Alesse'S Connect : The Alchemist

Alesse'S Connect : The Alchemist
Gonzales


__ADS_3

"Alice..... nama itu, tampaknya memang sesuai dengan wajahnya. Sepertinya aku kenal dengan gadis itu. Tapi kenapa aku merasa benci padanya? Kenapa jantungku terasa sesak saat melihatnya? Perasaan macam apa ini?" Alesse masih kebingungan.


"Andai saja kalau aku punya sesuatu yang bisa digunakan untuk mewarnai rambut ini! Biru adalah warna yang sangat mencolok meskipun terlihat bagus," ujar Alesse, ia tidak bisa membantah kalau dirinya memang menyukai warna biru.


Alesse mulai mencari barang-barang yang dapat ia gunakan untuk menutupi rambutnya.


Setelah banyak membongkar-bongkar barang-barangnya, ia pun menemukan sebuah toples kaca berisi cairan hitam.


"Akhirnya ketemu juga! Sudah kuduga, pasti ada tinta di sini untuk menulis," ujarnya. Ia pun membuka toples itu dan mencoba memeriksanya.


"Kenapa sangat harum? Ini.... bukankah semir rambut? Gimana caranya ada benda seperti ini di dunia ini?" Alesse tampak terkesan dengan keberadaan cairan hitam itu. Tanpa pikir panjang, ia mencoba menggunakannya lalu bercermin.


Ia pun hendak memotong rambutnya, namun ia teringat dengan Alice yang berusaha mencegahnya. "Hmm, rambut ini sangat mengganggu! Tapi gadis itu melarangku memotongnya?" Alesse mencoba memikirkan cara.


Akhirnya ia membuat kepang pada rambutnya agar tidak terurai saat angin bertiup di hadapannya.


"Hmm, wajahku tampak sangat feminim. Biarlah, setelah mendapatkan beberapa jawaban dari gadis itu, aku bisa memotong rambut ini," ujar Alesse.


Sayangnya tak lama setelah bercermin, tiba-tiba bulu kuduknya berdiri. Ia tiba-tiba merinding dengan keheningan yang ada di kamar itu.


Ia pun tersadar kalau cahaya ruangan semakin redup. Setelah ia periksa, ia mendapati sebuah wajah pria pucat di jendelanya. Itu adalah Gonzales.


"Buset, apa-apaan kakek tua ini!" Alesse sempat terperanjat melihat wajahnya.


"Halo, Alesse! Kita bertemu lagi," ujar pria itu sambil tersenyum ramah. "Hentikan kelakuanmu itu! Orang biasa bisa pingsan setelah melihat wajahmu," ujar Alesse.


"Kalau begitu, apakah kau berkenan untuk keluar dari ruangan kumuh itu. Kakek memintamu untuk menuntun jalan-jalan keliling kota," ujar Gonzales.

__ADS_1


"Argh! Baiklah, aku akan keluar! Kakek harus segera turun! Orang-orang akan memerhatikan jika kakek terus di situ!" ujar Alesse kesal,ia pun terpaksa turun ke bawah.


Setelah berhadapan langsung dengan pria tua itu, Alesse sempat terkejut. Ternyata pria itu membawa semua pengikutnya bersamanya.


"Nah, Alesse! Kau bisa ganti bajumu dengan ini agar kita tampak seperti pasangan yang serasi," ujar Gonzales sambil menunjukkan gaun hitam.


"Kau bercanda? Bukankah itu pakaian seorang gadis? Aku ini laki-laki!" ujar Alesse dengan suara agak lantang. Tentu saja orang-orang menatapnya penuh keheranan. Gonzales sempat terdiam sejenak.


Yeah, jika kau pikir kau adalah laki-laki, maka kupikir gaun ini adalah pakaian laki-laki. Tunggu apalagi? Kenakanlah," ujar Gonzales, ia tidak terlalu menggubris maksud dari perkataan Alesse.


Alesse pun menyerah, ia tahu jika beradu mulut dengan pria itu tidak akan ada habisnya karena ia sangat keras kepala.


Setelah Alesse memakai gaun serba hitam itu, orang-orang langsung terpana. Begitu juga dengan Gonzales, alisnya tiba-tiba naik, membuat wajahnya datarnya berubah seolah sedang terkejut.


"Ada apa dengan kalian? Kenapa melihatku begitu?" tanya Alesse keheranan, ia sudah kesal dengan pakaian yang dipaksa ia kenakan.


