
"Alesse! Alesse! Lihat ini! Aku mendapatkan buku yang sangat menarik! kupikir pernah melihat ini sebelumnya, tapi aku lupa," ujar Alice kegirangan, ia menunjukkan sebuah buku kusam.
Alesse tampak tak begitu tertarik, ia tahu apa sebenarnya buku itu. "Alesse lihatlah! Banyak tulisan yang sangat bagus dan menarik!" ujar Alice.
"Percuma saja kau tunjukkan buku itu pada orang lain. Tidak ada yang bisa membacanya kecuali dirimu," ujar Alesse.
"Loh? Kenapa?" tanya Alice keheranan. Alesse hanya bisa menepuk dahi. "Kau ini.... kenapa kau tidak memiliki curiga terhadap apapun? Kau tidak curiga dengan buku itu? Tidak curiga kenapa kau bisa membacanya begitu saja setelah menemukannya? Kau pikir tulisan yang di dalamnya sama dengan tulisan yang kau baca setiap hari?" tanya Alesse.
"Eh? Benar juga! Ini bukan tulisan yang digunakan di kerajaan ini! Kenapa aku bisa membacanya?" Alice pun kebingungan.
"Percuma saja kau mengingatkan gadis itu, ia tampak sangat konyol sekali," ujar Equal. "Dan gadis konyol itu berhasil mengelabuimu dan mengkhianatimu? Sepertinya kau memang salah orang. Gadis yang kau jumpai di kehidupan sebelumnya bukanlah Alice," ujar Alesse.
"Alesse? Kenapa kau melamun?" tanya Alice. "Oh, bukan apa-apa. Aku hanya ingin bilang kalau buku itu adalah bukti bahwa kau seorang Chron," ujar Alesse.
"Hmm! Kau sudah mengatakan sejak lama kalau aku adalah Chron. Kenapa mengatakannya lagi? Sangat tidak asyik!" ujar Alice dengan wajah sebal.
Alesse terus menatap gadis itu dalam diam. "Ada apa Alesse? Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Alice, ia tampak malu-malu sambil merapihkan rambutnya.
"Alice, kau bisa menggunakan sihir kan?" tanya Alesse. "Terlahir sebagai anak bangsawan, seharusnya aku bisa melakukannya, tapi nyatanya tidak, hanya manipulasi ruang dan waktu saja yang bisa kugunakan. Padahal keluarga kerajaan terkenal dengan sihir anginnya," ujar Alice.
"Kalau begitu, coba gunakanlah sihir angin itu! Coba bayangkan perubahan suhu yang terjadi di telapak tanganmu. Kau harusnya sudah paham kan? Ini seperti pelajaran fisika," ujar Alesse.
"Oh? Yang itu? Seperti merebus air dalam panci?" tanya Alice. "Benar sekali! Bayangkan pergerakan molekul karena perbedaan suhu tersebut," ujar Alesse.
"Ba... baiklah, akan kucoba," ujar Alice. Ia mencoba mendekatkan kedua telapak tangannya. Dalam sekali coba ia langsung bisa membuat pusaran angin.
"Apa ini? Indah sekali! Aku bisa menggunakannya? Aku bisa melakukannya, Alesse!" seru Alice, sayangnya Alesse masih termenung.
__ADS_1
"Ada apalagi, Alesse?" tanya Alice keheranan. "Coba kau bayangkan pergeseran antar molekul yang mengakibatkan munculnya aliran listrik. Kau masih ingat itu kan? Aku yakin kau sudah mempelajarinya di usia lima tahun, bahkan kau melihat beberapa animasi terkait reaksi tersebut," ujar Alesse.
"Hmm! Memang benar sih, itu lebih seperti percikan ribuan batu api," ujar Alice, seketika dari kedua tangannya muncul aliran listrik.
"I... ini mengejutkan sekali! Kukira hanya bisa menggunakan sihir angin, ternyata aku juga bisa menggunakan sihir petir!" seru Alice.
"Coba kau bayangkan arus listrik itu menyambar oksigen, membuatnya terbakar," ujar Alesse. Tak lama kemudian arus listrik di tangan Alice berubah menjadi kobaran api.
"A.. apa ini? Seperti sulap! Ini menyenangkan sekali!" seru Alice.
"Sudah kuduga!" ujar Alesse kemudian duduk dengan tenang. "Ada apa, Alesse?" tanya Alice. "Bukan apa-apa kok. Kupikir hanya aku yang bisa menggunakan semua sihir itu. Ternyata siapapun orangnya, asalkan ia tahu dasar dari sihir itu, mereka bisa menggunakannya. Dan tentu saja hanya penyihir yang bisa menggunakannya sih," ujar Alesse, kemudian mulai tertawa.
"Apalagi? Kenapa kau terlihat aneh begitu?" tanya Alice. "Bukan apa-apa. Kukira diriku juga Chron, syukurlah jika aku memang penyihir biasa seperti bangsawan lainnya," ujar Alesse.
