Alesse'S Connect : The Alchemist

Alesse'S Connect : The Alchemist
Pertemuan kembali


__ADS_3

Alesse pun pulang ke rumah dengan Jawara, Alice tampak terkejut saat mendapati sosok remaja tiba-tiba ikut masuk ke dalam kamarnya.


"Alesse! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau membawa laki-laki ke sini?" tanya Alice malu-malu.


"Dia bukan manusia kok, tenang saja. Lihatlah, ini adalah versi dirimu di kehidupan sebelumnya ketika berusia sekitar 15 tahun," ujar Alesse.


"Seperti pemuda Asia biasa. Mereka bahkan sulit dibedakan antara laki-laki dan perempuan di usia segini," ujar Alice.


"Memang beginilah ciri khas ras Asia, mereka lebih awet muda di usia muda, dan berubah menjadi sangat tua secara drastis di usia senjanya," ujar Alesse.


"Jadi, gimana caranya kau memproyeksikan bentuk tubuhmu dari kehidupan sebelumnya?" tanya Alice.


"Benda ini telah menyimpannya selama ribuan tahun," ujar Alesse.


"Sebelum kalian banyak berbicara..... ada yang ingin kutanyakan! Sebenarnya kau siapa?" tanya Jawara pada Alesse.


"Oh, bukankah kau seharusnya sudah tahu siapa aku? Aku yang mengaktifkanmu kembali loh!" ujar Alesse.


"Kau..... tidak mungkin Alesse Jawara! Ia sudah mati ribuan tahun yang lalu! Itu tidak masuk akal!" ujar Jawara.


Meskipun cara berbicaramu sama seperti manusia, nyatanya pola pikirmu masih sama saja seperti dahulu. Kau tidak bisa menerima sihir dan fenomena supranatural lainnya," ujar Alesse.


"Kalau begitu... benarkah kau Alesse? Setelah ribuan tahun yang lalu mati?" tanya Jawara sekali lagi. "Yup! Inilah aku. Aku bereinkarnasi menjadi seorang gadis. Ngomong-ngomong, gadis ini juga Alesse Jawara, ia seharusnya menjadi Alesse Jawara yang asli. namun ia mati di usia tujuh tahun," ujar Alesse.


"Kau berbohong? Kenapa kau seorang gadis? Anatomi tubuhmu menunjukkan ciri bahwa kau seorang laki-laki, " ujar Jawara.


Alesse pun terdiam dengan penjelasannya. Alice juga tampak sangat terkejut dengan perkataan Jawara.


"Hei! Mana ada! Gimana caranya kau tahu kalau dia perempuan atau laki-laki?" tanya Alice. "Cukup mudah, aku hanya perlu mendeteksi seberapa perbandingan antara hormon esterogen dan testosteron yang ia hasilkan, ciri lainnya bisa dilihat dari kromosomnya," ujar Jawara.


"Itu tidak mungkin! Untuk mengecek itu semua membutuhkan banyak waktu, sedangkan kau hanya menatapnya tak lebih dari setengah hari!" ujar Alice membantah.


"Kau tidak bisa menyangkalnya, Alice! Benda ini merupakan teknologi mutakhir, ia bisa berubah wujud menjadi apa saja dan meniru berbagai teknologi yang ia pindai," ujar Alesse.


"Jadi..... kau adalah laki-laki? Perkataannya benar?" tanya Alice. "Aku juga terkejut dengan hal itu. Aku tidak menyangka hidup tanpa mengetahui hal itu," ujar Alesse sambil menepuk dahi.

__ADS_1


"Apa maksudmu tidak menyangka? Berarti selama ini au tinggal serumah dengan laki-laki asing? Aku bahkan membuka baju di hadapan laki-laki? Kau bahkan beberapakali memelukku dan menyentuh dadaku," Alice merasa dirinya telah ternodai.


"Hei! Tidak usah berpikiran yang aneh-aneh! Maaf saja, aku tidak tertarik denganmu! Aku bukan pedofil!" ujar Alesse.