"Seleramu benar-benar suram sekali! Memangnya kita hendak pergi ke pemakaman?" tanya Alesse.


"Maaf, aku agak jijik melihat warna tertentu. Beberapa warna yang cerah membuat hariku tampak buruk. Aku hanya menyukai warna hitam dan merah darah," ujar Gonzales.


"Hmm! Dasar Vampir aneh!" ujar Alesse kesal. "Vampir? Kosakata apalagi itu? Maukah kau menjelaskannya padaku? Kita bisa berjalan bersama sambil berbincang-bincang," ujar Gonzales sambil mengulurkan tangannya.


"Apakah perlu seperti ini? Aku tidak suka seseorang memegangi tanganku," ujar Alesse. "Tidak apa-apa, anggap saja seorang kakek sedang ingin berjalan-jalan dengan anak dari cucunya," ujar Gonzales. Akhirnya Alesse menurutinya.


Ia pun mengajak pria itu berkeliling kota bersama para pengikutnya. Sayangnya setelah melihat beberapa petualang datang dari luar gerbang dengan tumpukan hewan buas di gerobak, Gonzales tertarik untuk masuk ke hutan.


"Anak-anak, aku punya sebuah ide! Bagaimana jika kita bermain di hutan dan mengumpulkan beberapa hewan seperti ini?" tanya Gonzales.

__ADS_1


Orang-orang itu tampak pucat, mereka sudah kelelahan karena harus mengikuti pergerakan Gonzales yang sangat cepat dengan energi yang tak terbatas.


"Kakek tua itu...... kapan dia hendak beristirahat? Kupikir ia belum tidur sejak pekan lalu? Kenapa dia ingin mengajak kita bermain dengan permainan gilanya?" bisik salah seorang dengan kesal.


"Percuma saja kau mengeluhkan hal itu! Kau tidak akan bisa menang bersilat lidah dengannya, itu hanya membuang-buang energimu. Memberontak pun sangat tidak mungkin, kau akan berakhir seperti Xia Li, hanya akan mempermalukan diri sendiri," ujar Selena.


"Buset, pria tua ini.... dia pikir anak-anaknya masih kecil kah? Jelas-jelas mereka semua sudah beranak bahkan memiliki cucu," ujar Alesse dalam hati.


"Alesse, tahun ini berapa usiamu? Kakek akan membuatkanmu hadiah setelah permainan ini selesai," ujar Gonzales.


"Tahun ini? Dengan tubuh seperti ini.... seharusnya usiaku sekitar 15 tahun," ujar Alesse.


"Heh? 15 tahun? Kau bohong kan? Mana mungkin gadis kecil sepertimu berusia 15 tahun! Seharusnya di bawah 12 tahun!" ujar salah seorang tidak percaya.


"Hahaha, kau sangat mirip dengan ibumu yah! Aku juga sempat heran setelah bertahun-tahun tidak bertemu dengannya. Ia selalu tampak seperti gadis kecil meskipun belasan tahun berlalu. Sayangnya sangat mengecewakan sekali karena ia tiba-tiba menikah," ujar Gonzales.


"Hmm, Aku sudah cukup dewasa untuk menikah saat itu! Lagian kenapa kakek selaku mencegahku agar tidak menikah?" tanya Selena kesal.


"Karena wajahmu tidak terlihat dewasa," ujar Gonzales. "Kakek keras kepala itu..... Kami semua keturunan dari benua timur memang memiliki wajah khas seperti itu!" ujar Xia Li, ia tiba-tiba angkat bicara karena geram.


"Baiklah, saatnya kita memulai permainan," ujar Gonzales kemudian berlari keluar gerbang, ia menerobos para penjaga begitu saja. Hal itu membuat para pengikutnya kerepotan dan berlari kepayahan mengejarnya.


Di sisi lain Alesse masih berdiri di tempat, ia tidak ingin melakukan hal merepotkan seperti yang dilakukan Gonzales, ia pun pergi ke alun-alun kota.


Saat itulah ia merasa tidak nyaman karena banyak pria yang menatapnya dengan tatapan penuh gairah.


"Ternyata seperti ini sudut pandang perempuan normal saat para pria melirik tubuhnya. Ini benar-benar melelahkan! Tidak kusangka harus waspada dengan tatapan layaknya binatang buas itu di sepanjang jalan," ujar Alesse kemudian duduk di bangku depan sebuah toko.

__ADS_1


__ADS_2