Alesse'S Connect : The Alchemist

Alesse'S Connect : The Alchemist
Kondisi Terkutuk


__ADS_3

"Heh? Istilah Kondisi Terkutuk ternyata masih ada hingga sekarang? Tapi kenapa aku juga mengalaminya? Atau mungkin ini adalah bukti kalau sekarang aku laki-laki?" gumam Alesse, ia mencoba menatap cermin, namun ia tetap ragu.


"Wajah seperti ini.... tidak mungkin kalau ini laki-laki!" pikir Alesse. Selagi ia tertegun, seorang guru pria pun datang mendobrak pintu. Ia mengungsikan anak-anak agar segera keluar sedangkan ia langsung menghadapi Alesse.


Alesse dengan tenang beranjak dari posisi duduknya. "Ja... jangan bergerak!" ujar pria itu waspada, ia juga agak ketakutan.


"Pak guru kenapa? Aku tidak mengalami Kondisi Terkutuk loh! Lihatlah! Aku bahkan masih sadar sepenuhnya, masih bicara denganmu," ujar Alesse.


Tak lama kemudian aura gelap beserta tanduk, dan taring Alesse lenyap. Ia kembali seperti semula. Akhirnya pria yang ada di hadapannya itu langsung terduduk dengan perasaan lega.


"Kenapa pak? Semengerikan itu kah?" tanya Alesse keheranan. "Tentu saja! Yang harus menghadapi anak dengan Kondisi Terkutuk adalah ayahnya sendiri, kalau untuk orang lain mungkin dibutuhkan beberapa orang lagi sedangkan para guru di sini masih sibuk mengajar," ujar pria itu.


"Tapi tenang saja, aku tidak mengalami Kondisi Terkutuk kok," ujar Alesse. "Iya, aku tahu! Mana ada seorang gadis yang mengalami Kondisi Terkutuk," ujar pria itu kemudian pergi keluar kelas.


Orang-orang yang menantinya di luar langsung memberikan tepuk tangan yang meriah padanya. Mereka pikir ia baru saja berhasil meredam Kondisi Terkutuk yang dialami Alesse.


"Pak Braun, aku tidak menyangka kau mampu menghadapi anak dengan Kondisi Terkutuk sendirian! Ini adalah sebuah prestasi yang besar!" seru salah seorang wanita paruh baya. Beberapa guru lainnya juga terkesan padanya.


Pria bernama Braun itu kebingungan harus menanggapi orang-orang seperti apa. Ia juga tidak ingin mengecewakan rasa kagum mereka dengan mengatakan kalau Alesse sebenarnya tidak mengalami Kondisi Terkutuk. Akhirnya ia menerima pujian itu dengan terpaksa.


"Tapi kenapa perempuan bisa mengalami Kondisi Terkutuk?" tanya William, membuat wajah Braun menjadi pucat. Pria itu menatap Alesse seolah meminta penjelasan darinya. Alesse hanya memalingkan wajah seolah tidak peduli padanya.


"Kondisi Terkutuk bisa terjadi pada siapapun, entah anak-anak atau orang dewasa. Begitu pula untuk laki-laki dan perempuan, meskipun Kondisi Terkutuk untuk perempuan sangatlah langka," ujar salah seorang pria paruh baya yang kebetulan baru sampai lalu mengusap-usap kepala Norman.


"Kakek!" seru Norman lalu memeluknya. "Ke... kepala sekolah?" Braun tampak terkejut. Anak-anak kebingungan lantaran para guru memberikan hormat kepadanya dengan sedikit menundukkan kepala.

__ADS_1


"Kondisi Terkutuk bisa terjadi ketika seseorang terlalu senang, terlalu marah, terlalu sombong, terlalu sedih, dan masih banyak ekspresi berlebihan yang membuat Kondisi Terkutuk itu muncul. Apalagi di masa anak-anak, kalian mungkin akan sering melihatnya ketika sudah remaja," ujar pria paruh baya itu.


Ia terus menatap Alesse dengan tatapan dinginnya. "Biasanya anak perempuan sudah puas mengutarakan ekspresinya lewat wajah dan mulut, sepertinya kau memiliki ambisi yang besar yang setara dengan laki-laki, benar-benar merepotkan!" ujar pria paruh baya itu.


"Kakek ini ngomong apaan sih? Dia terlalu diskriminatif terhadap perempuan," ujar Alesse dalam hati. Akhirnya Alesse pun masuk dalam pengawasan para guru karena kejadian itu.


Setelah beberapa hari terus menerus diawasi, Braun merasa bersalah lantaran ia hanya menerima pujian orang-orang tanpa pikir panjang, sedangkan Alesse harus mengalami kondisi yang tidak menyenangkan.


Akhirnya ia pun memanggil Alesse ke ruangannya. "Ada apa membawaku ke sini, pak Braun?" tanya Alesse.


