
Seorang remaja yang mulai beranjak dewasa tampak sedang berlatih keras di teras asrama. Ia terus mengayunkan pedang anggarnya yang sangat tajam layaknya jarum. Ia terus mengayunkan pedang itu tanpa henti.
Hari ini ia baru saja dapat sindiran dari orang-orang mengenai pedangnya yang berbentuk seperti jarum raksasa. Mereka tampak meremehkannya dengan mengatakan bahwa yang ia pegang itu hanyalah lidi mainan anak-anak.
Ia mencoba membuktikan kalau pedang yang ia gunakan itu sangatlah kuat dan hebat, tidak seperti pedang besar yang biasa dipakai para kesatria lainnya. Tentu saja karena ia seorang bangsawan, ia memiliki senjata unik tersendiri dari keluarganya.
Remaja itu pun berhenti mengayunkan pedangnya setelah kelelahan. Para gadis tampak meliriknya dengan terpesona. Mereka sangat terpana melihat tubuh remaja yang berotot itu, apalagi saat tubuhnya basah kuyup dipenuhi keringat.
Sayangnya remaja itu terlihat acuh tak acuh, tidak ada satupun gadis yang membuatnya tertarik. Satu-satunya yang ia pedulikan hanyalah Alesse, adik kandungnya.
"Darius benar-benar gigih sekali! Hanya karena kakak kelas menyebut pedangnya aneh, ia sampai terus berlatih seperti itu seolah mendapatkan hukuman," ujar salah seorang, ia adalah teman remaja itu.
Salah seorang lagi langsung menghampirinya dan menyuguhinya segelas air minum. "Kenapa kau terus memaksakan dirimu seperti ini? Tanpa kau melakukan hal ini pun para gadis sudah sangat tertarik padamu," ujar orang itu.
"Aku tidak mencari seorang gadis, Advan! Aku sedang berlatih untuk menenangkan diri," ujar Darius.
"Kau hanya perlu berkencan dengan seorang gadis agar hatimu tetap tenang," ujar Advan. "Kau juga berpikir begitu, Allan?" tanya Darius pada teman lainnya.
"Menurutku benar apa yang dikatakan Advan, setidaknya kau harus berkencan dengan salah satunya. Jangan sia-siakan ketenaranmu," ujar Allan.
"Sayangnya aku tidak tertarik dengan mereka. Aku ingin cepat-cepat bertemu Alice, adikku," ujar Darius.
"Kenapa harus adikmu? Kudengar kedua orang tuamu membuangnya ke kota perbatasan. Tempat itu sangat rentan saat peperangan!" ujar Advan.
"Kalau begitu aku harus ikut berperang untuk melindungi adikku! Kami telah berjanji akan bertemu lagi suatu hari nanti," ujar Darius berangan-angan.
__ADS_1
"Sikapmu terlalu berlebihan pada adikmu sendiri. Kau tidak bisa memilikinya loh, dia akan menjadi miliknl pria lain," ujar Advan.
"Kalau begitu dia harus bersama pria yang lebih baik dariku. Tapi menurut kalian apakah ada pria yang seperti itu?" tanya Darius. Teman-temannya hanya menggeleng kepala setelah mendengar pertanyaan absurdnya itu.
"Nah, kalau begitu aku tidak akan biarkan orang lain memilikinya kecuali jika ia layak dan lebih baik dariku!" ujar Darius.
"Aku jadi penasaran seperti apa adik Darius, apakah ia sangat cantik sampai membuatnya tergila-gila?" tanya Advan. "Tentu saja! Adikku adalah yang paling cantik sedunia!" ujar Darius.
"Ngomong-ngomong, seperti apa rupanya?" tanya Allan penasaran. "Ia memiliki rambut biru cerah dengan mata yang sipit seperti gadis negeri timur, mata birunya juga sangat indah dan menawan," ujar Darius.
"Penggambaranmu itu.... terdengar seperti seseorang," ujar Advan. "Benar sekali! Hanya dia yang bisa kupikirkan setelah mendengar perkataan Darius," ujar Allan.
"Kalian membicarakan siapa?" tanya Darius keheranan. "Itu.... anak raja iblis!" bisik Advan. Seketika hembusan angin membuat mereka bertiga merinding.
Saat itulah Darius tercengang, ia melihat sosok yang selama ini terus menjadi angan-angannya.
