
Alesse menatap gubuk reyot yang dilapisi oleh beton-beton itu. Pikirannya sangat terganggu olehnya.
"Argh! Sebenarnya siapa sih yang berpikiran untuk membangun rumah jelek ini? Kayu penopangnya berlebihan! Dinding anyamannya terlalu tipis, genting rumahnya tidak tertutup rapat, kuda-kuda atapnya tidak seimbang! Kalau seperti ini, terkena hujan lebat saja pasti sudah tumbang!" ujar Alesse kesal.
"Bagaimana kau tahu kalau rumah kami sering tumbang saat hujan?" tanya Habbi. "Dilihat dari manapun juga, rumah kalian ini dibangun dengan sangat buruk! Jika memang kekurangan bahan, bukan seperti ini cara membangun rumah!" ujar Alesse.
"Memangnya nona muda tahu cara membangun rumah?" tanya saah seorang pria, Habbi langsung menegurnya karena menganggap pertanyaan itu sangat tidak sopan.
Alesse terdiam sejenak setelah mendengar perkataan pria itu. "Hei, apa yang kau lakukan? Cepat minta maaf!" bisik Habbi.
"Kalau kau memang tidak tahu apa-apa tentang rumah, sebaiknya diam saja! Kami sudah berpuluhan tahun membangun rumah!" ujar pria tadi.
"Jadi sampah seperti ini kau anggap rumah hasil pengalamanmu selama puluhan tahun?" tanya Alesse, ia merasa agak kesal hingga aura gelap tiba-tiba muncul di sekitar tubuhnya.
Habbi menyuruh para penduduk desa merendahkan pandangan mereka, ia takut Alesse akan murka. Sayangnya pria tadi masih berdiri tegak tidak terima.
"Jadi, mana rumahmu yang kau sebut sebagai pengalaman berpuluh-puluhan tahun itu?" tanya Alesse.
Sebenarnya pria itu enggan menjawab, namun ia sempat melirik ke arah rumahnya sendiri untuk memastikan itu berada di jangkauan pandangannya.
Alesse baru saja menangkap tatapannya, ia dengan cepat melesat ke arah rumah pria itu.
Para penduduk terkejut karena Alesse tiba-tiba sudah tidak ada di hadapan mereka. Habbi pun menyuruh mereka segera menghampirinya yang sedang berdiri di depan rumah pria tadi.
"Jadi ini rumah yang kau banggakan?" tanya Alesse. Ia mendorong pelan salah satu balok kayu yang menopang rumah itu, seketika semua dinding rumah itu roboh.
Istri dan anak pria tadi sempat terkejut dan menangis saat melihat rumah mereka tiba-tiba hancur lebur.
Sekali lagi Habbi meminta pria itu meminta maaf pada Alesse, namun pria itu tetap bergeming, ia masih tercengang menyaksikan rumahnya hancur hanya karena dorongan dari gadis kecil.
"Maaf, nona muda! Kami tahu kalau ia sudah bersikap lancang, tapi kalau kau merubuhkan rumahnya, bagaimana dengan keluarganya? Anak-anak dan istrinya tidak bersalah," ujar Habbi.
"Terima kasih, nasehatmu, kakek. Aku tidak sedang menghukumnya, aku hendak memberinya apresiasi. Kalian semua adalah manusia, kalian berhak untuk mengajukan pendapat dan pernyataan kalian, tidak selamanya terkekang oleh perkataan orang lain," ujar Alesse. Ia pun menghampiri pria yang tampak tercengang tadi.
"Siapa namamu paman?" tanya Alesse pada pria itu, ia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. "Ro... Robert," ujar pria itu dengan sedikit ketakutan.
__ADS_1
"Mungkin rumahmu akan menjadi rumah pertama yang akan kita bangun bersama. Kita akan membuat rumah yang lebih baik!" ujar Alesse sambil menunjukkan gulungan kertas yang sejak tadi ia bawa.
"Lu... luar biasa! Gambar apa ini? Sangat mendetail sekali! Bahkan kau membuat ukuran-ukuran pada tiap garisnya!" seru Habbi terkesan, namun orang-orang yang lainnya tidak mengerti gambar apa yang Alesse bawa itu.
