
"Huh! Sudah kuduga akan seperti ini! Tidak kusangka mereka ini pelitnya minta ampun!" keluh Alesse. Ia hanya diberikan beberapa keping emas sebagai uang sakunya untuk seumur hidupnya di sekolah perbatasan kerajaan.
Sekolah itu adalah sekolah yang jaraknya paling jauh dari kota pusat, Nicholas berharap kabar apapun tentang anak itu tidak akan mempengaruhi Darius karena sangat jauh.
"Baiklah, mungkin hal pertama yang kuperlukan adalah... tempat tinggal! Kepingan emas ini mungkin bisa untuk membeli rumah sederhana. Yeah, meskipun tidak sebanding dengan asrama mewah tempat Darius tinggal," ujar Alesse.
Ia pun pergi ke beberapa tempat untuk mencari rumah terdekat dan strategis untuk bersekolah dan membeli kebutuhan sehari-hari. Ia pun sampai di lobi perusahaan.
"Ada apa nona.... eh?" Seorang pria yang berjaga di lobi itu kebingungan karena pakaian Alesse menyerupai laki-laki, namun wajahnya tampak jelas seperti gadis muda.
"Aku ingin membeli rumah di sini, apakah ada yang terdekat dengan pasar dan sekolah?" tanya Alesse.
"Beli rumah katamu? Jangan bercanda! Anak kecil jangan macam-macam di sini!" tegur pria itu. "Sebaiknya kau hati-hati sedang berbicara dengan siapa!" ujar Alesse sambil menunjukkan lencana bangsawan keluarganya.
"Huh? Bangsawan? Kau pikir aku takut? Tempat ini memang adalah tempatnya para bangsawan membuang anak-anaknya yang tidak berguna! Kupikir kau termasuk dari orang-orang itu!" ujar pria itu.
"Hmm! Kau pikir aku hanya dibuang di sini? Aku juga membawa beberapa hal menarik loh," ujar Alesse sambil menunjukkan beberapa koin emas.
"Aku bisa saja menerima uang itu, tapi kau yakin? Rumah sederhana di sini tidak seperti yang kalian bayangkan loh! Tidak seperti kastil para bangsawan! Bahkan bisa jadi itu mimpi buruk kalian jika tidur di tempat seperti itu! Kau pikir hanya kau yang datang ke sini dan memutuskan untuk membeli rumah? Banyak para bangsawan yang datang ke sini dengan niatan sama, namun mereka tidak tahan karena sudah terbiasa dengan kehidupan manja mereka! Sudah tak berguna, manja lagi! Benar-benar tidak bisa diharapkan!" ujar pria itu.
"Aku tidak masalah kok! Anggap saja aku ini sudah terbiasa tidur di kandang kuda," ujar Alesse.
"Serius? Kau itu bangsawan loh, apalagi seorang gadis! Kau tidak bisa menarik kembali perkataanmu! Segera berikan uangnya dan tanda tangani hak miliknya," ujar pria itu.
"Akhirnya kau paham juga, mungkin kita bisa berurusan lebih lama lagi, aku juga memiliki beberapa koin emas lainnya," ujar Alesse.
"Hahaha! Baiklah, kalau begitu perkenalkan, namaku Andreas. Semoga kita bisa semakin akrab, nona muda," ujar pria itu sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, Alesse pun menjabat tangannya.
__ADS_1
"Jadi, untuk perkara pertama.... adakah pekerjaan di sini yang upahnya bisa untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, aku memilih yang cukup untuk kebutuhan satu orang saja," ujar Alesse.
"Pemikiranmu sederhana sekali, nona! Sepertinya tidur di kandang kuda bukanlah bohongan belaka! Maaf, aku tidak bermaksud menyinggung," ujar Andreas. "Gimana? Apakah ada pekerjaan yang ideal seperti itu?" tanya Alesse.
"Kalau terlepas dari masalah pakaian dan penampilan, untuk kebutuhan sehari-hari kau bisa bekerja serabutan di pasar, di sana mungkin banyak yang membutuhkan bantuan untuk mengangkat, memotong, membersihkan, dan lain sebagainya," ujar Andreas. Alesse tampak kecewa mendengar perkataannya.
"Oh, maaf! Benar juga, kau hanyalah anak bangsawan, nama mungkin mau bekerja di tempat seperti itu," ujar Andreas.
"Bukan masalah mau atau tidak mau! Pekerjaan seperti itu justru tidak bisa kulakukan karena aku harus bersekolah!" ujar Alesse.
"Oh, iya lupa! Para bangsawan di sini datang untuk bersekolah! Maaf, karena kau yang pertama kali datang untuk mencari pekerjaan, aku jadi tidak terlalu fokus! Hmm! Jadi, pekerjaan yang pas untuk waktu sekolahmu ya? Kudengar ada perekrutan untuk pustakawan, di sini jarang ada yang minat karena terlalu rumit, kudengar upahnya lumayan besar loh!" ujar Andreas.
