berusaha menghela nafas untuk menahan amarahnya. Ia pun langsung duduk di kursi mewahnya, begitu pula dengan anggota keluarga lainnya, mereka langsung duduk setelah Harvard duduk.
Perhatian Alesse tertuju pada pintu aula, para pelayan tampak mendorongnya dengan kepayahan.
"Aku selalu terganggu saat melihat pintu itu. Apakah ia terbuat dari besi sepenuhnya? Sayang sekali! Jika kau melelehkan besi itu lalu menjadikannya sebagai anak panah dan pedang, kau bisa memperkuat kerajaanmu. Lagian raja bodoh mana yang memasang pintu besi untuk mempersulit dirinya sendiri?" kritik Alesse.
Harvard langsung mengeluarkan kembali makanan yang baru saja ia kunyah, ia benar-benar murka. Ratu berusaha menenangkan Harvard, namun Harvard terlanjur beranjak dari kursinya.
"Baguslah, semakin sering kau tidak makan, semakin cepat usiamu berkurang," ujar Alesse.
Ratu benar-benar murka mendengar perkataannya. "Dasar pembangkang hina!" ujarnya. Seketika aura gelap muncul di sekitar tubuhnya, membuat anak-anak yang lain ketakutan, mereka hendak pergi dari hadapan ratu.
"Oh? Kau ingin adu intimidasi? Boleh juga," ujar Alesse, aura gelap juga muncul di sekujur tubuhnya, tanduk megah dan taringnya yang tajam langsung muncul, membuat orang-orang di sekitar ketakutan. Frans langsung beranjak dari kursinya dan berlari ke arah sudut ruangan.
__ADS_1
"Apa yang kalian berdua lakukan?" teriak Harvard, ratu langsung menjaga sikap, ia segera menghilangkan aura gelapnya.
"Anak dan ibu sama saja!" ujar Harvard kesal, ia pun langsung meninggalkan aula makan.
Anak-anak tampak tidak berselera makan karena suasana pagi yang menegangkan itu, sedangkan Alesse tampak santai sambil menghabiskan hidangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pagi itu Harvard tampak sangat lesu karena dari malam hingga pagi belum memakan apapun. Ia tidak bisa fokus memeriksa berkas-berkas yang sedang ia tangani.
"Seseorang yang memimpin kerajaan tidak boleh kelaparan seperti ini, kau bisa membuat kerajaanmu hancur hanya karena rasa lapar dalam sehari atau dua hari," ujar Alesse, ia sudah duduk di atas meja Harvard sambil meletakkan bekal yang ia bawa dari istana.
Harvard benar-benar murka melihatnya tiba-tiba muncul di hadapannya dengan cara yang tidak sopan. "Sekali kau marah dan berteriak, mungkin kau bisa cepat mati, sebaiknya segera makan bekalmu saja!" ujar Alesse sambil menyumbat mulur Harvard dengan sendok berisi makanan.
Mau tidak mau Harvard harus mengunyah makanan itu atau ia akan tersedak.
Sembari Harvard menikmati hidangannya, Alesse memeriksa beberapa berkas yang sedang dilihat oleh Harvard.
"Aneh sekali! Jumlah ini sangat mencurigakan! Pembangunan ulang jalan di dekat Pasaraya bagian selatan. Kukira jalan di sekitar itu masih mulus dan bagus, lagian pembangunan macam apa yang membutuhkan banyak dana seperti ini? Ini bisa digunakan untuk pembangunan jembatan di atas sungai!" ujar Alesse.
"Itu jumlahnya salah loh, meskipun hanya kesalahan sedikit, itu kesalahan berulang yang terjadi pada berkas lainnya. Kau yakin sudah memeriksanya dengan benar?" tanya Alesse.
"Kenapa kau tiba-tiba mengkritikku? Semua yang dilakukan raja harus benar! Kalau tidak, kerajaan ini akan hancur!" ujar Harvard.
Tak lama kemudian pintu ruangan terbuka, seorang pria paruh baya hendak melaporkan sesuatu, namun ia terkejut saat melihat Alesse berada di dalam ruangan.
"Siapa pemuda ini, Yang Mulia?" tanya pria paruh baya itu. Alesse keheranan karena pria itu tidak mengenalinya.
"Ehm, bukan siapa-siapa, aku hanya mengutusnya untuk melakukan pengamatan di jalan," ujar Harvard.
"Baiklah,maaf mengganggu waktumu, Yang Mulia," ujar pria itu kemudian kembali menutup pintu ruangan.
