
Alesse tampak bosan berada di dalam kelas, ia ingin segera pergi menuju desa Habbi dan melakukan beberapa percobaan yang ada di pikirannya. Tak lama sebelum pelajaran dimulai, beberapa pengawal datang ke kelasnya.
"Siapa mereka? Seragam mereka berbeda dengan yang digunakan para penjaga!" ujar William.
Anak-anak pun mulai bersikap waspada dan menjaga jarak dari para pengawal itu. Para gadis yang ada di kelas juga tampak ketakutan.
Akhirnya Norman pun melangkah maju menghadapi para pengawal itu. "Ada keperluan apa kalian kemari?" tanya Norman.
"La.... lambang itu..... bukankah itu berasal dari bangsawan Cayman?" tanya Claire terkejut. Saat itu juga semua perhatian anak-anak tertuju pada Alesse, namun saat itu Alesse sedang tidak menyadarinya, ia memiliki banyak khayalan di kepalanya untuk melakukan berbagai eksperimen.
Melihatnya sedang melamun, William pun berencana membuatnya terkejut. Ia diam-diam mengendap, hendak menepuk bahu Alesse.
Sayangnya sebelum sempat menepuk, Alesse sudah menahan tangan William. "Kau pikir aku tidak akan menyadari ini?" tanya Alesse.
"Bukan itu masalahnya, sepertinya ada sesuatu..... beberapa pengawal menjemputmu," ujar William.
"Pengawal?" Alesse mencoba memeriksa, ia bergerak dengan sangat cepat hingga ke hadapan pra pengawal itu.
"Apa yang membuat kalian datang ke sini?" tanya Alesse. "Tuan besar Gonzales dan keluarga besar akan mengunjungi rumah cucu terakhirnya, nyonya Selena," ujar salah seorang pengawal.
"Hmm? Tuan Gonzales? Siapa itu? ibuku adalah cucunya?" Alesse tampak keheranan. "Kami akan membawa Nona Alice sekarang juga," ujar salah seorang pengawal.
"Hei! Tunggu dulu! Aku tidak diberitahu tentang ini! Setidaknya biarkan aku bersiap-siap dulu," ujar Alesse.
Akhirnya Alesse pun berjalan menuju ke rumahnya sedangkan para pengawal membuntutinya dari belakang, menimbulkan perhatian masyarakat sekitar tertuju padanya.
Andreas tampak terkejut melihat pengawalan Alesse yang sangat ketat itu, ia pun diam-diam memeriksa apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah beberapa menit lamanya Alesse masuk ke dalam rumah, ia keluar kembali dengan aura yang berbeda. Tentu saja karena kali ini yang keluar rumah adalah Alice.
Tak lama setelah para pengawal itu membawa Alice pergi, Alesse keluar dari rumah dengan pakaian berbeda, ia juga mengenakan kacamata, membuat Andreas tidak sadar kalau itu adalah Alesse.
"Hei! Kau! Tunggu dulu!" ujar Andreas sambil mencegat Alesse yang sedang tergesa-gesa mengikuti rombongan para pengawal itu.
"Aish! Apa maumu? Aku sedang terburu-buru!" ujar Alesse kesal. "Siapa kau? Kenapa kau keluar dari rumah itu? Itu adalah rumah Alice!" tanya Andreas.
"Argh! Pria ini bicara apa sih? Aku harus segera pergi!" ujar Alesse. Sayangnya Andreas langsung menahan lengan Alesse kuat-kuat.
__ADS_1
Akhirnya Alesse melepaskan kacamatanya, membuat Andreas terkejut. "A... apa ini? Ternyata kau adalah Alice! Ngomong-ngomong benda apa itu? Kau tampak sangat berbeda setelah mengenakannya," ujar Andreas terkesan.
"Argh! Ini bukan waktunya membicarakan omong kosong!" ujar Alesse, ia mengeluarkan arus listrik pada kakinya lalu berlari secepat kilat mengejar para pengawal itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah beberapa hari berlalu, akhirnya mereka pun sampai di kota pemerintahan Cayman. Kota itu tampak dibuat meriah seperti hendak menyambut seorang raja.
Para pengawal pun segera membawa Alice menuju ke kastil untuk berdandan formal. "Se... sebenarnya ada apa ini?" Alice masih kebingungan sejak orang-orang itu membawanya ke kastil keluarga Cayman.
"Hari ini kakekku akan datang, sebaiknya kau tidak berbuat hal yang memalukan," ujar Selena.
Kastil itu dilanda keributan karena kedatangan orang yang mereka tunggu-tunggu itu lebih cepat dari yang direncanakan.
"Ada apa ini? Kenapa Kakekmu sudah sampai di kota ini lebih cepat?" tanya Nicholas. Kecanggungannya terhadap istri pertamanyanya hilang karena masalah genting itu.
"Kemungkinan besar ia tidak sabar ingin melihat seperti apa kota ini. Ia bisa terbang untuk mempersingkat perjalanan. Mungkin ia meninggalkan rombongannya," ujar Selena.
"A.... apa? Terbang?" tanya Nicholas terkejut. "Ras Dracal kuno memang dapat terbang dengan berubah menjadi kelelawar," ujar Selena.