"Firasatku mulai memburuk! Apakah kalian..... jangan-jangan.... kalian tidak bisa membaca?" tanya Alesse. Para penduduk itu serentak menggelengkan kepala, hanya Habbi yang tidak merespon.
"Kakek masih bisa membaca ini?" tanya Alesse. "Tentu saja, aku satu-satunya orang yang pernah bertemu dengan leluhur kami, aku mempelajari beberapa pengetahuan saat masih kecil," ujar Habbi. Alesse pun menepuk dahi, ia bingung bagaimana cara menjelaskan rancangan rumah yang hendak ia bangun.
"Kau bisa meminta bantuanku untuk menjelaskan semua ini pada mereka, nona muda," ujar Habbi.
"Baiklah, mulai hari ini! Kita akan membangun rumah yang lebih baik! Dimulai dari rumah paman Robert!" seru Alesse. Orang-orang tampak bersemangat, mereka pun mulai mengikuti arahannya.
"Kenapa kau meminta orang-orang menggali tanah di rumahku?" tanya Robert keheranan, ia tidak mengerti apa yang sedang dilakukan Alesse.
"Kita akan membuat sebuah pondasi! Ini akan membuat rumah lebih tahan lama dan tidak akan rubuh ketika ada hujan besar," ujar Alesse.
"Lalu, untuk apa tanah-tanah yang dibentuk menjadi balok itu?" tanya Robert penasaran. Alesse kembali menatapnya dengan keheranan.
"Kalian tidak tahu apa itu batu-bata?" tanya Alesse. "Kami hanya mendengar kalau itu adalah bahan yang digunakan untuk membuat dinding rumah di perkotaan," ujar Robert. "Nah, kita akan membuat itu," ujar Alesse.
"Benarkah? Benda berbentuk balok ini adalah batu bata?" tanya Robert terkejut. Bahkan orang-orang yang mulai mencetak tanah-tanah itu juga terkejut, mereka tidak tahu apa yang sebenarnya mereka lakukan.
"Benar sekali, kita hanya perlu mencampurkan adonan tanah liat dan menaburkan abu sekam padanya. Setelah itu....." Alesse mulai berpikir kembali.
"Setelah itu?" tanya Habbi penasaran.
"Sepertinya kita salah langkah!" ujar Alesse. Ia mulai membuat sketsa lagi dengan terburu-buru.
"Kita akan membuat ini!" ujar Alesse, ia menunjukkan sebuah ruangan berbentuk balok.
"Ini apa? Seperti rumah tapi, ini lebih kecil. "Ini bilik pembakaran. Kita akan membakar semua balok-balok tanah itu," ujar Alesse.
"Kenapa kita harus membakarnya? Bukankah itu akan kering ketika kita menjemurnya?" tanya Robert.
"Pengeringan dan pembakaran adalah hal yang berbeda. Pengeringan hanyalah upaya untuk mengurangi kadar air pada tanah itu, sedangkan pembakaran bertujuan untuk memperkuat tanahnya," ujar Alesse.
__ADS_1
Akhirnya ia membuat campuran beton lagi untuk ia jadikan sebagai bahan pembuatan bilik pembakaran.
"Nona muda, kenapa kita tidak menggunakan lumpur berbau menyengat ini sebagai batu bata? Bukankah ini lebih keras?" tanya Habbi.
"Pertanyaan yang bagus! Masalahnya adalah lumpur itu jumlahnya terbatas, aku tidak bisa membu... ehm, maksudku kita tidak bisa menemukan di mana tempat yang terdapat lumpur seperti itu. Kalau kita menggunakan tanah, kita bisa mendapatkannya dari mana saja, bahkan yang kau injak sekarang itu adalah tanah. Setelah batu-bata dari tanah liat itu jadi, kita hanya perlu menyusunnya saja agar menjadi sebuah dinding. Kita pakai campuran beton.... ehm maksudku lumpur berbau menyengat ini sebagai perekat antar batu-bata itu," ujar Alesse. Habbi mengangguk mantap, ia merasa puas dengan penjelasannya.
