
Alesse berdiri di depan gerbang sekolah yang tampak megah. "Hmm! Meskipun berada di perbatasan, sekolah ini bisa dibilang cukup mewah daripada yang kubayangkan," ujar Alesse.
"Tentu saja! Ini adalah sekolah kelas bangsawan!" ujar salah seorang gadis sambil mengibaskan kipas yang ada di tangannya.
"Claire! Jangan membuatku menanggung malu!" ujar salah seorang remaja sambil menarik lengan gadis itu.
"Apa ini? Kalian semacam tunangan?" tanya Alesse. "Tunangan? Mana mungkin aku bertunangan dengan laki-laki bodoh ini," ujar gadis itu.
"Hei, sebaiknya kau sadar diri juga! Siapa yang mau bertunangan denganmu? Tidak ada! Kenyataan bahwa aku adalah kembaranmu, itu sudah menjadi mimpi burukku," ujar remaja itu.
"Buset, bodohnya minta ampun! Dia mungkin akan membuat saudarinya menangis," pikir Alesse dalam hati.
Meskipun tidak sesuai dengan prediksinya, gadis itu langsung menampar remaja itu dengan keras, menimbulkan perhatian banyak orang.
"Argh! Apa yang kau lakukan? Benar-benar membuat malu!" ujar remaja itu kesal, matanya tampak berkaca-kaca karena menahan sakit dari tamparannya.
"Ini semua gara-gara gadis itu! Karena dia menyebut kita tunangan!" ujar gadis itu kesal sambil menunjuk Alesse.
"Wah, benar sekali nona! Salahkan aku saja dengan begitu pertengkaran kalian akan selesai," ujar Alesse dalam hati, ia hanya tersenyum selagi mereka berdua terus menyalahkannya.
Karena lonceng telah berbunyi, akhirnya Alesse memilih meninggalkan mereka berdua untuk mengikuti ujian masuk sekolah.
Ujian pertama adalah ujian tulis tentang pengetahuan dasar. Bagi orang seperti Alesse, tentu saja hal itu sangatlah mudah, apalagi ia sering mengunjungi perpustakaan sebelum ujian ini diadakan.
Setelah ujian tulis, terdapat ujian tambahan terkhusus peserta yang masih muda, mereka adalah para penyihir yang memiliki hak istimewa khusus untuk masuk akademi di usia muda.
Normalnya untuk memasuki akademi besar, persyaratannya adalah berusia minimal lima belas tahun.
Para peserta muda ini akan diuji kelayakannya dengan menunjukkan sihir yang mereka miliki.
Akhirnya ujian pun dimulai, namun Alesse merasa tidak tenang karena ujian itu dipertontonkan kepada banyak orang, bahkan kepada peserta ujian.
__ADS_1
"Aish! Mereka semua menjijikkan sekali! Untuk apa gerakan-gerakan aneh itu? Benar-benar tidak tahu malu! Setidaknya jadikan gerakan itu layaknya gerakan beladiri!" ujar Alesse muak, ia tidak tahan melihat aksi para peserta yang sangat lebay itu.
Akhirnya gilirannya pun tiba. Ia melangkah maju di hadapan peserta lainnya.
"Eh? Bukankah dia seorang gadis? Namanya Alice kan?" tanya salah seorang kebingungan karena pakaian yang Alesse kenakan.
"Bukankah dia cantik? Aku belum pernah melihat wajah yang seperti itu!" ujar salah seorang yang lain. "Matanya lumayan sipit, apakah dia berasal dari kerajaan timur?" Bisikan terus terdengar di telinga Alesse lantaran ia menjadi pusat perhatian.
Alesse sudah pasrah dengan perhatian orang-orang, ia tidak berusaha menyembunyikan jati dirinya.
"Argh, karena mereka sudah tahu, mungkin aku tidak perlu segan-segan menunjukkan apa yang aku bisa," ujar Alesse. Ia hanya memutar-mutar telapak tangan kanannya.
"Membelah inti atom untuk mendapatkan energi.... perlukah aku membuat reaksi nuklir? Tapi itu terlalu berbahaya untuk orang-orang di sini," pikirnya.
Akhirnya ia memutuskan untuk menyambar target dengan aliran listrik. Ia mengarahkan tangan kanannya ke target. Seketika aliran listrik muncul menyambar target, menimbulkan target itu terbakar.
Para peserta dan penguji kebingungan dengan apa yang sebenarnya terjadi.
