
Alesse merasa tidak nyaman dengan gaun yang ia kenakan, ia mencoba menutupi bagian kakinya yang terus tertiup angin itu.
Tak lama kemudian Alice pun datang. "Merasa tidak nyaman dengan pakaian itu? Sepertinya kau baru saja kehilangan ingatanmu lagi. Namun kau tidak terlihat maskulin daripada dirimu yang biasanya," ujar Alice.
"Maskulin? Kau ini bicara apa? Semua yang aku lakukan adalah hal yang natural, aku tidak pernah mencoba bersandiwara. Itu adalah hal yang menjijikkan," ujar Alesse.
"Hmm! Aneh sekali! Prinsipmu sangat berbeda dengan Alesse yang aku kenal!" ujar Alice.
"Daripada berada di sini, bukankah sebaiknya kita pergi ke tempat tertutup? Tatapan liar pria-pria itu sangat membuatku tidak nyaman," ujar Alesse.
Akhirnya mereka berdua langsung pergi ke penginapan sedangkan Alesse langsung duduk di sofa. Alice menatapnya penuh heran.
"Ada apa lagi?" tanya Alesse. "Sekarang sudah tidak ada orang loh, kau bisa bersikap seperti biasanya," ujar Alice.
"Memang..... seperti apa sikapku yang biasanya? Bukankah sudah kubilang, aku selalu bersikap natural, tidak ada sesuatu yang kusembunyikan," ujar Alesse.
"Hmm, cara duduk Alesse bukanlah seperti itu. Kau tahu? ManSpreading. Kau selalu melebarkan kakimu saat duduk," ujar Alice.
"Apa-apaan itu? Kau pikir aku pria tua berusia 30-50 tahunan? Meskipun aku laki-laki, aku tidak pernah duduk seperti itu! Aku meninggal di usia remaja, dan tidak ada otot yang menumpuk di pahaku. Cara dudukku sangatlah biasa, bahkan cara jalanku terlihat anggun dan cepat," ujar Alesse berbangga diri.
Alice hanya menanggapinya dengan wajah masam mengingat selama ini ia selalu direpotkan dengan sikap Alesse yang tampak terlalu jelas seperti seorang pria sehingga ia tidak bisa menyamakan dirinya saat harus hidup dengan berbagi identitas.
"Ada apa dengan tatapanmu? Lagian dari mana kau bisa mengenalku? Seharusnya hanya aku yang tahu nama asliku di kehidupan sebelumnya. Ngomong-ngomong... ada yang aneh darimu! Bahkan wajah kita berdua sangat mirip sekali! Ini seperti wajahku di kehidupan sebelumnya juga. Tapi jangan salah! Bukan berarti aku perempuan! Wajah laki-laki Asia kebanyakan memang tampak feminim saat masih remaja," ujar Alesse.
"Aku tidak akan menyangkalnya kok, karena aku juga Alesse Jawara," ujar Alice. "Heh? Omong kosong apalagi ini? Kenapa kau Alesse Jawara? Alesse Jawara adalah aku!" ujar Alesse.
"Jangan mengklaim seolah kau Alesse Jawara yang asli! Alesse Jawara yang asli sudah mati saat berusia tujuh tahun! Kau ingat saat pergi ke bukit Balai Hitam kan? Seharusnya diingatanmu itu kau terbangun setelah dua tahun terbaring dalam keadaan koma," ujar Alice.
__ADS_1
"Apa mati? Koma dua tahun? Lagian di mana itu bukit Balai Hitam? Aku tidak pernah pergi ke tempat seperti itu! Aku tidak pernah mati atau koma selama dua tahun! Jangan mengada-ada!" ujar Alesse.
"Alesse Jawara yang asli sudah mati! Mungkin ingatanmu yang bermasalah! Alesse Jawara adalah aku! Tubuhku kembali hidup setelah Alex membebaskannya dari bongkahan es!" ujar Alice.
"Kenapa kau menyebutkan nama binatang bodoh itu? Memuakkan sekali! Aku tidak habis pikir melihat bayi harimau lahir dari rahim manusia. Benar-benar menjijikkan!" ujar Alesse.