"Maaf, karena pak guru kau jadi terlibat hal yang tidak nyaman," ujar Braun. "Aku tidak terlalu peduli, selama mereka tidak mengganggu aktivitasku, aku akan diam saja. Tapi kalau mereka berani mengusikku.... mungkin aku akan menghisap darah mereka sampai kering!" ujar Alesse dengan memasang wajah menyeramkan, seketika taring dan tanduknya muncul, membuat Braun ketakutan.


"Hmm? Kenapa dari semua kata ancaman, aku memilih menghisap darah? Aneh sekali! Padahal aku belum pernah melakukannya," ujar Alesse sambil melirik ke arah Braun.


Saat itu juga Braun terjatuh ke lantai karena ketakutan, ia merangkak menuju pintu untuk keluar, namun tidak mampu berdiri.


"Ja... jangan hisap darahku! Ampunilah aku," ujar Braun ketakutan. "Aku cuma bercanda kok," ujar Alesse singkat, ia merubah suasana genting menjadi melegakan seketika, bahkan tanduk dan taringnya langsung menghilang.


Braun langsung terbaring lemas setelah merasa lega,ia pikir nyawanya akan melayang saat itu juga.


"Halo! Pak Braun! Bapak baik-baik saja?" tanya Alesse sambil mengguncang-guncang tubuh Braun, namun pria itu tetap bergeming.


"Heh? Padahal aku belum menghisap darahnya loh," ujar Alesse. Sayangnya semakin ia perhatikan denyut nadi yang ada di leher pria itu, ia semakin tertarik hingga akhirnya ia menggigitnya.


"Aish! Apa yang sedang kulakukan sih? Ada-ada saja!" ujar Alesse setelah melepaskan gigitannya yang tak berarti itu. Ia pun meninggalkan Braun yang tak sadarkan diri di ruangannya kemudian pulang ke rumahnya.

__ADS_1


Setelah banyak bergumam di kamarnya, ia pun mulai mencari cara menggunakan sihir listriknya, ia mencoba melakukan hal yang sama seperti yang Sanay lakukan, menangkap gelombang sinyal.


"Aku sudah memberikan fitur perbaikan diri secara otomatis pada Jawara, seharusnya ia bisa bertahan selama bertahun-tahun kecuali jika ada yang sengaja menghancurkan atau menonaktifkannya. Sedangkan yang bisa menonaktifkannya hanyalah aku seorang," ujar Alesse.


Ia berharap bisa menangkap aktivitas listrik dari benda elektronik. Sayangnya setelah berjam-jam memindai, ia tidak menemukan apapun.


"Udara di tempat ini benar-benar bersih, sepertinya manusia di zaman ini benar-benar di puncak genetika yang sangat bagus karena tidak terpapar radiasi." Alesse menyimpulkan.


Selagi memindai gelombang elektromagnetik, ia pun menyadari suatu hal yang ganjal. Beberapa meter di bawah rumahnya tampak aneh.


"Hmm? Apa-apaan ini? Sepertinya di bawah rumahku terasa begitu rumpang," ujarnya kemudian mengecek tiap lantai yang ada di rumah itu dan mendapati bekas timbunan tanah.


Ia pun membongkar timbunan tanah itu dan menemukan sebuah pintu. "Rubanah? Di rumah yang sangat sederhana ini?" Alesse tidak percaya, ia pun mencoba membuka pintu dan menuruni tangga.


Sayangnya tangga yang rapuh dalam sekali injak itu membuatnya terperosok ke dalam. "Heh, benar juga! Tentu saja tidak mungkin ada rubanah di rumah seperti ini! Ternyata hanya sebuah gua. Mungkin ini adalah rute untuk melarikan diri!" Alesse menyimpulkan lagi.


Ia mencoba menelusuri ke arah mana gua itu akan mencapai jalan buntu.


Setelah berjam-jam menelusurinya, ia pun dapat menemukan terik cahaya dari sebuah lubang.


Ia mendapati dirinya berada di luar benteng kota, saat itu hari sudah senja dan pemandangan padang rumput di sana sangatlah indah.


"Kapan terakhir kali aku terpana dengan pemandangan seperti ini?" gumam Alesse. Ia pun mengingat kilas balik dari kehidupan sebelumnya. Dirinya saat itu terlalu disibukkan dengan buku hingga mengabaikan semua yang ada di sekitarnya.


"Hmm! Ternyata hidupku dahulu benar-benar tidak santai yah! Tiap hari menatap buku pasti sangat menjenuhkan," ujarnya.

__ADS_1


Setelah berjalan sejam lebih tanpa tujuan, ia mendapati sebuah desa yang sangat bobrok. Orang-orang pun menatapnya keheranan, mereka tidak menyangka ada anak bangsawan yang mendatangi tempat mereka.


__ADS_2