"Tadi itu apa? Dia mengeluarkan sihir tanpa membaca mantra dan gerakan dasarnya?" tanya salah seorang keheranan.
"Nah! Dengan ini semuanya beres! Nilaiku tidak akan terlalu mencolok karena fenomena ambigu ini," ujar Alesse dalam hati kemudian kembali duduk di kursinya.
"Hei! Hei! Bagaimana caramu melakukannya tadi? Kok bisa tanpa merapal mantra!" seru salah seorang yang duduk di samping Alesse. "Rahasia keluarga," jawab Alesse.
"Wah! Lihat-lihat! Itu! Peserta selanjutnya adalah Dark Warden!" seru salah seorang peserta.
"Dark Warden? Raya Stephen?" Alesse mencoba memeriksa siapa peserta selanjutnya.
"Benar juga, tidak mungkin Raya Stephen masih hidup sekarang. Aku tidak menyangka akan bertemu dengan Dark Warden generasi selanjutnya, semoga anak itu tidak tumbuh menjadi buaya darat seperti pria itu," ujar Alesse dalam hati.
"Para peserta sekalian! Hari ini kita kedatangan peserta istimewa kita yaitu Dark Warden, Norman Devandra," ujar penguji. Para peserta pun teralihkan perhatiannya dari Alesse ke anak bernama Norman itu.
__ADS_1
Norman langsung maju ke tempat pengujian. Berbeda dengan peserta lainnya, untuk dirinya disediakan enam target yang berbeda.
Anak itu mulai merapal mantra sambil melakukan gerakan tertentu. "Loh? Mantra apa itu? Aku tidak pernah dengar!" ujar salah seorang peserta. "Gerakannya juga berbeda!" ujar peserta lainnya.
"Bukan berbeda! Itu kombinasi dari semua jenis sihir yang ada. Ia menggabungkan keenam mantra sihir!" seru salah seorang.
Para penonton mulai bertepuk tangan melihat aksi anak itu. "Kerja bagus, perhatian terhadapku kini teralihkan semua padanya!" seru Alesse.
Norman mulai menyerang target pertama dengan air, kemudian api, listrik, tanah, dan angin.
"Baru lima! Tinggal satu target lagi! Apa yang akan dia lakukan?" tanya salah seorang peserta penasaran.
Alesse juga ikut memerhatikannya. Anak bernama Norman itu mulai menarik nafas sedangkan tubuhnya tiba-tiba membesar membuat pakaiannya robek. Belum selesai sampai di situ, tanduk megah pun muncul di kepalanya.
"Sandy?" Hanya itu yang terbesit di pikiran Alesse. Entah kenapa melihat anak itu ia teringat dengan Sandy.
Akhirnya ia terus memerhatikan anak itu. Dalam sekejap setelah ia memerhatikan, anak itu melirik ke arahnya. Mata mereka berdua saling bertatapan.
Saat itu juga jantung Alesse berdebar cepat. Ia tahu apa yang akan terjadi setelah ini dan memutuskan untuk pergi dari keramaian.
Ia langsung pergi ke tempat sepi untuk menenangkan diri. "Apa-apaan tadi itu? Dia menyadari keberadaanku? Tapi kenapa aku? Dari sekian banyak orang, dia langsung menatapku seolah keberadaanku sangat mengusiknya," pikir Alesse.
Tanduk megah pun muncul di kepalanya, sedangkan taringnya mulai memanjang. Ia langsung membuat dinding di antara ruangan kecil itu agar tidak ada orang yang melihatnya.
Setelah detak jantungnya kembali normal, ia mencoba membuat cermin untuk memastikan tanduk dan taringnya benar-benar hilang.
Setelah itu ia pun kembali ke tempat duduknya. Saat itu Norman sudah menghancurkan target terakhir dengan tinjunya.
Sayangnya belum berakhir sampai di situ, ia mengambil sesuatu yang ada di punggungnya, tepatnya sebuah tongkat.
Alesse benar-benar terkejut melihat tongkat yang dipegang Norman. "Itu punyaku!" ujarnya.
__ADS_1
Norman mulai mengayunkan tongkat itu hingga terbentuk pusaran petir. Ia membuatnya terlihat seperti naga. Para peserta pun bertepuk tangan saat melihat aksinya.
"Hmm! Sepertinya dia tidak tahu cara menggunakan tongkat itu dengan benar!" Alesse menyimpulkan.