
“Ck! Udah gue bilang, harusnya kita langsung balik ke markas aja.” Kesal Adelard kepada seluruh anggota The Vagos.
Tak.
“Banyak omong lo bang!” kesal Athaya kepada kakaknya itu.
“Udah, udah. Bukan waktunya kalian berdua berantem.” Tegur Lemuel.
Semuanya pun diam, fokus pada jalanan yang cukup gelap di depan sana.
Duar….
Petir menggelegar, kilat-kilat tampak menghiasi langit yang gelap tanpa bintang.
“Kayaknya mau hujan beneran nih.”
“Iya, liat tuh langit udah gelap banget.”
Tes
Tes
Buarrrr.
Tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Membuat baju mereka semua basah seketika.
“NEDUH DULU LAH! KALAU KITA SAKIT KAN NGGAK LUCU YA” teriak Aldo mencoba menyamai suara hujan.
“NANGGUNG BANGET LAH KALAU KITA HARUS NEDUH, LAGIAN LO UDAH KEK ANAK PERAWAN AJA PAKAI ACARA TAKUT HUJAN.” Ucap Aidan memojokkan Aldo.
“GUE BUKANNYA TAKUT HUJAN YA! TAPI KAN KALAU SAKIT NANTINYA MAMAH GUE MARAH, MAU LO DIMARAHIN MAMAH GUE?!” sanggah Aldo sambil menutupi kepalanya dengan kedua tangan.
“MAMAH LO MANA TEGA MARAHIN GUE!” jawab Aidan dengan sangat pede nya.
“Dahlah, malas gue ngomong sama lo!” kesal Aldo dan langsung terdiam dengan mulut yang di memonyongkan.
Duarrr….
Deret…..
Petir dan kilat saling bersahut-sahutan.
Mereka semua pun menambah kecepatan motornya guna sampai lebih cepat ke markas The Vagos.
“Eh, itu Aleyza bukan sih?” heboh Adelard menunjuk seorang gadis yang berada dipinggir jalan. Sedang berjongkok sambil meringkuk kedinginan.
“Hah? Serius? Mana sih?” tanya Naufal. Menajamkan matanya guna memastikan bahwa manusia yang di tunjuk Adelard adalah Aleyza.
“Itu, di dekat halte bus.” Tunjuk Adelard ke arah depan.
Naufal membulatkan matanya. “Demi apa! Itu beneran Aleyza.” Jawab lelaki itu. Hanya mereka berdua saja yang menyadari, karena yang lainnya masih fokus dengan jalanan yang mereka lalui karena hujan yang semakin deras.
Saat itu juga, Adelard mengalihkan stang motornya ke sebrang jalan. Membuat anggota yang lain berhenti tiba-tiba.
“Heh! Mau pada kemana lo!” teriak Athaya yang tak paham dengan abang dan juga temannya itu.
__ADS_1
“Kita ikutin aja.” Ajak Lemuel yang di angguki oleh Athaya dan anggota The Vagos lainnya.
“ALEYZA?!” teriak Athaya begitu motornya berhenti di dekat seorang gadis yang tak lain adalah Aleyza.
Aleyza mendongak, bibirnya terlihat pucat, matanya pun sayu dan merah, ditambah lagi tubuhnya yang menggigil.
Sepertinya gadis itu sudah cukup lama hujan-hujanan.
Seluruh anak The Vagos pun turun dari atas motor mereka.
“Za, kamu kenapa?” tanya AThaya memegang bahu Aleyza. Memprihatinkan, itulah gambaran Athaya untuk kondisi Aleyza saat ini.
Aleyza menggeleng, gadis itu Kembali menunduk guna menyembunyikan fakta bahwa dia sedang menangis.
“Hiks… hiks….” Isak an pelan yang sudah Aleyza coba tahan agar tidak keluar, justru terdengar samar di telinga mereka.
“Na, kamu kenapa sih? Ayo kita pulang ya, aku anterin kamu.” Rayu Athaya. Sungguh, ia sangat merasakan sakit ketika melihat gadis yang sangat cintai dan di sayangi nya dalam kondisi begini.
Aleyza menggeleng.
“Nanti papah sama mamah kamu nyariin, Za. Mereka hari ini ada di rumah kan?”
“En..ggak, enggak bakal. Tha.” Jawab Aleyza sesenggukan.
“Maksud nya apa sih, Za? Kita nggak ngerti.” Tanya Aidan membuka suara.
“Ey…Eyza di usir!” jawab Aleyza sembari berdiri.
Kepalanya sudah pusing dan tubuhnya sangat menggigil.
“Mau kemana sih, Za?” tanya Athaya. Lelaki itu menahan tangan Aleyza.
Semua orang terkejut, mereka memang sudah mengetahui kehamilan Aleyza. Namun, mereka tidak menyangka akan reaksi orang tua gadis itu.
“Eyza pergi.”
“TUNGGU, ZA!”
Langkah Aleyza terhenti.
Semua mata menatap sang pelaku yang baru saja berteriak, kecuali Aleyza yang tak membalikkan badannya, ia hanya berhenti saja.
Lelaki itu melangkah gusar lalu membalik cepat tubuh Aleyza.