"Alesse? Apakah begini sifat aslimu saat hilang ingatan? Kau begitu membenci Alex? Dia yang membuatmu hidup, tapi kau malah menghinakannya?" tanya Alice.
"Dia bukan adikku! Mana mungkin aku mengakui satu saudara dengan binatang!" ujar Alesse.
"Alesse, kau benar-benar keterlaluan!" ujar Alice. "Baguslah jika kau menyadarinya! Bencilah aku sesukamu! Seumur hidupku memang dibenci oleh orang-orang," ujar Alesse.
"Kau ini bicara apa, Alesse?" Alice makin kesal dengan sikap Alesse. Ia pun menamparnya karena geram.
Saat itulah Alesse tersentak, kepalanya seperti tertarik ke belakang. Matanya pun tiba-tiba membelalak sambil menatap langit-langit ruangan.
Alice pun segera memegangi tubuhnya sebelum jatuh. "Alesse! Alesse! Ada apa ini? Kenapa jadi seperti ini?" tanya Alice panik.
Secara perlahan matanya pun mulai terpejam hingga penglihatan berubah menjadi gelap gulita. Ia merasa seluruh tubuhnya tenggelam dalam kegelapan.
"Yo, sepertinya kau sedang kebingungan," ujar salah seorang. Alesse pun menengok ke belakang dan mendapati sosok yang sama persis seperti dirinya.
"Kau siapa?" tanya Alesse. "Pertanyaan yang sederhana, namun sulit dijawab bila kondisinya seperti ini. Kalau aku mengatakan bahwa namaku Alesse Jawara, apakah kau akan percaya?" tanya sosok itu.
"Sebenarnya siapa kau? Kenapa banyak sekali orang yang mengaku-ngaku sebagai diriku?" tanya Alesse.
"Sebenarnya dalam sehari ini beberapa ingatanku mulai pulih. Berangsur-angsur seperti lembaran yang terbuka pada buku secara perlahan," ujar sosok itu. Alesse hanya menatapnya dengan wajah masam.
__ADS_1
"Maaf, aku sedang berlatih bertele-tele agar naskah cerita ini menjadi semakin panjang," ujar sosok itu.
"Jadi? Apa yang ingin kau katakan tentang ingatanmu itu?" tanya Alesse. "Aku sedikit mengingat kehidupanku yang sebelumnya. Aku ini meninggal di usia 49 tahun loh, menjadi pria yang gagal membesarkan anak-anaknya dengan baik. Tapi bukan berarti anak-anakku tumbuh menjadi anak-anak yang buruk, cukup aku saja yang buruk, anak-anakku tumbuh menjadi orang-orang yang sangat membanggakan. Kuharap mereka tidak mengikuti jejak ayah mereka ini," ujar sosok itu.
"Kau.... jangan-jangan kau adalah orang yang dibicarakan oleh gadis bernama Alice itu?" tanya Alesse. "Benar sekali! Sudah kuduga orang-orang yang bernama Alesse itu memang cepat tanggap dalam menyimpulkan cerita," ujar sosok itu.
"Jadi, kenapa aku berada di sini? Kenapa aku tiba-tiba hidup di tubuh seorang gadis?" tanya Alesse.
"Entahlah, aku juga tidak tahu. Menurut ingatanku, dahulu kita berdua pernah saling berjumpa, bukankah menarik? Alesse bertemu dengan Alesse, memiliki wajah yang sama dan latar keluarga yang sama, bahkan tempat tinggal yang sama," ujar sosok itu.
"Apa yang kau bicarakan? Kenapa ada hal mustahil seperti itu?" tanya Alesse. "Fenomena seperti itu bisa terjadi loh. Aku bahkan menjulukimu sebagai.... Equal Alesse. Yeah, karena sama-sama Alesse Jawara. Sayangnya saat itu kita berdua benar-benar bermusuhan. Sepertinya ada satu momen di mana kau membuat keputusan yang berbeda denganku, menciptakan sebuah keadaan yang sangat berbeda dari cerita Alesse Jawara ini," ujar sosok itu.
