
"Siapa kau sebenarnya, nona muda?" tanya pria paruh baya itu. "Heh? Setelah melakukan hal yang luar biasa dia baru bersikap sopan?" tanya Alesse dalam hati.
Ia mencoba menundukkan pandangannya untuk menghormati pria paruh baya itu. "Aku hanyalah anak biasa yang kalian panggil gadis kecil," ujar Alesse menyindir.
"Maaf atas kelancanganku, nona muda. Sepertinya yang kau lihat, orang-orang di desa ini tidak terlalu menyukai bangsawan, namun kau tampak berbeda dari mereka," ujar pria paruh baya itu.
"Minta maaf, cukup minta maaf saja! Aku tidak ingin mendengar alasanmu," ujar Alesse. "Baiklah nona muda! Sekali lagi minta maaf atas sifat lancangku ini," ujar pria paruh baya itu.
Alesse memerhatikan sekitar lalu membuat kesimpulan. "Sepertinya kau tetua di desa ini! Baiklah, aku akan mengenalkan diri dengan benar! Namaku Alice Cayman," ujar Alesse.
"Cayman? Kukira kau berasal dari benua timur!" ujar pria paruh baya itu terkejut. "Yeah, ayahku menikahi salah seorang bangsawan dari negeri seberang sana," ujar Alesse.
"Ngomong-ngomong, kenapa engkau berada di sini? Ini adalah wilayah perbatasan loh! Bukankah bangsawan Cayman berada di istana kerajaan?" tanya pria paruh baya itu.
"Lebih tepatnya sekarang bukan di istana kerajaan lagi, kami menduduki sebuah kota kecil di barat daya," ujar Alesse.
"Be... begitu kah? Sepertinya kakek tua ini sangat ketinggalan zaman. Kalau begitu perkenalkan! Namaku Habbi, Habbi saja," ujar pria paruh baya itu.
"Sepertinya kebanyakan penduduk di sini adalah pendatang," ujar Alesse. "Benar sekali, nona muda. Desa ini sangat dekat dengan hutan belantara, jarang ada orang-orang kerajaan yang datang ke sini. Di sini tidak pernah diusik oleh kerajaan manapun," ujar Habbi.
"Memangnya apa yang salah dengan hutan itu?" tanya Alesse. "Seperti yang nona lihat, kebanyakan rumah kami sudah hampir porak-poranda, ini semua ulah monster-monster yang keluar dari hutan itu," ujar Habbi.
Alesse pun terdiam sambil mengamati pagar-pagar desa yang sudah rusak. Ia terus mondar-mandir hingga sejam lamanya.
"Permisi, nona muda! Di... di mana keluargamu? Sepertinya sudah lama sejak nona di sini, sebentar lagi malam tiba," ujar Habbi.
"Sebenarnya aku dibuang oleh orang tuaku ke kota perbatasan, kebetulan aku menemukan jalan bawah tanah dari suatu rumah dan sampai di tempat ini. Sepertinya desa kalian dulunya tempat para pembelot kerajaan," Alesse menyimpulkan.
"Itu dahulu, para leluhur kami. Oleh karena itu sekarang kami tidak memiliki nama warisan dari nenek moyang kami, kami sudah memutuskan ikatan dengan para pendahulu kami," ujar Habbi.
"Hmm? Begitu kah?" tanggap Alesse, ia tidak terlalu memerhatikan pria tua itu. Sekarang yang ada di kepalanya adalah rancangan pembangunan ulang untuk rumah-rumah penduduk. Bahkan di penglihatannya terus muncul rangka-rangka desain bangunan yang begitu mengusiknya.
"Argh! Baiklah-baiklah!" ujar Alesse, ia sedang berbicara sendiri sedangkan orang-orang menatapnya keheranan.
__ADS_1
"Sepertinya aku tidak akan puas jika hanya berpikir! Sebaiknya langsung kuterapkan saja!" ujarnya, ia mulai menghentakkan kakinya ke tanah lalu membayangkan beberapa unsur senyawa yang tercampur aduk hingga menjadi seperti adonan.
"Pak tua, coba perintahkan beberapa orang untuk menggali tanah ini!" ujar Alesse. Habbi langsung menurutinya, ia mengajak beberapa pria untuk menggali tanah yang barusan diinjak Habbi.
Mereka langsung terkejut melihat lumpur berwarna abu-abu gelap dari galian mereka itu.
"Benda apa itu? Baunya mengerikan sekali!" ujar salah seorang.
"Tentu saja mereka tidak mengetahuinya, ini adalah campuran beton dari masa depan, tidak ada yang lebih baik dari ini untuk membangun sebuah rumah," pikir Alesse dalam hati.
Ia berpura-pura mengecek campuran beton itu. "Se... sebaiknya jauhkan tanganmu dari sana, nona muda! Kita tidak tahu benda apa itu! Tanganmu bisa terluka!" ujar Habbi.
"Hmm! Ini lumayan bagus! Coba mintalah beberapa orang untuk membawa seme.... maksudku lumpur ini ke rumahmu," ujar Alesse.
"Eh? Kenapa di rumahku?" tanya Habbi keheranan. "Sudahlah! Lakukan saja!" ujar Alesse.
