Alesse'S Connect : The Alchemist

Alesse'S Connect : The Alchemist
Alesse Jawara


__ADS_3

Alesse menatap wajahnya pada cermin, rambut panjangnya membuat dirinya semakin ragu dengan identitasnya.


"Dilihat dari manapun juga ini adalah wajah gadis kecil. Aku tidak menyangka terlihat begitu feminim seperti ini," pikir Alesse dalam hati. Akhirnya ia memutuskan untuk memotong rambutnya, ia mengingat-ingat model rambutnya di kehidupan sebelumnya.


"Walah, tidak kusangka! Ternyata wajahku yang sekarang benar-benar mirip dengan wajahku di kehidupan sebelumnya," ujarnya. Ia pun mengenakan seragam sekolahnya seperti biasa lalu berangkat menuju akademi.


Kali ini penampilannya menjadi sangat mencolok karena orang-orang melihatnya. Ia tetap tidak peduli sambil meneruskan langkahnya hingga ke bangkunya.


Norman datang menghampirinya. "Penampilanmu tampak sangat bersahabat sekali, kau benar-benar seperti anak laki-laki," ujar Norman, biasanya ia langsung berjaga jarak saat berbicara dengan Alesse, namun kali ini ia bisa duduk di sampingnya tanpa ragu.


Tak lama kemudian William pun datang mendobrak meja. "Alice! Ada apa dengan rambutmu?" tanya William dengan wajah kecewa.


"Kau kenapa? Bukankah bagus seperti ini? Cocok dengan seragam yang ia kenakan," ujar Norman sambil merangkul bahu Alesse.


"Hei! Jangan seenaknya menyentuh Alice! Dia perempuan! Kau tidak boleh merangkulnya seperti itu!" ujar William, ia langsung menyingkirkan tangan Norman dari bahu Alesse.


"Kau kenapa sih hari ini? Kenapa tiba-tiba jadi peduli padaku? Biasanya acuh tak acuh! Kemana kembaranmu?" tanya Alesse.


"Claire sedang sakit, dia tidak berangkat sekolah," jawab William. Ia merasa terganggu karena Norman duduk di samping Alesse, ia langsung menarik lengannya agar beranjak dari sisi Alesse.


"Kau benar-benar aneh!" ujar Alesse, ia mulai meluruskan kakinya ke meja karena bosan. "Perempuan tidak boleh melakukan hal itu!" ujar William.


"Diskriminasi sekali! Lalu laki-laki boleh melakukannya? Apa alasan yang membedakan aturan itu?" tanya Alesse.


"Perempuan tidak boleh memperlihatkan kakinya ke atas, itu menarik perhatian lawan jenis!" jawab William.


"Jadi, aku terlihat seperti perempuan bagimu?" tanya Alesse sambil menaikkan alisnya. ia bahkan duduk layaknya seorang bos sambil melepaskan kancing baju yang ada di kerahnya.


Wajah William langsung memerah, ia langsung berbalik badan agar tidak melihatnya.


"Kau kenapa lagi? tidak ada apa-apa di dadaku, santai saja," ujar Alesse. "Sikapmu terlalu berlebihan, Alice! Tidak ad bedanya dengan laki-laki," ujar Norman sambil menggelengkan kepala.


"Aku terlalu bosan duduk di sini! Selagi Claire tidak berangkat, aku duduk di sampingmu ya," ujar Alesse kemudian maju ke depan untuk duduk di samping William. Lagi-lagi wajah anak itu memerah.


"Apa yang sebenarnya anak ini pikirkan? Aneh sekali!" ujar Alesse keheranan, ia pun mengabaikannya dan melanjutkan bacaannya.


Beberapa menit kemudian ia mulai menggambar rancangan bangunan yang ingin ia bangun di desa terbengkalai itu, ia ingin mencurahkan semua isi kepalanya di desa itu karena ilmu pengetahuan di tempat itu sangat sedikit.

__ADS_1


"Ka... kau sedang membuat apa?" tanya William canggung, ia belum terbiasa duduk dengan perempuan selain saudara kembarnya.


"Kau tidak perlu tahu, mau dijelaskan beberapa kali pun anak kecil sepertimu tidak akan paham," ujar Alesse.