"Nah, saran yang tepat sekali! Benar-benar kebetulan yang luar biasa!" seru Alesse, ia langsung memberikan beberapa keping koin emas pada Andreas.
"Eh? Ini untukku?" tanya Andreas terkejut. Alesse mengangguk. "Bu.. bukankah ini terlalu banyak?" tanya Andreas. "Prinsipku adalah menghargai informasi dengan harga yang sangat tinggi! Apalagi terkait buku dan perpustakaan, ini benar-benar berharga!" ujar Alesse.
"Entah kenapa, mendengarmu mengatakan hal itu..... kau terlihat seperti pria sejati!" ujar Andreas.
"Lalu, apakah memujimu itu salah? Apakah aku membuatmu tersinggung?" tanya Andreas dengan perasaan tidak nyaman.
"Tidak kok! Justru aku merasa tersanjung. Kau boleh memujiku untuk hal seperti ini, tapi jangan lakukan itu pada orang lain," ujar Alesse kemudian pergi meninggalkan pria itu setelah mendapatkan informasi tentang perpustakaan.
Ia pun langsung pergi menuju rumah yang baru saja ia beli. Hasilnya memang tidak sesuai dengan harapannya.
"I... ini rumah atau sampah? Kenapa pondasinya miring begini? Terus tempat kotak berisi bak ini adalah toilet? Tempat tanpa peradaban memang benar-benar menyesakkan!" keluh Alesse sambil merebahkan diri di kasur.
Ia memerhatikan brosur dari perpustakaan yang ia bawa, akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke sana terlebih dahulu.
__ADS_1
Awalnya ia hanya duduk untuk mencari buku bacaan. Ia hendak memastikan sistem perpustakaan yang ada di tempat itu sesuai dengan yang ia pikirkan.
Ia pun tertarik untuk membaca buku panduan mengenai sihir dari rak terdepan. Ia pun mulai membacanya.
"Apa yang kau inginkan dari buku anak-anak itu?" tanya beberapa gadis sambil menertawakannya.
Buku yang Alesse pegang memang tampak begitu mencolok dengan warna-warna cerah dan tulisan sederhana, namun Alesse mengabaikan perkataan mereka. Ia tampak serius membaca buku itu dengan seksama.
"Apakah ini beneran? Agar bisa mengeluarkan sihir, aku harus menyebutkan rapalan mantra ini dan tanganku harus begini dan begitu...." Alesse mencoba memperagakan yang ada di buku.
"Lalu aku harus membayangkan titik bakal atau sumber dari sihir itu sendiri..... bahasa macam apa ini? Aneh sekali!" ujar Alesse. Ia pun menghampiri pustakawan lalu menunjukkan isi buku itu.
"Permisi kak, apakah yang tertulis di dalam sini benar?" tanya Alesse. Pustakawan itu menatapnya keheranan.
"Tentu saja, itu adalah pengetahuan dasar semua orang, meskipun beberapa dari mereka ada yang tidak bisa menggunakan sihir. Bukankah kau juga sering membaca ini waktu kecil? Ayah dan ibumu tidak pernah membacakan ini? Kukira semua anak belajar membaca dimulai dari buku ini," ujar pustakawan.
Alesse baru ingat kalau ia bisa membaca karena Darius yang mengajarinya, dan itu pun tanpa buku-buku aneh itu.
"Jadi, kakak juga bisa mengeluarkan sihir dengan memperagakan ini?" tanya Alesse penasaran. "Tentu saja," ujar pustakawan itu. Ia mulai menjampi-jampi rapalan mantra, lalu menggerakkan tangannya sesuai yang ada di buku itu.
Alesse merasa jijik saat melihatnya. Saat itu juga percikan api muncul di ujung jari pustakawan itu.
"Eh, kakak tidak malu saat melakukan hal konyol seperti itu?" tanya Alesse. Pustakawan itu kembali menatap Alesse keheranan. "Kenapa malu? Ini adalah hal yang hebat kan?" tanya pustakawan itu.
"Baik, kak! Lalu, maksudnya membayangkan titik bakal atau sumber dari sihir itu seperti apa?" tanya Alesse.
"Contohnya saja, karena aku penyihir api, maka aku perlu membayangkan api yang mulai tersulut ketika orang mulai menggesekkan kedua batu api," ujar pustakawan.
__ADS_1
"Oh? Begitu kah?" Alesse merasa puas kemudian pulang ke rumahnya Setelah meminjam buku itu. Sayangnya ia melupakan satu hal, ia langsung merogoh sakunya dan mendapati brosur dari perpustakaan itu.
"Sialan! Karena terbawa suasana, aku malah lupa untuk mendaftar kerja," ujar Alesse kesal.