Akhirnya beberapa orang mulai mengambil campuran beton itu lalu membawanya ke rumah habbi dengan bejana kendi.
"Mau kau apakan lumpur aneh ini, nona muda?" tanya Habbi penasaran. Alesse langsung menendang salah satu kendi itu hingga campuran beton yang ada tumpah memenuhi dasar rumah.
"Aku tidak mengerti apa yang ingin kau lakukan! Ini rumahku!" ujar Habbi tidak terima. Pada akhirnya Alesse langsung merebut cangkul yang dipegang salah seorang pria lalu mulai menyebarkan campuran beton itu secara merata hingga ke sudut ruangan.
Habbi tidak sempat menghentikannya karena ia tidak berani melangkah menyentuh campuran beton yang berbau menyengat itu.
"Hmm! Sepertinya Sudah rata!" ujar Alesse, ia meletakkan telapak tangannya pada lapisan beton itu lalu membuat perubahan suhu dingin menjadi panas, seketika beton itu mengeras dan bau menyengatnya hilang. Sayangnya karena semua itu tangannya jadi belepotan semen.
"Nah, sekarang kau tidak memerlukan alas kaki untuk masuk ke dalam rumahmu, meskipun agak kasar, ini lebih baik dari pada rumah masih beralaskan tanah," ujar Alesse.
Habbi mencoba melepaskan alas kakinya lalu menginjak lapisan beton itu. Ia terkesan karena tidak perlu khawatir kalau kakinya akan kotor.
"Lu... luar biasa sekali! Bukankah ini lantai? Rumahku beralaskan lantai?" Habbi tidak percaya.
"Yeah, sebenarnya ini bukan lantai sungguhan," ujar Alesse, namun Habbi tampak sangat puas dan berterima kasih padanya.
__ADS_1
Melihat hal itu, orang-orang beramai-ramai mengambil campuran beton yang Alesse buat. Mereka mulai melapisi dasar rumah mereka dengan beton.
Alesse pun mulai mengeringkan beton-beton di rumah mereka agar segera bisa dipijak.
"Dengan begini,kami tidak perlu khawatir jika musim hujan tiba!" seru Habbi.
"Apakah pikiran kalian sedangkal itu? Kalian juga bisa gunakan semen.... maksudku lumpur itu untuk melapisi dinding rumah kalian yang terbuat dari kayu loh!" ujar Alesse.
Ia merasa campuran beton yang ia buat tidak cukup, akhirnya ia membuatnya lagi di hamparan tanah lain.
Ia tidak bisa memunculkan campuran beton segar itu secara tiba-tiba karena itu akan berefek buruk pada dirinya, ia hanya bisa memanipulasi tanah sekitar untuk dirubahnya menjadi adonan beton.
Setelah mereka semua melapisi dinding rumah mereka dengan campuran beton itu, Alesse pun membuat suhu desa meningkat sekilas untuk mengeringkannya.
"Luar biasa sekali! Ini lebih kuat dari pada anyaman bambu!" ujar Habbi tidak percaya. "Ini serasa berada di kota!" seru salah seorang lainnya.
"Tenang saja, aku akan membuat tempat ini layaknya sebuah kota untuk kalian!" ujar Alesse. Ia mencoba menghentakkan jemarinya ke dalam tanah, seketika jalanan itu dilapisi oleh paving dengan saluran untuk resapan air. Para penduduk desa pun bertepuk tangan meriah, namun hari sudah mulai senja. Alesse bergegas pergi dari desa itu.
Setelah sampai di gua, ia merasa malas untuk melangkah lebih dalam, ia sudah menghabiskan waktu berjam-jam untuk berjalan menelusurinya.
"Membuat teknologi yang ada pada peradaban ratusan tahun ke depan bukanlah kejahatan kan?" tanyanya dalam hati, ia langsung merubah bentuk dasar gua itu menjadi rel yang biasa digunakan di penambangan.
Ia pun mulai menciptakan prinsip pesawat sederhana untuk menjalankan sebuah gerobak di atas rel itu.
"Hmm! Hidupku terlalu mudah sekali! Mungkin aku bisa merubah tanah ini menjadi beberapa makanan," pikirnya dalam hati sambil mengambil bebatuan yang sejak tadi ia simpan di sakunya.
Ia pun merubah bebatuan itu menjadi sepotong kue lalu melahapnya. Sayangnya setelah potongan kue itu menyentuh lidahnya, ia langsung memuntahkannya.
"Aish! Apa-apaan? Hambar dan menjijikkan sekali! Rasanya tidak ada yang berubah!" ujarnya kesal.
Gerobak yang ia naiki itu terus melaju hingga berakhir di ujung gua. Ia pun memperbaiki tangga yang sebelumnya rapuh setelah ia injak.
Setelah itu ia naik ke permukaan dan mendapati dirinya di dalam kamar lalu membaringkan badan di kasur.
__ADS_1
"Hari yang sangat panjang! Sepertinya aku akan memiliki banyak pekerjaan mulai besok," ujarnya kegirangan, ia tidak sabar menunggu esok hari.