"Sebuah keadaan yang berbeda?" tanya Alesse. "Yeah, sebenarnya aku bukanlah orang yang memilih juga. Gadis yang tadi kau temui adalah Alesse Jawara yang sebenarnya. Dia meninggal di usia tujuh tahun karena rasa penasarannya dengan retakan Abyss. Setelah itu ia dihidupkan kembali oleh adiknya, Alex. Meskipun sebenarnya hanya tubuhnya yang hidup, sedangkan jiwanya sudah pergi entah kemana, namun beberapa ingatannya masih tertanam di otaknya dan begitulah aku bisa hidup sebagai Alesse Jawara," ujar sosok itu.
"Tidak mungkin! Mana ada cerita seperti itu! Bahkan dongeng pun tidak ada!" ujar Alesse. "Oh, terkait dongeng itu.... sepertinya hidup kita berdua juga beda karena satu hal. Aku mendapatkan sebuah buku aneh yang ajaib, berisi dongeng-dongeng, sedangkan kau..... sepertinya tidak tertarik dengan hal-hal yang berbau fantasi. Itulah yang membedakan kita berdua! Kau bahkan sangat benci dengan kenyataan bahwa adikmu bisa berubah wujud menjadi harimau," ujar sosok itu.
Alesse hanya terdiam sambil mencerna perkataan sosok itu. "Awalnya aku juga merasakan hal yang sama sepertimu, namun seumur hidupku aku merasa berutang budi pada Alex. Dari pada dibilang adik, ia seharusnya yang menjadi orang tuaku karena yang memberikanku sebuah kehidupan meskipun bukan dari bayi, meskipun ia hanya memantik kehidupan dari sebuah mayat yang membeku dalam bongkahan es. Rasa benciku padanya pun hilang," ujar sosok itu.
"Jadi, kau adalah Alesse dari sisi protagonis sedangkan aku adalah Alesse dari sisi antagonis?" tanya Alesse.
"Siapa yang bilang kalau kau adalah tokoh antagonis? Aku tidak pernah mengatakan hal itu. Aku bahkan menyebutmu dengan sebutan Equal Alesse, bukan Alesse antagonis. Aku tahu kok misi muliamu yang ingin menghentikan segala kerusakan dan fenomena alam yang menyalahi semua hukum pengetahuan seperti fisika, kimia, biologi, dan sebagainya. Sayangnya cara yang kau gunakan itu salah, sehingga kita bertemu dan bermusuhan. Aku tidak bisa membiarkan orang dengan wajah dan nama yang sama mencoreng identitasku," ujar sosok itu.
"Jadi aku pun kalah dan mati saat menjadi musuhmu? Hidupku sangat tragis sekali! Ingatanku mulai kembali secara perlahan-lahan, namun semakin dipikir-pikir, hidupku benar-benar payah," ujar Alesse.
"Baiklah, mungkin mulai hari ini kau akan berbagi hidup denganku. Tapi jangan gunakan tubuhku seenaknya loh! Orang-orang akan berpikir bahwa aku adalah orang gila berkepribadian ganda. Aku sudah lelah berbagi hidup dengan Alice, jangan sampai kau membebaniku juga," ujar sosok itu.
"Lalu? Seperti apa aku bisa hidup di tubuhmu?" tanya Alesse. "Seperti yang kau alami tadi. Karena kau mati di usia yang cukup muda, kau bisa bersikap natural asalkan jangan mengaku-ngaku bahwa kau adalah laki-laki," ujar sosok itu.
__ADS_1
"Hmm, kasihan sekali pemilik tubuh yang asli malah harus bersandiwara saat menggunakan tubuhnya," ujar Alesse.
"Mau gimana lagi? Aku hidup sebagai Alesse hingga menjadi pria dewasa, aku tidak bisa mempertahankan sikap anggunku atau anak-anakku akan menirunya, itu akan merepotkan," ujar sosok itu.