Alesse'S Connect : The Alchemist

Alesse'S Connect : The Alchemist
Tukar peran Alesse


__ADS_3

Alice terbangun dari tidurnya, ia langsung membuka jendela dan mendapati keramaian yang membuat hatinya merasa tenang. Ia tidak perlu lagi khawatir kalau dirinya berjalan sendirian karena orang-orang sekitar sibuk dengan urusan masing-masing.


Ia pun memeriksa kantong yang ada di sudut ruangan, ia benar-benar terkejut karena itu berisi tumpukan emas.


"Buset! Alesse dapat semua ini dari mana? Sepertinya dia yang sudah pernah hidup sebagai orang dewasa pasti sangat mudah untuk menghasilkan uang seperti ini! Bikin iri saja! Andai aku tidak mati lebih cepat, aku mungkin bisa mempraktekkan semua ilmu pengetahuan yang kupunya," ujar Alice.


Ia pun mengambil beberapa keping emas lalu mulai berkeliling kota untuk bersenang-senang.


Dimulai dari pasar, ia mencoba beberapa camilan yang dijual oleh penduduk.


Ia tidak menduga akan merasakan bervariasi makanan yang dijajakan.


Selama ini hidup di istana, ia hanya dibolehkan memakan makanan yang berkelas dan hanya itu-itu saja. Akhirnya ia bisa menikmati hidupnya tanpa rasa khawatir.


Setelah banyak mencicipi berbagai makanan, ia tertarik untuk masuk ke dalam sebuah toko butik. Ia melihat beberapa gaun cerah dan ingin segera memakainya.


Sayangnya Alesse sudah memperingatkannya untuk mengenakan pakaian yang tidak terlalu feminim, ia juga mengisyaratkan untuk mengenakan celana panjang agar mudah bergerak.


"Sayang sekali, aku tidak bisa mencoba gaun-gaun cantik ini! Sebagai gantinya.... mungkin aku bisa melihat sisi lain dariku. Aku penasaran seperti apa kehidupan tubuhku sebagai pria," ujarnya.


Ia pun memilih beberapa pakaian pria, sayangnya pakaian itu kebanyakan tidak menutupi bagian pahanya dan itu membuatnya merasa tidak nyaman.


Akhirnya ia memutuskan memilih pakaian mirip gamis yang panjangnya hingga menutupi lututnya.


Setelah itu ia pun keluar sambil berjalan-jalan di sekitar. "Suasana di luar istana benar-benar berbeda! Aku jadi penasaran seperti apa kehidupan di luar ibukota!" ujar Alice.


Saat ia sedang asyik berjalan, tiba-tiba beberapa pria menggiringnya ke tempat sepi.


"Hei anak muda, kenapa kau berkeliaran di tempat ini sendirian dengan uang sebanyak itu? Kau tidak sekolah?" tanya salah seorang.

__ADS_1


Alice pun segera menjauh dari para pria itu, namun ia tersudutkan di jalan buntu.


Pria itu semakin dekat padanya, membuatnya tersandung oleh kakinya sendiri lalu terjatuh ke tanah.


"Wah, apa ini? Ternyata kau seorang gadis. Kau tidak cukup mampu untuk menjaga diri dengan pakaian layaknya seorang pria. Lebih baik bermain dengan kami! Rasanya menyenangkan loh! Kami akan memberimu pengalaman berharga! Yeah, mungkin kau bisa mempraktekkannya dengan ayahmu," ujar salah seorang pria, pria lainnya ikut tertawa mendengar perkataannya.


"Pakaianmu sangat mewah sekali, rasa bersalah kami semakin berkurang, kami semakin ingin bermain denganmu," ujar pria lainnya.


Alice tidak tahu harus berbuat apa, sebenarnya ia hendak menggunakan kemampuannya, namun ia tidak ingin membuat keributan.


Ia pun hanya bisa memejamkan mata selagi seorang pria mencoba menarik kerahnya dan hendak merobek bajunya.


"Kalian semua sedang apa di situ?" teriak salah seorang. Alice terkejut saat mendengarnya, itu adalah suara Alesse.


"Alesse! Tolong aku!" ujar Alice, ia segera beranjak dari posisi terjatuhnya. "Argh! Baru hari pertama saja sudah bikin kesal! Kenap kau sampai berurusan dengan orang-orang ini?" tanya Alesse keheranan.


"Me... mereka mencoba mengambil uangku dan...." Kalimat Alice tidak selesai karena Alesse menghentikannya bicara.


"A... apa katamu? mengemis?" tanya salah seorang pria tidak terima. "Ah! Kau pasti pemimpin mereka! Kalian terlihat seperti pengemis yang membutuhkan uang, jadi kutanya, butuh berapa banyak?" tanya Alesse.


"Hei, Alesse! Apa yang kau lakukan? Kau membuat keadaan kita menjadi lebih buruk lagi!" bisik Alice.


"Terlihat seperti pengemis katamu? Asal kau tahu saja! Kami adalah orang-orang yang melindungi kalian dari ancaman para monster yang ada di hutan dekat kota ini!" ujar pria itu.


Alesse pun tersenyum lalu melangkah ke depan dengan elegan. "Gimana caranya kalian melindungi kami jika monsternya adalah kalian sendiri? Mengajak bermain? Bersenang-senang katamu? Kau tidak sadar siapa monsternya di sini? Monster di hutan hanya berulah di hutan, kami tidak butuh perlindungan kalian," ujar Alesse sambil memandang rendah para pria itu.


