Aleyza Valerie

Aleyza Valerie
Berbaikan?


__ADS_3


Athaya menoleh ke samping saat merasa kursi yang didudukinya sedikit bergoyang. Ia menatap bingung juga berdecak malas saat melihat Fais yang duduk di sampingnya. Entah untuk apa lelaki itu datang menemuinya di taman belakang sekolah saat jam yang sedang berlangsung ini.


“Buat lo nih.” Fais menyodorkan sebotol air mineral ke arah Athaya. Namun, lelaki itu tidak kunjung menerimanya, membuat Fais memutuskan untuk meletakkan botol air mineral itu di samping Athaya.


“Gue mau ngomong sebentar, boleh?” tanya Fais. Lelaki itu menatap Athaya yang sudah membuang mukanya ke arah lain.


Helaan napas Panjang keluar dari mulut Fais.


“Mau apa lo? Mau ngetawain gue hah? Mending lo pergi sana.” Sinis Athaya.


Fais menggeleng pelan. Lelaki itu tersenyum, tidak ingin terpancing oleh amarah Athaya kepadanya. “Gue nggak maksud buat ngetawain kok. Lo boleh marah sama gue, tapi tolong jangan sama Aleyza, Tha.”


“Ya gimana gue, hidup-hidup gue. Kok lo yang sewot.”


Fais menerawang jauh ke depan. Ada sorot mata penuh rasa bersalah di kedua mata nya. “Tha, apa lo tau kenapa Aleyza sampai kelepasan membentak lo?”


Athaya melirik sekilas ke arah Fais. Lelaki itu mulai tertarik dengan arah pembicaraan Fais.


“Seluruh anggota OSIS kena marah habis-habisan sama Kepsek, Tha. Sekitar beberapa orang ketahuan bolos dan mereka merokok di rooftop. Lo tau kan? Sekolah kita itu anti sama rokok?” terang Fais Panjang lebar. “Dan, Aleyza yang ngerasa bersalah di sana. Dia belum sempat sarapan kan? Dia bela-belain nahan rasa laparnya, Tha. Tapi, apa? Dia yang habis-habisan kena marah nya.”


Athaya hanya diam sembari terus mendengarkan apa yang Fais jelaskan.


“Aleyza tentunya yang paling tertekan. Dia yang ngerasa gagal jadi Ketua OSIS. Lo tau kan? Ini bukan tanggung jawab yang mudah. Coba, lo yang di posisi Aleyza?”


Athaya menundukkan kepalanya. Lelaki itu merasa tenggorokannya tercekat. Tepukan pelan di pundaknya dari Fais itu membuatnya menoleh ke arah lelaki itu.


“Tha, tolong ya jangan marah sama Aleyza. Di sini emang gue yang salah dan terlalu maksain buat jadi anggota OSIS.” Fais tersenyum. “Tapi, itu bukan kemauan gue, Tha. Lo tau sendiri? Tante gue yang nyuruh.”


Athaya menatap kedua mata Fais untuk mencari kebohongan di sana. Namun, hasilnya nihil. Ia hanya menemukan sorot penuh ketulusan di sana.


“Gue se salah itu ya sampai-sampai menyalahkan Aleyza?”


“Nggak kok, di sini kita sama-sama salah.” Fais memegang kedua Pundak Athaya. “Lo tau kan? Se sayang apa Aleyza sama lo? Bahkan, ketika kita rapat. Dia nggak fokus, Tha. Gue tau, dia pasti kepikiran sama lo. Lo orang yang dia sayang, Tha. Dan, lo nggak lihat? Aleyza se pucat itu? Gue rasa dia sakit, Tha. Lo nggak kasian sama cewek lo?”


“Seriu? Apa dia sakit?”


Fais menggeleng. “Gue nggak tahu pasti. Lebih baik lo yang cek dia.” Kemudian Fais berdiri dari duduknya. “Gue Cuma mau ngasih tau itu, perbaiki hubungan kalian. Dan satu lagi, gue nggak ada perasaan sama Aleyza sama sekali. Aleyza Cuma punya lo dan selamanya akan begitu.”


Athaya mengangguk singkat. Lelaki itu mengukir senyum tipis. “Thanks, Fais.”


“Gue pamit ke BK dulu kalau gitu. Lo lebih baik cepet balik ke kelas sebelum ada anak OSIS yang patroli,” ujarnya lalu tertawa kecil.


Athaya mengangguk. Ia terus menatap Fais yang mulai melangkah pergi dari hadapannya. Matanya beralih menatap sebotol air mineral yang Fais berikan padanya.


***

__ADS_1


“Kita langsung ke markas?” tanya Adelard kepada teman-temannya seraya memakai helm.


Naufal mengangguk mengiyakan. Lelaki itu menoleh ke arah Aleyza yang diam dengan tatapan kosong. “Lo mau ikut nggak?”


Aleyza tersentak kaget karena Naufal menepuk pundaknya. “Apa, Fal?” tanyanya karena tidak mendengar ucapan Naufal.


“Mau ikut ke markas?” ulang Naufal.


Aleyza menggeleng pelan. “Gue masih ada urusan di OSIS. Gue juga mau nemuin Thaya dulu.”


Aidan tertawa tak jelas. “Se bucin itu kalian berdua.” Ejeknya.


“Ya biasalah, anak muda memang begitu.” Timpal Aldo yang sudah duduk di boncengan motor Adelard. Lelaki itu masih belum di perbolehkan untuk mengendarai motornya sendiri karena baru keluar dari rumah sakit.


“Secepatnya tuh masalah selesaikan.” Kata Naufal. Ia sudah bersiap-siap untuk mengendarai motornya.


Aleyza mengangguk. Bibir gadis itu membentuk lengkungan tipis.