"Selena, kakek datang," ujar salah seorang pria dengan suara yang menggelegar. Alesse tampak pucat saat mencoba memeriksa seperti apa wujud yang ibunya sebut sebagai kakek itu.
Ia pun mendapati pria berperawakan tinggi dan elegan dengan aura gelap menyebar ke setiap sudut ruangan, dia adalah Gonzales.
"Pe... perasaan apa ini? Benar-benar bikin pusing dan mual!" ujar Alesse, wajahnya semakin pucat, ia tidak bisa bersembunyi lebih lama lagi.
"Alice! Alice! Kau dengar aku?" tanya Alesse, ia menggunakan telepatinya. "Ada apa Alesse?" tanya Alice.
"Ini darurat! Sebaiknya kau segera keluar dari kastil ini! Aku tidak bisa membiarkan mereka melihat dua anak dengan wajah sama berada di tempat ini! Aku sudah tidak kuat!" ujar Alesse.
Akhirnya Alice pun langsung menghilang setelah pergi ke tempat sepi, ia keluar dari kastil itu sejauh mungkin.
Setelah hawa keberadaan Alice hilang dari jangkauannya, Alesse pun mulai membiarkan tubuhnya melemas. Ia pun jatuh tergeletak, membuat orang-orang sekitar keheranan.
"Alice!" teriak Darius terkejut, ia segera menghampirinya karena anak itu tampak pucat.
"Hei, Alice! Di mana gaunmu?" tanya Selena dengan amarahnya yang meluap-luap. Seketika Gonzales merik ke arah Alesse tanpa menggerakkan tubuhnya sama sekali, hanya mata merahnya yang tertuju pada Alesse dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Siapa dia, Selena? Kau tidak pernah bilang kalau kau memiliki anak perempuan," ujar Gonzales.
"Ehm, yeah.... dia banyak menimbulkan masalah jadi kami jarang membicarakannya," ujar Selena, ia segera memaksa Alesse untuk segera berdiri.
"Dia sepertinya tidak sehat bu!" ujar Darius. "Masa bodoh! Alice! Kau harus memberikan hormat padanya! Kau juga Darius!" ujar Selena.
"Tapi Alice...." Darius tampak ketakutan saat Gonzales terus memerhatikan tingkah mereka bertiga, apalagi suasana di rumah itu menjadi sangat dingin hingga Nicholas ragu-ragu untuk menunjukkan dirinya di hadapannya.
Dalam sekejap tubuh Alesse yang berada di pangkuan Darius langsung berpindah ke tangan Gonzales.
"Mata biru? Menarik sekali! Sepertinya keberadaanku sangat bertolak belakang denganmu," ujar Gonzales.
Alesse sudah tidak tahan dengan sakit kepalanya, ia pun akhirnya muntah-muntah. "Hei Alice! Apa yang kau lakukan!" teriak Selena terkejut, ia mencoba menyeka pakaian Gonzales yang terkena muntahan Alesse.
"Tidak perlu kasar padanya, Selena. Anak ini..... sangat menarik sekali," ujar Gonzales, ia mencoba mendekatkan wajah Alesse pada lehernya.
Tanpa berpikir panjang, Alesse pun langsung mengigit lehernya dan menghisap darahnya. Ia tampak kehilangan kendali, seolah naluri hewan telah menggerakkan tubuhnya untuk melakukan hal itu.
Setelah menghisap darah Gonzales, ia pun kembali tenang, bahkan sakit kepalanya mulai hilang.
"Oh, akhirnya kau sadar juga..... anaknya Selena," ujar Gonzales. "Aku punya nama sendiri, namaku Alice," ujar Alesse sambil menyeka bekas darah yang ada di mulutnya.
Tak lama kemudian beberapa rombongan yang tampak kepayahan pun datang dari depan gerbang.
"Ayah! Kenapa kau cepat sekali! Kami tidak bisa mengikuti kecepatanmu!" keluh salah seorang pria.
"Ayah benar-benar ingin kita semua mati!" ujar salah seorang wanita kesal. "Kakek selalu semangat seperti biasanya! Aku benar-benar kalah," ujar salah seorang pria.
Banyak orang-orang yang datang itu tampak sangat kelelahan.
"Loh? Padahal aku hanya berjalan santai," ujar Gonzales. Mendengar perkataannya itu para rombongan langsung tersungkur lemas, mereka tidak percaya Gonzales masih tampak segar bugar setelah perjalanan yang panjang itu.
"Ayah, siapa yang ada di lengan ayah itu? Apakah sekarang ayah tertarik pada gadis kecil? Kita baru sampai, ayah! Jangan main-main dulu!" keluh salah seorang.
"Buset! Sepertinya pria ini memang merepotkan," ujar Alesse dalam hati, ia hanya bisa menelan ludah. Ia tampak duduk pasrah di lengan pria itu karena tidak bisa pergi darinya.
"Nah, karena semuanya sudah di sini, bagaimana jika Alice menuntun kita semua berjalan keliling kota?" tanya Gonzales dengan wajah semangat. Orang-orang tampak pucat mendengar permintaannya.
__ADS_1