
“Tugas gue yang kemarin udah selesai, Za? Males gue kalau udah berurusan sama tugas.”
“Udah.” Balas Aleyza singkat lalu memakai helm yang tadi Athaya berikan padanya. “Gue juga pengertian kali, lo kalau ketemu matematika seketika kebodohan lo itu bertambah.”
Athaya menyengir lebar. “Aleyzayang kalau ngomong emang udah paling bener dah!”
“Ck! Sahabatan sama lo dari masih dalam perut itu kan bikin gue tau lo sedalam-dalamnya.”
“Itu gue juga lo tau?”
Aleyza refleks menampol kepala Athaya yang sudah terbentengi oleh helm. “Gila lo!”
“Ayolah Zayang, nggak usah malu-malu gitu.” Balas Athaya kemudian terkikik geli.
“Nggak boleh mesum-mesum gitu! Kita belum nikah ya!”
“Jadi, mau nikah kapan nih?” tawar Athaya.
“Minggu ini gimana?”
Athaya menggeleng cepat. “Hari ini aja gimana?”
“Ayok!” seru Aleyza semangat.
“Eh, Za,” ujar Athaya membuat dahi Aleyza berkerut bingung. “mau nikah gimana, kita aja beda agama.”
Senyum dibibir Aleyza langsung luntur. Wajah gadis itu berubah suram. “Iya, kita beda.”
Athaya mengangguk menyetujui. Kenyataan yang tidak bisa mereka hindari membuat keduanya merasa tertekan. Keduanya saling mencintai. Namun, mereka tahu kalau keyakinan mereka berbeda.
“Udah, nggak usah sedih gitu. Jodohkan ditangan tuhan.” Athaya tersenyum menenangkan Aleyza. Ia mengusap pelan pucuk kepala Aleyza.
“Iya gue tau, masalahnya jodoh ditangan tuhan itu ada dituhan gue atau tuhan lo?” tanya Aleyza lirih.
“Zayang, tuhan memang satu. Kita nya aja beda.” Jawab Athaya, ia menghela napas pelan dan melanjutkan ucapannya. “Biarkan tuhan yang menjawab sampai kita akan terus Bersama.”
***
“Proposal untuk kegiatan bazar minggu depan udah selesai belum?” tanya Aleyza kepada Abram selaku sekretaris OSIS SMA Trunajaya. Lelaki itu mengangguk sembari mengacungkan kedua jempolnya.
“Lo udah buat perincian tentang keuangan bulan ini, kan?” kini Aleyza beralih bertanya kepada Caca selaku bendahara OSIS.
“Dikit lagi kelar kok, kalau udah selesai gue kasih ke lo.” Balas Caca sembari mengumbar senyum meyakinkan kepada Aleyza.
Aleyza mengangguk-anggukkan kepalanya. Waktu yang seharusnya ia gunakan untuk istirahat justru tersita karena harus melakukan rapat OSIS.
“Kalau untuk mulai buka pendaftaran ekskul, kira-kira mau kapan? Banyak adik kelas yang nanyain terus soalnya.” Kata Fais, wakil ketua OSIS.
“Seminggu setelah ini. Masih banyak hal yang harus kita urus juga kan.” Balas Aleyza dengan cepat. Jujur, ia sedang Lelah dengan seluruh tanggung jawabnya ini. Kepalanya terasa sedikit pening, masih ada banyak sekali kegiatan yang harus dirinya urus nanti.
“Boleh. Nanti gue kasih info ke setiap ketua ekskul nya aja ya.” Balas Fais menyetujui. Aleyza hanya mengangguk sebagai jawaban.
Getaran yang berasal dari handphone Aleyza membuat cewek itu dengan cepat mengambil handphone nya dari saku seragam. Senyum tipis terukir di bibirnya Ketika melihat nama seseorang yang tertera di layar handphone nya.
Aleyza tertawa pelan. Cowok itu memang hobi sekali mengode dirinya. Kedua jempolnya mulai mengetikkan balasan untuk Athaya, mengatakan bahwa ia akan segera ke kantin untuk makan Bersama.
Aleyza bangkit dari duduknya, membuat atensi beberapa anggota OSIS yang lainnya tertuju kepada cewek itu. Fais yang tahu Aleyza akan pergi itu pun langsung mencekal tangan cewek itu.
“Lo mau kemana? Rapatnya belum selesai kan?’ tanya Fais, menghalangi niat Aleyza untuk pergi dari ruangan OSIS untuk menyusul Athaya di kantin.
“Mau makan bareng sama Athayang, lagi pula kasian yang lain belum istirahat. Jadi kalian semua bisa istirahat dulu.” Balas Aleyza.
__ADS_1
“Lah, ta_”
“Fais, lo tau kan Athayang gue kalau udah ada mau nya gimana? Lagi pula Athayang penting lebih dari segalanya, pokoknya Mas Athayang paling utama. Udah ah, gue mau makan bareng dia dulu.” Setelah mengatakan itu, Aleyza segera pergi dari ruangan OSIS membuat Fais langsung diam seribu Bahasa. Ya, bagaimana pun juga Ketika Athaya yang menginginkan Aleyza atau bahkan sebaliknya tidak aka nada yang bisa untuk menghalangi mereka.