“Duluan ya, Za,” ujar Adelard kemudian menjalankan motornya keluar dari parkiran sekolah. Yang lainnya pun menyusul lelaki itu. Meninggalkan Aleyza yang masih setia duduk di atas motor nya.


Gadis itu turun dari motornya ketika melihat Athaya yang berjalan menuju parkiran. Senyum Aleyza perlahan terbit, dengan cepat. Ia menghampiri Athaya yang tengah berjalan santai.


“Tha.” Panggil Aleyza ketika ia sudah sampai di depan lelaki itu.


Athaya menatap gadis yang ada di hadapannya. Sebenarnya, ia ingin sekali mengajak Aleyza berbicara. Namun,ketika mengingat sikap gadis itu di lapangan, membuatnya mengurungkan niat.


“Tha, Eyza minta maaf,” ujar Aleyza dengan raut wajah penuh penyesalan. Ia menggapai lengan tangan Athaya untuk digenggam. “Kamu boleh marah sama Eyza, tapi tolong jangan diemin aku kayak gini, Tha.”


“Gampang hah?”


Aleyza menggeleng. “Tha, Eyza tau. Eyza keterlaluan udah berani bentak Thaya.”


“Nahkan, lo tau. Udah, sana mending lo minggir.” Athaya menarik tangannya dari genggaman Aleyza.


“Tha, Maafin Eyza.”


Athaya berdecak malas. Ia menatap tajam Aleyza. “Sayangnya nggak semudah itu, Za.”


Setelah mengatakan itu. Athaya langsung pergi dari hadapan Aleyza.


***


“Lo masih marahan sama si Eyza?”


Pertanyaan itu muncul dari mulut Adelard. Abangnya itu menatap Athaya dengan pandangan bertanya.


Athaya menggeleng. “Nggak kok.”

__ADS_1


Kedua mata Adelard memicing. “Lo nggak perlu bohong!”


Athaya menghela napas berat. “Lo nggak perlu ikut campur, Bang. Ini urusan gue.”


Adelard mendelikkan matanya. “Ngomong apa lo? Nggak perlu ikut campur? Lo lupa? Kalau itu tentang Eyza. Bukan Cuma gue, bahkan anak-anak The Vagos pun berhak untuk ikut campur.”


Athaya memijat keningnya. Entah apa yang harus ia lakukan sekarang.


“Di sini buka Cuma Eyza yang salah. Lo juga jelas salah, baik gue atau bahkan Ayah dan Bunda nggak pernah ngajarin lo buat mengatai orang lain, Tha. Lo udah kelewatan, dan Eyza hanya sekedar menegur meski caranya salah. Jangan sampai, karena sifat egois lo ini lo benar-benar kehilangan Eyza.” Ucap Adelard lalu berjalan meninggalkan adiknya itu agar bisa merenungi kesalahannya.


***


Athaya memejamkan matanya sejenak. Dengan perlahan, ia membuka pintu rumahnya. kedua kakinya melangkah keluar.


Lelaki itu sedikit terkaget dengan kehadiran Aleyza yang ternyata masih duduk di teras rumahnya.


Gadis itu tertidur dengan posisi duduk yang terlihat tidak nyaman. Athaya mendekat ke arahnya. Tangan kanan lelaki itu menepuk pelan Pundak Aleyza. Terlihat jelas dari wajahnya kalau Aleyza benar-benar kelelahan.


“Eyza….” Panggil Athaya dengan suara pelan.


Aleyza yang mudah terbangun itu langsung membuka matanya. Kedua tangannya digunakan untuk mengucek mata.


Setelah melihat kehadiran Athaya di depannya, ia langsung berdiri saat itu juga. Wajah gadis itu terlihat terkejut.


“Tha? Eyza nggak lagi mimpi kan? Ini Thaya kan?” tanya Aleyza masih tidak percaya kalau Athaya datang menemuinya.


Athaya menggeleng pelan. “Thaya kangen.”


Tepat saat itu juga, Athaya menghambur ke dalam pelukan Aleyza. Lelaki itu mencari tempat yang paling nyaman di sana.


Pelukan hangat yang amat dirinya rindukan. Aleyza sendiri kini sudah menumpahkan tangisnya di sana. Seolah-olah menjabarkan betapa berat hari-harinya tanpa sosok Athaya.


“Tha, maafin Eyza. Eyza tau salah, tapi jangan hukum Eyza kayak gini. Eyza takut kehilangan kamu, Tha.” Athaya mendekap erat Aleyza-nya. Beberapa kali lelaki itu mengecup puncak kepala Aleyza saking rindunya.


“Eyza bego banget ya, sampai berani bentak Thaya di lapangan. Tha, Eyza benar-benar kelepasan waktu itu, maaf.” Ia dapat merasakan kalau Athaya menganggukkan kepalanya.


“Thaya juga salah, maafin Thaya ya,” ujar Athaya.


Aleyza menganggukkan kepalanya dengan posisi masih merangkul erat Aleyza.


Derai air mata yang membasahi kedua pipi gadisnya itu membuat Athaya dengan cepat menghapusnya.


“Maaf, Za. Maaf udah bikin kamu nangis.” Kata Athaya dengan sorot mata penuh penyesalan. “Maafin bayi besarnya ini ya, sampai-sampai bikin mamih nya nangis.”


Aleyza justru semakin kencang setelah mendengar penuturan Athaya. “Ezya nggak mau kehilangan Thaya. Cuma Thaya yang Eyza punya, Eyza nggak mau berbagi lagi apa lagi itu tentang Thaya. Jangan pernah tinggalin Eyza, Tha.”


Athaya mengangguk seraya tersenyum lembut. Ia mengusap kepala Aleyza dengan penuh kasih sayang. “Aku sayang kamu, Za.”

__ADS_1



__ADS_2