Alesse'S Connect : The Alchemist

Alesse'S Connect : The Alchemist
Pengusiran


__ADS_3

Alice merasa gelisah dengan perbincangan orang-orang, beberapa dari mereka juga setuju untuk mengusir putri raja dari istana karena melakukan pemberontakan.


Menurut mereka keluarga kerajaan tidak boleh menoleransinya, sebab sekali seorang rakyat dinyatakan memberontak, pemerintah langsung menindaknya. Mereka semua menuntut keadilan mengenai hal itu.


"Alesse, ini! Sebenarnya apa yang dia lakukan?" tanya Alice kesal. Ia semakin resah setelah melihat beberapa rakyat protes di alun-alun kota.


Akhirnya ia pun pergi ke tempat yang sepi dan berpindah tempat sedikit demi sedikit hingga sampai di depan gerbang istana.


Menyusup ke dalam istana itu adalah hal yang mudah. Sudah beberapa hari ini Alesse tidak mengunjunginya hingga ia akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam istana dengan kemampuannya.


Di sisi lain Alesse mendapati dirinya dikepung oleh beberapa penjaga. Mereka melarangnya masuk ke aula makan. "Perihal apalagi ini? Kenapa kalian tiba-tiba menyergap orang yang baru bangun tidur? Apalagi seorang gadis," ujar Alesse.


Harvard beserta anggota keluarga lainnya pun muncul dari balik pintu aula makan.


"Alice! Mulai hari ini kau tidak akan tinggal di istana, bibit-bibit pemberontak sepertimu harus diasingkan," ujar Harvard.


"Kau ini bicara apa? Apakah tidak ada hal yang lebih jelas untuk dijadikan alasanmu mengusirku? Pemberontakan? Gadis kecil? Melakukan pemberontakan? Alasanmu sangat tidak kreatif sekali!" ujar Alesse, ia hendak menyingkirkan salah satu tombak yang diarahkan padanya, namun penjaga itu bersikeras mempertahankan posisi tombak hingga telapak tangan Alesse berdarah. Beberapa penjaga menjadi ragu-ragu saat melihat darah terus mengalir dari tangan Alesse.


"Jangan gentar! Meskipun anak kecil, dia tetap pemberontak!" ujar Harvard. "Kau baru saja menudingku sebagai pemberontak? Perlukah aku benar-benar menjadi seorang pemberontak di sini? Kalian masih beruntung karena Dark Warden lahir di kerajaan kalian, jika ia lahir di kerajaan benua seberang, mungkin mereka akan memerangi kalian untuk merebut gelar raja iblis dari kalian," ujar Alesse.


"Apakah benar begitu ayah? Gelar raja iblis akan berakhir di masa ayah? Kami tidak mendapatkan apapun?" tanya Ramzi tidak percaya.


"Tentu saja, kalian akan diusir dari istana ini. Perlukah aku berpartisipasi dalam pengusiran kalian? Sepertinya sangat seru, aku akan bernostalgia dan memastikan kalian mengalami hal ini. Aku ingin melihat wajah pucat kalian saat diusir dari istana" ujar Alesse sambil tertawa, saat itu juga aura gelap menyelimuti tubuhnya.


"Alesse! Omong kosong apa yang kau bicarakan?" teriak salah seorang gadis. Semua orang pun menoleh ke arahnya.


"A... ada apa ini? Kenapa ada dua Alice di sini?" Harvard terkejut. Orang-orang di sekitarnya pun sama terkejutnya dengannya.


"Huh, kenapa kau datang ke sini?" tanya Alesse. "Ini sangat berlebihan, Alesse! Kenapa kau banyak berulah?" tanya Alice.


"Kau pikir semua ini salahku? Kenapa kau langsung menyimpulkan bahwa yang berulah itu aku? Ini semua alur cerita yang dibuat-buat oleh mereka! Gadis kecil melakukan pemberontakan? Kau percaya semua omongan itu? Sepertinya kau sudah terkontaminasi oleh dunia ini. Sepertinya kau sama primitifnya seperti mereka, sangat kuno! Aku kecewa karena terlalu banyak berharap padamu," ujar Alesse.


"Ini sudah tersebar ke mana-mana, Alesse! Bahkan orang-orang di jalanan pun membicarakannya!" ujar Alice.