"Kau berlagak seperti bukan anak kecil saja! Kalau dibandingkan denganku, justru kau lebih kecil!" ujar William.


Alesse meletakkan pensilnya lalu menatap tajam mata William seolah tidak terima dengan perkataannya. "Kau ngajak ribut?" tanya Alesse dengan ekspresi dinginnya, bahkan aura gelap langsung muncul di atas kepalanya, tunas tanduknya perlahan mulai muncul.


"Ma... maaf, aku tidak bermaksud mengejekmu," ujar William panik. Seketika aura gelap Alesse menghilang. "Aku cuma bercanda, aku tidak marah kok, lagian buat apa aku mendengarkan perkataan anak kecil sepertimu," ujar Alesse sambil melanjutkan gambarnya.


"Hahaha, anak kecil ya, aku terlihat seperti anak kecil! Benar sekali," ujar William mengalah, ia tidak ingin membuat Alesse menunjukkan sisi mengerikannya itu.


Pelajaran pun dimulai, namun yang datang ke kelas bukanlah seorang guru, melainkan seorang remaja.


"Heh? Bukankah sekarang pelajarannya pak Granger, kenapa yang datang ke sini anak-anak?" tanya William keheranan.


"Hei, tidak sopan! Kau yang masih kecil dan sangat jauh lebih muda dariku tidak boleh menyebutku anak-anak! Kau dihukum keluar dari kelas!" ujar remaja itu kesal.


"Heh? Aku dihukum?" William terkejut sedangkan anak-anak sekelas menertawakannya.


Dengan berat hati ia beranjak dari kursinya lalu menatap Alesse selama beberapa detik. Ia sangat menyesal karena banyak bicara, padahal ia masih ingin duduk di samping Alesse lebih lama.


"Dasar, anak bodoh itu.... ada-ada saja!" ujar Alesse. Setelah pelajaran di sekolah usai, ia mampir ke tempat Andreas.


"Akhirnya-akhir ini aku jarang melihatmu, sebenarnya kau bekerja di mana? Kudengar tidak ada orang yang memperkerjakan anak berusia 12 tahun, apalagi seorang gadis. Perpustakaan juga tidak mengatakan ada gadis kecil yang bekerja di sana," ujar Andreas.


Alesse agak malas menanggapi pertanyaannya, ia langsung memalingkan wajah sambil menyeduh segelas air yang disuguhkan oleh Andreas.


"Kau tidak pernah mau membagi rahasiamu ya? Bukankah kita adalah rekan bisnis?" tanya Andreas.


"Tetap saja ada batasannya, bukankah mengetahui rahasia orang lain terlalu banyak itu tidak pantas?" tanya Alesse.


"Kenapa tidak pantas?" tanya Andreas. "Mau kuberi contohnya?" tanya Alesse. "Contoh apa?" tanya Andreas. "Rahasia bahwa kau baru saja bersetubuh dengan seorang wanita yang tinggal di perumahan tingkat tiga pagi ini," ujar Alesse.


"Eh... a... apa maksudmu? Aku tidak...." Andreas hendak menyangkal. "Siapa wanita itu? Kekasihmu? Atau jangan-jangan kau memperkosanya?" tanya Alesse.


"Bukan! Kami saling menyukai, dan itu terjadi begitu saja," ujar Andreas. "Oh, begitu kah?" tanya Alesse.

__ADS_1


"Ba... bagaimana kau tahu tentang hal itu?" tanya Andreas, ia merasa sangat malu karena rahasianya diketahui oleh gadis kecil.


"Menurutmu semua rahasiamu pantas diketahui oleh rekan bisnis? Tentu saja tidak, kan? Aku hanya asal menebak saja. Aku hanya kebetulan melihatmu bergerak mencurigakan bersama seorang wanita ke perumahan, dan sekarang kau sendiri yang memberitahuku kalau kau melakukan hubungan intim dengannya," ujar Alesse.


Andreas benar-benar termakan oleh perkataannya, dia benar-benar malu. "Nah, tidak pantas semua rahasia itu diketahui oleh orang lain kan? Meskipun itu rekan kerjamu sendiri. Yeah, sama halnya denganku," ujar Alesse.


"Oh, begitu kah? Jadi kau harus merahasiakan pekerjaanmu? Jangan-jangan kau juga.... bekerja di tempat hiburan?" tanya Andreas, ia langsung menutup mulut karena prihatin.


