Alesse'S Connect : The Alchemist

Alesse'S Connect : The Alchemist
Sihir II


__ADS_3

"Karena aku adalah penyihir angin, mungkin aku bisa mengikuti panduan yang ada di halaman ini dan ini," ujar Alesse sambil membuka lembaran buku itu.


Ia mulai memperagakan yang diminta buku itu lalu merapalkan mantra. "Hmm! Angin yah? Apa yang harus kubayangkan untuk menciptakan angin?" Alesse masih kebingungan, akhirnya ia memilih membayangkan kipas angin.


Saat itu juga angin menghembus dari tangannya ke arah jendela dengan kuat. "Duh, hampir saja rumah ini roboh, aku tidak sadar memilih baling-baling helikopter daripada kincir kipas angin.


Alesse melihat buku panduan itu sekali lagi. "Kalau dipikir-pikir.... ini benar-benar menjijikkan! Apakah aku harus melakukan hal ini setiap kali menggunakan sihir?" Alesse benar-benar keheranan.


Akhirnya terbesit dalam pikirannya untuk melakukan sesuatu yang lain. "Rapalan mantra ini hanya berarti hal-hal yang terkait dengan angin dan udara, lalu gerakan-gerakan lebay ini memang sesuai dengan karakteristik angin. Mungkin aku hanya perlu membayangkan sifat dari angin itu sendiri?" Alesse mencoba menyimpulkan.


Akhirnya ia pun duduk dengan tenang sambil menarik nafas, ia mencoba membayangkan terjadinya siklus pergerakan angin mulai dari perbedaan suhu panas dan dingin yang membuat udara saling berputar untuk mencapai suhu yang merata.


Alesse membayangkan suhu panas berada di tangan kanannya sedangkan suhu dingin di tangan kirinya. Ia melakukan hal itu tanpa menjampi-jampi atau melakukan gerakan khusus.


Akhirnya sebuah pusaran angin kecil pun muncul. "Whoa! Aku bisa melakukannya! Aku bisa mengendalikan udara!" seru Alesse kegirangan.


"Ini tampak seperti pengendalian yang ada di kehidupanku yang sebelumnya!" ujar Alesse.


Ia masih bergumam sendiri, lantaran tangan kanannya terasa panas sedangkan tangan kirinya terasa dingin.


"Kalau aku bisa menciptakan suhu panas, harusnya aku bisa menciptakan api juga! Apakah harus kucoba?" Alesse mulai duduk tenang kembali lalu membayangkan proses terjadinya api.


"Oksigen yang bereaksi dengan unsur lain? Oksigen bertekanan tinggi dapat menghasilkan ledakan... tapi jangan itu! Lebih baik reaksi unsur yang melepaskan elektron," ujar Alesse.


Ia pikir hal itu akan memunculkan api, namun yang ia saksikan adalah kilatan listrik yang saling terhubung di antara tangan kanan dan kirinya.


"Tepat sekali! Energi listrik! Aku hanya memerlukan oksigen untuk merubahnya menjadi percikan api!" seru Alesse. Saat itu juga ledakan pun terjadi dan membuat atap rumahnya terbakar.


Ia sempat batuk-batuk karena kepulan asap dan abu menutupi wajahnya. "Argh! Sialan! Hal ini tidak boleh terjadi!" Alesse mulai membayangkan penyatuan molekul hidrogen dan oksigen sehingga tercipta air.


Ia tidak menyangka air yang entah dari mana datangnya tiba-tiba menyembur melalui tangannya lalu memadamkan kobaran api yang ada di atap rumahnya.


"Whoa! Apakah hanya aku yang mengetahui hal ini? Keturunan Penyihir air? api? angin? Mereka benar-benar bodoh! Aku bahkan bisa memunculkan semua itu tanpa jampi-jampi dan gerakan aneh!" ujar Alesse bangga.

__ADS_1


"Hmm! Bagaimana dengan memunculkan tanah?" Alesse mencoba membayangkan molekul tanah, ia mencari molekul apa saja yang ada di udara yang dapat dibentuk menjadi tanah, saat itulah sebongkah tanah liat muncul di hadapannya.