***
Sejak tadi, Aleyza hanya sibuk memandang Athaya yang tengah memakan mie ayamnya. Sesekali ia akan tertawa pelan kala melihat mulut cowok itu yang belepotan, bahkan ia tak segan-segan mengelap mulut cowok tersebut menggunakan sapu tangan kesayangannya.
“Suapan terakhir.” Athaya memasukkan suapan terakhir ke dalam mulutnya, setelah kunyahan nya habis, ia langsung meminum air mineral yang ada di sebelahnya.
“Kenyang juga,” ujar Athaya sembari menepuk perutnya yang terasa begah.
Aleyza tersenyum melihatnya. Senyuman manis yang terlihat begitu tulus itu tentunya hanya dirinya yang perlihatkan kepada Athaya dan orang terdekatnya saja.
“Sepuluh menit lagi bel masuk.” Kata Aleyza setelah melihat jam tangannya.
Athaya mengerucutkan bibirnya sebal. “Padahal masih pengen bareng lo.”
Kedua mata Aleyza langsung berkedip kaget dengan ucapan Athaya, ia paham maksud dari perkataan Athaya. Sudah pasti cowok itu akan mengajak nya membolos dan menghabiskan waktu hanya berduaan saja di rooftop.
“Thaya, untuk minggu ini nggak ada bolos-bolos lagi ya,” ujar Athaya lalu membuang napasnya kasar.
“Kenapa?” tanya Athaya heran.
“Athayang, nurut ya. Jangan bolos terus, nanti kapan pintarnya coba?”
“Gue juga nggak se bodoh itu Aleyzayang.”
Aleyza menghela napas Panjang, “Gue nggak ada ngatain lo bodoh ya.” Balas Aleyza lalu terkikik geli.
***
“Athayang, gue mau nanya nih. Selain hobi lo membolos dan tidur, hobi lain lo apa lagi?” pertanyaan itu terlontar dari mulut Naufal.
“Ganggu Aleyza yang so sibuk.” Balas Athaya dengan santainya. Sedangkan sang empu, ia sedang menyenderkan kepalanya di dada bidang milik Athaya dengan tangan yang sibuk membaca buku.
“Gue baru inget, orang macam lo mana punya hobi kan ya.” Ucap Naufal se adanya.
Athaya hanya tertawa pelan. Ia mengambil hoodie yang ada di sampingnya lalu menyelimutinya di kedua paha Aleyza. Aleyza sendiri mendongak ke arahnya dengan pandangan bertanya.
“Lo lupa? Kalau disini tuh banyak makhluk-makhluk crocodile yang berbahaya, jadi jangan so pamer lo,” ujar Athaya kepada Aleyza.
“Posesif amat, heran.” Sindir Aidan yang sejak tadi asyik memakan nasi goreng kesukaan nya.
“Athayang kan sayang sama Aleyza, jadi ya gitu.” Timpal Aldo.
“Sayang? Yah, sayang sekali pemirsa beda keyakinan. HAHAHA.” Tawa Naufal pecah saat itu juga.
Athaya tidak segan-segan melempar mulut Naufal menggunakan sepatu miliknya. Hal itu sontak menghadirkan tawa dari teman-temannya.
“Bangke lo, Tha!” balas Naufal dengan raut wajah memerah padam menahan amarah. Ia mengelus bibirnya yang sedikit jontor akibat ulah Athaya.
“Tha, tapi kayaknya bener deh.” Timpal Aleyza yang membuat semua orang disana terdiam dari tawa nya seketika.
“Bener? Maksudnya?’ tanya Athaya heran.
“Jangan berusaha memeluk sesuatu yang sudah lo perkirakan nggak akan sanggup lo peluk.” Ucap Aleyza dengan senyum di bibir yang langsung luntur.
“Ya emang nya kenapa? Bilang sama Tuhan lo. Gue hanya ingin mencintai umatnya, bukan bermaksud merebut darinya.” Balas Athaya. Ia mengusap pelan pipi kanan Aleyza dengan tangan kirinya. Sapuan hangat itu membuat perasaan Aleyza sedikit lega.
“Jadi makin sayang sama Thaya deh,” ujar Aleyza dengan manja lalu memeluk Athaya dari samping.
“Sayang Aley juga.” Balas Athaya.
“Sabar, El. Derita makhluk jomblo gini amat ya, liat nya yang uwu-uwu terus,” ujar Aldo mengejek temannya itu.
“Maksud lo apa hah?! Nggak usah nyindir-nyindir gue! Noh urus pacar-pacar lo aja!” balas Lemuel dengan sengit.
__ADS_1
“Padahal tanpa lo suruh juga jelas gue bakalan urus dua puluh lima pacar gue lah.” Balas Aldo sembari menyugar rambutnya ke belakang.
“Itu pacar atau ayam ternak?” Athaya menggeleng-gelengkan kepalanya heran.
“Ya Namanya juga crocodile ya begitu.” Timpal Adelard. Ia hafal betul dengan sifat Aldo.
