Alesse'S Connect : The Alchemist

Alesse'S Connect : The Alchemist
Siapa kau?


__ADS_3

"Apa katamu? Dari mana kau tahu nama itu?" tanya Alesse penasaran, ia mencoba mengguncang tubuh gadis itu, namun ia tak sadarkan diri.


"Hei! Bangunlah! Kenapa kau bisa tahu namaku di kehidupan sebelumnya? Siapa kau sebenarnya?" tanya Alesse sekali lagi.


Beberapa remaja yang baru saja latihan langsung datang ke tempat itu, Alesse pun segera menyeret tubuh gadis itu dan menyembunyikannya di semak-semak, ia hendak melarikan diri sebelum terlihat oleh mereka.


"No... nona Alice!" ujar salah seorang


remaja ragu-ragu. "Aish! Siapa lagi ini? Kenapa dia tahu namaku? Lagian kenapa memanggilku nona? Sopan sekali," gumam Alesse, ia enggan untuk menolehkan wajahnya.


"Ma... maafkan aku tentang tadi pagi, aku tidak bermaksud menghinamu," ujar remaja itu. "Loh? Ada apa ini? Dia bertemu denganku tadi pagi? Aku baru sampai di ibukota siang ini," gumam Alesse. Ia sangat kebingungan dengan keadaannya sekarang.


Ia pun menoleh untuk memeriksa siapa orang orang yang merepotkan itu. Ia hanya mendapati dua remaja ramping dengan satu pria berbadan kekar.


Mereka bertiga tampak lega saat Alesse berbalik badan. "Sekali lagi, biarkan aku meminta maaf dengan pantas," ujar pria berbadan kekar itu sambil menundukkan pandangannya.


"Be... bentar lagi malam! Kenapa kalian berada di sini?" tanya Alesse. "Kami menunggu kesempatan untuk meminta maaf padamu, namun kau terus berada di perpustakaan sepanjang hari, aku tidak memiliki kesempatan itu.


"Ka...kalian menungguku sampai sore ini?" Alesse benar-benar tidak mengerti apa yang ada di pikiran mereka, yang jelas itu merepotkannya.


"Pulanglah! Tidak ada yang perlu kalian lakukan di sini!" ujar Alesse sambil menarik lengan pria itu, sayangnya ditarik seberapa kuat pun pria itu tetap bergeming.


"Aku harus mendengarmu menerima permintaan maaf ini," ujar pria itu. "Buset! Keras kepala sekali ini orang!" ujar Alesse dalam hati.


"Hei, Darius! Bukan begitu caranya minta maaf! Bukankah sudah kubilang? Jangan memaksanya!" bisik Allan.


Alesse benar-benar muak karena pria tidak kunjung pergi. "Aku hendak memaafkanmu, tapi apa-apaan dengan sikap memaksa ini? Kau pikir permintaan maaf itu terserah yang minta maaf?" tanya Alesse kesal.


Allan dan Advan terkejut melihat temperamen gadis di hadapan mereka tiba-tiba berubah. "Hei, Darius! Gawat! Dia jadi kesal! Kau harus menurutinya! Sebaiknya kita pergi saja," ujar Advan. Darius tidak mendengarkan, ia malah menghampiri Alesse sambil membusungkan dada seolah hendak menunjukkan perbedaan tinggi badannya dengan gadis itu.


"Melihatmu masih bisa bicara seperti itu, sepertinya kehidupanmu belum cukup malang! Baiklah, kami akan pergi! Kuharap kau bisa sadar kenapa orang-orang membencimu," ujar Darius, ia sempat menyenggol bahu Alesse saat berjalan, membuatnya terjatuh ke tanah.


Allan dan Advan mengikutinya dengan perasaan bersalah pada Alesse. "Oh, ya! Satu lagi! Sebaiknya segera singkirkan wajahmu itu! Aku tidak ingin melihat orang berwajah sama seperti adikku, namun bersifat angkuh! Kau hanya membuat nasib adikku menjadi lebih malang!" ujar Darius.


Tampaknya pria itu masih belum puas berceloteh, ia masih ingin mengumpat Alesse, namun teman-temannya segera membawanya pergi.

__ADS_1


"Satu lagi! Kalau kau tidak terima, laporkan saja pada ayahmu! Laporkan saja aku! Namaku Darius Cayman! Puas kau?" tanya Darius. Allan dan Advan segera menyeretnya pergi menjauh.


"Dih! Pria merepotkan itu adalah Darius? Kemana perginya kakakku yang ramping dan polos itu? Kenapa selama beberapa tahun ini dia berubah menjadi pria kekar mengerikan?" Alesse merinding saat membayangkan dirinya ingin bertemu dengan kakaknya itu.


"Argh! Karena kebetulan bertemu dengannya, aku jadi tidak ada tujuan lagi setelah ini! Apa yang harus kulakukan?" Alesse tertegun sejenak, tiba-tiba semak-semak yang ada di dekatnya bergerak-gerak, ia segera memeriksanya.


"Akhirnya kau sadar juga! Kau harus menceritakan banyak hal padaku!" seru Alesse, namun kenyataannya gadis itu masih tertidur di semak-semak.


"Nyenyak sekali tidurmu!" ujar Alesse kesal, ia menyeret gadis itu hingga masuk ke dalam gedung.


Ia berkali-kali lari tunggang langgang karena para penjaga yang berpatroli di setiap gedung, ia kepayahan menyeret tubuh gadis itu hingga sampai di depan perpustakaan.


"Hmm! Kudengar ia tadi selalu berada di sini, mungkin aku bisa menganggapnya tertidur pulas semalaman tanpa pulang ke rumah! Itu cerita yang bagus dan masuk akal," ujar Alesse sambil mendudukkan gadis itu pada kursi belajar.