"Wah? Tanah liat? Bukankah ini lumayan bagus untuk rumah ini?" Alesse tertegun sejenak, ia melirik beberapa koin emas yang masih tergeletak di meja belajarnya.


"Sepertinya aku tidak perlu mencari pekerjaan lagi," pikir Alesse dengan senyuman jahatnya. Ia membayangkan molekul tanah liat yang ada di hadapannya mulai tercerai berai lalu menyatu kembali dengan kerapatan tertentu yang memiliki sifat fisik seperti logam emas.


Akhirnya bongkahan tanah liat itu sepenuhnya menjadi emas. "Gila, kalau begini aku bisa menguasai dunia dalam sekejap!" pikir Alesse.


Saat itulah tiba-tiba detak jantungnya berdebar cepat kembali, ia tidak bisa menahannya, ia merasa kalau dirinya akan meledak.


"Apakah ini efek dari penggunaan sihir itu? Sakit sekali! Apakah aku akan mati untuk yang kedua kalinya?" Alesse langsung tergeletak di lantai dan kejang-kejang.


Beberapa menit setelahnya detak jantungnya kembali normal, ia mendapati tanduk megah sudah terpasang di kepalanya.


"Hmm! Sebenarnya gejala apa ini? Apakah aku masih bisa menggunakan sihir ini?" Alesse mencoba sesuatu yang lebih ringan daripada merubah tatanan molekul, ia hanya mengubah bentuk dari bongkahan emas itu menjadi kepingan logam layaknya uang emas yang ia miliki.


"Sepertinya aku baik-baik saja. Mungkin saat ini aku tidak menggunakan sihir berat itu, aku hanya akan mengubah bentuk-bentuk dari bendanya saja. Lagi pula aku juga harus membereskan masalah sanitasi di rumah ini," ujar Alesse.


Akhirnya ia pun membuat rumah itu menjadi tampak ideal baginya, ia sengaja tidak mengubah bagian terluarnya agar tak terlihat mencurigakan, namun ia mengubah total bagian dalamnya agar tidak kumuh dan nyaman ditinggali.


"Halo! Nona muda! Apakah kau ada di dalam?" tanya seorang pria yang rupanya adalah Andreas.


Akhirnya Alesse langsung menyelimuti tubuhnya dengan kain agar tanduknya tidak nampak jelas.


"Oh, Ada apa? Aku baru saja selesai mandi," ujar Alesse. "Mandi?" Andreas keheranan, ia juga terkejut dengan isi yang ada di dalam rumah.


"Eh? Apa-apaan semua ini? Benarkah ini rumah yang aku jual padamu? Sepertinya berbeda sekali dari yang aku lihat beberapa bulan yang lalu," ujar Andreas.


"Ya ampun! Bahkan terakhir kali kau melihatnya beberapa bulan yang lalu? Kau serius menjual rumah kah?" tanya Alesse kesal.


"Ternyata benar-benar luar biasa di dalam sini! Kau bahkan membersihkannya dalam waktu yang singkat! Aku tidak tahu ada rumah sebagus ini! Aku menyesal telah menjualnya," ujar Andreas tidak percaya.


Alesse memang tidak terlalu banyak merubah denah rumah itu agar tidak terlihat mencurigakan. Ia pun menyuguhi Andreas dengan teh yang terbuat dari sihirnya.

__ADS_1


Karena tidak tahu, Andreas pun langsung menyeduh secangkir teh itu. "Wah! Minuman apa ini? Rasanya begitu sempurna! Aku belum pernah merasakan teh yang rasanya merata, biasanya bagian paling bawah lebih kuat aroma tehnya karena mengendap, tapi yang ini benar-benar sempurna!" seru Andreas, ia juga menatap Alesse penuh heran dan prihatin.


