Alesse'S Connect : The Alchemist

Alesse'S Connect : The Alchemist
Hilang ingatan


__ADS_3

Alesse merasa tidak nyaman berada di lengan pria itu, ia hendak turun darinya. "Ada apa, Alice?" tanya Gonzales.


"Aku bisa berjalan sendiri," ujar Alesse, ia melepaskan lengan Gonzales agar bisa turun ke bawah.


"Anak itu... laki-laki? Eh? Perempuan?" Orang-orang saling berbisik karena penasaran. Penampilan Alesse sangat tidak biasa di hadapan mereka.


"Pakaianmu bagus sekali! Sangat elegan. Aku belum pernah melihat pakaian seperti itu di keluarga bangsawan manapun," ujar Gonzales.


"Terima kasih atas pujiannya, aku tidak mengenakan gaun karena itu membuatku kesulitan bergerak," ujar Alesse.


Gonzales pun tertawa. "Memangnya perempuan butuh banyak gerak? Bukankah yang terpenting bagi kalian adalah tampil cantik dan elok dipandang?" tanya Gonzales.


Alesse hendak menyangkal perkataan Gonzales, namun sebelum sempat membuka mulut, ia mendapati kepalanya terasa berat seolah ditarik paksa ke belakang punggungnya.


Ia tampak seperti orang yang sedang kejang-kejang. Hal itu membuat Darius khawatir dan segera menghampirinya.


"Alice! Alice! Kau baik-baik saja?" tanya Darius. Alesse tampak tak sadarkan diri, namun matanya masih membelalak ke langit-langit ruangan.


"Hei, pak tua! Apa yang telah kau lakukan pada Alice?" tanya Darius geram. "Darius! Jaga mulutmu! Kau tidak boleh menyebutnya begitu!" tegur Selena.


"Dia telah berbuat sesuatu pada Alice! Dia adalah orang jahat!" ujar Darius, wajahnya tampak dipenuhi amarah.


"Apakah laki-laki ini anakmu, Selena?" tanya Gonzales. "Be... benar, kakek! Mohon maaf karena sikapnya seperti ini! Tolong ampuni anakku!" ujar Selena.


Gonzales pun mendekatkan wajahnya pada Darius. "Hmm! Anak yang menarik, sayangnya dia tidak mewarisi apapun darimu. Dia pasti sangat mirip dengan ayahnya," ujar Gonzales.


Darius mulai mengabaikan Gonzales, ia masih khawatir dengan Alesse yang terus kejang-kejang dengan mata membelalak.


"Apa yang telah kau lakukan pada Alice? Kenapa dia jadi seperti ini?" tanya Darius. "Hmm, aku tidak berbuat apapun nak, dia tiba-tiba begitu sendiri," ujar Gonzales, ia tampak tidak peduli.


Karena geram, Darius menghunuskan pedang anggar miliknya lalu menodongkannya pada Gonzales. Wajahnya dipenuhi oleh kebencian.

__ADS_1


"Darius! Apa yang kau lakukan? Turunkan pedangmu!" ujar Selena. Suasana ruangan itu menjadi sangat tegang.


Mata Alesse masih belum terpejam, ia masih menatap langit-langit ruangan dengan rahang terbuka.


Tak lama kemudian mata birunya tiba-tiba berubah merah. Ia berhenti kejang-kejang kemudian berusaha memperbaiki posisi berdirinya.


"Alice? Kau baik-baik saja?" tanya Darius. Wajah Alesse langsung berubah datar, ada beberapa hal yang berubah dari wajahnya, mulai dari mata yang berwarna merah hingga kelopak mata bagian bawahnya yang menggelap. Hal itu membuat ekspresi datarnya dihiasi oleh tatapan yang tajam.


"A... Alice? Ada apa ini? Kenapa wajahmu tampak semakin pucat?" tanya Darius khawatir.


"Alice? Siapa itu? Namaku bukan Alice! Namaku Alesse Jawara," ujar Alesse kemudian menyingkirkan tangan Darius dari pundaknya.


"Ada apa dengan gadis kecil itu? Auranya suram, seperti kakek," bisik beberapa orang.


Alesse tampak mengabaikan mereka lalu secara tidak sengaja menatap sebuah cermin. Ia terdiam sambil terus memegangi rambutnya untuk memastikan bahwa itu benar-benar miliknya.


"Ada apa dengan warna rambut ini? Sangat tidak realistik," ujar Alesse. Ia juga menatap beberapa orang dengan warna rambut yang bervariasi.


"Menjijikkan sekali! Kalian terlihat seperti muntahan pelangi," ujar Alesse. "Hmm? Muntahan pelangi? Istilah dari mana itu?" tanya Gonzales penasaran.


"Bukankah itu menarik? Alice, apa itu muntahan pelangi? Bukankah pelangi itu yang ada di langit? Aku tidak habis pikir bagaimana kau menghubungkan kata pelangi muntahan. Tidak bisa dibayangkan," ujar Gonzales.