Darius terdiam tak bisa berkata-kata, ia benar-benar terpana melihat gadis itu. "Alice?" Secara spontan ia menyebutkan nama itu.
Gadis itu sempat menoleh ke arahnya,lalu kembali melanjutkan langkah karena berpikir salah mendengar panggilannya.
"Hei, apa yang kau lakukan! Kau tidak boleh menyebut putri dari raja iblis hanya dengan namanya!" tegur Allan sambil memukul kepala Darius.
"Apa? Raja iblis? Anak raja iblis katamu?" tanya Darius tidak percaya. "Benar sekali! Dia adalah Nona Alice Harvard! Kau tidak boleh sembarangan memanggilnya! Untung saja dia mengabaikanmu!" ujar Advan.
"Alice? Harvard? Aku baru tahu raja iblis memiliki seorang putri. Lagian kenapa namanya sama dengan adikku? Bukan itu saja! Wajahnya benar-benar mirip dengan adikku!" ujar Darius.
__ADS_1
"Kau mungkin hanya mengkhayal! Kenapa kau samakan adikmu dengan anak raja iblis? Atau mungkin sebenarnya kau jatuh cinta dengan Nona Alice?" tanya Allan.
"Tidak mungkin! Ini baru pertama kalinya aku mendengar raja iblis memiliki seorang putri!" ujar Darius.
"Mungkin ia memang jarang terlihat di luar ibukota. Kudengar raja sangat membencinya dan sering mengurungnya di rumah. Nona Alice tidak pernah diizinkan ikut pertemuan atau acara besar apapun, ia menghabiskan waktunya di dalam kamarnya," ujar Advan.
"Dia benar-benar gadis yang malang. Gadis yang lahir di keluarga bangsawan memang dianggap sebagai aib bagi kerajaan," ujar Allan.
"Aku sangat membenci kenyataan itu! Tidak kusangka ia juga mengalami hal yang sama seperti yang dialami adikku!" ujar Darius kesal.
"Nona Alice sangat pendiam loh, karena ia selalu dikurung di dalam kamar, ia tidak bisa berinteraksi dengan orang lain, bahkan sesama gadis. Ia menghabiskan waktunya hanya untuk membaca buku, ia benar-benar giat sekali ke perpustakaan hingga larut malam," ujar Allan.
"Aku jadi semakin khawatir dengan keadaan adikku! Semoga ia baik-baik saja di sana! Aku harus berlatih lebih giat lagi dan segera lulus dari akademi ini agar bisa bertemu dengannya!" ujar Darius.
"Kau bisa bertemu dengannya jika menuai beberapa prestasi loh! Akademi kita juga mengadakan beberapa kunjungan ke berbagai akademi di seluruh penjuru kerajaan. Jika aku beruntung, mungkin kau bisa ditugaskan untuk studi banding ke akademi kota perbatasan," ujar Advan.
"Benar sekali! Sepertinya aku memang kurang serius dalam belajar! Aku harus lebih giat dan lebih kuat lagi!" ujar Darius, meskipun sempat kelelahan, ia kembali mengayunkan pedangnya.
"Jangan memaksakan diri, Darius! Adikmu bisa sedih jika melihatmu dalam kondisi buruk! Kau juga butuh istirahat!" Advan menasehati.
"Bagaimana bisa aku beristirahat sedangkan adikku sangat kesepian di antah berantah itu? Aku takut hal-hal buruk menimpanya!" ujar Darius.
"Aku tahu itu, tapi bukan begini caranya khawatir, masih ada hari esok, kau bisa mengulangi latihanmu lagi. Hari ini sudah cukup! Lihatlah, keringatmu bahkan sudah membasahi tanah yang kau pijak. Kau bisa semakin kurus jika cairan dalam tubuhmu terus menerus keluar, kau akan semakin lemah!" ujar Allan.
Akhirnya Darius memutuskan untuk istirahat, sebenarnya ia juga sangat kelelahan hingga akhirnya tumbang. Allan dan Advan pun merawatnya di asrama, mereka sempat prihatin dengan keadaannya karena memaksakan diri untuk berlatih.
__ADS_1
Sayangnya kejadian itu tidak membuat Darius jera, setiap melihat Alice, putri dari raja iblis,ia selalu gelisah karena garis itu mengingatkan dirinya pada Alesse, adiknya.