Selagi mereka berdua asyik mengobrol, tiba-tiba Selena muncul mendobrak pintu, ia tampak berkacak pinggang setelahnya.
"Alesse, kau di mana? Kenapa tiba-tiba menghilang? Bukankah kau sedang berbicara denganku tadi?" tanya Alice.
"Matamu tidak perlu mencari-cari di mana aku berada! Aku masih di sampingmu! Pokoknya bersikap natural, jangan tegang!" ujar Alesse.
Akhirnya Alice mulai menarik nafas dalam-dalam kemudian menghadapi Selena dengan tenang.
"Ada perlu apa ke sini, ibu?" tanya Alice. "Pulanglah! Tiga hari lagi adalah upacara kedewasaanmu!" ujar Selena.
"Eh? Upacara kedewasaan? Apa itu?" tanya Alice kebingungan. "Ya ampun, dasar gadis bodoh dan tak tahu diri! Usiamu sudah 15 tahun, kau harus menunjukkan kebolehanmu di hadapan para bangsawan nanti!" ujar Selena, ia pun langsung pergi begitu saja tanpa penjelasan apapun.
"Sepertinya itu salah satu adat di kerajaan ini, kita berada di abad pertengahan Eropa jadi jangan heran," ujar Alesse, ia pun menampakkkan dirinya kembali.
__ADS_1
"Gimana caranya kau bisa menghilang tadi?" tanya Alice penasaran. "Ini hanya konsep fisika sederhana. Perbedaan kerapatan partikel udara dan air membuat pembelokan cahaya. Ia tidak meneruskan cahaya yang terpancar pada jarak tertentu sehingga tubuhku terlihat lenyap," ujar Alesse.
"Aku tidak tahu fisika sederhana bisa sehebat itu," ujar Alice. "Kita sudah mempelajari tentang optik dari SMP loh," ujar Alesse.
"Aku tidak pernah tuntas SD, kenapa kau membicarakan SMP segala?" tanya alice kesal. "Baiklah, aku minta maaf. Jadi, untuk upacara yang merepotkan ini...... Kira-kira aku harus berbuat apa?" tanya Alesse.
"Karena ini dunia sihir dan pedang, bukankah seperti yang di dongeng-dongeng? Seorang putri menunjukkan kemampuan sihirnya sedangkan pangeran mengenakan zirah dan tampil sebagai kesatria pedang," ujar Alice.
"Itu terlalu biasa untuk dijadikan pertunjukan," ujar Alesse, ia pun mulai berpikir. "Alice, kau bisa bernyanyi?" tanya Alesse.
"Bukankah itu keahlian kita sejak kecil? Ayah dan ibu bahkan merasa senang ketika aku menyanyikan lagu ulang tahun untuk mereka," ujar Alice.
"Maaf, sepertinya bakatmu yang satu itu tidak kulanjutkan hingga dewasa," ujar Alesse, ia memang selalu mengeluarkan nada datar saat bicara sehingga tidak berpikir untuk melatih suaranya.
"Gimana jika kau yang tampil di upacara kedewasaan nanti? Kau lebih anggun dariku, jadi akan berjalan dengan lancar," ujar Alesse.
Wajah Alice tiba-tiba memerah, ia merasa tersanjung saat Alesse mengatakan bahwa dirinya anggun.
"Reaksi macam apa itu? Kenapa kau tiba-tiba tersipu malu?" tanya Alesse. "Se... sebaiknya hati-hati saat kau berbicara! Aku tidak menyangka ada om-om yang berani menggodaku dengan pujian seperti itu," ujar Alice.
"Siapa yang kau sebut om-om?" Alesse tidak terima. "Wujudmu yang sekarang ini tidak akan bisa menipuku lagi! Setelah tahu semua perangaimu, cara bicaramu, cara berjalanmu, caramu duduk, hingga tidur.... kau pasti pria berusia 40 tahunan," ujar Alice.
"Tidak sopan! Lagian tahu dari mana kau sifat-sifat pria tua begitu?" tanya Alesse. "Bukankah itu sudah jelas? Caramu memperlakukanku seperti anak kecil! Asal kau tahu saja, aku bukan anakmu!" ujar Alice sambil melipat kedua tangan di dada lalu memasang wajah sebal. Alesse hanya menghela nafas.
"Tuh, kan! Jangan menghela nafas di depanku! Jangan sok dewasa," ujarnya. "Terserah kau mau bilang apa. Aku bukanlah pria tua! Lihatlah, apakah yang seperti ini adalah wajah pria tua?" tanya Alesse sambil mengurai rambutnya, sekilas Alice terpana dengan kecantikannya, namun cara Alesse duduk merusak penilaiannnya terhadapnya.
"Kau serius menanyakan hal itu? Sebaiknya memang aku saja yang tampil di upacara kedewasaan itu," ujar Alice.
__ADS_1