"Aku bukan Alice," ujar Alesse. "Baiklah, Alesse Jawara, kan? Kau bisa menjawab pertanyaanku tadi?" tanya Gonzales.


"Kenapa aku harus menjawab hal itu? Bukankah itu hanya istilah umum? Muntahan pelangi adalah emoji yang biasa orang-orang gunakan di media sosial maupun televisi. Mereka suka menggunakan itu untuk menyensor muntahan yang menjijikkan. Lagian siapa yang mau melihat muntahan orang lain?" tanya Alesse.


"Kau... ini bicara apa sejak tadi?" tanya Selena keheranan. Orang-orang di sekitarnya juga tidak mengerti apa yang baru saja Alesse katakan.


"Apa itu? Aku baru dengar hari ini. Emoji? Media sosial? Televisi? Istilah apalagi itu?" tanya Gonzales.


Alesse pun menengok ke sana kemari dan mendapati orang-orang menatapnya keheranan. "Jangan-jangan..... kalian tidak tahu apa itu televisi? Kalian bercanda? Emangnya ini zaman batu?" tanya Alesse keheranan. Ia terdiam sejenak sambil memerhatikan lingkungan sekitar.

__ADS_1


"Loh? Di mana ini? Pakaian bangsawan yang antik, interior rumah abad pertengahan? Apakah aku sedang tidak berada di bumi?" Alesse kebingungan, ia pun langsung terjun lewat jendela, pergi begitu saja dari hadapan mereka.


Ia terus berjalan keluar gerbang kastil hingga berada di jalanan kota. Ia merasa terganggu dengan rambut panjangnya ketika angin bertiup ke sana kemari.


"Ini sangat menyebalkan! Sebaiknya kupotong saja!" ujar Alesse kemudian mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk memotong rambutnya.


Di sisi lain Alice sedang asyik keliling kota untuk mencicipi beberapa camilan yang dijual di toko-toko. Karena persediaan emas yang Alesse buat, ia tidak khawatir menghambur-hamburkan uangnya.


Tepat saat ia asyik membawa tumpukan camilan, ia mendapati Alesse sedang memegang pisau. Tentu saja raut wajah pucat datarnya membuat Alice terkejut.


"A... Alesse? Ke... kenapa kau di sini? Maaf... aku tidak menghambur-hamburkan uang kok, ini dikasih," ujar Alice sambil menyembunyikan beberapa koin emas di balik bajunya.


"Kau kenal aku?" tanya Alesse, ia hendak memotong rambutnya dengan pisau itu. Alice pun segera mencegahnya.


"Hei! Apakah kau gila? Kenap kau memotong rambutmu? Kalau begini kita tidak bisa melakukan penyamaran lagi!" ujar Alice.


"Kau siapa? Kembalikan pisauku!" ujar Alesse. "Jangan, Alesse! Kau tidak boleh memotong rambutmu!" ujar Alice sambil berusaha menarik pisau yang Alesse rebut.


"Huh, tidak bisa begini! Kau benar-benar merepotkan," ujar Alesse kemudian melepaskan pisau itu, ia langsung mengalah karena tidak mau berurusan dengan Alice.


"Alesse! Kau mau pergi ke mana?" tanya Alice. Alesse pun terdiam. "Benar juga, aku hendak kemana?" Alesse balik bertanya.


"Kenapa kau jadi bodoh begini? Apa yang terjadi?" tanya Alice, akhirnya ia membawa Alesse ke penginapan.


Tak lama kemudian, Alesse merasa sesuatu baru saja dipaksa masuk ke dalam kepalanya. Saat ia menatap Alice, ia teringat sesuatu yang buruk.


"Alesse? Ada apalagi ini? Kau baik-baik saja? Kepalamu terluka?" tanya Alice. Alesse segera menyingkirkan tangan Alice darinya.


"Kau! Dasar gadis pengkhianat! Berani-beraninya kau muncul di hadapanku setelah mengkhianatiku? Kau pikir aku akan diam saja?" tanya Alesse geram.


"Alesse? Kau kenapa? A... apa maksudmu? Mengkhianati? Omong kosong apa ini? Kenapa kau menuduhku pengkhianat? Apakah karena koin emas itu? Memangnya apa salahnya jika aku menggunakannya? Bukankah kau menciptakan emas itu dengan mudahnya? Kenapa aku tidak boleh memakainya? Hanya karena itu kau menyebutku pengkhianat?" Alice tampak kecewa, ia langsung berlari keluar dari penginapan dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Sayangnya Alesse tidak peduli hal itu, ia masih merasakan sakit di kepalanya. Sebuah ingatan tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya. Ia merasakan kebencian yang sangat dalam pada wajah Alice.


"Ingatan apa ini? Di mana? Kapan aku pernah bertemu dengannya?" gumam Alesse. Diliputi rasa penasaran, akhirnya ia pun mencoba menuliskan apa yang terjadi hari ini untuk menyimpulkan sesuatu.


__ADS_2