Srek
Brak
“MANA BOS LO HAH?! MANA BOS LO YANG PECUNDANG ITU, SEMBUNYI DIMANA DIA?!”
Teriakan yang berasal dari luar itu langsung membuat gempar Athaya dan yang lainnya. Mereka hafal betul pemilik suara itu. Tanpa lama-lama, mereka pun berjalan keluar. Aleyza yang hendak ikut langsung dicegah oleh Athaya.
“Anak buah gue sampai harus dirawat di rumah sakit gara-gara lo sialan!” ujar Gelvino, ketua Oktrax kepada Athaya dengan sorot mata yang memancarkan kebencian.
“Udah, mending hajar aja bos!” titah Gustian yang berdiri di sebelah Gelvino.
Merasa setuju dengan ucapan Gustian, Gelvino dan yang lain pun langsung menghajar anak-anak The Vagos.
Bugh.
Aidan menepuk kan kedua tangannya setelah berhasil membuat Brandon tumbang. “Lo laki bukan sih hah? Gitu doang langsung tumbang. Aidan dilawan,” ujar Aidan berbangga diri.
“Lebay amat sih lo, yang Namanya baku hantam pasti bakalan ada yang cedera dan juga luka. Bahkan, kalau pun mati itu kan udah jadi resikonya,” ujar Athaya dengan santai kepada Gelvino. Setelahnya, ia melayangkan tinjuan ke rahang bawah cowok itu.
“Athaya! Awas njir!”
Aleyza berlari sekuat tenaga untuk menghalangi Gustian yang hendak memukul Athaya menggunakan tongkat baseball dari belakang.
Aleyza memejamkan mata Ketika merasakan sakit yang menjalar di punggungnya setelah menampung pukulan yang seharusnya kena Athaya. Athaya membulatkan matanya kaget. Ia langsung memeluk Aleyza yang terduduk di lantai dengan jantung berdebar kencang.
“Za, zayang. Kamu nggak apa-apa kan?” tanya Athaya sembari menangkup kedua pipi Aleyza.
Aleyza tersenyum kepada Athaya, “Aku nggak apa-apa, Tha. Kamu tau sendiri kalau aku bukan cewek lemah.” Balas Aleyza santai. Tanpa lama-lama, ia Kembali berdiri. Menatap beringas ke arah Gustian yang baru saja memukulnya menggunakan tongkat baseball.
“Cih, beraninya main belakang lo. Sini, giliran gue sekarang!” teriak Aleyza lalu menendang aset pribadi miliki Gustian sekuat tenaga. Gustian langsung berguling ke lantai sembari memegang selangkangannya yang terasa begitu linu.
“Anjir gila, linu nya bukan main tuh.” Gumam Adelard sembari meringis kala melihat Gustian yang masih berguling-guling di lantai.
“Hahaha, Aleyza dilawan,” ujar Aleyza berbangga diri.
“Gila dah, gila. Aset masa depan itu bro.” timpal Naufal dengan gelengan kepala tak percaya.
“Siap-siap aja tuh si Gustian nantinya nggak bakalan bisa bereproduksi anak.” Sambung Aidan yang entah sejak kapan berdiri di samping mereka.
“PERGI KALIAN! PECUNDANG DASAR!” maki Athaya, membuat Gelvino dan teman-temannya buru-buru pergi dari markas The Vagos. Sebelum ketua dari Oktrax itu benar-benar pergi, Adelard menyempatkan diri untuk melempar kepala cowok itu dengan botol kaleng bekas minuman nya.
“Sialan lo! Awas aja ya!” ancam Gelvino lalu pergi dari sana.
“Cih dasar banci lo, udah tau bakalan tetep kalah aja songong mulu hidupnya.” Cibir Naufal yang ditunjukan kepada geng Oktrax.
“Bener banget tuh omongan lo, tumben.” Timpal Aidan kemudian tertawa.
Atensi mereka berenam langsung tertuju kepada Aleyza yang masih berdiri di depan pintu. Gadis itu tersenyum kepada mereka, memberi isyarat bahwa dirinya baik-baik saja.
“Za, masuk yuk. Di obati dulu lukanya,” ujar Athaya sembari menarik tangan Aleyza untuk masuk lagi ke dalam markas.
Aleyza masih diam di tempat, “Nggak usah, lagi pula juga nggak apa-apa kok. Aleyza udah biasa dipukul kalau kalian lupa.” Aleyza tersenyum. Tapi, Athaya tahu kalau sinar mata sang gadis itu memancarkan sorot penuh luka.
“Gue nggak nerima penolakan. Lo tetap harus gue obati,” ujar Athaya dengan kalimat yang penuh penekanan.
“I…iya, Atha. Jangan marah-marah gitu, Aleyza takut.” Cicit Aleyza sembari menundukkan kepalanya.
Athaya yang melihat Aleyza tertunduk pun menghela napas pelan. Ia jadi merasa bersalah telah membuat Aleyza seperti ini.
“Sorry, Za. Gue cuman khawatir sama lo,” ujar Athaya, ia menarik dagu Aleyza pela agar bisa melihat wajah Aleyza.
__ADS_1