Selama seharian itu akhirnya mereka pun berhasil membangun pondasi yang kokoh, namun Robert masih merasa tidak puas dengan rasa penasarannya, ia terus termenung melihat rumahnya yang sudah rata dengan tanah.
"Ada masalah apalagi, paman?" tanya Alesse. "Kenapa kau membuat lubang besar di bawah rumahku? Bukankah itu bisa mencelakai kami?" tanya Robert. Alesse pun tertawa.
"Tentu saja tidak! Lubang itu akan ditutup dengan lumpur berbau menyengat itu, ia tidak akan mencelakai keluargamu," ujar Alesse.
"Jika hanya untuk ditutup, lalu untuk apa lubang itu dibuat?" tanya Robert. "Sebaiknya kau lihat saja setelah semuanya selesai, kau akan sangat terkejut," ujar Alesse.
"Baiklah, aku tidak sabar menantinya," ujar Robert. Sementara rumah mereka sedang dibangun, anak-anak dan istrinya tinggal di rumah Habbi.
Malam pun tiba, Robert tampak duduk termenung di depan perapian sedangkan orang-orang sedang bersenang-senang dengan makan bersama.
"Kenapa paman tidak bergabung?" tanya Alesse. "Bukan apa-apa, sepertinya banyak hal yang tidak aku ketahui di dunia ini, bahkan tentang rumah pun aku masih kalah dengan gadis kecil berusia dua belas tahun. Maaf, bukan maksudku menyinggung usiamu," ujar Robert.
"Tidak masalah, asalkan paman tidak menjadikan usiaku sebagai alasan untuk menyepelekanku. Kita tidak boleh melihat seseorang berdasarkan usia, paman," ujar Alesse.
"Aku tahu, kau adalah seorang bangsawan, tentu saja derajatmu lebih tinggi dari kami semua, bahkan lebih tinggi dari Habbi," ujar Robert.
"Kau salah, paman! Bukan karena aku bangsawan, itu karena aku punya pengetahuan yang lebih banyak dari mereka. Bangsawan bukanlah gelar yang bisa menjadikanmu memiliki keistimewaan khusus, bahkan terkadang rakyat biasa banyak yang membenci para bangsawan," ujar Alesse.
Robert pun akhirnya merasa tercerahkan, ia pun langsung beranjak dari perapian. "Jadi yang perlu kulakukan adalah mencari banyak pengetahuan agar menjadi istimewa?" tanya Robert.
"Benar sekali, tentu saja kau juga harus memerhatikan adab dan moralmu, cara berbicaramu, caramu menghadapi orang lain, itu semua yang akan dinilai orang-orang dan apa yang mereka anggap sebagai istimewa," ujar Alesse.
"Jika menyangkut cara berbicara, lalu kenapa kau cara bicaramu sangat kasar sekali?" tanya Robert. "Karena aku tidak butuh itu, aku tidak tertarik menjadi orang yang istimewa," ujar Alesse.
"Tapi kau terlanjur terlihat istimewa di mata orang-orang," ujar Robert. "Tidak seperti itu di tempat lain, keluargaku menganggap kelahiran anak perempuan sebagai aib bagi keluarga. Mereka tidak pernah menganggap keberadaanku, dan aku juga tidak butuh pengakuan mereka bahwa aku adalah orang yang istimewa. Ada kalanya kau akan dianggap istimewa bagi seseorang, terlepas dari semua kekuranganmu itu, ia tetap menganggapmu istimewa," ujar Alesse.
"Mendengarmu berkata begitu, seolah kau sudah hidup lebih lama dariku," ujar Habbi yang tiba-tiba ikut menimbrung pembicaraan mereka berdua.
__ADS_1
"Jadi, Nona Alice! Kau masih di sini hingga larut malam? Bagaimana jika orang tuamu kebingungan mencarimu?" tanya Habbi.
"Aku tidak akan dicari," ujar Alesse singkat sambil tersenyum, namun ia juga langsung menghilang dalam kegelapan, ia perlu istirahat untuk menjalani kehidupan di esok harinya.