Setelah menatapnya lama, ia pun menyadari sesuatu. "Dia benar-benar terlihat sama persis denganku," ujar Alesse.


"Selamat tinggal! tidak perlu bersedih, aku akan datang ke sini lagi besok untuk menanyakan banyak hal padamu," ujar Alesse kemudian menutup pintu perpustakaan.


Ia pun mulai mengendap-endap keluar dari gedung hingga akhirnya sampai ke gerbang luar.


karena mendengar teriakannya.


"Akhirnya kau keluar juga! Senang sekali membuatku menunggu lama di tempat ini?" tanya penunggang kuda itu kesal. Alesse malah tengok ke sana kemari, ia berpikir pria itu tidak sedang berbicara dengannya.


"Tunggu apalagi? Cepat masuk! Kau baru saja melewatkan makan malam!" ujar penunggang kuda itu.


Akhirnya Alesse menurutinya dengan waspada, ia pikir penunggang kuda itu adalah penculik.


Setelah beberapa menit berada di kereta kuda, akhirnya penunggang kuda itu membukakan pintu kereta itu untuknya.


Ia pun langsung terjun ke bawah dan mendarat dengan sempurna. "Aneh sekali! Tidak seperti biasanya kau turun seperti itu! Lagian ada apa dengan pakaianmu? Gadis yang memakai celana.... kau memang benar-benar hina!" ujar penunggang kuda itu sambil menggelengkan kepala.


Alesse menatap bangunan yang ada di hadapannya, itu adalah sebuah istana. Salah seorang pelayan datang menyambutnya. Pelayan itu sempat terkejut dan keheranan melihat pakaian yang dikenakan Alesse.


Akhirnya ia langsung menyeret Alesse ke dalam istana untuk mengganti pakaiannya. Pelayan itu melemparkan gaun ke arahnya.

__ADS_1


"Apa-apaan sikap mereka ini?" Alesse keheranan. Ia hanya mengikuti alur yang diinginkan istana itu. Ia mulai berganti pakaian sedangkan seorang pelayan menuntunnya ke ruang makan.


"Apa yang merasukimu hingga datang ke sini?" Ramzi keheranan. "Hei, kupikir kau hendak bunuh diri di jendela perpustakaan tadi, ternyata kau kembali ke sini dengan selamat! Benar-benar membuatku kecewa!" ujar Dean.


"Alice mencoba bunuh diri?" tanya Rudolf keheranan. "Aku melihatnya terus menatap jendela perpustakaan dari pagi hingga siang, kupikir ia sudah tidak semangat hidup," jawab Dean.


"Padahal kalau kau mati itu sangat bagus untuk kerajaan ini," ujar ratu. "Seharusnya kau tidak ada di sini dan mengganggu sistem keturunan raja!" ujar pria yang duduk di kursi paling mewah di aula makan itu, ia adalah Harvard.


"Apa-apaan dengan kehidupan ini? Benar-benar mirip denganku! Kalau begitu.... seharusnya ada figuran yang diam-diam membela gadis ini seperti Darius yang membelaku," pikir Alesse. Ia mencoba mencari-cari siapa yang menurutnya mendukungnya. Ia mendapati Frans yang diam sedang menatapnya lalu kembali ke hidangannya karena merasa tidak nyaman.


"Akhirnya ketemu juga," ujar Alesse dalam hati, ia langsung duduk di samping Frans.


Melihat tindakannya itu seisi aula menatapnya penuh keheranan. "Kalian kenapa?" tanya Alesse.


"Benar-benar gadis yang tidak tahu diri! Ia bahkan masih menunjukkan wajah cerianya di sini?" Harvard tampak tak berselera untuk makan, ia langsung kembali ke kamarnya.


Ratu dan beberapa anak lainnya juga langsung meninggalkan meja makan mereka kecuali Ramzi dan Alesse.


"Usahamu kali ini sepertinya membuahkan hasil! Selamat, kau menang," ujar Ramzi sambil bertepuk tangan dengan wajah penuh benci lalu meninggalkan Alesse sendirian.


"Makanan ini... aku tidak bisa mengabaikannya! Aku sudah seharian tidak makan! Sesuap atau beberapa pun tidak akan mengubah apapun!" pikirnya, ia langsung melahap beberapa hidangan yang ada di hadapannya.


Setelah kenyang, ia pun langsung pergi menuju kamar Alice lalu membaringkan diri di sana.


"Kira-kira apa yang sedang ia lakukan sekarang? Apakah ia sudah bangun?" Alesse penasaran. Saking penasarannya ia langsung beranjak dari kasur lalu pergi menyelinap keluar istana.


Kali ini ia menyelinap ke dalam akademi dan masuk ke dalam perpustakaan. Ia mendapati Alice sedang membaca buku.


"Bahkan setelah jatuh dari gedung ini, kau masih sempat membaca buku? Sia-sia rasa khawatirku sampai harus datang ke sini larut malam. Kukira kau akan mencoba terjun dari jendela itu lagi," ujar Alesse.


Alice sempat terkejut melihat wajah Alesse, namun ia segera terbiasa karena sebelum pingsan ia sudah melihatnya.


"Jadi, siapa kau ini? Gimana caranya kau tahu nama Alesse Jawara? Sepertinya kau juga bukan berasal dari dunia ini," ujar Alesse.


"Gimana caranya... pemilihan kata yang dipersingkat itu.... kau pasti berasal dari Indonesia," ujar Alice. "Yang aku tanyakan adalah, siapa kau! Aku tidak memintamu menebak siapa aku!" ujar Alesse.

__ADS_1


Alice pun menutup bukunya. "Bukankah sudah kubilang sebelumnya? Aku adalah Alesse Jawara!" jawab Alice.


__ADS_2