Alesse'S Connect : The Alchemist

Alesse'S Connect : The Alchemist
Desa yang terlupakan


__ADS_3

Alesse terus berjalan di antara orang-orang itu, sedangkan mereka menatapnya penuh keheranan.


"Hmm, sepertinya di sini hanya berisi wanita dan anak-anak, sangat sedikit sekali pria dewasa yang ada di sini!" Alesse menyimpulkan.


Seorang anak yang tampak sebaya dengannya sedang kesulitan memotong kayu bakar. Setelah memotong beberapa balok kayu, ia mulai menyeretnya dengan kepayahan. Alesse pun menghampirinya.


"Kenapa kau menyeret kayu-kayu itu sendirian? Bukankah ini pekerjaan orang dewasa?" tanya Alesse.


Anak itu tidak menjawab, ia terus menyeret-nyeret kayu itu hingga tersandung batu.


"Di mana ayahmu? Kalau kau terus menyeret-nyeret kayu itu, mungkin tengah malam baru sampai di rumahmu," ujar Alesse.


"Ayahku sudah meninggal, aku harus bekerja biar ibu dan adikku bisa makan," ujar anak itu. Alesse merasa iba melihatnya terus bekerja keras seperti itu.


Meskipun ia hanya memerhatikan anak itu kenyataannya masih ada beberapa anak yang sebaya juga melakukan hal yang sama.


"Apakah ayah kalian semua sudah meninggal? Kenapa? Karena ikut perang? Bukankah seharusnya kehidupan kalian dijamin oleh kerajaan?" tanya Alesse keheranan.


"Bukan, aku yang membunuh ayahku sendiri," ujar anak itu dengan ekspresi dinginnya. "Eh? Kau yang membunuhnya?" tanya Alesse keheranan.


"Itu bukan salahku! Itu salahnya karena terlalu lemah! Ini semua gara-gara dia yang tidak mampu menghadapiku saat mengalami Kondisi Terkutuk!" ujar anak itu, matanya langsung berkaca-kaca seolah tidak terima dengan kehidupan berat yang ia alami.


"Jadi, beberapa anak di desa ini juga mengalami hal serupa?" tanya Alesse.


"Benar sekali, setiap orang di sini harus menghadapi anaknya yang mengalami Kondisi Terkutuk, jika ia tidak mampu, maka ia akan terbunuh oleh anak itu," ujarnya.


Alesse pun mulai berpikir sejenak, ia mencoba memanipulasi berat kayu-kayu itu dengan prinsip elektromagnetik. Seketika kayu-kayu itu menjadi lebih ringan untuk dibawa. Ia juga melakukan hal yang serupa untuk anak-anak lain yang sedang menyeret kayu ke rumah mereka.


Sembari berjalan-jalan, akhirnya ia menemukan sebuah rumah yang tampak gaduh. Dinding bagian belakang rumah itu berlubang lantaran sesosok anak kecil dengan aura yang mengerikan menghancurkannya.


Para warga desa menyaksikan hal itu dari kejauhan sedangkan di sisi lain seorang pria tampak berkeringat dan ketakutan menghadapi sosok mengerikan itu, ia benar-benar mengalami kebuntuan dalam hidupnya.


"Bukankah dia sedang kesulitan? Kenapa kalian hanya menonton saja dari sini?" tanya Alesse keheranan.


"Itu adalah resiko bagi mereka yang berkeluarga, seorang pria harus menghadapi anak yang ia bawa ke dunia ini. Jika ia tidak mampu melakukannya, ia harus mati demi keluarganya. Jika ia memilih melarikan diri, anak itu akan mencelakai istrinya dan anak-anaknya yang lain," ujar salah seorang pria paruh baya.


"Tapi tetap saja! Terlepas dari itu semua, kalian harus membantunya!" ujar Alesse. "Lagian siapa yang mau repot-repot menghadapi anak orang lain? Kami tidak bisa kehilangan tangan atau kaki kami! Kami juga harus bekerja untuk menafkahi keluarga kami! Kami semua di sini hanyalah orang miskin, yang bahkan kebutuhan sehari-hari masing-masing dari kami pun belum tentu tercukupi! Kau pikir setelah kami membantunya menghadapi anaknya itu, ia akan membantu kami menafkahi keluarga kami?" tanya pria paruh baya itu.

__ADS_1


Pada akhirnya anak dengan aura mengerikan itu langsung menerkam ayahnya, ia bahkan mulai merobek-robek pakaiannya agar bisa mengoyak kulitnya.


Pria itu tersungkur di tanah, ia merangkak kepayahan sambil meminta tolong pada orang-orang, keadaannya benar-benar tragis.


Sayangnya orang-orang tetap bergeming, bahkan sampai pria itu diseret ke dalam rumah, mereka tidak peduli. Mereka hanya menunggu hingga akhirnya anak dalam Kondisi Terkutuk itu kembali pulih.


Alesse tidak bisa diam saja melihat pria yang tak berdaya itu. Ia langsung pergi menghampiri rumah itu.


"Hei, gadis kecil! Kau mau apa?" tanya pria paruh baya itu. Ia tidak bisa menghentikannya karena memang tidak mau berurusan dengan anak yang mengalami Kondisi Terkutuk.


Alesse segera melompat ke punggung anak itu lalu memukul tengkuknya.


Seketika anak itu melepaskan gigitan pada ayahnya itu. Kini perhatiannya teralihkan pada Alesse.


"Celakalah kau! Kenapa kau mendekati kami?" tanya ayah dari anak itu yang tampak lemas karena panik.


Alesse mulai berkeringat, ia juga tidak tahu harus menghadapi anak itu seperti apa. Saat itulah aura gelapnya tiba-tiba muncul, membuat rasanya paniknya hilang tiba-tiba.