"Tidak mungkin! Untuk apa aku melakukan hal hina itu? Jika tentang pekerjaanku ada yang mengetahuinya, semua rahasia yang ada di kehidupanku akan terbongkar!" ujar Alesse.


"Begitu kah? Sepertinya aku bisa menggunakan kesempatan itu untuk memanfaatkanmu," ujar Andreas sambil tersenyum jahat.


"Mimpi apa kau coba memanfaatkanku? Aku tidak akan pernah dimanfaatkan, yang ada aku akan memanfaatkan kalian semua, mulai darimu, rekan bisnis, penduduk desa, rakyat kerajaan, aliansi, bahkan mungkin memanfaatkan orang-orang dari berbagai bumi lainnya!" ujar Alesse sambil tertawa, seketika aura gelapnya muncul disertai hembusan angin kencang.


Andreas tercengang saat melihatnya. "Oh, maafkan aku. Sepertinya aku terlalu terbawa suasana," ujar Alesse kemudian kembali duduk dengan tenang sambil menyeduh minumannya. Aura gelapnya pun perlahan mulai redup.


"Kukira kau mengalami kondisi Terkutuk! Mengagetkan saja! Kau ini ras Dracal? Benar-benar ras yang langka! Kudengar raja iblis yang sekarang menikah dengan ras Dracal berambut biru dan memiliki beberapa anak. Atau jangan-jangan..... rahasia yang kau maksud itu adalah...."


"Apa? Kau pikir aku terlihat seperti anak seorang raja? Benarkah?" tanya Alesse. "Hmm! Benar juga! Kudengar raja iblis tidak memiliki anak perempuan, anak mereka semua laki-laki," ujar Andreas. Alesse menatap wajah pria itu penuh curiga.


"Eh, ada apa?" tanya Andreas keheranan, ia merasa tidak nyaman dengan wajah Alesse yang semakin dekat dengannya.


"Aku tahu kalau wajahku ini rupawan, tapi maaf! Aku tidak tertarik dengan gadis kecil," ujarnya.


"Kau ini.... mencurigakan sekali! Dari tadi kau terus membahas tentang raja iblis. Memangnya kau dengar cerita itu dari siapa?" tanya Alesse.


"Banyak orang yang membicarakannya kok!" ujar Andreas, ia mulai berkeringat karena Alesse semakin dekat dengan lehernya.


"Sejauh ini hanya kau yang bereaksi terlalu tenang saat aku mengeluarkan tanduk dan taringku. Padahal orang-orang di akademi pun langsung berlari ketakutan karena mengira aku mengalami kondisi Terkutuk. Kau pasti pernah bertemu dengan ras Dracal sebelumnya kan? Atau jangan-jangan kau memang pernah bertemu dengan raja iblis?" tebak Alesse.


"Baiklah! Baiklah! Biar kujelaskan! Tapi singkirkan taringmu dari leherku dulu!" ujar Andreas, ia sempat menelan ludah karena ketakutan. "Oh, maaf! Aku terbawa suasana lagi, lehermu sangat tebal dan besar, tenang saja... itu tidak akan mudah robek karena banyak otot di sekitarnya," ujar Alesse, ia mulai menopang dagu dengan kedua tangannya.


"Ada apa lagi?" tanya Andreas. "Aku mau dengar ceritamu dengan raja iblis," ujar Alesse.


"Bukan sesuatu yang spesial, aku hanya pernah menjadi pengawalnya saja," ujar Andreas.


"Hmm! Pantas saja! Perawakanmu sangat tidak cocok dengan bisnis yang kau miliki," ujar Alesse. "Tentu saja aku membuka bisnis ini setelah mendapatkan pesangon dari kerajaan!" ujar Andreas.

__ADS_1


"Pesangon? Rupanya raja iblis baik juga ya!" ujar Alesse. Tak lama kemudian perhatian tertuju pada jendela luar.


"Ehm, sepertinya ini sudah saatnya aku pergi!" ujarnya tergesa-gesa. "Pergi? Pergi ke mana?" tanya Andreas penasaran. "Bekerja," ujar Alesse sambil tersenyum, ia pun segera keluar dari tempat Andreas.


__ADS_2