"Benar sekali, jika Alesse meninggal di usia sekitar 40 tahun, seharusnya saat ini ia memiliki pemikiran layaknya pria paruh baya," ujar Jawara.


Akhirnya Alice merasa tenang, justru pikirannya tertuju pada hal lain. "Hei, namamu... Jawara kan?" tanya Aluce memastikan. "Benar sekali," ujar Jawara.


"Bisakah kau tunjukkan seperti apa rupa Alesse di usia 40 tahun?" tanya Alice penasaran. Seketika Jawara langsung berubah sesuai permintaannya.


Alice tercengang, pupil matanya tampak melebar saat melihat wajah maskulin di hadapannya. "Be... benarkah ini Alesse? Jadi kalau aku hidup samapi berusia 40 tahun..... akan terlihat seperti ini?" tanya Alice tidak percaya.


"Kau kenapa?" tanya Alesse keheranan, ia merasa aneh karena Alice begitu penasaran sampai meraba tubuh Jawara dari atas sampai bawah.


"Alesse, ternyata kau tumbuh menjadi pria tampan yah! Andai aku hidup dengan tubuh seperti itu di kehidupan sebelumnya. Apakah aku akan jatuh cinta pada diriku sendiri?" tanya Alice.


"Tidak usah mengada-ada!" ujar Alesse, ia merasa tidak nyaman karena Alice terus meraba-raba tubuh Jawara.


"Wah, tubuhmu berotot juga! Kukira kau akan berpegang teguh dengan tubuh ramping seperti itu," ujar Alice terkesan.


"Alesse sering berubah kepribadian, dan saat itu terjadi, fisiknya juga ikut berubah," ujar Jawara. Seketika ia berubah menjadi pria kekar dengan pakaian serba hijau, bahkan terdapat bunga mawar di kepalanya.


"Wahai, gadis cantik. Wajahmu akan lebih indah bila diwarnai dengan mawar ini," ujar Jawara sambil mengambil mawar yang ada di kepalanya lalu memberikannya pada Alice.


Alice pun terkesima saat Jawara menggombalinya, apalagi wajahnya tampak sangat rupawan. "Nah, kira-kira begitulah versi lain dari kepribadiannya," ujar Jawara.


"Heh? Apaan! Kukira kau mengatakan hal serius!" ujar Alice kecewa. "Oh! Ada satu kepribadian lagi yang bisa menanggapi rasa kecewamu itu," ujar Jawara, ia pun berubah menjadi pria kekar bertelanjang dada.


"Hei! Apa yang kau lakukan?" Alice hendak menutup matanya. "Ma..... maaf, a... aku tidak bermaksud mengecewakanmu. A... aku juga tidak punya niatan buruk, tidak ada baju yang pas untuk badanku," ujar Jawara.


Alice cukup tertarik dengan cara bicara Jawara yang gagap, apalagi suaranya yang besar membuatnya terdengar tulus.


"Hentikan, Jawara! Lain kali kau tidak kubolehkan berubah menjadi apapun tanpa izin dariku!" ujar Alesse kesal. "Ma... maaf! Aku terbawa suasana," ujar Jawara, ia pun kembali menjadi seperti sedia kala. Alice pun tertawa saat melihat Alesse kesal, ia tidak menyangka bisa mengetahui masa lalu Alesse yang begitu aneh.


"Ternyata hidupmu sangat menarik, yah! Sekarang kita sudah impas! Terlalu curang kau mengetahui semua hal tentang hidupku, namun aku tidak tahu tentang hidupmu," ujar Alice.

__ADS_1


Jawara pun tersenyum, ia merasa tindakannya tidaklah salah. "Apaan? Kau merasa bijak?" tanya Alesse pada Jawara dengan tatapan sinis.


"Tapi ini benar-benar luar biasa yah! Informasi yang ada dari ribuan tahun yang lalu bisa tersampaikan begitu jelas hari ini. Bahkan aku bisa membayangkannya lebih realistis daripada mengandalkan ingatanmu yang samar-samar itu!" ujar Alice pada Alesse.


"Jadi, apa yang kau lakukan selama ini? Kenapa kau berakhir di tangan Dark Warden?" tanya Alesse.