“Papah mamah kamu udah tau?” tanyanya.
“Iya.”
“Aku harus apa, Za?” tanya Athaya lirih. Sungguh, ia pun bingung dengan situasi ini.
“EYZA CAPEK THA! EYZA SELAMA INI NGGAK PERNAH DAPAT KASIH SAYANG MAMAH PAPAH! EYZA CUMA PUNYA KALIAN! EYZA CUMA PUNYA THAYA! TAPI APA?! THAYA SECARA LANGSUNG UDAH RUSAK MASA DEPAN EYZA!”
“KALIAN SEMUA NGGAK TAU LELAH NYA JADI EYZA! DAPAT TEROR YANG EYZA SENDIRI NGGAK TAU SIAPA PELAKUNYA! DAN SEKARANG! EYZA HAMIL!”
“HAMIL!”
“EYZA CAPEK THA! CAPEK!”
__ADS_1
Aleyza terus saja menangis sembari memukul-mukul dada lelaki itu. Melampiaskan segala beban yang bersarang di pundaknya. Ia rapuh, sangat rapuh.
Sedangkan Athaya, ia menahan tangan Aleyza yang terus memukul dirinya. Tanpa aba-aba, ia langsung membawa gadis itu ke pelukan nya.
Glep.
Memberikan pelukan hangat seperti biasanya. Dapat Athaya rasakan tubuh Aleyza sedingin es di kulkas rumahnya. entah sudah berapa lama gadis ini hujan-hujanan.
Setitik rasa bersalah menghinggapi dada Athaya. Sejahat itukah dirinya?
Lelaki itu semakin mengeratkan pelukannya ke tubuh Aleyza yang saat ini masih menangis dan sesenggukan.
***
“Sekarang lo mau gimana?” tanya Adelard.
Athaya menghela napas pelan. Di kepalanya sedang bersarang ribuan bom yang mampu meledak kapan saja. Ia pusing, bingung, dan juga bimbang di waktu yang bersamaan. “Gue bingung, bang,” ujarnya lemah.
Adelard berdiri dari duduknya lalu mendudukkan bokongnya di sebelah Athaya. “Gue percaya sama lo, lo pasti punya jalan keluarnya.” Adelard menepuk-nepuk pelan Pundak Athaya, menyalurkan sedikit ketenangan pada adiknya itu.
“Iya bang.” Ucap Athaya sekenanya.
Ceklek.
Aleyza keluar dari kamar mandi. Bajunya sudah berganti, sekarang gadis itu memakai baju kebesaran Athaya yang ada di apartemen milik kakak beradik itu.
“Za, sini.” Pinta Adelard.
Aleyza bingung, apakah ia harus bergabung dengan dua orang itu? Apalagi ada Athaya. Ia masih belum siap dengan keputusan apa yang akan Athaya ambil.
“Za, sini heh! Jangan sampai gue culik tuh red panda lo ya!” panggil Adelard lagi dengan sedikit ancaman. Aleyza pun mendekat ke arah kedua pemuda itu.
“Ma… mau ngomong apa bang?”
Adelard berdiri. “Tatap gue,” ujar Adelard, pasalnya saat ini Aleyza sedang menunduk.
“Za….”
Memberanikan diri, akhirnya Aleyza mengangkat kepalanya. Menatap Adelard yang juga sedang menatapnya sambil tersenyum. “Nggak usah malu-malu gitu lah, Za. Kayak sama siapa aja. Gini-gini gue calon kakak ipar lo ya.”
“Apaan sih bang, gu… gue kan tetap malu. Gue.. gue hiks… huaa.” Aleyza Kembali menangis. Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Adelard berbalik ke belakang, mengode Athaya agar menenangkan Aleyza.
Athaya berdiri dari duduknya. Meminta Adelard agar menyingkir lalu berdiri tepat di hadapan Aleyza. “Jangan nangis terus, Za. Dengan kamu nangis gini bikin aku bingung harus bagaimana.” Tangisan gadis di hadapannya ini jelas membuat beban di kepala Athaya semakin bertambah.
Setelah berkata begitu, bukannya memeluk Aleyza. Athaya malah berjalan menuju kamar Adelard. “Heh! Lo mau kemana?” tanya Adelard.
Brak.
Pintu tertutup.
“Bang Delard, hiks… Thaya pastinya marah ya. Apa sebaiknya Eyza nggak usah pertahankan janin ini?”
Adelard menggeleng kuat. “Lo ngomong apa sih! Jangan pernah ada niatan buat gugurin anak lo ya! Mau bagaimana pun juga itu adalah keponakan gue, gue selaku abangnya Athaya minta maaf atas perlakuan dia tadi. mungkin, dia juga bingung harus bagaimana. Gue tau Athaya, dia pasti tanggung jawab. Tapi, lo tau sendiri kan apa yang menjadi penghalang nya selama ini?”
Aleyza hanya membalas dengan anggukan. Dia sangat tau apa yang menjadi penghalang diantaranya dan juga Athaya. PERBEDAAN AGAMA. Itulah yang menjadi dinding besar yang menghalangi keduanya.
__ADS_1