__ADS_1


"Terus, kenapa? Kau percaya mereka? Biar kuberitahu satu hal yang belum pernah kau rasakan seumur hidupmu, bahkan di kehidupan sebelumnya. Jangan mudah percaya dengan orang dewasa! Mereka semua pandai berbicara dan berbohong pada anak kecil sepertimu. Seharusnya kau sadar kalau semua orang yang ada di sini sakit jiwanya, tentu saja karena raja mereka juga sama halnya dengan mereka. Karakter seorang raja mencerminkan rakyatnya, mereka sudah tidak tertolong lagi," ujar Alesse.


Alice pun terdiam, ia tidak bisa membantah perkataan Alesse, dari caranya berbicara pun sudah jelas kalau dia sudah hidup lebih lama dari dirinya.


Setelah Alesse mengoceh panjang lebar dan menghinanya, Harvard pun geram, pada akhirnya ia memerintahkan para penjaga untuk menyergap Alice juga.


"Tidak usah terdiam dengan perasaan bersalah, cukup ikuti saja apa yang kuisyaratkan padamu, lain kali jangan bertindak sendiri kecuali jika aku mengizinkanmu," ujar Alesse, ia mengulurkan tangannya.


Saat itu juga Alice berlari ke arahnya,ia hendak menggapai tangan Alesse. Saat tangan mereka berdua bersentuhan, Alesse pun menengok ke arah Harvard.


"Tunggu saja, aku akan datang untuk mengusir kalian dari istana ini. Tunggu saja pemberontakanku yang sangat ingin kalian nantikan," ujar Alesse.


Harvard pun merasa geram, ia memerintahkan para penjaga itu untuk menyerang Alesse.


Seketika Alice menarik lengan Alesse kuat-kuat, ia langsung memeluknya lalu menggunakan kemampuannya untuk berpindah tempat.


Sepersekian detik sebelum ujung tombak para penjaga itu menusuk tubuhnya dari berbagai arah, ia dan Alesse sudah menghilang dari hadapan orang-orang. Harvard dan orang-orang yang ada di tempat itu hanya bisa tercengang menyaksikan bagaimana mereka berdua lenyap dari pandangan mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Jadi, ke mana lagi tujuan kita?" tanya Alice. "Ada satu tempat yang akan membuatmu terkejut, aku yakin kau pasti terkesan! Aku akan mengajakmu ke sana," ujar Alesse.


"Benarkah? Tempat seperti apa memangnya? Di kehidupan sebelumnya aku tidak pernah tertarik pada suatu tempat atau sebagainya kecuali ada hal baru di dana yang tidak kuketahui," ujar Alice.


"Tenang saja, meskipun kau pernah melihat semua itu sebelumnya, kau pasti akan terkesan setelah melihat tempat itu," ujar Alesse.


"Aku akan menantikannya. Perkataanmu membuatku sedikit berharap, semoga kau tidak mengecewakanku," ujar Alice.


"Baiklah! Tapi sebelum itu, mari kita singgah di suatu tempat terlebih dahulu. Saat ini sedang liburan, keluargaku pasti sedang di rumah semua, begitu juga dengan kakakku. Aku ingin kau menggantikan posisiku di sana," ujar Alesse.


"Heh? Kenapa aku?" tanya Alice keheranan. "Aku sudah terlanjur bersikap natural sekarang, aku tidak bisa berpura-pura menjadi gadis yang polos. Saat ini, setiap kali mendengar hinaan seseorang, itu akan membuat aura gelapku meluap-luap ke segala arah, aku belum punya cara untuk mengatasinya. Sedangkan sifat penyabarmu itu sangatlah berguna, kupikir kita bisa hidup untuk saling mengandalkan bukan? Setelah pergi dari kehidupan sebelumnya, banyak hal yang telah hilang dariku, salah satunya sifat sabar itu," ujar Alesse.


"Ba... baiklah jika itu maumu," ujar Alice agak ragu. "Tidak perlu tegang! Kita adalah Alice Jawara, selama kita bersama, kita bisa menyikapi semua hal dengan kepala dingin," ujar Alesse.