Akhirnya pemimpin para pria itu naik pitam, ia benar-benar kesal dengan perkataan Alesse. Akhirnya ia pun menghunuskan pedangnya.


"Lihatlah, bukankah sudah jelas monsternya siapa di sini?" tanya Alesse. Karena kesal, pria itu langsung mengayunkan pedangnya ke arah Alesse.

__ADS_1


Sayangnya pedang itu langsung rapuh setelah menyentuh tangan Alesse. "Loh ada apa ini? Kau menggunakan benda konyol itu untuk membunuh para monster? Kau bercanda?" tanya Alesse.


Pria itu ketakutan, para pengikutnya juga langsung bersikap waspada, namun Alesse segera membuat tembok tebal di belakang mereka yang menutup gang, seolah gang buntu itu tidak pernah ada.


"Padahal kalau kalian jawab butuh berapa banyak, aku akan memberikan kalian beberapa keping emas. Sayangnya kalian malah membuat suasana hatiku semakin buruk. Kalian tahu? Siapa saja yang mendiskriminasi wanita dan menganggapnya lemah sangat membuatku kesal," ujar Alesse, aura gelap langsung muncul di sekujur tubuhnya dan itu membuat para pria itu terintimidasi.


"A... Alesse, sebaiknya jangan berlebihan!" ujar Alice. "Kita harus membasmi monster, Alice! Jika hama seperti mereka tetap ada, orang-orang tidak bisa hidup dengan tenang," ujar Alesse. Matanya mulai memerah seolah amarahnya benar-benar terkendali.


"Mereka bukan hama, Alesse! Mereka manusia!" ujar Alice, ia mencoba menyadarkan Alesse.


"A.... ampunilah kami! Benar seperti katanya! Kami bukan monster! Kami hanyalah manusia biasa!" ujar pria itu terus memohon.


Alice merasa keadaan saat itu menjadi semakin gawat, apalagi Alesse tidak mau mendengarkannya. Akhirnya ia memegang lengan Alesse kuat-kuat lalu segera berpindah tempat dengan kemampuannya ke dalam penginapan.


Setelah para pria itu tidak ada di hadapannya, aura gelap di sekujur tubuhnya pun menghilang.


"Loh? Apa yang barusan terjadi?" tanya Alesse keheranan. "Huh! Itu hampir saja!" ujar Alice, ia tampak terengah-engah lalu segera mengambil air minum.


"Kau benar-benar menggila setelah berhadapan dengan para pria itu! Apa yang salah denganmu?" tanya Alice keheranan.


"Sepertinya ini efek terlalu banyak menggunakan sihir. Terakhir kali kondisiku tak terkendali adalah saat aku menciptakan beberapa bongkahan emas," ujar Alesse.


"Apa katamu? Menciptakan suasana emas? Jadi semua kepingan emas ini kau buat sendiri dengan sihirmu? Ini bukan penghasilan pekerjaanmu?" tanya Alice.


"Huh, kau juga tahu sendiri kan? Anak kecil mana yang dapat pekerjaan dengan upah kepingan emas di zaman ini? Mana ada! Apa salahnya aku membuat bongkahan emas itu? Toh itu termasuk jerih payahku dengan menghadapi resiko kehilangan kendali," ujar Alesse.


"Ini tidak benar, Alesse! Orang-orang bekerja susah payah untuk mendapatkan beberapa koin tembaga, namun kau menciptakan emas semudah membalikkan telapak tangan! Kau menyalahgunakan kemampuanmu!" ujar Alice.


"Kau terlalu terpengaruh oleh dunia ini! Bahkan di dunia kita yang dulu menghasilkan uang bisa semudah membalikkan telapak tangan asalkan kau punya otak. Aku hanya menerapkan hal itu. Jika saja orang tahu kalau sihir yang mereka kuasai itu bukan hanya memunculkan tanah, namun bisa memunculkan material-material yang langka jika mereka bisa mengimajinasikannya! Tentu saja aku menciptakan emas itu tidak hanya berangan-angan muncul emas di hadapanku, tapi aku mulai menyusun berbagai atom, unsur-unsur, sifat fisik, sifat mekanis, keseimbangan elektron, proton, neutron, bahkan perbandingan masa dan suhu normalnya. Itu bukanlah hal yang mudah!" ujar Alesse.

__ADS_1


Alice termakan oleh perkataannya, ia tidak bisa membantahnya. "Kau mungkin hanya tahu beberapa hal tentang emas lewat ensiklopedia, namun aku mempelajari bertahun-tahun seperti apa proses emas itu tercipta. Memang apa salahnya aku mendapatkan uang dari hasil kerja kerasku selama bertahun-tahun itu?" tanya Alesse. Lagi-lagi Alice tidak bisa berkata-kata.


"Jangan sampai membuatku membencimu hanya perkara sepele seperti ini, cukup ikuti saja dan setujui pendapatku, kecuali jika aku menawarkan pendapat padamu," ujar Alesse dengan aura gelap yang menutupi sekujur tubuhnya, ia pun segera keluar dari penginapan itu karena tidak ingin kondisinya tak terkendali lagi.


__ADS_2