"Banyak hal yang terjadi, aku sudah menemui banyak orang hingga akhirnya salah seorang memutuskan untuk menonaktifkanku karena dianggap berbahaya. Ia juga merasa cemas barang kali aku memberontak saat ia mencoba menonaktifkanku. Akhirnya ia lakukan hal itu secara sembunyi-sembunyi. Mungkin ia pikir aku tidak menyadarinya, padahal aku selalu mengawasi seluruh gerak-geriknya," ujar Jawara.


"Mengawasi seluruh gerak-geriknya saja sudah terdengar mengerikan, bodoh!" ujar Alesse. "Wah! Kalau kau bertemu dengan banyak orang, pasti kau bisa berubah menyerupai orang itu?" tanya Alice.


"Tergantung, apakah ia mengizinkannya atau tidak. Meskipun aku terlihat seperti individu yang mirip manusia, aku tetap tidak sempurna, terdapat beberapa batasan yang tidak bisa kulewati," ujar Jawara.


"Kasihan sekali! Itu seperti budak! Lain kali harusnya ada HAM untuk pada robot sepertimu!" ujar Alice.


"Itu sudah ada, dan telah membuat petaka yang sangat besar. Inilah mengapa dataran di bumi ini kembali menjadi primitif, semua peradaban telah tertelan ke dalam tanah. Itu semua akibat peperangan antara manusia dan AI. Adanya HAM untuk AI hanya akan menciptakan sebuah kubu AI yang keras kepala, kaku dan tidak fleksibel. Mereka dapat menguasai manusia dalam sekejap dengan peraturan otoriternya," ujar Jawara.


"Lalu, gimana dengan peradaban yang lenyap? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Alesse. "Electro Vacum, itu sebutannya. Manusia menciptakan bom radiasi seperti granat E.M.P raksasa. Itu membuat semua barang elektronik yang bergantung pada listrik menjadi tidka berfungsi. Bahkan efek radiasi itu juga mempengaruhi sistem syaraf dan motorik manusia serta makhluk hidupdisekitarnya," ujar Jawara.


"Yeah, yang menggunakan aliran listrik bukan hanya barang elektronik. Bahkan sistem gerak pada tubuh kita pun tak lepas dari aliran listrik," ujar Alesse.


"Wah! Mengerikan sekali! Sepertinya kita memang tidak boleh terlalu berlebihan dalam mengembangkan AI," ujar Alice merinding.


"Memang, jika terlalu banyak mengandalkan AI, manusia tidak akan mengalami perkembangan otak, mereka semakin jarang menggunakan kecerdasan mereka, tidak berpemikiran kritis seperti filsuf, mereka akan bodoh. Tertelannya peradaban modern yang telah lama mereka bangun adalah bukti betapa bodohnya mereka," ujar Alesse.


"Hmm, hidup di tempat primitif seperti ini ternyata sangat banyak yang bisa diambil pelajaran," ujar Alice.


"Jawara, apakah kau masih berkontak dengan Probe? Di mana ia sekarang? Apakah ia ikut mati bersama para AI yang terkena bom E.M.P itu?" tanya Alesse.


"Ia tidak terpengaruh, ia sudah memprediksikan hal itu lalu memilih pergi ke luar angkasa. Aku tidak bisa mengontaknya sejak dua ribu tahun yang lalu," ujar Jawara.


"Berarti teknologi AI di luar angkasa masih bisa berjalan dong?" tanya Alice. "Tidak, Probe menghancurkan mereka semua," ujar Jawara.


"Benar-benar keputusan yang bagus! Hebat juga ia tidak terpengaruh oleh AI lainnya," ujar Alesse. "Itu karena aku yang menyuruhnya. Kalau dibiarkan, ia juga akan melakukan hal mengerikan seperti para AI itu," ujar Jawara.


"Menurutmu, apakah Probe masih bertahan hingga saat ini?" tanya Alesse. "Aku harus pergi ke bumi Earth untuk memastikannya," ujar Jawara.

__ADS_1


__ADS_2