"Kenapa kau mengenakan pakaian aneh itu? Seorang gadis tidak boleh mengenakan celana! Untung saja dia tidak mengenalimu!" tegur Harvard.
__ADS_1
"Kupikir kita tidak terlalu akrab untuk saling menegur begini, aku tidak punya kewajiban untuk menuruti perkataanmu," ujar Alesse.
"Lalu, apa yang kau lakukan di sini? Apa niatmu sampai datang ke sini? Jangan-jangan..." Harvard pun mulai memasukkan tangan ke dalam mulut, ia berusaha memuntahkan makanan yang baru saja ia makan itu.
"Tenang saja, aku tidak meracuni makanan itu. Tidak perlu melakukan hal yang sia-sia," ujar Alesse.
"Lalu, apa tujuanmu datang ke sini?" tanya Harvard. "Benar sekali, aku datang ke sini sampai bolos sekolah tidak mungkin tanpa tujuan. Setelah kupikir-pikir lagi, sepertinya kau tidak terlalu membenciku, tidak seperti perlakuan anak-anak lainnya padaku," ujar Alesse.
Harvard tampak enggan mengakuinya, ia langsung memalingkan wajahnya dari Alesse. "Jadi, ini yang akan kulakukan! Biarkan aku bersaing dalam perebutan takhta ini," ujar Alesse sambil mendobrak meja.
"Apa kau sudah gila? Itu adalah hal yang mustahil! Jangan bahas masalah takhta di hadapan anak-anak! Cukup Ramzi saja yang tahu tentang masalah ini!" ujar Harvard.
"Kau tidak bisa berpikir seperti itu, ada beberapa anakmu yang lain yang lebih berpotensi menjadi raja daripada Ramzi, contoh Rudolf, ia lumayan cakap dalam bicara, atau mungkin Frans? Meskipun pendiam, ia adalah pengamat yang baik, ia tahu harus berada di posisi mana untuk menguntungkan pihaknya," ujar Alesse.
Perkataan Alesse membuat Harvard termenung. "Tentu saja aku tidak kalah berpotensi dari mereka berdua," ujar Alesse.
"Aku tidak bisa melakukan hal itu! Wanita tidak bisa memimpin kerajaan! Keluar dari ruanganku sekarang juga!" teriak Harvard. Beberapa penjaga akhirnya masuk dan menyeret Alesse keluar dari ruangan.
"Baiklah, aku sudah membolos sekolah selama beberapa jam, aku harus kembali," ujar Alesse dengan santai.
Ia pun langsung pergi menuju akademi dan masuk saat pertengahan pelajaran. Orang-orang sempat menatapnya keheranan karena ia mengenakan seragam sekolah dengan celana layaknya anak laki-laki.
"Maaf, aku terlambat!" ujar Alesse kemudian duduk di bangkunya. Orang-orang pun tidak mempedulikannya karena sejak awal ia memang tidak pernah diperhatikan.
Setelah jam sekolah usai, ia mampir ke perpustakaan, ia penasaran buku apa saja yang ada di tempat itu hingga Alice betah membacanya lama.
Sayangnya saat berada di tengah jalan, ia langsung berpapasan dengan Darius. Remaja itu juga menatapnya keheranan setelah memerhatikan apa yang Alesse kenakan dari atas sampai bawah.
"Apakah kau sudah gila? Apa yang gadis lakukan dengan celana panjang itu? Kau benar-benar tidak sopan!" ujar Darius.
"Minggir! Aku sedang terburu-buru!" ujar Alesse. Darius merasa kesal karena diabaikan, ia langsung mencegat Alesse dengan lengan kekarnya.
"Awas! Atau aku akan menghisap darahmu sampai tubuhmu ramping!" ancam Alesse. "Dia adalah ras Dracal! Jangan macam-macam dengannya!" ujar Allan.
__ADS_1
Darius pun langsung menurunkan lengannya. "Jadi orang jangan suka mengganggu ketenangan orang lain! Memangnya aku pernah mengganggumu? Apakah cuma badanmu yang besar? Kau meninggalkan otakmu di rumah?" tanya Alesse, ia benar-benar geram dengan kakaknya yang menyebalkan itu.
Darius pun langsung terdiam selagi Alesse pergi meninggalkannya. "Sa... sabar, Darius! Kurasa ia tidak mengatakannya dengan serius. Jangan diambil hati," ujar Allan sambil mengusap-usap punggung Darius agar ia tidak terbawa emosi.