Orang-orang tampak keheranan melihat tanduk megahnya yang tiba-tiba muncul.


Saat itulah penduduk desa langsung menodongkan berbagai tombak ke arah mereka bertiga.


"Hei! Apa yang kalian lakukan?" tanya Alesse. "Apalagi? Pria yang ketakutan setengah mati terhadap anaknya tidak pantas hidup! Lihatlah, sekarang ia ikut mengalami Kondisi Terkutuk! Tidak ada alasan lagi bagi kami untuk membiarkan kalian bertiga mengamuk di sini!" ujar pria paruh baya itu.


Alesse pun segera memukul tengkuk anak itu sekali lagi, membuatnya jatuh tersungkur tak sadarkan diri. Sayangnya pria yang tak terkendali itu terus mengayunkan tangannya ke sana kemari dengan cakar yang kian memanjang.


Alesse merasa kesulitan untuk memukul tengkuknya. Di sisi lain para penduduk desa lainnya mulai menghampiri mereka dengan tombak tajam itu.


"Hei! Tunggu dulu! Jangan arahkan benda itu padaku juga! Aku tidak mengalami Kondisi Terkutuk! Aku perempuan!" ujar Alesse.


"Kau pikir setelah melihat sosok mengerikan itu kami percaya?" tanya pria paruh baya. Alesse sempat geram karena orang-orang itu tidak bisa diajak berbicara, saat itulah ia tiba-tiba berteriak kencang.


Tak lama kemudian pria tak terkendali yang ada di hadapannya tiba-tiba tunduk begitu saja.


Alesse tidak mengerti apa yang terjadi, namun aura gelap pada pria dan anak itu tiba-tiba menghilang.


Warga desa terkejut saat melihatnya, mereka tidak menyangka tubuh pria dan anak itu kembali seperti semula.

__ADS_1


Karena merasa aman, aura gelap pada tubuh Alesse juga ikut menghilang, ia dengan cekatan memeriksa denyut nadi pria dan anak itu.


"Mereka masih hidup!" seru Alesse, namun warga desa masih menjaga jarak darinya. Mereka tidak tahu makhluk apa yang sebenarnya ada di hadapan mereka itu.


"Tunggu apalagi? Segera bawa mereka ke tempat yang hangat! Mereka sekarat!" ujar Alesse.


Akhirnya penduduk desa itu mengabaikan keraguan mereka miliki. Mereka langsung mengangkat tubuh anak dan pria itu ke dalam rumah lalu menyelimuti mereka.


"Bawakan aku air!" pinta Alesse. Tanpa banyak tanya pria paruh baya itu langsung menurutinya.


Alesse hendak menyayat bagian leher pria dan anak itu dengan pisau yang baru saja ia panaskan dengan lilin, namun para warga desa menatapnya keheranan.


"Sebaiknya kalian semua tetap di luar," ujar Alesse. "Kenapa? Apa yang akan kau lakukan dengan benda tajam itu?" tanya pria paruh baya.


"Lakukan saja apa yang aku perintahkan jika ingin pria dan anak ini selamat!" ujar Alesse. Akhirnya warga desa menurutinya.


Setelah mereka pergi, Alesse langsung memanipulasi air itu menjadi beberapa campuran bahan kimia. Ia hendak membuat obat dan anti septik.


Setelah melakukan operasi kecil untuk membantu mereka berdua bernafas, akhirnya mereka berdua pun terbangun.


"Apa yang terjadi? Aku masih hidup?" tanya pria itu keheranan, ia menatap anaknya yang baru saja terbangun.


"Ayah!" Anak itu langsung memeluk ayahnya dengan erat, ia tidak menyangka ayahnya masih bertahan hidup.


"Bagaimana aku bisa hidup? Ini sungguh tidak bisa dipercaya!" ujar pria itu. "Aku yang menolong kalian berdua, aku yang menghentikan kalian dari Kondisi Terkutuk kalian juga," ujar Alesse.


"Kau? Gadis kecil?" Pria itu tampak bingung dengan pakaian yang dikenakan Alesse. "Pokoknya kalian berdua baru saja selamat dari kondisi kritis. Sebaiknya istirahat dalam beberapa hari, jangan banyak beraktivitas dahulu! Lalu, jangan lupa minum obat yang aku buat ini! Ingat tandanya! Yang ini diminum sebelum makan, dan yang itu setelah makan," ujar Alesse.


"Obat? Apa itu?" tanya pria itu keheranan. Alesse pun terdiam sejenak. "Duh, gawat! Aku baru ingat kalau tempat ini belum mengenal obat-obatan! Mereka hanya melakukan praktek medis tanpa mengonsumsi hal seperti ini selain alkohol untuk bius!" pikirnya.


"Sudahlah, pokoknya turuti saja apa yang aku katakan jika kalian ingin hidup! Dan satu lagi..... jangan beritahu apapun kepada orang-orang terkait obat-obatan itu!" ujar Alesse. Pria itu pun mengangguk.


"Kenapa kau membantu kami?" tanya pria itu. "Karena kalian sangat malang sekali sampai membuatku sedih, aku menolong kalian hanya untuk menghibur diriku sendiri, jadi tidak perlu berterimakasih! Kalian tidak berhutang apapun padaku," ujar Alesse kemudian keluar dari bilik itu.


"Bagaimana keadaan mereka?" tanya pria paruh baya, para warga desa lainnya juga tampak penasaran.


"Mereka baik-baik saja kok," ujar Alesse sambil tersenyum. Orang-orang masih terdiam tidak percaya, namun setelah melihat ayah dan anak itu keluar dari bilik, mereka langsung bersorak gembira.

__ADS_1


__ADS_2