"Kau.... sepertinya cukup menderita di kastilmu yah? Dilihat dari keterampilanmu dalam bersih-bersih, bahkan dalam menyuguhkan teh ini, sepertinya kau diperlukan layaknya pelayan di di sana." Andreas menyimpulkan. Ia mencoba membayangkan gadis kecil itu disuruh-suruh ke sana kemari dan itu membuat hatinya merasa iba.


"Aku minta maaf merepotkanmu hari ini. Berhadapan dengan orang dewasa seperti kami pasti begitu sulit hingga kau mengeluarkan beberapa koin emas berhargamu," ujar Andreas kemudian menyerahkan kembali beberapa koin emas yang diberikan oleh Alesse secara cuma-cuma.


"Apakah aku tampak begitu menyedihkan?" tanya Alesse sambil berkacak pinggang. "Tidak usah bersikap tegar, nona muda. Kau bukan seorang pria yang bisa memendam rasa sakit begitu dalam," ujar Andreas. Alesse hanya menghela nafas, ia pun mengeluarkan lusinan koin emas ke meja


"Kalau seperti ini kau masih menganggapku menyedihkan?" tanya Alesse sekali lagi. Andreas benar-benar terkejut. "Ba... bagaimana kau bisa memiliki uang sebanyak ini?" Andreas tercengang. Alesse hanya tersenyum jahat bak iblis, hal itu membuat rasa iba Andreas menghilang tiba-tiba.


"Paman, tidak ada yang perlu dikasihani dariku, cukup bertindak saja layaknya pebisnis profesional! Kau tahu? Kita hanya berbicara masalah keuntungan," ujar Alesse.


Andreas hanya bisa menggelengkan kepala. "Kau benar-benar gadis yang mengerikan!" ujar Andreas. "Benar sekali! Anggap saja begitu. Takutlah padaku dan jadikan itu sebagai jaminan agar aku bisa terus memercayaimu," ujar Alesse. Selagi ia berbicara dengan berlagak sombong, detak jantungnya berdebar cepat, namun karena ia sedang berbicara, ia tidak terlalu menyadarinya.


Andreas pun benar-benar ketakutan setelah melihat dua tanduk megah Alesse. "Ras Dracal? Ke... kenapa kau bisa ada di sini?" Andreas hendak lari hadapan Alesse.


Alesse sempat kesulitan berbicara karena taring yang tiba-tiba memanjang keluar dari mulutnya. Saat itu juga dia sadar kalau tanduk megah sudah muncul di kepala.


"Huh, ini sangat merepotkan!" ujar Alesse. Ia langsung menutup pintu dengan hembusan angin yang kuat agar Andreas tidak bisa keluar dari rumahnya.


Andreas berusaha membuka pintu itu dengan panik, namun tidak menghasilkan apapun, ia tidak bisa membukanya.


"To.... tolong! Ja... jangan hisap darahku!" ujar Andreas ketakutan. "Eh? Menghisap darah? Untuk apa aku melakukan hal itu?" tanya Alesse keheranan.


Andreas berbalik badan sejenak, namun ia melihat Alesse yang sudah kembali seperti semula.


"Kau kenapa?" tanya Alesse sambil memasang wajah keheranan. Ia tahu kalau saat ini Andreas sedang kebingungan karena tanduk dan taringnya telah lenyap kembali.


"Kenapa paman tiba-tiba lari ke pintu?" tanya Alesse berpura-pura seolah tidak terjadi apapun.


Andreas terdiam sejenak sambil mengerutkan dahi, ia pikir yang baru saja ia lihat itu hanya halusinasi saja.


"Ehm! Sepertinya aku sedang mabuk.... padahal cuma minum setengah gelas tadi," ujar Andreas sambil menggaruk kepala.

__ADS_1


"Oh, begitu kah? Kenapa kita tidak bicarakan bisnis kita lebih lanjut?" tanya Alesse sambil mengajak Andreas duduk kembali. Akhirnya mereka membicarakan banyak hal terkait kota perbatasan, kehidupan di akademi, bahkan kasus-kasus yang sering terjadi di dalamnya.


__ADS_2