__ADS_1


Akhirnya mereka berdua pun pergi ke luar gerbang dengan kemampuan Alice, sayangnya anak itu mulai kelelahan.


"Loh? Ada apa?" tanya Alesse keheranan.


"I...ini sangat melelahkan! Aku harus berjalan dari istana sampai keluar gerbang, aku harus berjalan kaki sejak tadi," ujar Alice.


Alesse terdiam sejenak untuk mencerna perkataannya, namun ia tidak mengerti sama sekali. "Apa maksudmu?" tanya Alesse.


"Ka.. kau tahu? Sebenarnya kemampuanku ini tidak membuatku berpindah tempat secara instan. Aku harus berjalan juga untuk menempuh jarak dari Istana ke luar gerbang," ujar Alice.


"Loh? Kukira kau memiliki kemampuan manipulasi ruang! Kenapa kau juga harus repot-repot berjalan?" tanya Alesse.


"Manipulasi ruang yang baru bisa kulakukan hanyalah melenyapkan semua bidang tidak rata di hadapanku, contoh saja jika ada sebuah gunung di hadapanku, aku bisa mengambil jarak terdekat dengan menarik garis lurus antara posisiku sekarang dengan tujuanku di seberang gunung itu, jadi aku bisa berjalan lurus menembus gunung itu untuk sampai ke hamparan tanah di balik gunung itu," jawab Alice.


"Hmm! Jadi apa yang membuatmu tiba-tiba lenyap dan muncul di tempat lain dalam waktu singkat?" tanya Alesse.


"Saat itu.... waktu tiba-tiba terhenti, aku dapat melakukan hal yang kuinginkan hingga tuntas, lalu waktu itu kembali berjalan seperti biasanya," ujar Alice.


"Itu... sangat luar biasa! Selain memanipulasi ruang, kau bisa memanipulasi waktu! Hanya perlu beberapa langkah lagi hingga kau bisa memanipulasi vektor dan menciptakan mesin waktu!" seru Alesse.


"A... apa? Mesin waktu? Maksudmu kita bisa pergi ke masa lalu atau masa depan? Begitukah?" tanya Alice. "Tentu saja! Kau bisa melakukan hal itu! Akhirnya setelah sekian lama aku bisa melihat gambaran besarnya! Mesin waktu sudah bukan legenda belaka! Ini akan menjadi nyata! Kau akan mewujudkan hal itu!" seru Alesse.


"Tunggu dulu, lagian kenapa sangat berharap dengan adanya mesin waktu? Memangnya apa yang kau inginkan setelah bisa kembali ke masa lalu?" tanya Alice.


Alesse pun terdiam, ia juga agak bingung hendak mengatakannya seperti apa. "Ehm, sebenarnya... aku mengingat beberapa hal sebelum akhirnya benar-benar mati. Meskipun agak samar, aku ingat terbaring di dipan dengan ruangan yang serba putih, entah kenapa saat itu aku memikirkan tentang kembali ke masa lalu. Sayangnya sebelum aku beranjak dari posisi terbaringku, aku tidak ingat lagi apa yang terjadi," ujar Alesse.


"Wah, sepertinya saat itu kau sudah menjadi pria tua! Aku penasaran, kira-kira penyesalan seperti apa yang membuatmu ingin kembali ke masa lalu!" seru Alice.


"Sayangnya agak tidak berpikir memiliki penyesalan dalam hidupku. Aku hidup dengan sempurna, semua keinginanku hanya sederhana, membaca buku, mengetahui lebih banyak hal daripada orang lain," ujar Alesse.


"Kita punya ketertarikan yang sama terhadap ilmu pengetahuan. Mungkin ada beberapa buku yang belum kau baca hingga ingin kembali ke masa lalu?" tanya Alice.


"Entahlah, orang yang ingin kembali ke masa lalu biasanya karena suatu kesempatan yang ia sia-siakan, dan ia ingin mencoba kembali untuk menggunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya," ujar Alesse.

__ADS_1


"Kupikir kita ini, Alesse Jawara tidak pernah menyia-nyiakan kesempatan yang dimilikinya," ujar Alice. "Aku juga berpikir begitu, selama ini ingatanku yang sudah pulih tidak pernah menunjukkan adanya kesempatan yang kusia-siakan," ujar Alesse.


__ADS_2